Pak Victor yth, saya sangat sepakat ajakan Pak Victor kepada kita semua
untuk memintarkan (diajari menulis, membaca dan berhitung) orang-orang desa
agar saudara-saudara kita di desa tidak mudah dieksploitasi oleh para
pengusaha pencari rente, tidak mudah dibodoh-bodohi oleh orang kota atau
orang Jakarta .......... mudah-mudahan berhasil !!!!
Suatu analisis ada asumsinya. Kalau Pak Victor menganggap analisis saya
bias, maka perlu ditelaah asumsinya. Kalau bias analisis hanya merujuk
indikator kacamata kuda seperti yang ditunjukkan oleh Pak Victor begitu
lemah. Asumsi yang saya gunakan dapat benar dan dapat pula salah (perlu
pula kritik dan pengujian), yang jelas saya menganggap pemerintah/Gus Dur
terkena paranoid politik (istilah pengamat politik A.Alfian Mallarangeng).
Sebagaimana lazimnya, paranoid syndrom perlu terapi medis kejiwaan dan
paranoid
politik perlu terapi politik, diantaranya kritikan.
Saya konsisten dengan pemerintahan yang sah perlu dipertahankan dan
didukung. Manifestasinya bermacam-macam; bisa diam atas segala kebijakan dan
prilaku pemerintah, atau bersama-sama pemerintah berbuat untuk memintarkan
rakyat desa seperti ajakan Pak Victor, dan dapat pula mengkritisi
kebijakan-kebijakannya. Saya memilih mendukung pemerintah/Gus Dur dengan
mengkritisi kebijakan/pernyataan, namun disadari tidak semua
kebijakan/pernyataan harus dikritik. Dukungan saya 100 % terhadap Gus Dur
tentang pernyataannya banyak LSM yang hidup sebagai parasit, penyelesaian
pengadilan terhadap LSM yang menggerogoti KUT di negeri saya Makassar, dan
komitmen Gus Dur mewujudkan masyarakat madani, dll. Semua ini klop dalam
pikiran saya, tidak perlu saya kritisi dan bahkan mengingatkan teman-teman
LSM di Makassar bahwa apa yang dilansir Gus Dur benar adanya.
Mendukung pemerintahan dengan sikap diam dapat membuat pengkultusan
individu, sementara kritik jangan dianggap sebagai musuh yang berbahaya.
Forum ini akan membuat saya lebih mengerti dan mengenal pikiran-pikiran Pak
Victor, demikian pula Pak Victor mengenal saya lewat pikiran-pikiran saya.
Berbagai pemikiran cerdas dalam ilmu pengetahuan lahir dari hasil urung
pendapat seperti ini, dengan menyebut satu contoh munculnya pemikiran
probabilitas (teori peluang dalam statistika) dari hasil pertukaran pikiran
antara Pascal dan Fermet atas masalah aktual yang dihadapi dan dikritisi
oleh seorang penjudi
besar Chevalier de Mere. Teladan ilmuan tersebut mengajak kita untuk
mengambil hikmah dari kritikan dan kejadian-kejadian yang tengah
berlangsung.
Salam, Nenny Babo (C-8)
Di alam demokrasi perbedaan pendapat harus dihargai(kita berani-beranilah
berbeda pendapat)
----- Original Message -----
From: Victor Chandrawira <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, February 25, 2000 6:31 PM
Subject: Re: [envorum] Dicari Pembisik Lingkungan
>Saya tidak mengenal Anda, ibu (terhormat) Nenny R. Babo, sehingga sangat
tidak layak saya menyatakan pendapat saya (yang sangat terbatas dari
paradigma terbatas) tentang analisa canggih Anda tentang SIAGA SATU dalam
kaitannya dengan dampak pada rakyat (yang bisa diwakili oleh sekelompok
pengusaha parawisata sebagai indikator), padahal sewaktu S1 itu dilansir di
media massa, kampung saya di Ciawi tenang-tenang saja, bahkan hanya
menggeleng-gelengkan kepala karena bingung mendengar perilaku orang kota
(terutama pengusaha) yang belingsatan mencari aman. lha kami di kampung
(yang
>rasanya juga rakyat kecil) koq enda terganggu tuh. Karena kami mencoba
mengerti secara arif, bahwa Gus Dur punya gayanya sendiri dalam memimpin
bangsa ini. Tapi apapun yang dilakukan Gus Dur, koq kayanya kami di kampung
ni butuh orang-orang yang engga hanya pintar bicara (kritik termasuk
bicara), tapi butuh tangan-tangan tangguh hasil olah pikir kritis dinamis
yang bicara sedikit dan melakukan banyak untuk kami, membantu soal
pendidikan baca tulis hitung seni, kesehatan ibu dan anak (termasuk ibu-ibu
muda remaja yang harus kawin gara-gara kehilangan nilai adiluhung sekaligus
>tabu soal pergaulan, dan hanya lihat tivi di kelurahan dan bergetar
traumatis erotis malu-malu tapi mau melihat kawan-kawan di kota berpakaian
hampir telanjang dan berciuman di tengah toko yang ramai pengunjung),
pertanian alternatif pada lahan sempit (tanah kami sudah jadi vila kosong
yang ditunggu Amir dan hantu-hantu yang pindah dari tanah pekuburan karena
vila lebih sepi tanpa penghuni sekarang).
>
>Ibu Neny, masyarakat kecil mana yang ibu wakili? Biarlah Gus Dur bekerja
karena kami ikhlas. Sekarang keadaan koq rasanya lebih baik dari jaman
Suharto dulu (meskipun kami tidak terlalu perduli), karena Engkoh Acai yang
punya warung sekarang bisa ketawa dan anak-anak bisa merayakan barongsai
gonjreng gonjreng dua kali dalam sebulan ini, waktu imlek dan cengbeng,
dapet kue dan permen yang muanniiiiis banget. Paling engga untuk orang
kampung tu menyenangkan, karena hiburan jarang disini, tidak seperti dunia
edpertaising dan parawisata yang katanya serba wah, mobil mersi, kacamata
>guci dan vercace.
>
>Ah, rekan-rekan, mari kita lebih arif membuka mata batin kita, dan lebih
peka mengajak diri bercermin untuk bertanya apa yang bisa kita lakukan untuk
bangsa ini katimbang menyindir sitir mengejek jelek sang penguasa yang
rasanya memang sedang berusaha bebenah dari kerusakan moral sistematis
drastis selama 32 taun Pak harto dulu. mari kawan, bantu adik-adik di
kampung baca tulis supaya bangsa ini pinter. Kalo pinter kan bisa ngomong di
dunia internasional pake bahasa perancis inggris jerman belanda cas cis cus
brong breng....
>gitu ya.... mari bercermin ramai-ramai....
>
>victor
>katanya cohort 3 lho.
>
>Nenny R Babo wrote:
>
>> Gus Dur bisa saja berhipotesis tentang skenario besar yang akan
menjatuhkan pemerintahan yang sah melalui bentuk KUDETA apa saja, terserah
!!!!! Hipotesis inilah yang menjadi acuan diterapkannya SIAGA SATU. Dari
sudut strategi politik, sah saja, tidak haram, demi melindungi dan mencegah
pemerintahan yang legitimasi hancur oleh kekuatan-kekuatan anti demokrasi.
Namun dampak strategi ini yang perlu dicermati lebih dalam, bukan pada
tataran elit politik melainkan pada level rakyat.
>>
>> Pernyataan-pernyataan Gus Dur sebelumnya berdampak besar pada elit
politik dan kecil dampaknya bagi rakyat, namun SIAGA SATU sebagai tindakan
preventif pemerintah berpengaruh besar pada lapisan bawah seperti para
pekerja jasa dibidang parawisata. Orang-orang yang bekerja di sektor ini
harus melakukan social marketing ulang dan harus ulet hanya gara-gara
hipotesis pemerintah yang tingkat signifikansinya (harus diartikan secara
statistik) sangat... sangat.... sangat.......sangat diragukan.
>>
>> Sebenarnya ada tindakan preventif pemerintah/Gus Dur yang sangat besar
dampaknya bagi rakyat jika dibanding tindakan preventif KUDETA dan SIAGA
SATU, yaitu menjaga kelestarian lingkungan. Bukankah ekosistem di kawasan
freeport telah rusak berat, hancurnya taman nasional Kutai, terumbu karang
yang baik sisa 6%, banyak kasus2 lingkungan yang kandas. Kelihatannya dalam
wacana Gus Dur hal tersebut bukan prioritas ? Dapatkah menteri LH menjadi
pembisik/intel yang handal ? atau mungkin dicari pembisik/intel lingkungan
yang tangguh dan lebih tangguh dari pembisik/intel politik !!!!
>>
>> Nenny Babo, Cohort-8
>> Ingat diam adalah emas tetapi diam bisa menjadi suatu kejahatan atau
suatu bentuk kejahatan?
>
>
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]