Pendidikan murah --> sekolah gratis Kesehatan baik --> dokter gratis, obat gratis Daya beli --> semuanya gratis
Mr.Sang, cobalah Anda berpikir lebih luas lagi... jangan hanya memandang dari segi Anda dan dokter Anda. On 10/13/06, aris winandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > the_sangkakala, > > Perspektif Anda bagus, harapan Saya, Anda mampu berdiri ditengah jangan > hanya melihat dari satu sisi dan mungkin Anda mengetahui sedikit walaupun > bukan katagori masyarakat awam, hasilnya akan Subyektif dan jauh dari > Kebenaran & Keadilan. Dokter berkewajiban memberikan pelayanan yang > Profesional, titik. kalau mau dilebarkan hingga andil dalam Pemiskinan > Bangsa, itu pendapat yang kurang pada tempatnya karena NIAT, UCAPAN dan > SIKAP harus sesuai, menghakimi orang lain atau profesi lain, siap untuk > diminta PERTANGGUNG JAWABANNYA kelak, profesi dokter tidak ubahnya Pelukis, > Penulis, Artis, bagaimana mungkin orang Awam mencoba menghargai Lukisan > Almarhum Affandi atau memberi komentar tentang hasil lukisannya, ini bukan > Republik Mimpi masih Republik Indonesia. > Menanggapi uraian Anda, Saya jadi teringat sewaktu bertugas sebagai Dokter > PTT di Lampung tengah, maaf mungkin mirip wajah dan keinginan Pak Maryanto, > kepala Dinas Lampung Tengah kala itu. > Kata Beliau saat Rapat Dinas : Para dokter haruslah memberikan pelayanan > kesehatan yang Optimal dan tarif semurah mungkin, ketika itu Saya langsung > unjuk jari menanyakan dimana KEADILAN, khususnya tetang tarif jasa dokter > karena Islam lebih menekankan faktor tersebut ke pada Umatnya sebelum > lainnya, kebeteluan Beliau Muslim, dengan pertimbangan sekalian rangkuman > pendapat pribadi : > > 1. Ingat faktor biaya terbesar pada Harga Obat dan Fasilitas, bukan tarif > jasa dokter. > 2. Susu kedua anak Saya ketika itu 45rb/kaleng, dibutuhkan 4kaleng/bl, > gaji 500rb. > 3. Produk jasa pelayanan kesehatan sempit toleransi tarifnya, hasilnya > Subyektif > 4. 2,5 % jasa produk harus Adil dengan harga Kebutuhan sehari hari Para > dokter > 5. Siapa yang bisa kontrol supplay - Demand kecuali Si Sakit atau > Keluarganya. > 6. Penetapan tarif diatur IDI / KODEKI, walau sulit(Kepulauan, > budaya,kesadaran,dlb) > 7. Pilih peta Jasa Kesehatan, Dukun, Puskemas, Praktek Umum, > Specialis/VIP. > 8. Kesehatan, kemampuan daya beli tidaklah ADIL menjadi tanggung jawab > Dokter . > 9. Sosialisasi hal tersebut diatas tanggung jawab Siapa ? selain dokter > dan Anda. > > Semoga uraian tersebut bermanfaat buat kita, jika kurang tepat itu karena > hanya pendapat dan pengalaman Pribadi sewaktu tugas di Lampung, semoga Tuhan > selalu memberikan Petunjuk dan PerlindunganNYA, amin > > Salam hormat > Dr Aris Winandar > > > Sang <[EMAIL PROTECTED] <the_sangkakala%40yahoo.com>> wrote: > nah, ini pendapat yg lumayan bijak.. > > Saya kira ada yg perlu disosialisasikan para Dokter kepada khalayak > yaitu dgn metode atau sistematika apa atau dgn akunting yg bagaimana > seorang Dokter menetapkan tarif? > > Berdasar sistem Islam, hanya 2,5% yg boleh diambil keuntungan dari > sebuah produk maupun jasa.. sebaliknya Berdasar sistem kapitalist, > yaitu berdasar mekanisme pasar dimana produk yg paling dibutuhkan, > harganya akan melejit naik sesuai hukum permintaan penawaran..Apa > nilai begini yg dianut Dokter-dokter saya? > > Saya kira dokter saya juga perlu menetapkan sebuah anutan atau pedoman > umum ttg penetapan tarif.... > > Dunia perdagangan saja telah punya penetapan tarif import eksport, > termasuk pajak rendah, discount, dan keringanan-keringan atau insentif... > > Semestinya para Dokter juga haruslah punya semacam > keringanan-keringanan bagi pasien yg ditangani, jangan ,main pukul > rata... Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ) juga semestinya sudah harus > mengeluarkan pedoman ambang batas atau nilai uang maksimal bagi sebuah > tindakan medik bagi pasien-pasien... Sementara dunia farmasi dituntut > oleh pemerintah menetapkan nilai maksimal sebuah produk Obat, kenapa > para Dokter-dokter saya dan institusinya tidak melakukannya? > > Ini yg saya protes dan dampaknya lumayan dahsyat bagi pasien tak mampu > dan butuh obat yaitu pemiskinan secara ekonomi.. tidak mungkin seorang > pasien perlu kekelurahan dulu ngurus surat miskin supaya dapat > keringanan setiap mau berobat, atau susah payah ngurus Askes dan > jamsostek bagi buruh dan pekerja... > > Saya kira kalau biaya berobat bisa ditekan rendah , maka Sumber daya > manusia Kita akan lebih baik yaitu kemampuan daya belinya meningkat > dan Ekonomi bergerak berlanjut keperbaikan kesejahteraan umum secara > massal.. > > Ada tiga indikator yaitu : satu : Pendidikan murah, Kesehatan baik dan > Daya beli... > > kalau kesehatan mahal dan berat bagi sebagian bangsa ini, maka akan > berimbas pada daya belinya termasuk kemampuan ekonominya untuk > mendapat pendidikan baik akan lemah dan terbatas.. > > Saya bukannya menghina Dokter-dokter saya, tetapi saya memberikan > perspektif lain... Penilaian bukan hanya datang dari diri sendiri atau > rekan seprofesi tetapi juga dari konsumen dan stakeholder yaitu > Masyarakat awam... > > Sang > > --- In [email protected] <dokter%40yahoogroups.com>, aris winandar > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Sejawat, > > > > Menyimak dan mendalami permasalahan yang diangkat patutlah > pendapat pribadi dari > > the_sangkakala@ yahoo.com, dikatagorikan belum memahami Profesi > Kedokteran berkaitan erat dengan keadaan kesehatan masyarakat luas dan > tanggung jawab terhadap Bangsa dan Negara ini. > > Karena belum memahami maka pendapat Pribadi tersebut sangat > intuitif dan tidak mempunyai nilai kemaknaan minimal lebih dari 60%, > dan sebaliknya sebagai kalangan yang lebih tahu harus bertanggung > jawab memberikan Pencerahan agar kita tidak mendapatkan Fitnah > dikemudian hari. > > > > Silahkan sahabatku Sang, jika ada friksi pendapat diantara kita > untuk dibicarakan agar nantinya diharapkan dapat menghasilkan Sikap > dan Kesan baru terhadap Profesi dokter dengan baik dan benar ditengah > Masyarakat. > > > > Salam > > Aris Winandar > > > > > > diah taman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Setuju 100%. > > > > pak nawir, Jinju > > > > Russel spt <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Dear All, > > > > mohon tidak lagi menanggapi issue subjektif dan provokatif dari yang > menamakan diri Sang. > > > > Mohon moderator untuk memblokir massages dari orang tersebut agar > anggota milis tidak terjebak pada perdebatan yang tidak konstruktif. > > > > banyak pertanyaan dari orang lain yang perlu bantuan dan dijawab > teman sejawat sekalian dan lebih bermanfaat. > > > > russel. s > > > > Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya kira yg pantas disorot adalah pribadi per pribadi... pada > > dasarnya profesi Dokter itu mulia yaitu meringankan dan menyembuhkan > > derita orang-orang yg lagi terserang penyakit.. > > > > Tapi yg disorot adalah imbal jasa yg diminta oleh banyak dokter-dokter > > kita yg nyata-nyata berorientasi komersial, bukan berpaham sosial... > > > > Saya kira kalau begini terus, dokter telah berlaku sebagai penghisap > > daya ekonomi orang-orang yg lagi terkena musibah penyakit dan > > memperlemah nilai ekonomi orang tersebut tersebab tarif yg mencekik > > lehernya dan membkin dia terduduk memikirkan biaya yg harus > > dikeluarkannya hanya untuk mendapatkan kesembuhan diri... > > > > Saya perlu tekankan, penyakit adalah sebuah kemalangan, jangan lagi > > ditambah kemalangan itu dgn himpitan biaya hidup yg tak tertanggung > > oleh si pasien.. lihat-lihat dulu dgn siapa si dokter berhadapan, > > mungkin pakaiannya necis atau dia berkendaraan pribadi,tetapi bukan > > berarti dia punya uang berlebih untuk bikin dokter-dokter kita bisa > > makin kaya dan makin kaya.. itu artinya memperkaya diri ditengah > > penderitaan orang.. tidak ada bedanya dgn lintah darat! > > > > Sang > > > > --- In [email protected] <dokter%40yahoogroups.com>, aris winandar > <aris_winandar@> wrote: > > > > > > Dear all, > > > > > > Ini hanya urun rembuk aja. > > > Agar tidak ada miss understanding diantara kita yang dimaksud > > dokter disini adalah Profesinya atau Individunya Si Dokter tersebut ?. > > > > > > PROFESI Kedokteran (dokter / dokter gigi) termasuk profesi yang > > sudah berusia tua, yaitu sejak dikumandangkannya Sumpah Hippocrates > > yang terkenal. Profesi ini tetap dipandang sebagai profesi mulia > > karena sumpah, sifat dan fungsinya yang memberi pelayanan di bidang > > kesehatan secara menyeluruh sejak masa pembuahan. > > > Pelayanan Kesehatan secara menyeluruh artinya meliputi usaha-usaha > > pencegahan (profilaktif), pengobatan (kuratif), pemulihan > > (rehabilitatif) dan peningkatan kesehatan (promotif). > > > > > > Dengan perangkat keilmuan dan ketrampilannya, profesi Kedokteran > > juga mempunyai karakteristik yang khas dalam bentuk pembenaran yang > > diberikan oleh hukum untuk melakukan intervensi (tindakan) medis > > terhadap tubuh manusia. Intervensi medis terhadap tubuh menusia yang > > dilakukan oleh bukan tenaga medis dapat digolongkan sebagai tindak > > pidana, semuanya diatur dalam KODEKI = Kode Etik Kedokteran. > > > > > > Jadi Para pelayan Kesehatan punya etika tersendiri, kalau ada > > tindakan medis dari seorang dokter yang ternyata dinilai sebagai > > malpraktik, lanjutnya, pihak IDI tak bisa langsung mengatakan bahwa > > itu malpraktik. Harus ada penyelidikan dulu secara profesi apakah > > memang langkah tersebut melanggar dan malpraktik atau justru > > dibenarkan berdasarkan medis. ''Jadi, bukannya kami membela dokter > > karena profesinya sama. Tidak, itu tak benar,'' Karena itu, pria yang > > bermotto ''bekerja dan berdoa'' itu berharap agar sistem kesehatan > > semakin dipahami masyarakat luas dan juga melibatkan pemberdayaan > > masyarakat di dalamnya. Maka, ia menilai perlu ada perubahan pandangan > > dari paradigma sakit ke sehat di masyarakat dan pemerintah. > > > > > > PENDAPAT PRIBADI : Di Indonesia yang katanya masih menganut > > budaya timur (kecuali gaya hidup cosmo yg wowww, tentunya) memang > > berkembang semacam `apa2 gak enak`. Termasuk di dalamnya, gak enak > > ngomong, gak enak menuntut dll, > > > budaya gak enak ini membuat posisi dokter-pasien jadi rumit. Apalagi > > > dalam kasus profesi dokter, memang betul yg berkembang dalam kepala > > > kita, dokter itu profesi mulia dan cenderung social. Wong nolong orang > > > sakit kok bicarain uang/tarif dulu... Kejam sekali.. > > > > > > Sudut pandang itu kalau kita mau ubah sebagai, dokter itu ya profesi, > > > sama seperti profesi2 yg lain. Tidak akan muncul kata `kejam sekali`. > > > Hal itulah yang mungkin sudah telanjur berkembang dan di anut. Kita > > > sebagai masyarakat pengguna jasa dokter suka lupa untuk menghormati > > > profesi dokter selain menuntut jasanya yang harus selalu prima. Lupa > > > bahwa untuk mencapai profesi itu, sama seperti profesi lainnya harus > > > menempuh jalan yang menghabiskan banyak biaya, waktu, tenaga dan > > > pikiran. Lupa bahwa dokter juga perlu makan dan menghidupi > keluarganya. > > > Nah, yang paling fatal, lupa kalau dokter itu bukan Tuhan yang selalu > > > dituntut harus menyelamatkan jiwa orang dari kematian. > > > > > > Menurut saya pribadi (tidak memaksa ya), dokter itu tidak memiliki > tugas > > > untuk menyelamatkan jiwa seseorang dari kematian (kebanyakan teman > > > dokter yang saya temui punya anggapan bahwa salah satu tugasnya adl > > > menyelamatkan jiwa orang). Menurut saya (maaf ya, ini sekedar > opini saya > > > yang terbatas pengetahuannya) seperti ajaran agama yang saya anut, > Ajal > > > seseorang itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika IA menghendaki > seseorang > > > meninggal umur sekian, ya orang itu akan meninggal pada umur tersebut > > > dengan cara/jalan apapun. Nah, tugas dokter adalah menyembuhkan sakit > > > jika memang itu belum jalan kematiannya, dan membantu pasien untuk > > > melewati rasa sakitnya dengan senyaman mungkin (menggunakan ilmu > > > pengetahuan dan keahliannya untuk mengurangi derita si sakit) pada > saat > > > orang menjemput ajal. > > > > > > Jadi, bagi saya tidak ada alasan untuk menuntut dokter karena gagal > > > menyelamatkan jiwa seseorang dari kematian, tidak ada seorang pun yang > > > dapat mengelakkannya. Tapi boleh menuntut dokter untuk bekerja lebih > > > teliti dan sesuai prosedur yang benar dalam memberikan pelayanannya. > > > Boleh menuntut dokter, kalau jelas2 dia teledor sehingga > memperburuk dan > > > menambah derita pasien ATAU minta bayaran tinggi, kembalikan ke > > Mekanisme pasar atau jalin Komunikasi yang baik dan benar. > > > > > > Kalau kita bicara soal dokter sebagai profesi, tugas para pasien untuk > > > menghormatinya dan tugas dokter untuk memberikan layanan yang > > > berkualitas. > > > > > > Mengenai layanan yang berkualitas, memang ada banyak sekali faktor > > yang > > > membuat layanan menjadi tidak berkualitas. Tapi terlepas dari semua > > > kendala itu, saya harap dokters semua tetap punya semangat untuk > > > senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan dalam > > keadaan > > > sesulit apapun. Jadi, mari kita masyarakat pengguna jasa dokter > > belajar > > > untuk menghormati profesi dokter. Dan silakan dokters semua belajar > > > untuk meningkatkan kualitas pelayanan, jangan bosan2 untuk saling > > > mengedukasi. Kalau ada kritikan dan keluhan, anggap sebagai masukan > > > positif dan curhat sebagai gerbang untuk membangun jembatan hubungan > > > yang lebih positif... > > > > > > *WARNING : uraian di atas tidak berlaku bagi Para dokter yang > > dengan sengaja memanfaatkan ilmu pengetahuan dan keahliannya untuk > > mencapai tujuan tertentu atau materi semata dengan cara-cara negatif > > yang tidak > > > dibenarkan, seperti mengindahkan prosedur dan kode etik yang > > berlaku. :) > > > > > > ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ > > > > > > zul efendi <perintisfk@> wrote: > > > sedikit komentar, jika anda punya saudara atau tetangga > > seorang dokter, coba tanya ke dia, gimana sih dokter itu, sesoreang > > bisa berkomentar seperti "sang" karena dia tidak tau sedikitpun > > tentang dokter, kalo pun tau, yang dia tau hanyalah yang enak2nya > > saja... saya kasian melihat dokter, perawat dan tenag kesehatan > > lainnya yang hanya punya kewajiban dan seperti tidak punya hak... > > mingkin kesenangan yang mereka peroleh hanya satu persen dari > > pengorbanan dan penderitaan yang harus dilaluinya... bahkan uang yang > > ia dapat kadang tak sempat dinikmatinya, waktu dan tenaganya > > dihabiskan untuk orang lain, dan tak jarang waktu untuk kelurag pun n > > yaris tidak ada.. bahkan buiat makan pun waktunya tersita... adakah > > profesi lain yang seperti ini ? tentara sekalipun ada shift2nya, > > diatur oleh pimpinannya. tapi dokter siapa yang ngatur ? mayarakat > > yang ngatur... masyarakt hanya bisa bepikir.. saya, keluarga saya, > > teman saya sakit, harus ditolong segera, dokter wajib menolong? > > > tidak > > > peduli apakah dokternya sanggup ato tidak... adakah profesi lain > > yang seperti ini.. wahai saudaraku,jangan melihat sesuatu hanya > > ddengan uang, belajarlah itu melihat sesuatu secara konprehensif, > > jauhkanlah diri dari mencari2 kesalahan orang lain. jika kita sibuk > > menacari2 kesalahan orang lain, ga akan maju-maju kita, kita akan > > tetap menjadi bangsa yang terbelakang ..... jika kita sibuk melihat > > kesalahan orang lain, juga bikn kita tambah stress, merugikan diri > > kita sendiri > > > > > > Rajo Angek Garang > > > > > > Master Writer <writefire@> wrote: Ikutan komentar ah... > > > > > > Emang tuh dokter 'gila' juga kali ya minta bayaran sampe semahal > itu... > > > Masa sih? > > > Berapa contoh kasus yang anda miliki? > > > Coba bandingkan dengan jumlah dokter yang bekerja di daerah > > terpencil dengan > > > sukarela, dibayar dengan apa adanya, bahkan kadang ga dibayar... > > > Coba Anda bandingkan mulianya hati dokter-dokter yang bekerja di > > Instalasi > > > Gawat Darurat, yang bayarannya ga seberapa, jam kerja bisa lebih > dari 12 > > > jam, bahkan ada yang sampe 24 jam, rela tidak tidur, rela menolong > orang > > > yang mabuk, berantem, orang yang tidak punya keluarga dan emngalami > > > kecelakaan, orang yang tidak mampu... > > > Dan kalau Anda mau bicara soal harga, ekonomi, duit, pengorbanan > > Anda dan > > > keluarga dan saudara, kakek nenek buyut cucu cicit dan lain-lain, > > BANDINGKAN > > > dengan DENDA UU Kesehatan buat dokter yang dipersalahkan atas > > tindakannya > > > (berapa milyar tuh dendanya? Kerja seumur hidup juga lom tentu bisa > > bayar, > > > padahal niatnya sih baik...) > > > > > > Saya bukan dokter, jadi Anda tidak usah berpikir dokter selalu > > membela diri > > > dan sebagainya. > > > Saran saya buat Anda yang selalu berkeluh kesah tentang dokter : > > > 1. Jangan sakit > > > 2. Jangan kecelakaan > > > 3. Ga usah ke dokter kalo cuma bisa mengeluh doank, kasian dokternya > > > 4. Cari dokter yang sesuai dengan kemampuan Anda, ke PUSKESMAS aja (ga > > > percaya ya sama dokter PUSKESMAS? kasian deh lu... emangnya dokter > > Puskesmas > > > sama praktek dokter pribadi ilmunya beda? Ya NGGA lah..) > > > 5. JANGAN cuma NGOMONG DI MILIS DOANK, ngomong langsung donk sama > > > dokternya... > > > > > > saya mohon maaf kepada moderator kalau ada hal-hal yang tidak > berkenan. > > > terima kasih. > > > > > > On 10/6/06, Sang <the_sangkakala@> wrote: > > > > > > > > Sekedar ilustrasi tambahan s... > > > > > > > > Istri saya habis dikiret( curetase ) rahimnya tersebab keguguran.. > > > > saat pulang dimintai biaya pembayaran sebesar 800ribu, dgn rincian > > > > untuk si dokter kandungan sebanyak 350 ribu hanya jasanya saja, > biaya > > > > kebidanan 150 ribu, dan sisanya biaya obat dan fasilitas rumah > > > > bersalin... saya kira si dokter betul-betul keterlaluan dgn tarif > > > > jasanya saja yg memakan waktu hanya seperempat jam proses kuretase.. > > > > apa ini tidak melewati batas? > > > > > > > > Kemarin ada informasi biaya 300ribu biaya oleh seorang dokter > terhadap > > > > pasien ISPA panas tinggi.. biayanya sudah terhitung mempermiskin si > > > > pasien yg ternyata adalah seorang buruh.. apa ini tidak keterlaluan? > > > > > > > > Saya punya banyak kasus lain yg memperkuat asumsi saya bahwa Dokter > > > > dan pihak rumah sakit sepertinya tidak peduli dgn kesulitan ekonomi > > > > pasien yg ditangani.. bagi para dokter ini , uang adalah kiblat > utama > > > > dan ini pantas diberi ultimatum bahwa tindakan mereka dgn ekonomi > > > > biaya tinggi pantas diberi peringatan keras... > > > > > > > > Ini adalah homework bagi IDI dan Dep. Kesehatan dan introspeksi diri > > > > bagi para dokter keterlaluan ini... > > > > > > > > Sang > > > > > > > > > > > > --- In [email protected] > > > > <dokter%40yahoogroups.com><dokter%40yahoogrou > ps.com>, "Sang" > > > > <the_sangkakala@> wrote: > > > > > > > > > > Hmmm.. Ada diskusi hangat ttg apa afdol dokter laki-laki periksa > > > > > kandungan perempuan dan dokter perempuan melakukan sunat atas > > kelamin > > > > > laki-laki.. Tapi Daripada meributkan dokter perempuan periksa > > kelamin > > > > > panjang laki-laki atau dokter lelaki periksa lobang kemaluan > > > > > perempuan, mendingan kita ngurus kemiskinan ditilik dari aktivitas > > > > > dokter-dokter atas upaya penciptaan kemiskinan simultan > > berkelanjutan... > > > > > > > > > > Saya lihat ada indikasi dokter-dokter kita turut andil dalam > > > > > penciptaan kemiskinan massal.. Kerjaan dokter zaman sekarang > adalah > > > > > memperbesar kwantitas keuangan pribadi dan mempertipis keuangan > > > > > pasien-pasiennya.. > > > > > > > > > > dokter bak seorang penyembuh sekaligus lintah darat.. pekerjaanya > > > > > rangkap dimana dia memandang pasiennya adalah kesempatan emas > dalam > > > > > memperkaya diri sendiri... > > > > > > > > > > kita juga sudah mengetahui bahwa dokter juga bekerja sama dgn > > industri > > > > > farmasi dimana si dokter yg memakai obat tertentu akan > mendapat fee > > > > > dan bonus... Ini artinya dokter berharap keuntungan ganda > yaitu dari > > > > > si pasien sekaligus dunia farmasi obat-obatan... > > > > > > > > > > Cara-cara begini sudah termasuk hal yg menjadikan banyak orang yg > > > > > mengalami sakit menjadi bertambah penyakitnya yaitu : PERTAMA: > sakit > > > > > yg diderita dan yg KEDUA: sakit kantong alias isi kantongnya jadi > > > > > berkurang jauh tersebab dioveralih oleh dokter-dokter kita ini yg > > > > > berlagak bak malaikat penolong tetapi sebetulnya adalah bekerja > > > > > menagguk diair keruh, mengambil keuntungan ditengah penderitaan > > > > > orang.. YG KETIGA SAKIT HATI: udah dokter dibayar mahal, ee > penyakit > > > > > tak kunjung sembuh, akhirnya jadi sakit hati pada itu dokter.. > jadi > > > > > dokter-dokter neces kita ini memperkaya diri ditengah penderitaan > > > > > orang dan memanfaatkan penyakit dan penderitaan orang untuk > > memperkaya > > > > > diri pribadi.. > > > > > > > > > > Ini saya kira perlu ditertibkan oleh dunia kedokteran kita > terkhusus > > > > > Departemen Kesehatan yg sekarang lagi dipromotori oleh Siti > Fadillah > > > > > Supari yg semok.. > > > > > > > > > > Dokter-dokter ini perlu menegakkan kembali kode etik > kedokteran dan > > > > > menjadikan kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial kemasyarakatan > > > > > bukan lagi upaya penggelembungan kekayaan pribadi.. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Sang > > > > > > > > > > Pengamat kemiskinan plus tukang teriak dimana-mana.. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! > > Small Business. > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > http://mail.yahoo.com > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > --------------------------------- > > Do you Yahoo!? > > Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > Every day is Ashura and every land is Kerbala > > Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah > yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak > diberi makan?". Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku > menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri (kepada Allah), dan > jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik." > > (QS. 6:14) > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > Every day is Ashura and every land is Kerbala > Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang > menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi > makan?". Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang > yang pertama sekali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali > kamu masuk golongan orang-orang musyrik." > (QS. 6:14) > > > --------------------------------- > Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed] Dapatkan informasi kesehatan gratis Mailing List Dokter Indonesia http://www.mldi.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/dokter/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/dokter/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
