Saya tidak mengenal Anda, ibu (terhormat) Nenny R. Babo, sehingga sangat tidak layak
saya menyatakan pendapat saya (yang sangat terbatas dari paradigma terbatas) tentang
analisa canggih Anda tentang SIAGA SATU dalam kaitannya dengan dampak pada rakyat
(yang bisa diwakili oleh sekelompok pengusaha parawisata sebagai indikator), padahal
sewaktu S1 itu dilansir di media massa, kampung saya di Ciawi tenang-tenang saja,
bahkan hanya menggeleng-gelengkan kepala karena bingung mendengar perilaku orang kota
(terutama pengusaha) yang belingsatan mencari aman. lha kami di kampung (yang
rasanya juga rakyat kecil) koq enda terganggu tuh. Karena kami mencoba mengerti secara
arif, bahwa Gus Dur punya gayanya sendiri dalam memimpin bangsa ini. Tapi apapun yang
dilakukan Gus Dur, koq kayanya kami di kampung ni butuh orang-orang yang engga hanya
pintar bicara (kritik termasuk bicara), tapi butuh tangan-tangan tangguh hasil olah
pikir kritis dinamis yang bicara sedikit dan melakukan banyak untuk kami, membantu
soal pendidikan baca tulis hitung seni, kesehatan ibu dan anak (termasuk ibu-ibu muda
remaja yang harus kawin gara-gara kehilangan nilai adiluhung sekaligus
tabu soal pergaulan, dan hanya lihat tivi di kelurahan dan bergetar traumatis erotis
malu-malu tapi mau melihat kawan-kawan di kota berpakaian hampir telanjang dan
berciuman di tengah toko yang ramai pengunjung), pertanian alternatif pada lahan
sempit (tanah kami sudah jadi vila kosong yang ditunggu Amir dan hantu-hantu yang
pindah dari tanah pekuburan karena vila lebih sepi tanpa penghuni sekarang).
Ibu Neny, masyarakat kecil mana yang ibu wakili? Biarlah Gus Dur bekerja karena kami
ikhlas. Sekarang keadaan koq rasanya lebih baik dari jaman Suharto dulu (meskipun kami
tidak terlalu perduli), karena Engkoh Acai yang punya warung sekarang bisa ketawa dan
anak-anak bisa merayakan barongsai gonjreng gonjreng dua kali dalam sebulan ini, waktu
imlek dan cengbeng, dapet kue dan permen yang muanniiiiis banget. Paling engga untuk
orang kampung tu menyenangkan, karena hiburan jarang disini, tidak seperti dunia
edpertaising dan parawisata yang katanya serba wah, mobil mersi, kacamata
guci dan vercace.
Ah, rekan-rekan, mari kita lebih arif membuka mata batin kita, dan lebih peka mengajak
diri bercermin untuk bertanya apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa ini katimbang
menyindir sitir mengejek jelek sang penguasa yang rasanya memang sedang berusaha
bebenah dari kerusakan moral sistematis drastis selama 32 taun Pak harto dulu. mari
kawan, bantu adik-adik di kampung baca tulis supaya bangsa ini pinter. Kalo pinter kan
bisa ngomong di dunia internasional pake bahasa perancis inggris jerman belanda cas
cis cus brong breng....
gitu ya.... mari bercermin ramai-ramai....
victor
katanya cohort 3 lho.
Nenny R Babo wrote:
> Gus Dur bisa saja berhipotesis tentang skenario besar yang akan menjatuhkan
>pemerintahan yang sah melalui bentuk KUDETA apa saja, terserah !!!!! Hipotesis inilah
>yang menjadi acuan diterapkannya SIAGA SATU. Dari sudut strategi politik, sah saja,
>tidak haram, demi melindungi dan mencegah pemerintahan yang legitimasi hancur oleh
>kekuatan-kekuatan anti demokrasi. Namun dampak strategi ini yang perlu dicermati
>lebih dalam, bukan pada tataran elit politik melainkan pada level rakyat.
>
> Pernyataan-pernyataan Gus Dur sebelumnya berdampak besar pada elit politik dan kecil
>dampaknya bagi rakyat, namun SIAGA SATU sebagai tindakan preventif pemerintah
>berpengaruh besar pada lapisan bawah seperti para pekerja jasa dibidang parawisata.
>Orang-orang yang bekerja di sektor ini harus melakukan social marketing ulang dan
>harus ulet hanya gara-gara hipotesis pemerintah yang tingkat signifikansinya (harus
>diartikan secara statistik) sangat... sangat.... sangat.......sangat diragukan.
>
> Sebenarnya ada tindakan preventif pemerintah/Gus Dur yang sangat besar dampaknya
>bagi rakyat jika dibanding tindakan preventif KUDETA dan SIAGA SATU, yaitu menjaga
>kelestarian lingkungan. Bukankah ekosistem di kawasan freeport telah rusak berat,
>hancurnya taman nasional Kutai, terumbu karang yang baik sisa 6%, banyak kasus2
>lingkungan yang kandas. Kelihatannya dalam wacana Gus Dur hal tersebut bukan
>prioritas ? Dapatkah menteri LH menjadi pembisik/intel yang handal ? atau mungkin
>dicari pembisik/intel lingkungan yang tangguh dan lebih tangguh dari pembisik/intel
>politik !!!!
>
> Nenny Babo, Cohort-8
> Ingat diam adalah emas tetapi diam bisa menjadi suatu kejahatan atau suatu bentuk
>kejahatan?
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]