Sejawat,
Menyimak dan mendalami permasalahan yang diangkat patutlah pendapat pribadi
dari
the_sangkakala@ yahoo.com, dikatagorikan belum memahami Profesi Kedokteran
berkaitan erat dengan keadaan kesehatan masyarakat luas dan tanggung jawab
terhadap Bangsa dan Negara ini.
Karena belum memahami maka pendapat Pribadi tersebut sangat intuitif dan
tidak mempunyai nilai kemaknaan minimal lebih dari 60%, dan sebaliknya sebagai
kalangan yang lebih tahu harus bertanggung jawab memberikan Pencerahan agar
kita tidak mendapatkan Fitnah dikemudian hari.
Silahkan sahabatku Sang, jika ada friksi pendapat diantara kita untuk
dibicarakan agar nantinya diharapkan dapat menghasilkan Sikap dan Kesan baru
terhadap Profesi dokter dengan baik dan benar ditengah Masyarakat.
Salam
Aris Winandar
diah taman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Setuju 100%.
pak nawir, Jinju
Russel spt <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear All,
mohon tidak lagi menanggapi issue subjektif dan provokatif dari yang menamakan
diri Sang.
Mohon moderator untuk memblokir massages dari orang tersebut agar anggota milis
tidak terjebak pada perdebatan yang tidak konstruktif.
banyak pertanyaan dari orang lain yang perlu bantuan dan dijawab teman sejawat
sekalian dan lebih bermanfaat.
russel. s
Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya kira yg pantas disorot adalah pribadi per pribadi... pada
dasarnya profesi Dokter itu mulia yaitu meringankan dan menyembuhkan
derita orang-orang yg lagi terserang penyakit..
Tapi yg disorot adalah imbal jasa yg diminta oleh banyak dokter-dokter
kita yg nyata-nyata berorientasi komersial, bukan berpaham sosial...
Saya kira kalau begini terus, dokter telah berlaku sebagai penghisap
daya ekonomi orang-orang yg lagi terkena musibah penyakit dan
memperlemah nilai ekonomi orang tersebut tersebab tarif yg mencekik
lehernya dan membkin dia terduduk memikirkan biaya yg harus
dikeluarkannya hanya untuk mendapatkan kesembuhan diri...
Saya perlu tekankan, penyakit adalah sebuah kemalangan, jangan lagi
ditambah kemalangan itu dgn himpitan biaya hidup yg tak tertanggung
oleh si pasien.. lihat-lihat dulu dgn siapa si dokter berhadapan,
mungkin pakaiannya necis atau dia berkendaraan pribadi,tetapi bukan
berarti dia punya uang berlebih untuk bikin dokter-dokter kita bisa
makin kaya dan makin kaya.. itu artinya memperkaya diri ditengah
penderitaan orang.. tidak ada bedanya dgn lintah darat!
Sang
--- In [email protected], aris winandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear all,
>
> Ini hanya urun rembuk aja.
> Agar tidak ada miss understanding diantara kita yang dimaksud
dokter disini adalah Profesinya atau Individunya Si Dokter tersebut ?.
>
> PROFESI Kedokteran (dokter / dokter gigi) termasuk profesi yang
sudah berusia tua, yaitu sejak dikumandangkannya Sumpah Hippocrates
yang terkenal. Profesi ini tetap dipandang sebagai profesi mulia
karena sumpah, sifat dan fungsinya yang memberi pelayanan di bidang
kesehatan secara menyeluruh sejak masa pembuahan.
> Pelayanan Kesehatan secara menyeluruh artinya meliputi usaha-usaha
pencegahan (profilaktif), pengobatan (kuratif), pemulihan
(rehabilitatif) dan peningkatan kesehatan (promotif).
>
> Dengan perangkat keilmuan dan ketrampilannya, profesi Kedokteran
juga mempunyai karakteristik yang khas dalam bentuk pembenaran yang
diberikan oleh hukum untuk melakukan intervensi (tindakan) medis
terhadap tubuh manusia. Intervensi medis terhadap tubuh menusia yang
dilakukan oleh bukan tenaga medis dapat digolongkan sebagai tindak
pidana, semuanya diatur dalam KODEKI = Kode Etik Kedokteran.
>
> Jadi Para pelayan Kesehatan punya etika tersendiri, kalau ada
tindakan medis dari seorang dokter yang ternyata dinilai sebagai
malpraktik, lanjutnya, pihak IDI tak bisa langsung mengatakan bahwa
itu malpraktik. Harus ada penyelidikan dulu secara profesi apakah
memang langkah tersebut melanggar dan malpraktik atau justru
dibenarkan berdasarkan medis. ''Jadi, bukannya kami membela dokter
karena profesinya sama. Tidak, itu tak benar,'' Karena itu, pria yang
bermotto ''bekerja dan berdoa'' itu berharap agar sistem kesehatan
semakin dipahami masyarakat luas dan juga melibatkan pemberdayaan
masyarakat di dalamnya. Maka, ia menilai perlu ada perubahan pandangan
dari paradigma sakit ke sehat di masyarakat dan pemerintah.
>
> PENDAPAT PRIBADI : Di Indonesia yang katanya masih menganut
budaya timur (kecuali gaya hidup cosmo yg wowww, tentunya) memang
berkembang semacam `apa2 gak enak`. Termasuk di dalamnya, gak enak
ngomong, gak enak menuntut dll,
> budaya gak enak ini membuat posisi dokter-pasien jadi rumit. Apalagi
> dalam kasus profesi dokter, memang betul yg berkembang dalam kepala
> kita, dokter itu profesi mulia dan cenderung social. Wong nolong orang
> sakit kok bicarain uang/tarif dulu... Kejam sekali..
>
> Sudut pandang itu kalau kita mau ubah sebagai, dokter itu ya profesi,
> sama seperti profesi2 yg lain. Tidak akan muncul kata `kejam sekali`.
> Hal itulah yang mungkin sudah telanjur berkembang dan di anut. Kita
> sebagai masyarakat pengguna jasa dokter suka lupa untuk menghormati
> profesi dokter selain menuntut jasanya yang harus selalu prima. Lupa
> bahwa untuk mencapai profesi itu, sama seperti profesi lainnya harus
> menempuh jalan yang menghabiskan banyak biaya, waktu, tenaga dan
> pikiran. Lupa bahwa dokter juga perlu makan dan menghidupi keluarganya.
> Nah, yang paling fatal, lupa kalau dokter itu bukan Tuhan yang selalu
> dituntut harus menyelamatkan jiwa orang dari kematian.
>
> Menurut saya pribadi (tidak memaksa ya), dokter itu tidak memiliki tugas
> untuk menyelamatkan jiwa seseorang dari kematian (kebanyakan teman
> dokter yang saya temui punya anggapan bahwa salah satu tugasnya adl
> menyelamatkan jiwa orang). Menurut saya (maaf ya, ini sekedar opini saya
> yang terbatas pengetahuannya) seperti ajaran agama yang saya anut, Ajal
> seseorang itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika IA menghendaki seseorang
> meninggal umur sekian, ya orang itu akan meninggal pada umur tersebut
> dengan cara/jalan apapun. Nah, tugas dokter adalah menyembuhkan sakit
> jika memang itu belum jalan kematiannya, dan membantu pasien untuk
> melewati rasa sakitnya dengan senyaman mungkin (menggunakan ilmu
> pengetahuan dan keahliannya untuk mengurangi derita si sakit) pada saat
> orang menjemput ajal.
>
> Jadi, bagi saya tidak ada alasan untuk menuntut dokter karena gagal
> menyelamatkan jiwa seseorang dari kematian, tidak ada seorang pun yang
> dapat mengelakkannya. Tapi boleh menuntut dokter untuk bekerja lebih
> teliti dan sesuai prosedur yang benar dalam memberikan pelayanannya.
> Boleh menuntut dokter, kalau jelas2 dia teledor sehingga memperburuk dan
> menambah derita pasien ATAU minta bayaran tinggi, kembalikan ke
Mekanisme pasar atau jalin Komunikasi yang baik dan benar.
>
> Kalau kita bicara soal dokter sebagai profesi, tugas para pasien untuk
> menghormatinya dan tugas dokter untuk memberikan layanan yang
> berkualitas.
>
> Mengenai layanan yang berkualitas, memang ada banyak sekali faktor
yang
> membuat layanan menjadi tidak berkualitas. Tapi terlepas dari semua
> kendala itu, saya harap dokters semua tetap punya semangat untuk
> senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan dalam
keadaan
> sesulit apapun. Jadi, mari kita masyarakat pengguna jasa dokter
belajar
> untuk menghormati profesi dokter. Dan silakan dokters semua belajar
> untuk meningkatkan kualitas pelayanan, jangan bosan2 untuk saling
> mengedukasi. Kalau ada kritikan dan keluhan, anggap sebagai masukan
> positif dan curhat sebagai gerbang untuk membangun jembatan hubungan
> yang lebih positif...
>
> *WARNING : uraian di atas tidak berlaku bagi Para dokter yang
dengan sengaja memanfaatkan ilmu pengetahuan dan keahliannya untuk
mencapai tujuan tertentu atau materi semata dengan cara-cara negatif
yang tidak
> dibenarkan, seperti mengindahkan prosedur dan kode etik yang
berlaku. :)
>
> ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
>
> zul efendi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> sedikit komentar, jika anda punya saudara atau tetangga
seorang dokter, coba tanya ke dia, gimana sih dokter itu, sesoreang
bisa berkomentar seperti "sang" karena dia tidak tau sedikitpun
tentang dokter, kalo pun tau, yang dia tau hanyalah yang enak2nya
saja... saya kasian melihat dokter, perawat dan tenag kesehatan
lainnya yang hanya punya kewajiban dan seperti tidak punya hak...
mingkin kesenangan yang mereka peroleh hanya satu persen dari
pengorbanan dan penderitaan yang harus dilaluinya... bahkan uang yang
ia dapat kadang tak sempat dinikmatinya, waktu dan tenaganya
dihabiskan untuk orang lain, dan tak jarang waktu untuk kelurag pun n
yaris tidak ada.. bahkan buiat makan pun waktunya tersita... adakah
profesi lain yang seperti ini ? tentara sekalipun ada shift2nya,
diatur oleh pimpinannya. tapi dokter siapa yang ngatur ? mayarakat
yang ngatur... masyarakt hanya bisa bepikir.. saya, keluarga saya,
teman saya sakit, harus ditolong segera, dokter wajib menolong?
> tidak
> peduli apakah dokternya sanggup ato tidak... adakah profesi lain
yang seperti ini.. wahai saudaraku,jangan melihat sesuatu hanya
ddengan uang, belajarlah itu melihat sesuatu secara konprehensif,
jauhkanlah diri dari mencari2 kesalahan orang lain. jika kita sibuk
menacari2 kesalahan orang lain, ga akan maju-maju kita, kita akan
tetap menjadi bangsa yang terbelakang ..... jika kita sibuk melihat
kesalahan orang lain, juga bikn kita tambah stress, merugikan diri
kita sendiri
>
> Rajo Angek Garang
>
> Master Writer <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ikutan komentar ah...
>
> Emang tuh dokter 'gila' juga kali ya minta bayaran sampe semahal itu...
> Masa sih?
> Berapa contoh kasus yang anda miliki?
> Coba bandingkan dengan jumlah dokter yang bekerja di daerah
terpencil dengan
> sukarela, dibayar dengan apa adanya, bahkan kadang ga dibayar...
> Coba Anda bandingkan mulianya hati dokter-dokter yang bekerja di
Instalasi
> Gawat Darurat, yang bayarannya ga seberapa, jam kerja bisa lebih dari 12
> jam, bahkan ada yang sampe 24 jam, rela tidak tidur, rela menolong orang
> yang mabuk, berantem, orang yang tidak punya keluarga dan emngalami
> kecelakaan, orang yang tidak mampu...
> Dan kalau Anda mau bicara soal harga, ekonomi, duit, pengorbanan
Anda dan
> keluarga dan saudara, kakek nenek buyut cucu cicit dan lain-lain,
BANDINGKAN
> dengan DENDA UU Kesehatan buat dokter yang dipersalahkan atas
tindakannya
> (berapa milyar tuh dendanya? Kerja seumur hidup juga lom tentu bisa
bayar,
> padahal niatnya sih baik...)
>
> Saya bukan dokter, jadi Anda tidak usah berpikir dokter selalu
membela diri
> dan sebagainya.
> Saran saya buat Anda yang selalu berkeluh kesah tentang dokter :
> 1. Jangan sakit
> 2. Jangan kecelakaan
> 3. Ga usah ke dokter kalo cuma bisa mengeluh doank, kasian dokternya
> 4. Cari dokter yang sesuai dengan kemampuan Anda, ke PUSKESMAS aja (ga
> percaya ya sama dokter PUSKESMAS? kasian deh lu... emangnya dokter
Puskesmas
> sama praktek dokter pribadi ilmunya beda? Ya NGGA lah..)
> 5. JANGAN cuma NGOMONG DI MILIS DOANK, ngomong langsung donk sama
> dokternya...
>
> saya mohon maaf kepada moderator kalau ada hal-hal yang tidak berkenan.
> terima kasih.
>
> On 10/6/06, Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Sekedar ilustrasi tambahan s...
> >
> > Istri saya habis dikiret( curetase ) rahimnya tersebab keguguran..
> > saat pulang dimintai biaya pembayaran sebesar 800ribu, dgn rincian
> > untuk si dokter kandungan sebanyak 350 ribu hanya jasanya saja, biaya
> > kebidanan 150 ribu, dan sisanya biaya obat dan fasilitas rumah
> > bersalin... saya kira si dokter betul-betul keterlaluan dgn tarif
> > jasanya saja yg memakan waktu hanya seperempat jam proses kuretase..
> > apa ini tidak melewati batas?
> >
> > Kemarin ada informasi biaya 300ribu biaya oleh seorang dokter terhadap
> > pasien ISPA panas tinggi.. biayanya sudah terhitung mempermiskin si
> > pasien yg ternyata adalah seorang buruh.. apa ini tidak keterlaluan?
> >
> > Saya punya banyak kasus lain yg memperkuat asumsi saya bahwa Dokter
> > dan pihak rumah sakit sepertinya tidak peduli dgn kesulitan ekonomi
> > pasien yg ditangani.. bagi para dokter ini , uang adalah kiblat utama
> > dan ini pantas diberi ultimatum bahwa tindakan mereka dgn ekonomi
> > biaya tinggi pantas diberi peringatan keras...
> >
> > Ini adalah homework bagi IDI dan Dep. Kesehatan dan introspeksi diri
> > bagi para dokter keterlaluan ini...
> >
> > Sang
> >
> >
> > --- In [email protected] <dokter%40yahoogroups.com>, "Sang"
> > <the_sangkakala@> wrote:
> > >
> > > Hmmm.. Ada diskusi hangat ttg apa afdol dokter laki-laki periksa
> > > kandungan perempuan dan dokter perempuan melakukan sunat atas
kelamin
> > > laki-laki.. Tapi Daripada meributkan dokter perempuan periksa
kelamin
> > > panjang laki-laki atau dokter lelaki periksa lobang kemaluan
> > > perempuan, mendingan kita ngurus kemiskinan ditilik dari aktivitas
> > > dokter-dokter atas upaya penciptaan kemiskinan simultan
berkelanjutan...
> > >
> > > Saya lihat ada indikasi dokter-dokter kita turut andil dalam
> > > penciptaan kemiskinan massal.. Kerjaan dokter zaman sekarang adalah
> > > memperbesar kwantitas keuangan pribadi dan mempertipis keuangan
> > > pasien-pasiennya..
> > >
> > > dokter bak seorang penyembuh sekaligus lintah darat.. pekerjaanya
> > > rangkap dimana dia memandang pasiennya adalah kesempatan emas dalam
> > > memperkaya diri sendiri...
> > >
> > > kita juga sudah mengetahui bahwa dokter juga bekerja sama dgn
industri
> > > farmasi dimana si dokter yg memakai obat tertentu akan mendapat fee
> > > dan bonus... Ini artinya dokter berharap keuntungan ganda yaitu dari
> > > si pasien sekaligus dunia farmasi obat-obatan...
> > >
> > > Cara-cara begini sudah termasuk hal yg menjadikan banyak orang yg
> > > mengalami sakit menjadi bertambah penyakitnya yaitu : PERTAMA: sakit
> > > yg diderita dan yg KEDUA: sakit kantong alias isi kantongnya jadi
> > > berkurang jauh tersebab dioveralih oleh dokter-dokter kita ini yg
> > > berlagak bak malaikat penolong tetapi sebetulnya adalah bekerja
> > > menagguk diair keruh, mengambil keuntungan ditengah penderitaan
> > > orang.. YG KETIGA SAKIT HATI: udah dokter dibayar mahal, ee penyakit
> > > tak kunjung sembuh, akhirnya jadi sakit hati pada itu dokter.. jadi
> > > dokter-dokter neces kita ini memperkaya diri ditengah penderitaan
> > > orang dan memanfaatkan penyakit dan penderitaan orang untuk
memperkaya
> > > diri pribadi..
> > >
> > > Ini saya kira perlu ditertibkan oleh dunia kedokteran kita terkhusus
> > > Departemen Kesehatan yg sekarang lagi dipromotori oleh Siti Fadillah
> > > Supari yg semok..
> > >
> > > Dokter-dokter ini perlu menegakkan kembali kode etik kedokteran dan
> > > menjadikan kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial kemasyarakatan
> > > bukan lagi upaya penggelembungan kekayaan pribadi..
> > >
> > >
> > >
> > > Sang
> > >
> > > Pengamat kemiskinan plus tukang teriak dimana-mana..
> > >
> >
> >
> >
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo!
Small Business.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.
[Non-text portions of this message have been removed]
Every day is Ashura and every land is Kerbala
Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang
menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?".
Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama
sekali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan
orang-orang musyrik."
(QS. 6:14)
---------------------------------
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
[Non-text portions of this message have been removed]
Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dokter/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/dokter/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/