Senin, 24 Januari
Kebaikan dan Anugerah
Aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu (Ayub 42:5,6)

Bacaan: Ayub 29
Setahun:
Ayub 28-31

Seorang remaja yang ayahnya berperilaku kasar berkata, “Saya ingin menjadi orang yang baik seperti guru Sekolah Minggu saya dan seperti Anda, tidak seperti ayah saya.”

Karena mengenal guru Sekolah Minggunya, saya setuju bahwa ia orang yang “baik”, dan saya bersyukur bahwa ia pun melihat saya sebagai orang “baik”. Saya juga ingin menjadi orang yang penuh hormat, baik hati, mau mengampuni, murni dalam gaya hidup, dan taat kepada Allah. Tetapi saya juga tahu kedosaan hati saya dan betapa saya bergantung pada kebaikan serta anugerah Allah.

Tuhan menganggap Ayub orang “yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayub 1:8). Namun, setelah semua ujian yang dihadapinya, Ayub berkata, “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” (42:6). Bahkan setelah memikirkan kebaikannya sendiri (29:1-25), ia tahu keadaan hatinya.

Melalui cara pandang manusia, banyak orang bisa digambarkan sebagai orang “baik”. Tetapi Allah melihat ketidaktaatan, egoisme, dan kebencian di dalam diri kita semua. Dia juga tahu bahwa kita mempunyai bagian yang tak terawasi secara rohani. Dan ketika Dia membuka mata kita untuk melihat diri kita sendiri seperti Dia melihatnya, kita memahami mengapa orang “baik” seperti Ayub berkata bahwa ia mencabut perkataannya.

Ya Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi orang yang baik tanpa mengabaikan dosa dan ketidaklayakan kami. Terima kasih atas pengampunan yang Engkau tawarkan kepada kami dalam Kristus —Herb Vander Lugt

BAHKAN ORANG TERBAIK PUN
TAK MEMILIKI APA-APA UNTUK DISOMBONGKAN



29:2 "Ah, kiranya aku seperti dalam bulan-bulan yang silam, seperti pada hari-hari, ketika Allah melindungi aku,
29:3 ketika pelita-Nya bersinar di atas kepalaku, dan di bawah terang-Nya aku berjalan dalam gelap;
29:4 seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku;
29:5 ketika Yang Mahakuasa masih beserta aku, dan anak-anakku ada di sekelilingku;
29:6 ketika langkah-langkahku bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak di dekatku.
29:7. Apabila aku keluar ke pintu gerbang
kota, dan menyediakan tempat dudukku di tengah-tengah lapangan,
29:8 maka ketika aku kelihatan, mundurlah orang-orang muda dan bangkitlah orang-orang yang sudah lanjut umurnya, lalu tinggal berdiri;
29:9 para pembesar berhenti bicara, dan menutup mulut mereka dengan tangan;
29:10 suara para pemuka membisu, dan lidah mereka melekat pada langit-langitnya;
29:11 apabila telinga mendengar tentang aku, maka aku disebut berbahagia; dan apabila mata melihat, maka aku dipuji.
29:12 Karena aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak ada penolongnya;
29:13 aku mendapat ucapan berkat dari orang yang nyaris binasa, dan hati seorang janda kubuat bersukaria;
29:14 aku berpakaian kebenaran dan keadilan menutupi aku seperti jubah dan serban;
29:15 aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh;
29:16 aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki.
29:17 Geraham orang curang kuremuk, dan merebut mangsanya dari giginya.
29:18. Pikirku: Bersama-sama dengan sarangku aku akan binasa, dan memperbanyak hari-hariku seperti burung feniks.
29:19 Akarku mencapai air, dan embun bermalam di atas ranting-rantingku.
29:20 Kemuliaanku selalu baru padaku, dan busurku kuat kembali di tanganku.
29:21 Kepadakulah orang mendengar sambil menanti, dengan diam mereka mendengarkan nasihatku.
29:22 Sehabis bicaraku tiada seorangpun angkat bicara lagi, dan perkataanku menetes ke atas mereka.
29:23 Orang menantikan aku seperti menantikan hujan, dan menadahkan mulutnya seperti menadah hujan pada akhir musim.
29:24 Aku tersenyum kepada mereka, ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka.
29:25 Aku menentukan jalan mereka dan duduk sebagai pemimpin; aku bersemayam seperti raja di tengah-tengah rakyat, seperti seorang yang menghibur mereka yang berkabung."

January 24, 2005

Goodness And Grace

Read: Job 29

I have heard of You . . . but now my eye sees You. Therefore I abhor myself, and repent in dust and ashes. —Job 42:5-6

Bible In One Year: Job 28-31


A teenager whose father is abusive said to me, "I want to be a good man like my Sunday school teacher and like you, not like my dad."

Knowing his Sunday school teacher, I could certainly agree that he was a "good man," and I was grateful that he also saw me as "good." I do want to be reverent, kind, forgiving, pure in my lifestyle, and obedient to God. But I also know the sinfulness of my own heart and how dependent I am on God's goodness and grace.

The Lord spoke of Job as "a blameless and upright man, one who fears God and shuns evil" (Job 1:8). Yet after all his trials, Job said, "I abhor myself, and repent in dust and ashes" (42:6). Even after reflecting on his own goodness (29:1-25), he knew the condition of his heart.

From a human perspective, many people may be described as "good." But God sees the disobedience, selfishness, and hate that lie deep within all of us. He also knows that we have spiritual blind spots. And when He opens our eyes to see ourselves as He does, we understand why a "good man" like Job said he abhorred himself.

Lord, help us to be good but never to lose sight of our sinfulness and unworthiness. Thank You for the forgiveness You offer us in Christ. —Herb Vander Lugt

Teach me, Lord, my true condition,
Bring me, childlike, to Your side;
May I never trust my goodness—
Only in Your grace abide. —Anon.

Even the best people have nothing to boast about.

 

 

<--------------------------------------------------------------------------->



================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke