Ini pertanyaan yang bersifat dialektis saya rasa. Secara prinsipil,
tipitaka tentu saja tidak boleh dianggap lengkap atau tidak lengkap.
Juga tidak bijak beranggapan bahwa Tipitaka itu telah lengkap
mewakili seluruh sistem ajaran Buddha. Memang dari sudut pandang
Theravada, Tipitaka telah dikanonkan secara lengkap, ini tidak
salah. Artinya adalah apa yang telah menjadi pegangan Theravada
(Tipitaka) itu telah lebih dari cukup untuk merealisasi nibbana.
Pada jaman Sang Buddha, tidaklah perlu menguasai ajaran sebanyak
Tipitaka untuk mencapai kesucian. Satu bait gatha sudah cukup. Ini
fakta dari kisah-kisah siswa Buddha yang mencapai kesucian.
Mengkanonikkan Tipitaka bukan bermaksud bahwa seorang Buddhist wajib
menguasai seluruh tipitaka tersebut baru dapat merealisasi nibbana.
Pada saat mengkanonikkan Tipitaka, tujuannya untuk mewariskan ajaran
Buddha, jika masalah mencapai nibbana, itu cukup menguasai prinsip
utama. Semua tergantung kapasitas kemampuan dan jodoh karma
terhadap apa yang telah kita pelajari. Ada yang cukup berpegang pada
Dhammapada sudah dapat berlatih dengan baik. Ada yang berpegang pada
kitab Udana, sudah dapat menjadi seorang Buddhist sejati. Ini
tergantung individu masing-masing.
Sang Buddha sendiri menganalogikan bahwa apa yang telah diajarkan
itu hanya sebanyak daun yang ada digenggamannya. dan apa yang
belum diajarkan beliau sebanyak jumlah daun yang ada di hutan.
Dhamma itu tak terbatas.
Apakah lalu Tripitaka mahayana dianggap paling lengkap? Terus
terang praktisi mahayana juga tidak menganggap Tripitaka Mahayana
itu paling lengkap. Konon katanya Nagarjuna pernah pergi ke istana
raja naga untuk mengambil kitab suci Mahayana, beliau mengambil
kitab Avatamsaka, dan ternyata Avatamsaka di istana raja naga itu
berjumlah jutaan jilid. Bayangkan, Avatamsaka sutra versi aslinya
saja berjumlah jutaan jilid. Tapi beliau akhirnya mengambil teks
versi pendeknya yang setelah diterjemahkan ke bahasa tiongkok hanya
berjumlah 80 jilid. Sudah merupakan hal biasa bahwa sebuah Sutra
terdapat teks versi panjang dan pendek, seperti Mahaprajna paramita
Sutra teks panjang, teks pendeknya adalah Sutra Intan, dan teks yang
lebih pendek lagi adalah Sutra Hati. Kondisi ini juga terlihat di
dalam Tipitaka Pali, seperti Dighanikaya adalah teks panjang,
Majjhimanikaya adalah teks sedang, Samyukta-nikaya adalah teks lebih
pendek. Dstnya.
Jadi kenyataannya Tripitaka mahayana juga tidak lengkap, bukan?
Diatas berbicara secara prinsipil, jika berbicara secara fenomenal,
saya pribadi menganggap Tipitaka Pali sudah lengkap, karena Tipitaka
Pali lebih mendominasi pada pencapaian kesucian Arahat, dan memang
metode untuk merealisasi itu telah dijabarkan secara lengkap. Namun
jika dia berbicara tentang doktrin-doktrin bodhisattva, maka saya
akan bilang kurang lengkap, karena apa yang dibahas tentang jalan
bodhisattva tidak sebanyak kitab-kitab mahayana. Tapi kenyataannya
Tipitaka Pali tidak berbicara tentang hal-hal itu, tentang banyak
Buddha dan Bodhisatva, dia berbicara tentang apa yang hendak dia
realisasikan maka itu berarti dia telah mencapai kapasitas yang
proporsional. "Saya berbicara tentang realisasi nibbana dengan
mencapai kesucian arahat, maka apa yang saya bicarakan telah sesuai
dengan proporsinya". Ini artinya lengkap.
Mahayana berbicara tentang Buddha-buddha dan bodhisattva-bodhisatva
lain, maka dia harus mencapai proporsi dari apa yang dia bicarakan,
jadi wajar saja jika dia tampak menjadi lebih banyak dari Tipitaka
pali. Namun tidaklah bijak menganggap siapa yang telah menambahkan
dan siapa yang telah mengurangi (sehingga timbul perselisihan
seperti sekte-sekte). Jika merasa ada yang menambahkan, maka
belajarlah kepada orang yang menganggap tidak pernah menambahkan.
Jika merasa ada yang mengurangi, maka belajarlah kepada orang yang
menganggap tidak pernah mengurangi. Semoga memahami maksud saya.
Mohon maaf jika salah. Saya juga masih belajar.
Amithofo
Cg ik
-- In [email protected], Benny Wu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sis Ching Ik,
>
> Saya ada pertanyaam, tipitaka sebenarnya tidak lengkap ?
>
> with Metta
> Sumedho Benny
>
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
