UNREG

aris winandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Yang saya hormati,

Sang [EMAIL PROTECTED]

Tentu kontek Profesional idealnya dari mulai perencanaan, pengorganisasian 
dibawah IDI atau Rumah Sakit tempat bernaung, Operasionalnya hingga produk, 
didalamnya termasuk jasa tarif dokter, bukan hanya General biaya Pengobatan aja 
yang di PROTES, mana unit cost untuk dokter dan bagian mana unit cost karena 
Obatnya, tempat pelayanan, dan fasilitas sarana/prasarana pelayana Kesehatan 
lainnya, sebelum Saya berusaha menjelaskan untuk memilih dan melilah Unit cost 
oleh Pengguna jasa Medis, siapa yang menentukan harga obat, siapa yang membuat 
tariff kamar, ruang operasi, ongkos Lab maupun rotgent, biaya Pendaftaran dls. 
Coba sahabatku merem untuk merenung Sebentar pakai hati jangan hanya Otak 
awammu karena itu menipu.

Yang bikin bangsa ini miskin adalah miskin achlak nya sehingga jadi miskin 
materi terutama akibat korupsi disegala bidang, kebodohan, kemalasan, emosi 
tinggi/labil, dll. Bila bicara tarif dokter Indonesia, perbandingkan juga 
dengan tarif dokter di negara lain. agar dokter dapat hidup layak juga. Tidak 
semua dokter kaya, bahkan banyak juga yang menjadi anggota IDI ( Ikatan Dhuafa 
Indonesia ) ya bukan?. Yang penting setiap niat/perbuatan kita harus karena 
Allah agar menjadi amal baik. Menurut Bung Yos " Memang baik jadi orang 
penting, tapi lebih penting jadi orang baik". Anda orang baik atau orang Penting

Salam
Aris We.


Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dr.Aris and Dokter-dokter saya lainnya..

Saya kira memang sudah seharusnya Dokter memberi pelayanan yg 
profesional, akan tetapi profesional dalam konteks apa? atau dgn 
pegangan nilai yg bagaimana...

Di Rusia era komunis, semua pekerja termasuk olahragawan Soviet 
dituntut bekerja profesional dan sempurna.. Tetapi bayaran mereka 
ditentukan pemerintah..

Di era sekarang , Dokter bebas menetapkan tarif... 
Yg jadi pertanyaan apa ini merupakan interpretasi dari paham liberal 
bebas tanpa batas??? dimana sistem Kapitalisme dgn acuan keuntungan 
adalah kiblat, saya menilai dokter-dokter saya juga dijangkiti dan 
disusupi dgn paham ini baik secara sadar maupun secara bawah sadar...

Saya percaya banyak dari dokter-dokter kita yg bekerja tanpa pamrih, 
bekerja secara sukarela dipedalaman, daerah konflik, wilayah perang, 
daerah bencana, wilayah wabah penyakit dan juga mungkin pergi 
keliling kampung menjemput pasien...

Yg saya sorot adalah dokter-dokter yg praktek tanpa memikirkan 
dampak dari tarif mahalnya bagi kesejahteraan pasiennya kemudian 
setelah si pasien keluar dari ruang praktek dimana dia tidak hanya 
mengeluarkan biaya untuk berobat tetapi juga untuk hidup sehari-
harinya.. 

Coba kita bayangkan, seorang pasien terkena penyakit, dia tidak 
hanya memikirkan penyakitnya, tapi juga biaya kesembuhan, biaya 
hidup, waktu yg tersita dan hari-hari produktifnya plus juga 
dampaknya bagi kesejahteraan keluarganya secara keseluruan..

Saya tidak menyorot ttg Kesehatan gratis sep uraian masterwriter, 
sebab memang mustahil berobat gratis semua, atau UU Kesehatan baru 
uraian dari Dr. Al Munawir... yg saya butuhkan atau katakanlah yg 
dibutuhkan masyarakat adalah implementasi atau pelaksanaan 
dilapangan bukan konsep saja..

Contoh lain, seorang yg terkena patah tulang tertentu dan mengalami 
fruktur atau dislok mungkin juga amputasi, dia diminta biaya lumayan 
banyak, hampir-hampir puluhan juta untuk biaya operasi dan 
pemasangan flat sementara dia adalah manusia sederhana yg untuk 
makan saja masih mikir.. akhirnya dia memilih tidak berobat dan 
cacat seumur hidup dan berpotensi terganggu jiwa plus kehilangan 
mata pencaharian.. Saya kadang bertanya kenapa biaya berobat 
sebegitu besarnya? Saya tidak percaya biaya berobat di Indonesia 
termasuk yug paling rendah... Kenyataan dilapangan, bahwa Dokter dan 
pihak rumah sakit telah menjadikan rumah sakit mereka sebagai hotel 
komersial dan mendapat keuntungan besar disana...

Kemarin-kemarin saya terima informasi hanya 3 hari menginap dirumah 
sakit, dia kehilangan hampir 4 juta rupiah... dan dokter disitu 
pasti terlibat dalam manajemen rumah sakit yg bersangkutan dalam 
penentuan biaya rawat inap dan biaya lainnya...

Saya sayangkan dokter-dokter saya tidak terlibat aktif dalam upaya 
menekan ongkos berobat, malah gembira sekali kalau honor yg 
diperoleh makin besar dan makin besar...

Saya kira dokter adalah manusia-manusia yg berjiwa kemanusiaan 
tinggi walau maklum juga bahwa dokter adalah manusia yg punya 
kebutuhan juga laiknya insan-insan lain... Sudah pasti Dokter juga 
butuh biaya hidup untuk beli kebutuhan sehari-hari, untuk rekreasi 
dan mungkin butuh kendaraan pribadi, tetapi jangan sampai seorang 
dokter meminta bayaran yg pasti tidak akan tertanggung oleh pasien-
pasiennya.. itu artinya penghisapan dari seorang manusia kepada 
manusia lainnya...

Sang penggugat

--- In [email protected], aris winandar <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> the_sangkakala,
> 
> Perspektif Anda bagus, harapan Saya, Anda mampu berdiri ditengah 
jangan hanya melihat dari satu sisi dan mungkin Anda mengetahui 
sedikit walaupun bukan katagori masyarakat awam, hasilnya akan 
Subyektif dan jauh dari Kebenaran & Keadilan. Dokter berkewajiban 
memberikan pelayanan yang Profesional, titik. kalau mau dilebarkan 
hingga andil dalam Pemiskinan Bangsa, itu pendapat yang kurang pada 
tempatnya karena NIAT, UCAPAN dan SIKAP harus sesuai, menghakimi 
orang lain atau profesi lain, siap untuk diminta PERTANGGUNG 
JAWABANNYA kelak, profesi dokter tidak ubahnya Pelukis, Penulis, 
Artis, bagaimana mungkin orang Awam mencoba menghargai Lukisan 
Almarhum Affandi atau memberi komentar tentang hasil lukisannya, ini 
bukan Republik Mimpi masih Republik Indonesia.
> Menanggapi uraian Anda, Saya jadi teringat sewaktu bertugas 
sebagai Dokter PTT di Lampung tengah, maaf mungkin mirip wajah dan 
keinginan Pak Maryanto, kepala Dinas Lampung Tengah kala itu.
> Kata Beliau saat Rapat Dinas : Para dokter haruslah memberikan 
pelayanan kesehatan yang Optimal dan tarif semurah mungkin, ketika 
itu Saya langsung unjuk jari menanyakan dimana KEADILAN, khususnya 
tetang tarif jasa dokter karena Islam lebih menekankan faktor 
tersebut ke pada Umatnya sebelum lainnya, kebeteluan Beliau Muslim, 
dengan pertimbangan sekalian rangkuman pendapat pribadi :
> 
> 1. Ingat faktor biaya terbesar pada Harga Obat dan Fasilitas, 
bukan tarif jasa dokter.
> 2. Susu kedua anak Saya ketika itu 45rb/kaleng, dibutuhkan 
4kaleng/bl, gaji 500rb.
> 3. Produk jasa pelayanan kesehatan sempit toleransi tarifnya, 
hasilnya Subyektif
> 4. 2,5 % jasa produk harus Adil dengan harga Kebutuhan sehari 
hari Para dokter
> 5. Siapa yang bisa kontrol supplay - Demand kecuali Si Sakit 
atau Keluarganya.
> 6. Penetapan tarif diatur IDI / KODEKI, walau sulit(Kepulauan, 
budaya,kesadaran,dlb)
> 7. Pilih peta Jasa Kesehatan, Dukun, Puskemas, Praktek Umum, 
Specialis/VIP.
> 8. Kesehatan, kemampuan daya beli tidaklah ADIL menjadi tanggung 
jawab Dokter .
> 9. Sosialisasi hal tersebut diatas tanggung jawab Siapa ? selain 
dokter dan Anda.
> 
> Semoga uraian tersebut bermanfaat buat kita, jika kurang tepat 
itu karena hanya pendapat dan pengalaman Pribadi sewaktu tugas di 
Lampung, semoga Tuhan selalu memberikan Petunjuk dan 
PerlindunganNYA, amin
> 
> Salam hormat
> Dr Aris Winandar
> 
> 
> Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> nah, ini pendapat yg lumayan bijak..
> 
> Saya kira ada yg perlu disosialisasikan para Dokter kepada khalayak
> yaitu dgn metode atau sistematika apa atau dgn akunting yg 
bagaimana
> seorang Dokter menetapkan tarif? 
> 
> Berdasar sistem Islam, hanya 2,5% yg boleh diambil keuntungan dari
> sebuah produk maupun jasa.. sebaliknya Berdasar sistem kapitalist,
> yaitu berdasar mekanisme pasar dimana produk yg paling dibutuhkan,
> harganya akan melejit naik sesuai hukum permintaan penawaran..Apa
> nilai begini yg dianut Dokter-dokter saya? 
> 
> Saya kira dokter saya juga perlu menetapkan sebuah anutan atau 
pedoman
> umum ttg penetapan tarif.... 
> 
> Dunia perdagangan saja telah punya penetapan tarif import eksport,
> termasuk pajak rendah, discount, dan keringanan-keringan atau 
insentif...
> 
> Semestinya para Dokter juga haruslah punya semacam
> keringanan-keringanan bagi pasien yg ditangani, jangan ,main pukul
> rata... Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ) juga semestinya sudah harus
> mengeluarkan pedoman ambang batas atau nilai uang maksimal bagi 
sebuah
> tindakan medik bagi pasien-pasien... Sementara dunia farmasi 
dituntut
> oleh pemerintah menetapkan nilai maksimal sebuah produk Obat, 
kenapa
> para Dokter-dokter saya dan institusinya tidak melakukannya?
> 
> Ini yg saya protes dan dampaknya lumayan dahsyat bagi pasien tak 
mampu
> dan butuh obat yaitu pemiskinan secara ekonomi.. tidak mungkin 
seorang
> pasien perlu kekelurahan dulu ngurus surat miskin supaya dapat
> keringanan setiap mau berobat, atau susah payah ngurus Askes dan
> jamsostek bagi buruh dan pekerja... 
> 
> Saya kira kalau biaya berobat bisa ditekan rendah , maka Sumber 
daya
> manusia Kita akan lebih baik yaitu kemampuan daya belinya meningkat
> dan Ekonomi bergerak berlanjut keperbaikan kesejahteraan umum 
secara
> massal..
> 
> Ada tiga indikator yaitu : satu : Pendidikan murah, Kesehatan baik 
dan
> Daya beli...
> 
> kalau kesehatan mahal dan berat bagi sebagian bangsa ini, maka akan
> berimbas pada daya belinya termasuk kemampuan ekonominya untuk
> mendapat pendidikan baik akan lemah dan terbatas..
> 
> Saya bukannya menghina Dokter-dokter saya, tetapi saya memberikan
> perspektif lain... Penilaian bukan hanya datang dari diri sendiri 
atau
> rekan seprofesi tetapi juga dari konsumen dan stakeholder yaitu
> Masyarakat awam...
> 
> Sang
> 
> --- In [email protected], aris winandar <aris_winandar@> 
wrote:
> >
> > Sejawat,
> > 
> > Menyimak dan mendalami permasalahan yang diangkat patutlah
> pendapat pribadi dari 
> > the_sangkakala@ yahoo.com, dikatagorikan belum memahami Profesi
> Kedokteran berkaitan erat dengan keadaan kesehatan masyarakat luas 
dan
> tanggung jawab terhadap Bangsa dan Negara ini.
> > Karena belum memahami maka pendapat Pribadi tersebut sangat
> intuitif dan tidak mempunyai nilai kemaknaan minimal lebih dari 
60%,
> dan sebaliknya sebagai kalangan yang lebih tahu harus bertanggung
> jawab memberikan Pencerahan agar kita tidak mendapatkan Fitnah
> dikemudian hari.
> > 
> > Silahkan sahabatku Sang, jika ada friksi pendapat diantara kita
> untuk dibicarakan agar nantinya diharapkan dapat menghasilkan Sikap
> dan Kesan baru terhadap Profesi dokter dengan baik dan benar 
ditengah
> Masyarakat.
> > 
> > Salam
> > Aris Winandar
> > 
> > 
> > diah taman <diahtamankampus@> wrote:
> > Setuju 100%.
> > 
> > pak nawir, Jinju
> > 
> > Russel spt <rs_russel@> wrote:
> > 
> > Dear All,
> > 
> > mohon tidak lagi menanggapi issue subjektif dan provokatif dari 
yang
> menamakan diri Sang.
> > 
> > Mohon moderator untuk memblokir massages dari orang tersebut agar
> anggota milis tidak terjebak pada perdebatan yang tidak 
konstruktif.
> > 
> > banyak pertanyaan dari orang lain yang perlu bantuan dan dijawab
> teman sejawat sekalian dan lebih bermanfaat.
> > 
> > russel. s
> > 
> > Sang <the_sangkakala@> wrote:
> > Saya kira yg pantas disorot adalah pribadi per pribadi... pada
> > dasarnya profesi Dokter itu mulia yaitu meringankan dan 
menyembuhkan
> > derita orang-orang yg lagi terserang penyakit..
> > 
> > Tapi yg disorot adalah imbal jasa yg diminta oleh banyak dokter-
dokter
> > kita yg nyata-nyata berorientasi komersial, bukan berpaham 
sosial...
> > 
> > Saya kira kalau begini terus, dokter telah berlaku sebagai 
penghisap
> > daya ekonomi orang-orang yg lagi terkena musibah penyakit dan
> > memperlemah nilai ekonomi orang tersebut tersebab tarif yg 
mencekik
> > lehernya dan membkin dia terduduk memikirkan biaya yg harus
> > dikeluarkannya hanya untuk mendapatkan kesembuhan diri...
> > 
> > Saya perlu tekankan, penyakit adalah sebuah kemalangan, jangan 
lagi
> > ditambah kemalangan itu dgn himpitan biaya hidup yg tak 
tertanggung
> > oleh si pasien.. lihat-lihat dulu dgn siapa si dokter berhadapan,
> > mungkin pakaiannya necis atau dia berkendaraan pribadi,tetapi 
bukan
> > berarti dia punya uang berlebih untuk bikin dokter-dokter kita 
bisa
> > makin kaya dan makin kaya.. itu artinya memperkaya diri ditengah
> > penderitaan orang.. tidak ada bedanya dgn lintah darat!
> > 
> > Sang
> > 
> > --- In [email protected], aris winandar <aris_winandar@> 
wrote:
> > >
> > > Dear all,
> > > 
> > > Ini hanya urun rembuk aja.
> > > Agar tidak ada miss understanding diantara kita yang dimaksud
> > dokter disini adalah Profesinya atau Individunya Si Dokter 
tersebut ?.
> > > 
> > > PROFESI Kedokteran (dokter / dokter gigi) termasuk profesi yang
> > sudah berusia tua, yaitu sejak dikumandangkannya Sumpah 
Hippocrates
> > yang terkenal. Profesi ini tetap dipandang sebagai profesi mulia
> > karena sumpah, sifat dan fungsinya yang memberi pelayanan di 
bidang
> > kesehatan secara menyeluruh sejak masa pembuahan. 
> > > Pelayanan Kesehatan secara menyeluruh artinya meliputi usaha-
usaha
> > pencegahan (profilaktif), pengobatan (kuratif), pemulihan
> > (rehabilitatif) dan peningkatan kesehatan (promotif). 
> > > 
> > > Dengan perangkat keilmuan dan ketrampilannya, profesi 
Kedokteran
> > juga mempunyai karakteristik yang khas dalam bentuk pembenaran 
yang
> > diberikan oleh hukum untuk melakukan intervensi (tindakan) medis
> > terhadap tubuh manusia. Intervensi medis terhadap tubuh menusia 
yang
> > dilakukan oleh bukan tenaga medis dapat digolongkan sebagai 
tindak
> > pidana, semuanya diatur dalam KODEKI = Kode Etik Kedokteran.
> > > 
> > > Jadi Para pelayan Kesehatan punya etika tersendiri, kalau ada
> > tindakan medis dari seorang dokter yang ternyata dinilai sebagai
> > malpraktik, lanjutnya, pihak IDI tak bisa langsung mengatakan 
bahwa
> > itu malpraktik. Harus ada penyelidikan dulu secara profesi apakah
> > memang langkah tersebut melanggar dan malpraktik atau justru
> > dibenarkan berdasarkan medis. ''Jadi, bukannya kami membela 
dokter
> > karena profesinya sama. Tidak, itu tak benar,'' Karena itu, pria 
yang
> > bermotto ''bekerja dan berdoa'' itu berharap agar sistem 
kesehatan
> > semakin dipahami masyarakat luas dan juga melibatkan pemberdayaan
> > masyarakat di dalamnya. Maka, ia menilai perlu ada perubahan 
pandangan
> > dari paradigma sakit ke sehat di masyarakat dan pemerintah. 
> > > 
> > > PENDAPAT PRIBADI : Di Indonesia yang katanya masih menganut
> > budaya timur (kecuali gaya hidup cosmo yg wowww, tentunya) memang
> > berkembang semacam `apa2 gak enak`. Termasuk di dalamnya, gak 
enak
> > ngomong, gak enak menuntut dll,
> > > budaya gak enak ini membuat posisi dokter-pasien jadi rumit. 
Apalagi
> > > dalam kasus profesi dokter, memang betul yg berkembang dalam 
kepala
> > > kita, dokter itu profesi mulia dan cenderung social. Wong 
nolong orang
> > > sakit kok bicarain uang/tarif dulu... Kejam sekali..
> > > 
> > > Sudut pandang itu kalau kita mau ubah sebagai, dokter itu ya 
profesi,
> > > sama seperti profesi2 yg lain. Tidak akan muncul kata `kejam 
sekali`.
> > > Hal itulah yang mungkin sudah telanjur berkembang dan di anut. 
Kita
> > > sebagai masyarakat pengguna jasa dokter suka lupa untuk 
menghormati
> > > profesi dokter selain menuntut jasanya yang harus selalu 
prima. Lupa
> > > bahwa untuk mencapai profesi itu, sama seperti profesi lainnya 
harus
> > > menempuh jalan yang menghabiskan banyak biaya, waktu, tenaga 
dan
> > > pikiran. Lupa bahwa dokter juga perlu makan dan menghidupi
> keluarganya.
> > > Nah, yang paling fatal, lupa kalau dokter itu bukan Tuhan yang 
selalu
> > > dituntut harus menyelamatkan jiwa orang dari kematian. 
> > > 
> > > Menurut saya pribadi (tidak memaksa ya), dokter itu tidak 
memiliki
> tugas
> > > untuk menyelamatkan jiwa seseorang dari kematian (kebanyakan 
teman
> > > dokter yang saya temui punya anggapan bahwa salah satu 
tugasnya adl
> > > menyelamatkan jiwa orang). Menurut saya (maaf ya, ini sekedar
> opini saya
> > > yang terbatas pengetahuannya) seperti ajaran agama yang saya 
anut,
> Ajal
> > > seseorang itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika IA menghendaki
> seseorang
> > > meninggal umur sekian, ya orang itu akan meninggal pada umur 
tersebut
> > > dengan cara/jalan apapun. Nah, tugas dokter adalah 
menyembuhkan sakit
> > > jika memang itu belum jalan kematiannya, dan membantu pasien 
untuk
> > > melewati rasa sakitnya dengan senyaman mungkin (menggunakan 
ilmu
> > > pengetahuan dan keahliannya untuk mengurangi derita si sakit) 
pada
> saat
> > > orang menjemput ajal. 
> > > 
> > > Jadi, bagi saya tidak ada alasan untuk menuntut dokter karena 
gagal
> > > menyelamatkan jiwa seseorang dari kematian, tidak ada seorang 
pun yang
> > > dapat mengelakkannya. Tapi boleh menuntut dokter untuk bekerja 
lebih
> > > teliti dan sesuai prosedur yang benar dalam memberikan 
pelayanannya.
> > > Boleh menuntut dokter, kalau jelas2 dia teledor sehingga
> memperburuk dan
> > > menambah derita pasien ATAU minta bayaran tinggi, kembalikan ke
> > Mekanisme pasar atau jalin Komunikasi yang baik dan benar.
> > > 
> > > Kalau kita bicara soal dokter sebagai profesi, tugas para 
pasien untuk
> > > menghormatinya dan tugas dokter untuk memberikan layanan yang
> > > berkualitas. 
> > > 
> > > Mengenai layanan yang berkualitas, memang ada banyak sekali 
faktor
> > yang
> > > membuat layanan menjadi tidak berkualitas. Tapi terlepas dari 
semua
> > > kendala itu, saya harap dokters semua tetap punya semangat 
untuk
> > > senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan 
dalam
> > keadaan
> > > sesulit apapun. Jadi, mari kita masyarakat pengguna jasa dokter
> > belajar
> > > untuk menghormati profesi dokter. Dan silakan dokters semua 
belajar
> > > untuk meningkatkan kualitas pelayanan, jangan bosan2 untuk 
saling
> > > mengedukasi. Kalau ada kritikan dan keluhan, anggap sebagai 
masukan
> > > positif dan curhat sebagai gerbang untuk membangun jembatan 
hubungan
> > > yang lebih positif...
> > > 
> > > *WARNING : uraian di atas tidak berlaku bagi Para dokter yang
> > dengan sengaja memanfaatkan ilmu pengetahuan dan keahliannya 
untuk
> > mencapai tujuan tertentu atau materi semata dengan cara-cara 
negatif
> > yang tidak
> > > dibenarkan, seperti mengindahkan prosedur dan kode etik yang
> > berlaku. :)
> > > 
> > > ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
> > > 
> > > zul efendi <perintisfk@> wrote:
> > > sedikit komentar, jika anda punya saudara atau tetangga
> > seorang dokter, coba tanya ke dia, gimana sih dokter itu, 
sesoreang
> > bisa berkomentar seperti "sang" karena dia tidak tau sedikitpun
> > tentang dokter, kalo pun tau, yang dia tau hanyalah yang enak2nya
> > saja... saya kasian melihat dokter, perawat dan tenag kesehatan
> > lainnya yang hanya punya kewajiban dan seperti tidak punya hak...
> > mingkin kesenangan yang mereka peroleh hanya satu persen dari
> > pengorbanan dan penderitaan yang harus dilaluinya... bahkan uang 
yang
> > ia dapat kadang tak sempat dinikmatinya, waktu dan tenaganya
> > dihabiskan untuk orang lain, dan tak jarang waktu untuk kelurag 
pun n
> > yaris tidak ada.. bahkan buiat makan pun waktunya tersita... 
adakah
> > profesi lain yang seperti ini ? tentara sekalipun ada shift2nya,
> > diatur oleh pimpinannya. tapi dokter siapa yang ngatur ? 
mayarakat
> > yang ngatur... masyarakt hanya bisa bepikir.. saya, keluarga 
saya,
> > teman saya sakit, harus ditolong segera, dokter wajib menolong?
> > > tidak
> > > peduli apakah dokternya sanggup ato tidak... adakah profesi 
lain
> > yang seperti ini.. wahai saudaraku,jangan melihat sesuatu hanya
> > ddengan uang, belajarlah itu melihat sesuatu secara konprehensif,
> > jauhkanlah diri dari mencari2 kesalahan orang lain. jika kita 
sibuk
> > menacari2 kesalahan orang lain, ga akan maju-maju kita, kita akan
> > tetap menjadi bangsa yang terbelakang ..... jika kita sibuk 
melihat
> > kesalahan orang lain, juga bikn kita tambah stress, merugikan 
diri
> > kita sendiri
> > > 
> > > Rajo Angek Garang
> > > 
> > > Master Writer <writefire@> wrote: Ikutan komentar ah...
> > > 
> > > Emang tuh dokter 'gila' juga kali ya minta bayaran sampe 
semahal
> itu...
> > > Masa sih?
> > > Berapa contoh kasus yang anda miliki?
> > > Coba bandingkan dengan jumlah dokter yang bekerja di daerah
> > terpencil dengan
> > > sukarela, dibayar dengan apa adanya, bahkan kadang ga 
dibayar...
> > > Coba Anda bandingkan mulianya hati dokter-dokter yang bekerja 
di
> > Instalasi
> > > Gawat Darurat, yang bayarannya ga seberapa, jam kerja bisa 
lebih
> dari 12
> > > jam, bahkan ada yang sampe 24 jam, rela tidak tidur, rela 
menolong
> orang
> > > yang mabuk, berantem, orang yang tidak punya keluarga dan 
emngalami
> > > kecelakaan, orang yang tidak mampu...
> > > Dan kalau Anda mau bicara soal harga, ekonomi, duit, 
pengorbanan
> > Anda dan
> > > keluarga dan saudara, kakek nenek buyut cucu cicit dan lain-
lain,
> > BANDINGKAN
> > > dengan DENDA UU Kesehatan buat dokter yang dipersalahkan atas
> > tindakannya
> > > (berapa milyar tuh dendanya? Kerja seumur hidup juga lom tentu 
bisa
> > bayar,
> > > padahal niatnya sih baik...)
> > > 
> > > Saya bukan dokter, jadi Anda tidak usah berpikir dokter selalu
> > membela diri
> > > dan sebagainya.
> > > Saran saya buat Anda yang selalu berkeluh kesah tentang 
dokter :
> > > 1. Jangan sakit
> > > 2. Jangan kecelakaan
> > > 3. Ga usah ke dokter kalo cuma bisa mengeluh doank, kasian 
dokternya
> > > 4. Cari dokter yang sesuai dengan kemampuan Anda, ke PUSKESMAS 
aja (ga
> > > percaya ya sama dokter PUSKESMAS? kasian deh lu... emangnya 
dokter
> > Puskesmas
> > > sama praktek dokter pribadi ilmunya beda? Ya NGGA lah..)
> > > 5. JANGAN cuma NGOMONG DI MILIS DOANK, ngomong langsung donk 
sama
> > > dokternya...
> > > 
> > > saya mohon maaf kepada moderator kalau ada hal-hal yang tidak
> berkenan.
> > > terima kasih.
> > > 
> > > On 10/6/06, Sang <the_sangkakala@> wrote:
> > > >
> > > > Sekedar ilustrasi tambahan s...
> > > >
> > > > Istri saya habis dikiret( curetase ) rahimnya tersebab 
keguguran..
> > > > saat pulang dimintai biaya pembayaran sebesar 800ribu, dgn 
rincian
> > > > untuk si dokter kandungan sebanyak 350 ribu hanya jasanya 
saja,
> biaya
> > > > kebidanan 150 ribu, dan sisanya biaya obat dan fasilitas 
rumah
> > > > bersalin... saya kira si dokter betul-betul keterlaluan dgn 
tarif
> > > > jasanya saja yg memakan waktu hanya seperempat jam proses 
kuretase..
> > > > apa ini tidak melewati batas?
> > > >
> > > > Kemarin ada informasi biaya 300ribu biaya oleh seorang dokter
> terhadap
> > > > pasien ISPA panas tinggi.. biayanya sudah terhitung 
mempermiskin si
> > > > pasien yg ternyata adalah seorang buruh.. apa ini tidak 
keterlaluan?
> > > >
> > > > Saya punya banyak kasus lain yg memperkuat asumsi saya bahwa 
Dokter
> > > > dan pihak rumah sakit sepertinya tidak peduli dgn kesulitan 
ekonomi
> > > > pasien yg ditangani.. bagi para dokter ini , uang adalah 
kiblat
> utama
> > > > dan ini pantas diberi ultimatum bahwa tindakan mereka dgn 
ekonomi
> > > > biaya tinggi pantas diberi peringatan keras...
> > > >
> > > > Ini adalah homework bagi IDI dan Dep. Kesehatan dan 
introspeksi diri
> > > > bagi para dokter keterlaluan ini...
> > > >
> > > > Sang
> > > >
> > > >
> > > > --- In [email protected] <dokter%
40yahoogroups.com>, "Sang"
> > > > <the_sangkakala@> wrote:
> > > > >
> > > > > Hmmm.. Ada diskusi hangat ttg apa afdol dokter laki-laki 
periksa
> > > > > kandungan perempuan dan dokter perempuan melakukan sunat 
atas
> > kelamin
> > > > > laki-laki.. Tapi Daripada meributkan dokter perempuan 
periksa
> > kelamin
> > > > > panjang laki-laki atau dokter lelaki periksa lobang 
kemaluan
> > > > > perempuan, mendingan kita ngurus kemiskinan ditilik dari 
aktivitas
> > > > > dokter-dokter atas upaya penciptaan kemiskinan simultan
> > berkelanjutan...
> > > > >
> > > > > Saya lihat ada indikasi dokter-dokter kita turut andil 
dalam
> > > > > penciptaan kemiskinan massal.. Kerjaan dokter zaman 
sekarang
> adalah
> > > > > memperbesar kwantitas keuangan pribadi dan mempertipis 
keuangan
> > > > > pasien-pasiennya..
> > > > >
> > > > > dokter bak seorang penyembuh sekaligus lintah darat.. 
pekerjaanya
> > > > > rangkap dimana dia memandang pasiennya adalah kesempatan 
emas
> dalam
> > > > > memperkaya diri sendiri...
> > > > >
> > > > > kita juga sudah mengetahui bahwa dokter juga bekerja sama 
dgn
> > industri
> > > > > farmasi dimana si dokter yg memakai obat tertentu akan
> mendapat fee
> > > > > dan bonus... Ini artinya dokter berharap keuntungan ganda
> yaitu dari
> > > > > si pasien sekaligus dunia farmasi obat-obatan...
> > > > >
> > > > > Cara-cara begini sudah termasuk hal yg menjadikan banyak 
orang yg
> > > > > mengalami sakit menjadi bertambah penyakitnya yaitu : 
PERTAMA:
> sakit
> > > > > yg diderita dan yg KEDUA: sakit kantong alias isi 
kantongnya jadi
> > > > > berkurang jauh tersebab dioveralih oleh dokter-dokter kita 
ini yg
> > > > > berlagak bak malaikat penolong tetapi sebetulnya adalah 
bekerja
> > > > > menagguk diair keruh, mengambil keuntungan ditengah 
penderitaan
> > > > > orang.. YG KETIGA SAKIT HATI: udah dokter dibayar mahal, ee
> penyakit
> > > > > tak kunjung sembuh, akhirnya jadi sakit hati pada itu 
dokter..
> jadi
> > > > > dokter-dokter neces kita ini memperkaya diri ditengah 
penderitaan
> > > > > orang dan memanfaatkan penyakit dan penderitaan orang untuk
> > memperkaya
> > > > > diri pribadi..
> > > > >
> > > > > Ini saya kira perlu ditertibkan oleh dunia kedokteran kita
> terkhusus
> > > > > Departemen Kesehatan yg sekarang lagi dipromotori oleh Siti
> Fadillah
> > > > > Supari yg semok..
> > > > >
> > > > > Dokter-dokter ini perlu menegakkan kembali kode etik
> kedokteran dan
> > > > > menjadikan kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial 
kemasyarakatan
> > > > > bukan lagi upaya penggelembungan kekayaan pribadi..
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > > Sang
> > > > >
> > > > > Pengamat kemiskinan plus tukang teriak dimana-mana..
> > > > >
> > > >
> > > > 
> > > >
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > ---------------------------------
> > > Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. 
Yahoo!
> > Small Business.
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > ---------------------------------
> > > Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. 
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > 
> > __________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> > http://mail.yahoo.com 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> > 
> > 
> > ---------------------------------
> > Do you Yahoo!?
> > Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Every day is Ashura and every land is Kerbala
> > Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah
> yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan 
tidak
> diberi makan?". Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku
> menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri (kepada Allah), dan
> jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik."
> > (QS. 6:14)
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ---------------------------------
> > Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Every day is Ashura and every land is Kerbala
> Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah 
yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak 
diberi makan?". Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku 
menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri (kepada Allah), dan 
jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik."
> (QS. 6:14)
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

Every day is Ashura and every land is Kerbala
Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang 
menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?". 
Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama 
sekali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan 
orang-orang musyrik."
(QS. 6:14)


---------------------------------
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. 

[Non-text portions of this message have been removed]



         

                
---------------------------------
Get your email and more, right on the  new Yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke