Hallo,
sekedar menambahkan komentar Bung Victor :
saya punya program yang mungkin bisa jadi media bagi kawan-kawan yang ingin
menyumbangkan sesuatu buat kawan-kawan di kampung :
1. Buku-buku bekas buat perpustakaan di desa.
2. Mengajar baca tulis dan pelajaran tambahan buat anak-anak.
3. Bermacam-macam pelatihan buat ibu-ibu, misalnya tentang gizi, kesehatan
lingkungan, pemanfaatan lahan pekarangan, manajemen keuangan sederhana dll
(sekali-sekali).
4. Modal buat usaha mandiri kecil-kecilan sebagai sambilan untuk menambah
pendapatan keluarga.
Bagi yang berminat silakan hubungi :
ELSPPAT
Jln. Wira Perdana no. 3
Budi Agung
Bogor
Telp. 0251-347121
e-mail : [EMAIL PROTECTED]
homepage : http://www.lead.or.id/~elsppat
Terima kasih.
Any
-----Original Message-----
From: Victor Chandrawira <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, March 03, 2000 9:48 AM
Subject: Re: [envorum] Dicari Pembisik Lingkungan
>Saya tidak mengenal Anda, ibu (terhormat) Nenny R. Babo, sehingga sangat
tidak layak saya menyatakan pendapat saya (yang sangat terbatas dari
paradigma terbatas) tentang analisa canggih Anda tentang SIAGA SATU dalam
kaitannya dengan dampak pada rakyat (yang bisa diwakili oleh sekelompok
pengusaha parawisata sebagai indikator), padahal sewaktu S1 itu dilansir di
media massa, kampung saya di Ciawi tenang-tenang saja, bahkan hanya
menggeleng-gelengkan kepala karena bingung mendengar perilaku orang kota
(terutama pengusaha) yang belingsatan mencari aman. lha kami di kampung
(yang
>rasanya juga rakyat kecil) koq enda terganggu tuh. Karena kami mencoba
mengerti secara arif, bahwa Gus Dur punya gayanya sendiri dalam memimpin
bangsa ini. Tapi apapun yang dilakukan Gus Dur, koq kayanya kami di kampung
ni butuh orang-orang yang engga hanya pintar bicara (kritik termasuk
bicara), tapi butuh tangan-tangan tangguh hasil olah pikir kritis dinamis
yang bicara sedikit dan melakukan banyak untuk kami, membantu soal
pendidikan baca tulis hitung seni, kesehatan ibu dan anak (termasuk ibu-ibu
muda remaja yang harus kawin gara-gara kehilangan nilai adiluhung sekaligus
>tabu soal pergaulan, dan hanya lihat tivi di kelurahan dan bergetar
traumatis erotis malu-malu tapi mau melihat kawan-kawan di kota berpakaian
hampir telanjang dan berciuman di tengah toko yang ramai pengunjung),
pertanian alternatif pada lahan sempit (tanah kami sudah jadi vila kosong
yang ditunggu Amir dan hantu-hantu yang pindah dari tanah pekuburan karena
vila lebih sepi tanpa penghuni sekarang).
>
>Ibu Neny, masyarakat kecil mana yang ibu wakili? Biarlah Gus Dur bekerja
karena kami ikhlas. Sekarang keadaan koq rasanya lebih baik dari jaman
Suharto dulu (meskipun kami tidak terlalu perduli), karena Engkoh Acai yang
punya warung sekarang bisa ketawa dan anak-anak bisa merayakan barongsai
gonjreng gonjreng dua kali dalam sebulan ini, waktu imlek dan cengbeng,
dapet kue dan permen yang muanniiiiis banget. Paling engga untuk orang
kampung tu menyenangkan, karena hiburan jarang disini, tidak seperti dunia
edpertaising dan parawisata yang katanya serba wah, mobil mersi, kacamata
>guci dan vercace.
>
>Ah, rekan-rekan, mari kita lebih arif membuka mata batin kita, dan lebih
peka mengajak diri bercermin untuk bertanya apa yang bisa kita lakukan untuk
bangsa ini katimbang menyindir sitir mengejek jelek sang penguasa yang
rasanya memang sedang berusaha bebenah dari kerusakan moral sistematis
drastis selama 32 taun Pak harto dulu. mari kawan, bantu adik-adik di
kampung baca tulis supaya bangsa ini pinter. Kalo pinter kan bisa ngomong di
dunia internasional pake bahasa perancis inggris jerman belanda cas cis cus
brong breng....
>gitu ya.... mari bercermin ramai-ramai....
>
>victor
>katanya cohort 3 lho.
>
>Nenny R Babo wrote:
>
>> Gus Dur bisa saja berhipotesis tentang skenario besar yang akan
menjatuhkan pemerintahan yang sah melalui bentuk KUDETA apa saja, terserah
!!!!! Hipotesis inilah yang menjadi acuan diterapkannya SIAGA SATU. Dari
sudut strategi politik, sah saja, tidak haram, demi melindungi dan mencegah
pemerintahan yang legitimasi hancur oleh kekuatan-kekuatan anti demokrasi.
Namun dampak strategi ini yang perlu dicermati lebih dalam, bukan pada
tataran elit politik melainkan pada level rakyat.
>>
>> Pernyataan-pernyataan Gus Dur sebelumnya berdampak besar pada elit
politik dan kecil dampaknya bagi rakyat, namun SIAGA SATU sebagai tindakan
preventif pemerintah berpengaruh besar pada lapisan bawah seperti para
pekerja jasa dibidang parawisata. Orang-orang yang bekerja di sektor ini
harus melakukan social marketing ulang dan harus ulet hanya gara-gara
hipotesis pemerintah yang tingkat signifikansinya (harus diartikan secara
statistik) sangat... sangat.... sangat.......sangat diragukan.
>>
>> Sebenarnya ada tindakan preventif pemerintah/Gus Dur yang sangat besar
dampaknya bagi rakyat jika dibanding tindakan preventif KUDETA dan SIAGA
SATU, yaitu menjaga kelestarian lingkungan. Bukankah ekosistem di kawasan
freeport telah rusak berat, hancurnya taman nasional Kutai, terumbu karang
yang baik sisa 6%, banyak kasus2 lingkungan yang kandas. Kelihatannya dalam
wacana Gus Dur hal tersebut bukan prioritas ? Dapatkah menteri LH menjadi
pembisik/intel yang handal ? atau mungkin dicari pembisik/intel lingkungan
yang tangguh dan lebih tangguh dari pembisik/intel politik !!!!
>>
>> Nenny Babo, Cohort-8
>> Ingat diam adalah emas tetapi diam bisa menjadi suatu kejahatan atau
suatu bentuk kejahatan?
>
>
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>
>
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]