Nenny R Babo wrote:
> Dear Bung Johnny Anwar,
>
> Mengenai RSSSSSSS itu memang sangat menyakitkan khususnya rakyat kecil
> pengguna RSSSSSS itu.
> Saya tidak tahu siapa yang salah tapi menurut saya ini kesalahan ada pada
> Arsitek kita yang memihak kepada pengusaha (developer) ketimbang rakyat
> kecil (pengguna) yang dengan susah payah mensubsidi sekolahnya (sang
> arsitek) waktu mereka kuliah.
> Barangkali Arsitek tuh yang paling banyak dosanya sama rakyat yah?
> Comment boleh tapi jangan marah, OK
> Salam,
> Nenny R. Babo C-8
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
Dear Nenny,
Terima kasih atas komentarnya !!
Saya tak menyangka bahwa masih ada orang yang mau peduli pada rakyat kecil
sebagai pengguna. Setelah sekian lama, tepatnya 14 hari setelah saya coba
menggelitik dan membangkitkan kesadaran (awareness) tentang arti dan makna
pembangunan berwawasan lingkungan, para rekan-rekan di Envorum ini baru anda
yang mengkomentari tulisan saya. Barangkali disini terlihat jelas bahwa
gembar-gembor yang dikatakan pembangunan berkelanjutan dengan titik berat
masyarakat kecil hanyalah slogan dan lip - service saja, apabila tidak ada
sama sekali usaha untuk mencari akar masalahnya. Saya tidak yakin kinerja YM
ibu Menteri Erna W. bisa berhasil kalau tidak mengkaji pengguna lingkungan
pada akar rumput (grass root), dengan adanya keberpihakan arsitek pada
developer.
Saya tidak bermaksud untuk menepis anggapan bahwa dalam hal ini tentang
kesalahan di pihak arsitek dan disini saya tidak hendak melihat sesuatu itu
secara hitam atau putih. Akan tetapi saya mau mengajak anda untuk melihat
lebih jauh kebelakang, yakni pada institusi dimana sang arsitek dibina; saya
beranggapan institusinya masih belum siap membentuk arsitek yang manusiawi
serta bemoral. Sebagai suatu bahan ilustrasi, banyak sekali
kesalahan-kesalahan yang terjadi pada pranata pembangunan lingkungan
pemukiman yang dilakukan para pengembang yang direstui oleh pengguna melalui
pengambilan rumah bak ibarat diakui bahwa pasangan hidup ini tidak padan akan
tetapi surat nikah dibuat jua yang pada akhirnya menjadikan kesengsaraan. Dan
banyak lagi kasus-kasus sekaitan dengan ini, akan tetapi rupanya banyak yang
tidak peka.
Sekian sambutan saya, saya tidak bermaksud untuk membuat polemik akan tetapi
sekedar untuk membangkitkan awareness rekan-rekan sekalian untuk menciptakan
habitable world yang manusiawi.
Salam,
Johnny Anwar