Maaf disambung lagi, Disinggung berdana krn takut, maksudnya bisa jadi kita berdana krn kita takut dizalimi ato bisa jadi kita berdana krn itu loh tertulis di kitab suci belaka tanpa dibarengi dengan kesadaran brahmavihara itu sendiri. Maaf, bukan itu maksudnya. Ajaran adalah pegangan ato alat yg membimbing kita untuk memunculkan sifat sifat luhur tsb.
Klo mengenai kepada siapa kita menyalurkan dana? jawabannya adalah kepada siapa saja yg paling membutuhkannya. Tdk terlepas dia gembel, kusta atau orang yg tdk menyukai kita sekalipun. Kt Bhante, jika si A menganggap kita adalah musuhnya dan ketika dia butuh pertolongan maka kita dapat memberikan pertolongan berupa dana, memaafkan, atau dana dhamma (tergantung apa yg dibutuhkannya).
Masalahnya setelah kita sdh tolong A kemudian dia malah menghina kita, mencela kita, memfitnah kita, maka itu sudah tak jadi masalah lagi bagi kita. kenapa? krn niat kita
berdana dengan kesadaran brahmavihara, kita punya keseimbangan batin. Walau dicela kita tetap berbahagia, lah niatnya kan nolong toh.
Klo ttg memberi yg terbaik dari yg kita punya itu juga bagian dari brahmavihara. Realisasinya bisa dlm btk pikiran, ucapan & perbuatan. cth. byk org memakai baju sampai bekas banget (ada yg udah robek, luntur, aus krn tipis dll) baru rela disumbangkan ke org tdk mampu. Apakah itu salah? tdk ada brahmaviharanya? tergantung. Bila org itu kaya dan kikir. jawabannya mungkin loh Ya. tapi klo dia sendiri juga org yg tdk mampu dan itu yg dapat dia sumbangkan dan sebelum disumbankan, dia menjahit dg rapi bagian yg robek, benang benang yg keluar dirapihkan, dicuci bersih dan digosok rapi. Tentunya kita tdk bisa bilang dia tdk punya brahmavihara bukan? lihatlah caranya dia melakukan sesuatu sudah mencerminkan niat yg berkesadaran brahmavihara. Tiap orang punya brahmavihara cuma kadarnya berbeda, begitu juga
niatnya.
Klo Bhante bilang berdana pada Sangha adalah yg paling baik (maaf aku lupa kata2nya), maka itu ada benarnya juga. Dibandingkan org biasa dg biku/biksu yg jelas menjlnkan sila dengan baik maka kualitas hidup biku jauh lebih baik apalagi klo dalam perbandingan, org tsb tdk ngerti Dhamma, bisanya cuma minta minta aja dan seorang biku yg mampu membabarkan Dhamma dg baik dan benar, sering menolong org lain, yah berdana ke biku/biksu jauh lebih baik. Logika ngak sih? logika kan.
Kembali lagi Sangha seperti apa? byk kok org yg pura pura jadi biku (ini terjadi di Thailand, dan semua biku palsu masuk penjara)
Kt Bhante, kenapa Buddha mengajarkan pula kepada kita ttg prajna/panna? ya utk digunakan bukan? Panna itu penting loh.
Klo dijalan ada gembel yg mo mati lalu ada biku yg terluka parah dikakinya sdg menyebrang kearah kita, ayo mana yg mo
ditolong? ya dua duanya atuh dibawa ke RS. Urusan yg lain mah entar baru dipikirin, misal masalah duit. Klo bisa ditolong dua duanya kenapa harus memilih? Mana kesadaran brahmaviharamu???
Msh ada lagi tapi udah sekian aja. Skarang pendapatku pribadiku Bro Erik dan salam kenal.
aku juga sedang blajar bro Erik. Saran dari aku yg sedang belajar adalah mohon jangan lompat lompat klo blajar. Suatu bangunan akan berdiri dengan kokoh dan kuat bila fondasinya kuat bukan? Buddha menjelaskan begitu byk hal ttg karma, tumimbal lahir, nibbana, meditasi, hukum kesunyataan, paticcasamupada, tilakhana, catari ariya saccani, jalan tengah, dll. Apakah itu berarti semua penjelasan berdiri sendiri semuanya? tidak teman, ini adalah 1 kesatuan yg tidak terpisahkan. Dijelaskan terpisah agar kita lebih mudah memahaminya saja.
Aku ini termasuk org telmi, he he he telat mikir. So aku
biasakan diri baca milis biar otak ini sedikit berfungsi maklum udah tua.
Terus terang ketika aku baca tulisan bro Erik dengan seksama, aku cukup terkejut loh. Maaf, aku typikal org yg biasa membicarakan sesuatu di depan orang langsung. kenapa aku bilang begitu???
"Heteronom, artinya melakukan sebuah tindakan pada situasi tertentu melulu berdasarkan apa yang dikatakan (diajarkan) oleh orang lain, tanpa mengerti mengapa tindakan itu harus dilakukan, dan juga tidak sadar kemungkinan-kemungkinan akibat tindakan yang dilakukan itu (Pokoknya, begitulah diajarkan Bhante !!)"
Menyimak arti heteronom, otonom, wah ... bro hebat ngerti ya istilah seperti itu. aku sendiri baru tahu istilah seperti itu. Ternyata Bro orgnya cerdas. Jadi pertanyaan Bro sebenarnya cukup menjebak bukan? Apa maksud yg ingin bro sampaikan disini?
Boleh kan tukar pikiran?
" Pokoknya begitulah diajarkan Bhante."
Maybe, menurutku kurang wise bila kalimat ini ditulis seperti itu. Kata "Bhante toh tanpa nama" berarti mewakili semua Bhante yg ada dianggota Sangha bukan? Bhante mana yang bro maksudkan?
Klo memang ok kt bhante A. pertanyaanku yg kedua. apakah bro, mengikuti bhante setiap hari, mendengar dhammadesananya setiap hari, berjuang bersamanya setiap hari, berlatih sila bersamanya setiap hari. apakah semua dhammadesananya sudah bhante a sampaikan kepada bro? Apakah Bro sudah mengerti apa yg disampaikan bhante a? apakah bro pernah menanyakan pertanyaan yg sama ke Bhante A?
Bila belum, bagaimana bro bisa bilang klo itulah yg diajarkan Bhante. Bisa jadikan bro mendengar pembahasan topik ini saja dan belum mendengar topik lain yg akan disampaikan bhante yg ada hubungannya dengan topik sebelumnya. seperti kukatakan diatas
semua topik dhamma tdk berdiri sendiri, semua adalah 1 kesatuan yg tidak terpisahkan.
Well, semoga tulisanku tdk membuat bro tersinggung ya.
w/ metta.
Hanya sayangnya para ulama kita banyak yang tidak
sanggup
> menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan
nyata
> kita sehari-hari.
sanggup
> menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan
nyata
> kita sehari-hari.
safira luiz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sekuntum teratai untuk anda semua para calon Buddha,
Maaf aku mau ikut nimbrung tanpa mengomentari secara pribadi. aku cuma mau menyampaikan apa yang pernah saya dengar dari Bhante Subhacando yg sedang belajar di Thai. Semoga aku tidak salah mencerap apa yg telah Bhante sampaikan. kaga ada pali krn Catatanku hilang tapi ini yang aku ingat.Yang penting dalam setiap tindakan adalah cetana/ niat. Kt Bhante ingat baik baik 3 hal ini :Ketika ingin berdana kita berbahagiaPada saat kita berdana kita berbahagiaSesudah kita berdana kita berbahagiaBerbahagia disini maksudnya adalah brahma vihara ( 1 kesatuan yg tidak terpisahkan)Metta, karuna, mudita dan upekkha.Mungkin sdr/i sedhamma semua sudah tahu metta, karuna, mudita tapi kenapa masih harus ada upekha? supaya ketika tindakan kita dipuji kita tdk besar kepala karena niat kita berbuat baik bukan untuk dipuja puji. Begitu juga ketika dana atau perbuatan baik kita dicela orang kita tdk down, kita tdk marah, kesal atau menyesal (tahu gitu kaga akan kubantu) tapi kita tetap berbahagia krn cetana kita tadi.Intinya klo mau berdana dan sudah niat ya kaga ada rasa curiga, tdk ada rasa takut, tdk pamrih, tdk ada rasa negatif lagi kecuali brahma vihara tadi.Klo mengenai dana yg harus disalurkan. bersambung ya.w/metta
Neir Kate <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Sekuntum teratai untuk anda semua para calon Buddha,
Apa yang disampaikan oleh Bro. Yamin itu benar, apa yang disampaikan
oleh Bro. Juned, juga benar. Kalau dari cerita Bro. Erik, dan saya
adalah Bro. Erik, apabila saya melihat "ke dalam" maka motivasi saya
untuk berdana kepada bhikkhu adalah karena saya ingin karma baik yang
lebih besar, jadi bukan karena untuk melatih "melepas", bukan juga
karena benar-benar ingin men-support mereka yang berlatih (hidup) di
jalan spiritual dan berlatih. Sedangkan kalau saya berada di posisi
teman Bro. Erik, maka pada saat itu pikiran saya adalah bahwa dana
yang akan saya berikan kepada bhikkhu ini, apakah benar-benar
dibutuhkan oleh para bhikkhu-bhikkhu yang akan saya akan berikan dana
nanti, atau orang yang didepan saya yang lebih menderita yang lebih
membutuhkannya?Jadi disini tidak ada lagi pertimbangan mana karma
baik yang lebih besar, tapi lebih karena berasa didorrong oleh rasa
iba, belas kasih. Untuk menutup thread dari Bro Erik, mungkin ini
bisa jadi perenungan, jadi manakah yang anda atau saya pilih? Saya
yang lobha akan karma baik, atau saya yang memiliki metta-karuna?
Saya yang lebih mementingkan diri sendiri, atau saya yang
mendahulukan kebutuhan orang lain? Manakah pula jalur yang anda/saya
pilih, jalur dewa, atau jalur bodhisatva?
Dari yang penuh dengan lobha, hanya ingin jadi lebih baik.
--- In [EMAIL PROTECTED]ups.com , "Erik" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Bravo Bro Yamin!!
>
> Itulah yang dinamakan "Kesadaran Etika Otonom", lawannya adalah
> "Kepatuhan Etika Heteronom". Demikian kata Emanuel Kant, seorang
filsuf
> dari tradisi Smith (Samawi).
>
> Otonom, artinya bisa menentukan sendiri tindakan apa yang
sepatutnya,
> sebaiknya dan sepantasnya saya lakukan pada situasi tertentu, dengan
> pertimbangan-pertimbangan yang sepenuhnya dilakukan diri sendiri,
tahu
> dan mengerti alasan mengapa tindakan tsb harus dilakukan serta sadar
> akan kemungkinan dari akibat tindakan yang dilakukan tsb.
>
> Heteronom, artinya melakukan sebuah tindakan pada situasi tertentu
> melulu berdasarkan apa yang dikatakan (diajarkan) oleh orang lain,
tanpa
> mengerti mengapa tindakan itu harus dilakukan, dan juga tidak sadar
> kemungkinan-kemungkinan akibat tindakan yang dilakukan itu
(Pokoknya,
> begitulah diajarkan Bhante !!)
>
> Sebenarnya, pemikiran dan ide-ide tentang Etika dari barat banyak
yang
> berasal dan secara inplisit terkandung dalam ajaran Timur (termasuk
> Buddhisme). Hanya sayangnya para ulama kita banyak yang tidak
sanggup
> menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan
nyata
> kita sehari-hari.
>
>
Salam,
>
> Erik
>
> --------------------- --------- --------- --------- --------- -
----\
> --------------------- --------- --------- --------
>
> In [EMAIL PROTECTED]ups.com , Yamin Prabudy <yaminp@> wrote:
> Bro Erik,
>
> Benar sih apa yang Anda utarakan.. memang itulah yang terjadi "pada
> masa dulu"
>
> Benar juga apa yang Anda katakan, itu kata ulama dari agama
lain,... dan
> kata dari ulama agama kita... tapi apa kata diri kita sendiri ?
> terlepas dari kata-kata dan wejangan para ulama ?
>
> Buddhism tidak memaksa kita hanya mendengarkan kata-kata dari para
> ulama... Buddhism mengajak kita menjadi kritis... tidak dogmatis..
dan
> tidak menerima begitu saja
>
>
> metta
>
> yamin
>
Yahoo! Sports Fantasy Football 06 - Go with the leader. Start your league today!
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Beyond belief | Religion and spirituality | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
