Maaf sekali lagi, kalau topiknya agak melenceng. Saya pernah dengar
pula kalau di Thailand ada paritta Pali yang bahkan tidak ada di
kanon Pali sendiri, seperti paritta pemanggil relik. Apakah ada yang
memiliki informasi mengenai hal ini. Sebelumnya banyak terima kasih.
Metta,
Tan
--- In [email protected], "ching ik/ djoni"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear sis Benny,
> Ini pertanyaan yang bersifat dialektis saya rasa. Secara
prinsipil,
> tipitaka tentu saja tidak boleh dianggap lengkap atau tidak
lengkap.
> Juga tidak bijak beranggapan bahwa Tipitaka itu telah lengkap
> mewakili seluruh sistem ajaran Buddha. Memang dari sudut pandang
> Theravada, Tipitaka telah dikanonkan secara lengkap, ini tidak
> salah. Artinya adalah apa yang telah menjadi pegangan Theravada
> (Tipitaka) itu telah lebih dari cukup untuk merealisasi nibbana.
> Pada jaman Sang Buddha, tidaklah perlu menguasai ajaran sebanyak
> Tipitaka untuk mencapai kesucian. Satu bait gatha sudah cukup. Ini
> fakta dari kisah-kisah siswa Buddha yang mencapai kesucian.
> Mengkanonikkan Tipitaka bukan bermaksud bahwa seorang Buddhist
wajib
> menguasai seluruh tipitaka tersebut baru dapat merealisasi
nibbana.
> Pada saat mengkanonikkan Tipitaka, tujuannya untuk mewariskan
ajaran
> Buddha, jika masalah mencapai nibbana, itu cukup menguasai prinsip
> utama. Semua tergantung kapasitas kemampuan dan jodoh karma
> terhadap apa yang telah kita pelajari. Ada yang cukup berpegang
pada
> Dhammapada sudah dapat berlatih dengan baik. Ada yang berpegang
pada
> kitab Udana, sudah dapat menjadi seorang Buddhist sejati. Ini
> tergantung individu masing-masing.
>
> Sang Buddha sendiri menganalogikan bahwa apa yang telah diajarkan
> itu hanya sebanyak daun yang ada digenggamannya. dan apa yang
> belum diajarkan beliau sebanyak jumlah daun yang ada di hutan.
> Dhamma itu tak terbatas.
>
> Apakah lalu Tripitaka mahayana dianggap paling lengkap? Terus
> terang praktisi mahayana juga tidak menganggap Tripitaka Mahayana
> itu paling lengkap. Konon katanya Nagarjuna pernah pergi ke istana
> raja naga untuk mengambil kitab suci Mahayana, beliau mengambil
> kitab Avatamsaka, dan ternyata Avatamsaka di istana raja naga itu
> berjumlah jutaan jilid. Bayangkan, Avatamsaka sutra versi aslinya
> saja berjumlah jutaan jilid. Tapi beliau akhirnya mengambil teks
> versi pendeknya yang setelah diterjemahkan ke bahasa tiongkok
hanya
> berjumlah 80 jilid. Sudah merupakan hal biasa bahwa sebuah Sutra
> terdapat teks versi panjang dan pendek, seperti Mahaprajna
paramita
> Sutra teks panjang, teks pendeknya adalah Sutra Intan, dan teks
yang
> lebih pendek lagi adalah Sutra Hati. Kondisi ini juga terlihat di
> dalam Tipitaka Pali, seperti Dighanikaya adalah teks panjang,
> Majjhimanikaya adalah teks sedang, Samyukta-nikaya adalah teks
lebih
> pendek. Dstnya.
> Jadi kenyataannya Tripitaka mahayana juga tidak lengkap, bukan?
>
> Diatas berbicara secara prinsipil, jika berbicara secara
fenomenal,
> saya pribadi menganggap Tipitaka Pali sudah lengkap, karena
Tipitaka
> Pali lebih mendominasi pada pencapaian kesucian Arahat, dan memang
> metode untuk merealisasi itu telah dijabarkan secara lengkap.
Namun
> jika dia berbicara tentang doktrin-doktrin bodhisattva, maka saya
> akan bilang kurang lengkap, karena apa yang dibahas tentang jalan
> bodhisattva tidak sebanyak kitab-kitab mahayana. Tapi kenyataannya
> Tipitaka Pali tidak berbicara tentang hal-hal itu, tentang banyak
> Buddha dan Bodhisatva, dia berbicara tentang apa yang hendak dia
> realisasikan maka itu berarti dia telah mencapai kapasitas yang
> proporsional. "Saya berbicara tentang realisasi nibbana dengan
> mencapai kesucian arahat, maka apa yang saya bicarakan telah
sesuai
> dengan proporsinya". Ini artinya lengkap.
> Mahayana berbicara tentang Buddha-buddha dan bodhisattva-
bodhisatva
> lain, maka dia harus mencapai proporsi dari apa yang dia
bicarakan,
> jadi wajar saja jika dia tampak menjadi lebih banyak dari Tipitaka
> pali. Namun tidaklah bijak menganggap siapa yang telah menambahkan
> dan siapa yang telah mengurangi (sehingga timbul perselisihan
> seperti sekte-sekte). Jika merasa ada yang menambahkan, maka
> belajarlah kepada orang yang menganggap tidak pernah menambahkan.
> Jika merasa ada yang mengurangi, maka belajarlah kepada orang yang
> menganggap tidak pernah mengurangi. Semoga memahami maksud saya.
> Mohon maaf jika salah. Saya juga masih belajar.
>
>
> Amithofo
>
> Cg ik
>
>
>
>
>
>
>
> -- In [email protected], Benny Wu <benzwu@> wrote:
> >
> > Sis Ching Ik,
> >
> > Saya ada pertanyaam, tipitaka sebenarnya tidak lengkap ?
> >
> > with Metta
> > Sumedho Benny
> >
>
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
