February 25, 2005

Anger Management

Read:
James 4:1-6

Where do wars and fights come from among you? Do they not come from your desires for pleasure? —James 4:1

Bible In One Year: Numbers 28-30

coverIn James 4, the writer swung his axe at the root of one of our deepest problems: a smothering absorption with our own desires—getting our own way and having our own needs met. When that passion is frustrated, it can quickly become blind rage that demeans others and debases us. Though we may get what we want, we're left feeling unsatisfied.

It's better to ask God to meet our needs with His hands, in His time, in His way; to yield our will to His control, and pray as Jesus did, "Not My will, but Yours, be done" (Luke 22:42).

It does no good to brood over injustices, to try to set things right on our own, or to let our lustful desires determine our decisions. Submitting to our own desire for pleasure will lead to "wars and fights" inside us and with those around us (James 4:1).

Before our anger peaks, we can call for a "time out" and take a walk with the One who understands us better than we understand ourselves—who cares for us more than we can ever know. We can tell Him about our anger and mull things over with Him.

We can ask God to meet our needs His way, for as James said, He gives "more grace" (v.6)—a gift far greater than anything we can manage on our own. —David Roper

When anger lingers in our hearts,
It poisons all we think and do;
But faith seeks ways to show God's love
And keeps our spirit strong and true. —D. De Haan

For every minute you are angry, you lose 60 seconds of happiness.

Jumat, 25 Februari
Pengelolaan Amarah
Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? (Yakobus 4:1)

Bacaan: Bilangan 28–30

Di Yakobus 4, penulis memotong akar salah satu persoalan kita yang terdalam: tenggelam dalam hawa nafsu kita sendiri—sesuai cara kita sendiri dan menuntut kebutuhan kita terpenuhi. Jika tidak dituruti, hawa nafsu bisa meledak menjadi kemarahan yang merendahkan orang lain dan diri sendiri. Meskipun kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita merasa tidak puas.

Karena itu, lebih baik memohon kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan kita lewat uluran tangan-Nya, menurut waktu-Nya, dan dengan cara-Nya. Lebih baik menyerahkan kehendak kita dalam kendali Allah, dan berdoa seperti Yesus, “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendakMulah yang terjadi” (Lukas 22:42).

Tidak baik berpikir terus tentang ketidakadilan, mengatur segala sesuatu menurut rencana kita sendiri, atau membiarkan hawa nafsu menentukan keputusan-keputusan kita. Mencari kesenangan dengan menuruti hawa nafsu akan menimbulkan “sengketa dan pertengkaran” di dalam diri kita dan dengan orang-orang di sekitar kita (Yakobus 4:1).

Sebelum kemarahan kita memuncak, kita dapat undur sejenak dan berjalan bersama Dia yang jauh lebih memahami diri kita daripada diri kita sendiri, yang memedulikan kita lebih daripada yang kita sadari. Kita dapat menceritakan kemarahan kita kepada-Nya dan memikirkan berbagai hal bersama-Nya. 

Kita dapat memohon kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan kita menurut cara-Nya. Yakobus menulis, Dia memberikan “kasih karunia ... lebih besar daripada itu” (ayat 6), kasih karunia yang jauh lebih besar daripada apa pun yang bisa kita bayangkan —David Roper

UNTUK SETIAP MENIT KEMARAHAN
ANDA KEHILANGAN 60 DETIK KEBAHAGIAAN


 

Yakobus 4:1-6
4:1. Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
4:4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.
4:5 Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!"
4:6 Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."



<--------------------------------------------------------------------------->



================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

<<image001.jpg>>

Kirim email ke