Terima kasih atas tanggapan sdr. Saiful Mahdi,
Anda benar sekali bahwa keterlibatan (aparat) TNI/POLRI dalam pengrusakan
hutan bukan barang baru. Kami punya catatan lengkap tentang hal ini dari
tahun-ketahun.
Tetapi kalau anda cermati tulisan saya, sebenarnya pesan saya bukan yang
itu, tetapi ada dua pesan utama:
(1) illegal logging dilakukan oleh (aparat) TNI/POLRI secara
"terang-terangan" dan di dalam "Taman Nasional". Jadi kata kuncinya adalah
terang-terangan dan di dalam Taman Nasional. Saya melihat sendiri kayu-kayu
tebangan dikumpulkan dipinggir jalan raya BLang Keujeren-Medan, jadi setiap
yang lewat mau Ke Medan pasti akan melihat tumpukan kayu tersebut, sebelum
akhirnya di angkut ke Medan. Anda kan tahu penebangan dalam Taman Nasional
is strictly prohibited (haram). Aparat kehutanan saja enggan melewati jalan
tersebut karena tidak tahan (takut) melihat kejadian ini. Jadi penegak hukum
takut dengan penjahat. Fenomena apa pula ini???
(2) Kawasan yang secara relatif dikuasi GAM, malah hutannya (untuk saat ini)
aman dari pencurian kayu, tetapi sebaliknya, kawasan yang secara penuh
dikuasai oleh TNI/POLRI, malah terjadi peristiwa di atas. Sehingga
masyarakat berkesimpulan, GAM lebih menjamin keselamatan lingkungan.
Jadi dua pesan itu sebenarnya yang saya ingin sampaikan!!
Anyway, how are you doing out there?
terima kasih,
Jamal
-----Original Message-----
From: Saiful Mahdi Mahdi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>
Date: 02 January 2000 14:15 PM
Subject: Re: [envorum] GAM, TNI, dan Lingkungan
>Bang Jamal dkk para leaders...
>Saya kira perlu sekali ditekankan bahwa kalimat "ternyata aparat TNI dan
Polri berada di belakang pengrusakan hutan..." bukan lah sama sekali
penemuan baru (saya khawatir kata "ternyata" memberi kesan seolah-olah Bang
Jamal dkk pejabat-pejabat di Leuser baru sadar akan hal itu. Padahal tidak
kan?). Fenomena ini sudah diketahui umum sejak lamaaaaaa....Bahkan sudah
ditulis oleh para peneliti asing sejak 80-an.
>
>Yang sebenarnya terjadi adalah, peningkatan yang luar biasa proses
pengrusakan yang didalangi TNI/Polri akhir-akhir ini. Saya terus terang jadi
curiga, jangan-jangan ini adalah salah satu taktik "bumi-hangus" TNI/Polri
seperti yang pernah dilakukannya di Tim-Tim. Sehingga Aceh benar-benar
tinggal puing jika secara "de jure" nantinya bisa berdiri sendiri.
>Gas dan minyak sudah habis dikuras, Leuser yang tak ternilai pun hendak di
habiskan...
>Siapa tahu...Wallahualam bishawab...
>
>Maka, walaupun mungkin cara saya dulu mengingatkan para Leaders untuk tidak
bicara lingkungan an sich tidak tepat (terus-terang waktu itu saya rada
emosi, dan saya minta maaf untuk itu), tetapi sekali lagi saya ingin himbau
para leaders memberi perhatian penuh pada masalah Aceh. Dan kalau bicara
Aceh berarti bukan sekedar bicara Leuser atau "lingkungan" SDA lainnya, tapi
yang lebih penting adalah manusia Aceh-nya. Bicara Aceh juga tak mungkin
lepas dari TNI/Polri dengan keganasan DOM-nya. Bicara Aceh juga bicara
tentang GAM dan realitas tuntutan referendum.
>
>Nah, apa yang bisa diberikan para leaders?
>Atau bisakah teman-teman para leaders memberikan sedikit informasi mengenai
pandangan "holistik" dalam issue lingkungan yang mungkin salah saya
persepsikan...
>
>Terimakasih,
>
>Saiful Mahdi
>College of Engineering and Math.
>University of Vermont, Burlington
>
>
>
>--
>
>On Sat, 1 Jan 2000 13:54:48 Jamal M. Gawi wrote:
>>Teman-teman leaders,
>>
>>Saya ingin berbagi berita terakhir tentang perkembangan politik dan
lingkungan hidup di Aceh, khususnya masalah pengrusakan Taman Nasional
Gunung Leuser (TNGL) yang saat ini semakin parah keadaannya. Ternyata aparat
TNI dan Polri berada dibelakang kegiatan pengrusakan hutan pada
daerah-daerah yang masih dibawah kontrol penuh Pemerintah RI. Kegiatan ini
dilakukan secara sistematis dan terbuka, penebangan disiang hari dan
pengangkutan kayu dimalam hari.
>>
>>Konstelasi politik Aceh saat ini memperlihatkan bahwa sebagian besar
wilayah Aceh sudah tidak secara penuh berada dibawah kontrol Pemerintah RI.
Dari sekitar 11 Kabupaten, ternyata hanya 2-3 saja yang masih dibawah
kontrol penuh pemerintah RI. Selebihnya pemerintah RI harus berbagi
kekuasaan dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bahkan pada beberapa
kabupaten, keberadaan GAM sangat dominan.
>>
>>Yang uniknya, pada daerah-daerah yang keberadaan GAM nya cukup kentara,
kegiatan illegal logging hampir tidak terjadi sama sekali. Apa lagi
baru-baru ini Panglima GAM wilayah selatan membuat pernyataan bahwa mereka
akan memerangi setiap orang/pihak yang merusak hutan Aceh.
>>
>>Tidak hanya itu, bahkan hampir semua HPH untuk sementara Menghentikan
kegiatannya di wilayah yang ada GAM.
>>
>>(Perkembangan ini sangat menarik bagi saya, karena hasil anilisis kami
menunjukkan bahwa hampir semua HPH di Aceh ditempatkan oleh Dep. Kehutanan
pada tempat yang tidak semestinya dan dalam operasinya menyalahi peraturan
pemerintah yang berlaku. Dari sekitar 1 juta ha areal HPH di Aceh yang
berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser, 88% tidak sesuai untuk dilakukan
penebangan, baik karena slope nya yang tinggi (>40%) maupun karena
berdekatan dengan DAS dan kondisi tanahnya yang sensitif terhadap erosi.
Sehingga luasan yang 88% tersebut semestinya berstatus hutan lindung.)
>>
>>Sebaliknya, pada Kabupaten yang masih berada sepenuhnya dibawah kontrol
pemerintah RI, contohnya Kabupaten Aceh Tenggara, kegiatan illegal logging
(pencurian kayu) dari hutan (bahkan dari Taman Nasional) berada pada tingkat
yang sangat mengerikan. Setiap malamnya, puluhan truk berisi kayu curian
keluar menuju Medan melewati berbagai POS TNI dan Polisi. Bahkan yang sangat
menjengkelkan, masyarakat melihat sendiri aparat Polisi dan TNI menjadi
mandor penebangan kayu di dalam TNGL.
>>
>>Kami telah melayangkan surat kepada gubernur, kapolda Aceh, pangdam I
Bukit Barisan, Bupati, Menteri Kehutanan, dll, tetapi sampai sekarang belum
ada tindakan apa-apa. Koran lokal juga ramai memberitakan hal ini, tetapi
tidak punya dampak sama sekali. Kegiatan illegal logging terus berlangsung
sampai saat ini.
>>
>>Alasan klasik dari pihak yang berwenang adalah: kami sibuk mengurusi
situasi keamanan di Aceh, jadi tidak ada waktu untuk mengurusi hutan dan
lingkungannya.
>>
>>Kondisi ini membuat jengkel aktifis lingkungan dan sebagian masyarakat
yang daerahnya sedang ditimpa banjir di Aceh Tenggara, sehingga adik-adik
kita ini bersama sebagian masyarakat melakukan unjuk rasa ke DPRD. Tetapi
tidak juga ada jalan keluarnya.
>>
>>Akhirnya mereka melakukan road block (hanya ada satu jalan keluar menuju
Medan) dan menyita kayu-kayu curian tersebut. Tetapi tidak berapa lama
kemudian, para penebang liar yang jumlahnya ratusan yang tentu saja diatur
oleh pihak tertentu, turun menyerang dengan membawa senjata tajam. Terpaksa
adik-adik aktifis lingkungan lokal bersembunyi menyelamatkan diri. Kayu-kayu
sitaan tersebut kembali diangkut tanpa ada yang menghalangi. Road block yang
dilakukan bukan di tengah hutan, tetapi di tengah kota Kutacane (ibu kota
Aceh Tenggara), jadi mestinya pihak berwenang tahu semua ini.
>>
>>Kondisi di atas membuat sebagian masyarakat menyimpulkan bahwa sebaiknya
GAM diundang saja ke Aceh Tenggara supaya aparat militer, polri dan penebang
liar takut dan tidak lagi merusak TNGL.
>>
>>Demikian dulu dari saya, akan di update kalau ada perkembangan baru.
>>
>>salam,
>>
>>Jamal
>>
>>
>
>
>LYCOShop is now open. On your mark, get set, SHOP!!!
>http://shop.lycos.com/
>
>---------------------------------------------------------------------
>Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>
>
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]