Gus Dur bisa saja berhipotesis tentang skenario besar yang akan menjatuhkan 
pemerintahan yang sah melalui bentuk KUDETA apa saja, terserah !!!!! Hipotesis inilah 
yang menjadi acuan diterapkannya SIAGA SATU. Dari sudut strategi politik, sah saja, 
tidak haram, demi melindungi dan mencegah pemerintahan yang legitimasi hancur oleh 
kekuatan-kekuatan anti demokrasi. Namun dampak strategi ini yang perlu dicermati lebih 
dalam, bukan pada tataran elit politik melainkan pada level rakyat.

Pernyataan-pernyataan Gus Dur sebelumnya berdampak besar pada elit politik dan kecil 
dampaknya bagi rakyat, namun SIAGA SATU sebagai tindakan preventif pemerintah 
berpengaruh besar pada lapisan bawah seperti para pekerja jasa dibidang parawisata. 
Orang-orang yang bekerja di sektor ini harus melakukan social marketing ulang dan 
harus ulet hanya gara-gara hipotesis pemerintah yang tingkat signifikansinya (harus 
diartikan secara statistik) sangat... sangat.... sangat.......sangat diragukan. 

Sebenarnya ada tindakan preventif pemerintah/Gus Dur yang sangat besar dampaknya bagi 
rakyat jika dibanding tindakan preventif KUDETA dan SIAGA SATU, yaitu menjaga 
kelestarian lingkungan. Bukankah ekosistem di kawasan freeport telah rusak berat, 
hancurnya taman nasional Kutai, terumbu karang yang baik sisa 6%, banyak kasus2 
lingkungan yang kandas. Kelihatannya dalam wacana Gus Dur hal tersebut bukan prioritas 
? Dapatkah menteri LH menjadi pembisik/intel yang handal ? atau mungkin dicari 
pembisik/intel lingkungan yang tangguh dan lebih tangguh dari pembisik/intel politik 
!!!!

Nenny Babo, Cohort-8
Ingat diam adalah emas tetapi diam bisa menjadi suatu kejahatan atau suatu bentuk 
kejahatan?

Kirim email ke