Bro Erik,
Benar sih apa yang Anda utarakan..
memang itulah yang terjadi "pada masa dulu"
Benar juga apa yang Anda katakan, itu kata ulama dari agama lain,...
dan kata dari ulama agama kita...
tapi apa kata diri kita sendiri ? terlepas dari kata-kata dan wejangan para ulama ?
Buddhism tidak memaksa kita hanya mendengarkan kata-kata dari para ulama...
Buddhism mengajak kita menjadi kritis... tidak dogmatis.. dan tidak menerima begitu saja
metta
yamin
Erik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Erik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bravo Bro Yamin!Terima kasih atas pencerahan yang diberikan. Maaf, karena saya memang orang awam yang paling awam, dan pengetahuan DHAMMA (bukan DHARMA) saya pun kebanyakan didapat dari wejangan-wejangan para romo dan Bhante, maka jadilah saya berpandangan seperti itu!Rupanya saya salah, dan yang benar adalah teman saya ya!!Namun, sampai hari ini orang seperti saya banyak lho di masyarakat Buddhis!!Saya setuju bahwa AA Gym memang pernah menyebutkan bahwa " Pada saat kita menolong orang (dana dll) pada ketika itu juga kita lupa pernah menolong orang tersebut (tidak mengharapkan imbalan). Demikian pun dalam ajaran agama Kristen dikatakan ".. tangan kanan memberi, tapi tangan kiri tidak perlu tahu seberapa besar yang diberikan (tidak mengharapkan imbalan)". Tapi itu khan ajaran agama orang lain yang diucapkan ulama orang lain! Para romo dan bhante kita jarang sekali memberi kotbah yang senada dengan mereka, yang sering saya dengar selama ini dari para romo dan bhante Theravada yalah bahwa objek berdana yang paling tepat dan memberi pahala besar adalah "ANGGOTA SANGHA"!! Jadi, tidak salah donk, kalau saya (dan umat Buddha lain yang jumlahnya tidak sedikit) masih percaya dan menuruti wejangan ulama-ulama kita itu!! Ketimbang berdana kepada seorang gembel, lebih baik kepada Sangha yang menghasilkan pahala besar, sesuai dengan wejangan para ulama kita itu!!Salam,Erik----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------In [email protected], Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pada saat kita memikirkan pahala, karma baik, imbalan, balas budi ketika melakukan dana, bantuan, pertolong dan apapun sebutannya...
seberapa besar pun bantuan, dana, pertolongan yang kita berikan akan tidak bernilai sama sekali.....
AA Gym saja pernah menyebutkan... Pada saat kita menolong orang (dana dll) pada ketika itu juga kita lupa pernah menolong orang tersebut (tidak mengharapkan imbalan)
di agama Kristen saja ada diajarkan.. tangan kanan memberi, tapi tangan kiri tidak perlu tahu seberapa besar yang diberikan (tidak mengharapkan imbalan)
koq kebanyakan Buddhist deman banget melakukan segala sesuatu berdasarkan pahala dan karma baik ?? apakah esensi dari ajaran Buddha adalah karma baik ? jadi harus diperhitungkan terus ? jadinya nilai cinta kasih kita akan luntur, dan "Semoga semua makhluk hidup berbahagia" menjadi lips service yang paling indah dalam kata-kata saja jangan-jangan nanti bakal ada yang buat kalkulator Karma Baik dan Buruk, jadi dalam melakukan tindakan (yang baik aja deh, dana, bantuan, pertolongan) kita akan mengeluarkan kalkulator dan mulai hitung-hitungan dulu mana yang bakal lebih memberikan nilai +++ baru melakukan tindakan.....
Mungkin benar ada tingkatan-tingkatan presentasi dalam melakukan hal-hal baik sekali lagi kalau kita mengharapkan melulu karma baik dan pahala baik dalam melakukan suatu dana,.. kesannya koq ngak tulus banget sih....
dalam kasus Bro Erik, saya salut sama temannya....
temannya melihat siapa yang lebih membutuhkan barang tersebut, daripada pahala apa yang bakal di dapatkan.....
siapa tahu gembel tua dekil tersebut adalah calon Buddha ??
Pangeran Sidharta saja pernah menjadi gembel, kurus ceking, bau sebelum akhirnya mencapai Penerangan Sempurna
>
Erik [EMAIL PROTECTED] wrote:
Ikut nimbrung sekalian, topik ini membuat saya teringat pada kasus kongkret soal tolong menolong ini.
Banyak romo-romo pandita, dan juga bhante (terutama dari Theravada) mengajarkan pada kita bahwa Dana yang paling mulia adalah Dana Dharma.
Setelah itu, dilanjutkan dengan pernyataan bahwa obyek berdana yang paling baik adalah para anggota Sangha.
Dua pertanyaan yang membingungkan saya selama ini, mungkin ada bro atau sis yang tahu jawabannya :
1. Kalau dana paling mulia adalah Dana Dharma, bolehkah kita (bagi yang sudah berpengetahuan luas tentang Dharma, tentunya!) berdana Dharma kepada para bhante? Artinya memberi pelajaran, bimbingan dan wejangan Dharma kepada mereka? Daripada memberi dana dalam bentuk lain yang kurang baik, bukanlah lebih baik pilih dana yang paling mulia untuk dipersembahkan kepada mereka, yakni Dana Dharma?2. Ini kejadian faktual. Pada saat hari Asadha, umat Buddha jauh-jauh hari telah menyiapkan dana untuk dipersembahkan kepada Sangha pada saat peringatan Asadha di vihara. Ketika itu, saya juga ikut-ikutan merayakan hari Asadha, dan juga menyiapkan dana untuk dipersembahkan
kepada Sangha. Nah, dalam perjalanan menuju vihara, berdua dengan kawan saya, kami berpapasan dengan seorang kakek (diperkirakan umurnya lebih dari 70-an) bertelanjang dada, dan kelihatan menderita sekali (mungkin kelaparan tidak makan). Spontan saja, kawan saya langsung menyerahkan seluruh pakaian dan makanan yang semula dimaksudkan untuk dipersembahkan kepada Sangha kepada si kakek tua itu. Tapi saya tidak, karena anggapan
saya berdana kepada fakir miskin pahalanya kurang besar dibanding berdana kepada anggota Sangha. Disuruh pilih salah satu antara keduanya, tentu saya pilih yang menghasilkan pahala besar, yakni berdana kepada Sangha. Soal si kakek tua itu kelaparan dan menderita, masa bodoh, itu urusan dia! Yang penting saya harus tetap berdana kepada Sangha untuk mendapat pahala besar kelak!!
>
Pertanyaan saya adalah :
Pahala siapa yang lebih besar saya atau kawan saya? Saya kira, tentu pahala saya yang lebih besar, karena obyek berdana saya adalah para bhante anggota Sangha yang mulia! Bukan gembel tua dekil dan bau!
Bodoh sekali kawan saya itu, kesempatan menghasilkan pahala besar dilewatkan begitu saja, malah dia menyia-nyiakan dana untuk Sangha dan diberikan kepada seorang gembel tua yang tidak dikenal itu.
Salam,
Erik
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
![]()
SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
- Re: [Dharmajala] pertanyaan dari orang awam Khaidi Wong
- Re: [Dharmajala] pertanyaan dari orang awam Yamin Prabudy
- [Dharmajala] Re: pertanyaan dari orang awam dhammaphala2000
- Re: [Dharmajala] pertanyaan dari orang awam Yamin Prabudy
- [Dharmajala] Re: pertanyaan dari orang awam mepsiko
- [Dharmajala] Re: pertanyaan dari orang awam Jenty Siswanto
- [Dharmajala] Pertanyaan dari orang awam yang sangat awam (... Erik
- Re: [Dharmajala] Pertanyaan dari orang awam yang sang... Yamin Prabudy
- [Dharmajala] Pertanyaan dari orang awam yang sang... Erik
- Re: [Dharmajala] Pertanyaan dari orang awam y... Yamin Prabudy
- [Dharmajala] Pertanyaan dari orang awam y... Erik
- [Dharmajala] Pertanyaan dari orang a... Neir Kate
- Re: [Dharmajala] Pertanyaan dari... Khaidi Wong
- [Dharmajala] Pertanyaan dari ora... SWLiang
- Re: [Dharmajala] Pertanyaan dari... safira luiz
- Re: [Dharmajala] Sharing dan Sal... safira luiz
- Re: [Dharmajala] Sharing dan Sal... safira luiz
- [Dharmajala] Pertanyaan dari orang awam TheHiddenDragon
Kirim email ke
