Sekuntum teratai untuk anda semua para calon Buddha,
Maaf aku mau ikut nimbrung tanpa mengomentari secara pribadi. aku cuma mau menyampaikan apa yang pernah saya dengar dari Bhante Subhacando yg sedang belajar di Thai. Semoga aku tidak salah mencerap apa yg telah Bhante sampaikan. kaga ada pali krn Catatanku hilang tapi ini yang aku ingat.
Maaf aku mau ikut nimbrung tanpa mengomentari secara pribadi. aku cuma mau menyampaikan apa yang pernah saya dengar dari Bhante Subhacando yg sedang belajar di Thai. Semoga aku tidak salah mencerap apa yg telah Bhante sampaikan. kaga ada pali krn Catatanku hilang tapi ini yang aku ingat.
Yang penting dalam setiap tindakan adalah cetana/ niat. Kt Bhante ingat baik baik 3 hal ini :
Ketika ingin berdana kita berbahagia
Pada saat kita berdana kita berbahagia
Sesudah kita berdana kita berbahagia
Berbahagia disini maksudnya adalah brahma vihara ( 1 kesatuan yg tidak terpisahkan)
Metta, karuna, mudita dan upekkha.
Mungkin sdr/i sedhamma semua sudah tahu metta, karuna, mudita tapi kenapa masih harus ada upekha? supaya
ketika tindakan kita dipuji kita tdk besar kepala karena niat kita berbuat baik bukan untuk dipuja puji. Begitu juga ketika dana atau perbuatan baik kita dicela orang kita tdk down, kita tdk marah, kesal atau menyesal (tahu gitu kaga akan kubantu) tapi kita tetap berbahagia krn cetana kita tadi.
Intinya klo mau berdana dan sudah niat ya kaga ada rasa curiga, tdk ada rasa takut, tdk pamrih, tdk ada rasa negatif lagi kecuali brahma vihara tadi.
Klo mengenai dana yg harus disalurkan. bersambung ya.
w/metta
Neir Kate <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sekuntum teratai untuk anda semua para calon Buddha,
Apa yang disampaikan oleh Bro. Yamin itu benar, apa yang disampaikan
oleh Bro. Juned, juga benar. Kalau dari cerita Bro. Erik, dan saya
adalah Bro. Erik, apabila saya melihat "ke dalam" maka motivasi saya
untuk berdana kepada bhikkhu adalah karena saya ingin karma baik yang
lebih besar, jadi bukan karena untuk melatih "melepas", bukan juga
karena benar-benar ingin men-support mereka yang berlatih (hidup) di
jalan spiritual dan berlatih. Sedangkan kalau saya berada di posisi
teman Bro. Erik, maka pada saat itu pikiran saya adalah bahwa dana
yang akan saya berikan kepada bhikkhu ini, apakah benar-benar
dibutuhkan oleh para bhikkhu-bhikkhu yang akan saya akan berikan dana
nanti, atau orang yang didepan saya yang lebih menderita yang lebih
membutuhkannya?Jadi disini tidak ada lagi pertimbangan mana karma
baik yang lebih besar, tapi lebih karena berasa didorrong oleh rasa
iba, belas kasih. Untuk menutup thread dari Bro Erik, mungkin ini
bisa jadi perenungan, jadi manakah yang anda atau saya pilih? Saya
yang lobha akan karma baik, atau saya yang memiliki metta-karuna?
Saya yang lebih mementingkan diri sendiri, atau saya yang
mendahulukan kebutuhan orang lain? Manakah pula jalur yang anda/saya
pilih, jalur dewa, atau jalur bodhisatva?
Dari yang penuh dengan lobha, hanya ingin jadi lebih baik.
--- In [EMAIL PROTECTED]ups.com , "Erik" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Bravo Bro Yamin!!
>
> Itulah yang dinamakan "Kesadaran Etika Otonom", lawannya adalah
> "Kepatuhan Etika Heteronom". Demikian kata Emanuel Kant, seorang
filsuf
> dari tradisi Smith (Samawi).
>
> Otonom, artinya bisa menentukan sendiri tindakan apa yang
sepatutnya,
> sebaiknya dan sepantasnya saya lakukan pada situasi tertentu, dengan
> pertimbangan-pertimbangan yang sepenuhnya dilakukan diri sendiri,
tahu
> dan mengerti alasan mengapa tindakan tsb harus dilakukan serta sadar
> akan kemungkinan dari akibat tindakan yang dilakukan tsb.
>
> Heteronom, artinya melakukan sebuah tindakan pada situasi tertentu
> melulu berdasarkan apa yang dikatakan (diajarkan) oleh orang lain,
tanpa
> mengerti mengapa tindakan itu harus dilakukan, dan juga tidak sadar
> kemungkinan-kemungkinan akibat tindakan yang dilakukan itu
(Pokoknya,
> begitulah diajarkan Bhante !!)
>
> Sebenarnya, pemikiran dan ide-ide tentang Etika dari barat banyak
yang
> berasal dan secara inplisit terkandung dalam ajaran Timur (termasuk
> Buddhisme). Hanya sayangnya para ulama kita banyak yang tidak
sanggup
> menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan
nyata
> kita sehari-hari.
>
> Jadinya, banyak manusia-manusia munafik seperti saya yang memutuskan
> untuk berdana kepada Sangha (bukan kepada Gembel jorok dan dekil)
karena
> demikianlah diajarka oleh Bhante Pannavaro dalam kotbah-kotbah
beliau,
> bahwa objek berdana yang paling baik dan menghasilkan pahala paling
> besar adalah anggota Sangha.
>
> Berarti saya masih sangat sangat heteronom dalam beretika, dan Anda
> sudah mencapai otonomitas dalam kesadaran etika. Bravo, ternyata
masih
> ada umat Buddha yang sadar dan mau menghayati dan mengamalkan
kembali
> makna asali dari agamanya sendiri. !!! Saya salut dan akan berusaha
> belajar dari Anda!!
>
> Salam,
>
> Erik
>
> --------------------- --------- --------- --------- --------- -
----\
> --------------------- --------- --------- --------
>
> In [EMAIL PROTECTED]ups.com , Yamin Prabudy <yaminp@> wrote:
> Bro Erik,
>
> Benar sih apa yang Anda utarakan.. memang itulah yang terjadi "pada
> masa dulu"
>
> Benar juga apa yang Anda katakan, itu kata ulama dari agama
lain,... dan
> kata dari ulama agama kita... tapi apa kata diri kita sendiri ?
> terlepas dari kata-kata dan wejangan para ulama ?
>
> Buddhism tidak memaksa kita hanya mendengarkan kata-kata dari para
> ulama... Buddhism mengajak kita menjadi kritis... tidak dogmatis..
dan
> tidak menerima begitu saja
>
>
> metta
>
> yamin
>
Yahoo! Sports Fantasy Football 06 - Go with the leader. Start your league today! __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Beyond belief | Religion and spirituality | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
