Pada saat kita memikirkan pahala, karma baik, imbalan, balas budi ketika melakukan dana, bantuan, pertolong dan apapun sebutannya...
 
seberapa besar pun bantuan, dana, pertolongan yang kita berikan akan tidak bernilai sama sekali.....
 
AA Gym saja pernah menyebutkan... Pada saat kita menolong orang (dana dll) pada ketika itu juga kita lupa pernah menolong orang tersebut (tidak mengharapkan imbalan)
 
di agama Kristen saja ada diajarkan.. tangan kanan memberi, tapi tangan kiri tidak perlu tahu seberapa besar yang diberikan (tidak mengharapkan imbalan)
 
koq kebanyakan Buddhist deman banget melakukan segala sesuatu berdasarkan pahala dan karma baik ?? apakah esensi dari ajaran Buddha adalah karma baik ? jadi harus diperhitungkan terus ? jadinya nilai cinta kasih kita akan luntur, dan
"Semoga semua makhluk hidup berbahagia" menjadi lips service yang paling indah dalam kata-kata saja
 
jangan-jangan nanti bakal ada yang buat kalkulator Karma Baik dan Buruk,
jadi dalam melakukan tindakan (yang baik aja deh, dana, bantuan, pertolongan) kita akan mengeluarkan kalkulator dan mulai hitung-hitungan dulu mana yang bakal lebih memberikan nilai +++  baru melakukan tindakan.....
 
Mungkin benar ada tingkatan-tingkatan presentasi dalam melakukan hal-hal baik
sekali lagi kalau kita mengharapkan melulu karma baik dan pahala baik dalam melakukan suatu dana,.. kesannya koq ngak tulus banget sih....
 
dalam kasus Bro Erik, saya salut sama temannya....
temannya melihat siapa yang lebih membutuhkan barang tersebut, daripada pahala apa yang bakal di dapatkan.....
 
siapa tahu gembel tua dekil tersebut adalah calon Buddha ??
Pangeran Sidharta saja pernah menjadi gembel, kurus ceking, bau sebelum akhirnya mencapai Penerangan Sempurna

Erik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ikut nimbrung sekalian, topik ini membuat saya teringat pada kasus
kongkret soal tolong menolong ini.

Banyak romo-romo pandita, dan juga bhante (terutama dari Theravada)
mengajarkan pada kita bahwa Dana yang paling mulia adalah Dana Dharma.
Setelah itu, dilanjutkan dengan pernyataan bahwa obyek berdana yang
paling baik adalah para anggota Sangha.

Dua pertanyaan yang membingungkan saya selama ini, mungkin ada bro atau
sis yang tahu jawabannya :

1. Kalau dana paling mulia adalah Dana Dharma, bolehkah kita (bagi yang
sudah berpengetahuan luas tentang Dharma, tentunya!) berdana Dharma
kepada para bhante? Artinya memberi pelajaran, bimbingan dan wejangan
Dharma kepada mereka? Daripada memberi dana dalam bentuk lain yang
kurang baik, bukanlah lebih baik pilih dana yang paling mulia untuk
dipersembahkan kepada mereka, yakni Dana Dharma?

2. Ini kejadian faktual. Pada saat hari Asadha, umat Buddha jauh-jauh
hari telah menyiapkan dana untuk dipersembahkan kepada Sangha pada saat
peringatan Asadha di vihara. Ketika itu, saya juga ikut-ikutan
merayakan hari Asadha, dan juga menyiapkan dana untuk dipersembahkan
kepada Sangha. Nah, dalam perjalanan menuju vihara, berdua dengan kawan
saya, kami berpapasan dengan seorang kakek (diperkirakan umurnya lebih
dari 70-an) bertelanjang dada, dan kelihatan menderita sekali (mungkin
kelaparan tidak makan). Spontan saja, kawan saya langsung menyerahkan
seluruh pakaian dan makanan yang semula dimaksudkan untuk dipersembahkan
kepada Sangha kepada si kakek tua itu. Tapi saya tidak, karena anggapan
saya berdana kepada fakir miskin pahalanya kurang besar dibanding
berdana kepada anggota Sangha. Disuruh pilih salah satu antara keduanya,
tentu saya pilih yang menghasilkan pahala besar, yakni berdana kepada
Sangha. Soal si kakek tua itu kelaparan dan menderita, masa bodoh, itu
urusan dia! Yang penting saya harus tetap berdana kepada Sangha untuk
mendapat pahala besar kelak!!

Pertanyaan saya adalah :

Pahala siapa yang lebih besar saya atau kawan saya? Saya kira, tentu
pahala saya yang lebih besar, karena obyek berdana saya adalah para
bhante anggota Sangha yang mulia! Bukan gembel tua dekil dan bau!

Bodoh sekali kawan saya itu, kesempatan menghasilkan pahala besar
dilewatkan begitu saja, malah dia menyia-nyiakan dana untuk Sangha dan
diberikan kepada seorang gembel tua yang tidak dikenal itu.

Salam,

Erik

----------------------------------------------------------\
--------------------------------------------

In [EMAIL PROTECTED]ups.com, Robert hook <c4rlos_1987@...> wrote:
Siapakah yang akan anda tolong jika pada suatu kondisi dimana anda
hanya bisa menolong satu dari dua orang yang paling anda sayangi contoh
ayah atau ibu?

Bagaimana anda memilih satu dari dua itu?
Apakah tindakan itu dibilang salah atau benar jika kita hanya memilih
satu dari dua?
Apakah ada pilahan yang lain selain memilihi satu dari dua?
Sekian dari pertanyaan dari orang awam ini. Mohon maf jika ada
perkataan yang kurang sopan.

> Dari,
> orang yang buta dengan dunia


__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke