Date sent:              Mon, 1 Mar 1999 06:35:51 -0600 (CST)
Send reply to:          [EMAIL PROTECTED]
From:                   kresno <[EMAIL PROTECTED]>
To:                     Multiple recipients of list <[EMAIL PROTECTED]>
Subject:                Re: (Fwd) KKG yang tidak punya harga diri - Part 2.

> >Date: Sun, 28 Feb 1999 22:52:05 +0700
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >From: kresno <[EMAIL PROTECTED]>
> >Subject: Re: (Fwd) KKG yang tidak punya harga diri - Part 2.
> >In-Reply-To: <[EMAIL PROTECTED]>
> >
> >At 17:25 27/02/99 -0600, you wrote:
> >>Date sent:          Sat, 27 Feb 1999 08:56:57 -0600 (CST)
> >>Send reply to:      [EMAIL PROTECTED]
> >>From:               "King JoJon" <[EMAIL PROTECTED]>
> >>To:                 Multiple recipients of list
> >><[EMAIL PROTECTED]> Subject:            Re: (Fwd) KKG yang
> >>tidak punya harga diri - Part 2.
> >>
> >>> 
> >>> Posting ini bagian kedua dari komentar saya atas tulisan Jusfiq.
> >>> 
> >>> Yang saya komentari adalah komentar Jusfiq atas Kwik Kian Gie (KKG).
> >>> 
> >>> ----------
> >>> > From: [EMAIL PROTECTED]
> >>> > Date: 26 Februari 1999 16:56
> >>> > 
> >>> > 
> >>> > > 
> >>> > > February 24, 1999
> >>> > > 
> >>> > > Rethinking the E. Timor solution
> >>> > > 
> >>> 
> >>> 
> >>> > (....)
> >>> > 
> >>> > >     How should one react to this kind of condition? We are a
> >>> > >     political
> >>> > > party which has no access to any of the multitude of information
> >>> > > that exists about East Timor. We have no information to the
> >>> > > substance of
> >>> the
> >>> > > discussions that have been carried out for 20 years. Our only
> >>> > > access
> >>> to
> >>> > > the situation in East Timor is through the branches of our party
> >>> within
> >>> > > East Timor. From Leandro Elvas' article, I fully realize that the
> >>> > > East Timorese who have joined our party probably cannot give us an
> >>> > > accurate picture of the real situation existing there.
> >>> > > 
> >>> > 
> >>> 
> >>> Jusfiq commented:
> >>> 
> >>> (...) 
> >>> >     Taik anjing! 
> >>> > 
> >>> >   
> >>> (...)
> >>> > 
> >>> >     PDI "has no access to any of the multitude of information that
> >>> >     exists about East Timor. We have no information to the substance
> >>> >     of the discussions that have been carried out for 20 years"?
> >>> > 
> >>> >     Nggak pernah dengar  Operasi Komodo? 
> >>> > 
> >>> >     Nggak pernah dengar Operasi Seroja? 
> >>> > 
> >>> >     Nggak pernah dengar mayat yang bergelimpangan selama ini? 
> >>> > 
> >>> >     Nggak pernah dengan nama Santa Cruz? 
> >>> > 
> >>> >     Ya ampun, ni orang baru datang dari mana? 
> >>> >
> >>> 
> >>> 
> >>> KJJ:
> >>> 
> >>> Yang saya tangkap adalah bahwa KKG qq PDI tidak mempunyai informasi
> >>> cukup mengenai substansi dari diskusi soal TIMTIM selama 20 tahun ini.
> >>> Saya garis bawahi kata-2: substansi dari diskusi soal TIMTIM.
> >>> 
> >>> Detil diskusi soal TIMTIM yang dimaksud memang menjadi benda misterius
> >>> bagi banyak orang di Indonesia termasuk saya, KKG dll.  Cuma Ali
> >>> Alatas dan Soeharto dan Nana Sutresna (dubes RI di PBB) yang tahu
> >>> persis apa yang digunjingkan di meja perundingan antara Portugal, RI,
> >>> PBB dan negara lain.
> >>> 
> >>> Berita yang sampai di Indonesia, selama 20 tahun itu, cuma menyangkut
> >>> "kemenangan politis RI di PBB soal Timtim".  Dan inilah yang dijejali
> >>> ke publik Indonesia semasa  Soeharto berkuasa.  Hampir semua mass
> >>> media memberitakan apa yang Soeharto ingin sampaikan.  Jika ada media
> >>> asing yang memberitakan sebaliknya, jangan harap bisa beredar di
> >>> Indonesia.  Pasti kena sensor petugas berupa black-out pada halaman
> >>> "berita baik" tsb. Jadi harap maklum saja, bahwa kami disini memang
> >>> hidup dalam tempurung soal Timtim.   
> >>> 
> >>> Baru belakangan, kira-2 sejak medio 1994 dimana internet mulai masuk
> >>> ke Indonesia sampai sekarang ini, berita tentang TimTim makin jelas
> >>> dan transparan.
> >>> 
> >>> Operasi Seroja ?  Operasi Komodo ?
> >>> 
> >>> Saya rasa buku bacaan umum yang paling banyak menyebut kedua operasi
> >>> ini adalah biografi Jendral Benny Murdani.  Dan sebatas itu pula
> >>> pengetahuan pembacanya  tentang TimTim.   Kompas, Suara Pembaruan atau
> >>> Tempo dll. cuma sedikit sekali mengungkap apa yang sebenarnya terjadi
> >>> disana.
> >>> 
> >>> Pokoknya: Gelap !!  
> >>> Selama 20 tahun Timtim adalah daerah gelap yang oleh penguasa dibuat
> >>> tidak menarik perhatian dan tidak mengundang minat orang Indonesia
> >>> untuk berkunjung.
> >>> 
> >>> Anda yang berada di Luar Indonesia lebih beruntung karena dapat
> >>> memperoleh gambar yang jelas dan lebih baik.  
> >>> 
> >>> Saya sendiri pernah dinas dan tinggal  2 tahun di Pulau Timor pada thn
> >>> 1987-1989.   Saya bolak balik Dili - Kupang.  Waktu itu yang saya
> >>> lihat di kota Dili ada banyak tentara.  Kotanya sendiri aman-aman
> >>> saja.  Saya cuma denger-denger kata orang Dili bahwa di Baucau dan
> >>> kota lain sebelah timur belum aman.  
> >>> 
> >>> Peristiwa Santa Cruz, sedikit berbeda.  Ketika peristiwa itu terjadi
> >>> ada wartawan asing yang merekamnya dan menyelundupkannya ke luar
> >>> Timtim dan jadi berita dunia.  Video yang beredar luas di dunia saat
> >>> itu kebetulan disaksikan sendiri oleh Soeharto dalam perlawatannya
> >>> keliling dunia (salah satunya saat ia menghadiri KTT Bumi di Brazilia
> >>> - kalau tidak salah - pls correct me).  Dan juga si bajingan ini -
> >>> keruan saja ditanyai bertubi-tubi oleh para wartawan asing di negara
> >>> yang ia hampiri.  Walhasil, beritanya sampai juga ke Indonesia dan
> >>> diberitakan di media massa lokal.
> >>> 
> >>> Selanjutnya semua orang tahu. Beberapa petinggi ABRI dicopot: Sintong
> >>> Panjaitan, Warow, Sepang, Dolfie dll.  Dan pencopotan ini kan cuma
> >>> sekedar untuk menyenangkan publik, wartawan dan dunia.  Nice strategy,
> >>> wasn't it?
> >>> 
> >>> Jadi dalam hal ini, KKG tidak keliru mengatakan bahwa PDI dan/atau ia
> >>> tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai Timtim.  Karena itu
> >>> tadi. Semua pemberitaan selama 20 tahun memang diatur oleh penguasa.
> >>> Dan semua pembicaraan Timtim memang di monopoli Ali Alatas dan
> >>> penguasa Orba.  
> >>> 
> >>> 
> >>
> >>    Gini:  bila Poncke Princen, mendiang romo Mangun, romo Hardo,
> >>    aktivis INIFIGHT, orang-orang yang sekarang aktif di PRD, Munir,
> >>    atau orang-orang seperti Coki Naipospos tahu dari dulu apa yang
> >>    terjadi di Timor-Timur maka sungguh tidak ada ekskus buat lonte
> >>    politik seperti Megawati atau Kwik untuk tidak tahu apa yang terjadi
> >>    di Timor-Timur. 
> >>
> >>    Dan saya bisa beri kesaksian: 
> >>
> >>    ketika cabo fassist Sabam Siagian datang ke Leiden (entah tahun 1979
> >>    entah 1981 saya sudah lupa) dan saya undang dia berbicara dengan
> >>    orang Indonesia dirumah saya, saya beritahu ketika lonte itu apa
> >>    yagn terjadi di Timor-Timur dan saya minta dia untuk juga
> >>    memperhatkan masaalah Timor-Timur, dan kemudian saya kirimi dia
> >>    beberapa informasi yang ada diluar negeri. 
> >>
> >>    Dan saya masih ingat omongan Panda Nababan ketika itu ngenyek:
> >>    "Fiq, Fretilin sudah habis!" 
> >>
> >>    Dan saya tidak lupa untuk mengingatkan avonturir politik yang satu
> >>    ini (Panda Nababan), ketika saya bertemu dengan dia di sebuah cafe
> >>    di Jakarta,  tahun 1995, sehari sebelum saya di usir: "Panda,
> >>    Fretilin telah hancur, dan ini tahun 1995". 
> >>
> >>    Agar jelas: saya bisa maklum bila orang kebanyakan di Indonesia
> >>    tidak tahu apa yang terjadi di Timor-Timur selama ini, tapi bila
> >>    Kwik Kian Gie atau Megawati berkata dia tidak tahu seperti apa yang
> >>    dikatakan KKG maka ketidak tahuannya itu tidak bisa dimaafkan. 
> >>
> >>    Mereka itu mau mengurus negara atau mengurus pompa bensin suami
> >>    Megawati? 
> >
> >k.Hallo fiq,dan king sorry nimbrung nih.
> >
> >Numpang tanya fiq,yang anda maksud Sabam Sirait atau sabam Siagian[ek
> dubes Australia].
> >kalau sabam Siagian apa relevensinya dengan KKG dan Megawati?.
> >Tetapi kalau yang anda maksudkan Sabam Sirait [penasehat politik PDI]
> >yang
> waktu itu ketemu dengan anda ditemani Dr Simatupang [saat ini sakit
> fiq]mungkin masih ada sedikit relevensinya dengan "ngambeknya" anda fiq.

    Sirait ding, salah. 

    Mahap! 

> >Sama seperti sikap Panda Nababan fiq,memang dia seorang wartawan
> senior,tetapi konsentrasinya kan tidak melulu TimTim jadi apa yang dia
> katakan benar,karena informasi mengenai TimTim untuk kami orang2 indonesia
> memang Gelap,dan yang ada hanya info searah saja fiq,versi pemerintah.
> >Lain kalau anda bicara dengan Asmara Nababan atau Indra Nababan,mereka
> aktivis NGO dan saat itu memang koncern mengenai TimTim,mereka banyak
> mendapatkan Info dari aktivis NGO luar negeri. > >Saya hanya ingin
> mengingatkan anda fiq,KKG dan Megawati adalah orang2 partai,mereka terikat
> dengan kebijaksanaan Partai,mereka tidak akan bicara didepan umum bila
> mereka tidak yakin dengan informasi mengenai obyek pembicaraan,atau mereka
> tidak mampu mencari jalan keluar,biasanya mereka akan menjawab secara
> diplomatis. >lain dong dengan aktivis atau orang2 independen,asal goblak
> bila salah tidak ada dampaknya pada organisasi,paling2 resiko dimaki2 umum
> fiq. >Sepertinya anda senang dengan gaya Baramuli?. > >jadi kurang adil
> kalau anda memaksa mereka harus responsip,masih sopan KKG tidak bilang no
> coment!. >Dan harap anda ingat bahwa mereka sendiri waktu itu sangat berat
> untuk lolos dari gebukan Soeharto,waktu dan energi  mereka habis untuk
> survive,jadi wajar bila mereka agak kurang memperhatikan masalah yang
> kurang hot saat itu[masalah Timtim hot setelah pembantaian santa cruz dan
> tertangkapnya Xanana]. > >Yang saya kurang sepaham dengan anda adalah:anda
> terlalu perfeksionis,orang tidak boleh ada kelemahannya sedikitpun
> juga,harus "sempurna",disamping itu anda tidak mau tahu keadaan Indonesia
> saat Soeharto,sehingga kalau sikap orang tersebut kurang frontal,anda
> langsung cap mereka sebagai pengecut. >Saya tidak tahu Fiq,sikap mana yang
> menurut anda lebih berguna,Frontal langsung dikandangi,atau pragmatis
> tetapi perjuangannya jalan terus?. >Budiman Sujatmiko berani,tetapi hanya
> sekejab gaunganya,untung ada reformasi,kalau tidak apakah PRD masih
> eksis?. >Sebaliknya PDI perjuangan saat itu kelihatannya lamban,konsisten
> berjuang lewat jalur Hukum,hasilnya rezim Orba dibikin kebakaran jenggot
> dan mereka tidak bisa dikandangi karena semua yang dilakukan benar dimata
> hukum. > >Disamping itu type pejuang kan bermacam2 fiq,ada yang
> bertanggung jawab akan nasib rakyat,ada yang lebih mementingkan
> tercapainya tujuannya,perkara korban sebodo wae!. >[pejuang bertanggung
> jawab dan pejuang prinsip]. >Terus terang fiq anda terkesan lebih
> mementingkan pokoknya berhasil. >Apakah anda juga senang type pemimpin
> yang sok keminter fiq?,tidak menguasai persoalan yang penting memberi
> komentar supaya dikira serba tahu dan jenius?. >Kalau anda senang type2
> pemimpin yang demikian,bergabunglah dengan DPA fiq!. >Ketuanya kan lincah
> fiq,biar bukan wewenangnya dan tidak tahu permaslahannya,agar dikira
> jenius dan berkuasa,apa saja dikomentarin,sampai2 saya pikir dia itu
> Presiden RI,merangkap Jaksa agung,merangkap ketua DPR,merangkap Pangab dan
> maha guru. > >salam damai > >kresno. 


    Ada yang tidak anda maklumi:  saya - dalam berpolitik -
    mempertahankan prinsip, mempertahan moral yang saya jadikan prinsip
    dan bukan kekuasaan atau kelompok atau teman. 

    Dan salah satu moral yang saya pertahankan itu adalah
    kejujuran, kejujuran kepada diri sendiri, kejujuran terhadap orang
    lain.

    Dan, ya, ini pengaruh moral calvinis yang saya contoh dari orang
    Belanda: kerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya, artinya saya
    berusaha untuk bersikap sebagai perfektionis. 

    Dari posisi itu, saya berada diposisi moral yang mengizinkan saya
    untuk menyatakan pendapat terhadap kesalahan dan kealpaan orang
    lain. 

    Siapa yang bisa berkata bahwa saya sembrono dalam menyatakan
    pendapat? 

    Tidak banyak orang jujur yang bisa berkata demikian terhadap saya,
    karena sebelum menyatakan pndapat saya kerjakan dulu pekerjaan
    yang kudu dikerjakan: memahami masaalah yang saya bicarakan. 

    Untuk ngomong tentang al-Qur'an saya baca setumpuk buku tentang
    agama Islam yang sekarang lagi berserakan dikamar saya. 

    Untuk ngomong tentang ham, tentang demokrasi tahunan saya pelajari
    masaalahnya dengan mendalam. 

    Ok, salah ketik, terjadi juga, seperti salah ketik nama Sirait dan
    nama Siagian ini, tapi salah argumen, salah logika, jarang nian. 

    Tapi salah analis, jarang nian terjadi! 

    Karuan susah buat orang untuk membantah argumen saya. 

    Lalu, siapa diantara orang jujur yang bisa berkata bahwa saya
    hipokkrit? 

    Susah untuk menunjukkan bahwa saya hipokrit, karena saya berusaha
    betul untuk konsisten! 

    Dan - sesuai dengan moral calvinis -: tangan mencincang bahu
    memikul. 

    Saya tanggungkan resiko dari pendirian saya: sebagai konsekwensi
    pilihan saya untuk menjadi pegiat ham, saya (bersama sobat saya
    Liem) kudu mengganti kewarganegaraan saya, saya tidak boleh pulang
    ke Indonesia dan  saya tinggalkan karier akademis saya di
    Perancis. 

    Saya berusaha untuk konsisten. 

    Coherent, kata orang Perancis 

    Satu yang kudu anda ingat: demokrasi itu hanya bisa ditegakkan,
    keadilan itu hanya bisa ditegakkan dengan konsistensi masing-masing
    kita kepada moral pribadi yang masing-masing kita pertahankan. 

    Demokrasi dan ham tidak bisa ditegakkan dengan hipokrisi. 

    Kesalahan kita orang Indonesia, kelemahan kita orang Indoneia
    adalah, karena kita diajar 'bijaksana', kita terbiasa pindah
    prinsip tiap kesempatan menghendaki kita pindah prinsip - demi
    'keberhasilan', demi tipuan. 

    Tanpa penjelasan, tanpa pertanggungan jawab. 

    Dan menipu dan berbohong tidak kita anggap sebagai kesalahan. 

    Orang yang bisa bohong adalah orang pinter. 
   
    Agar anda ingat: pada saat terjadi penindasan, siapapun korbannya,
    sebisa saya, saya bela. 

    Anggota PKI, Fatwa, Megawati. 

    Setiap kali saya melihat ada kekeliruan dan kesalahan orang lain
    saya tunjukkan belaka, termasuk kesalahan sahabat-sahabat saya. 

    Semua, tanpa pilih bulu. 

    Dan ini yang tidak mudah dimengerti oleh kebanyakan orang
    Indonesia yang 'bijaksana': karena adalah bahagian dari
    kebijaksanaan yang diajarkan kepada kita untuk hipokrit; kita
    diajar untuk memicingkan mata bila tiba dimata, mengempiskan perut
    bila tiba diperut. 

    Tidak berarti saya netral, saya punya preferensi.

    Saya menginginkan masyarakat sama rasa dan sama rata, seperti yang
    sedang dibangun orang di Eropa sekarang ini.

    Saya menginginkan masyarakat bebas, seperti yang sedang dibangun
    orang di Eropa sekarang. 

    Dan preferensi saya terhadap kelompok atau partai di Indonesia
    adalah kelompok yang, menurut hemat saya, bergiat kearah itu. 

    Dan PDI Perjuangan tidak punya program kearah itu. 

    Kecerdasanpun mereka tidak punya!


Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo                                             =
======================================

Kirim email ke