D I T wrote:

> allo..
>
> setau saya moto-moto kayak gitu mah (pembangunan berkelanjutan ..) emang cuman 
>slogan alias nggak nyambung dan kontradiktif. Kalo anda tau maksudnya apa, kasih tau 
>saya ya.
>
> kalo maen salah-salahan..saya kurang tau juga siapa yang bertanggung jawab, buat 
>saya yang domisilinya di jakarta seh yang saya biasa maki (dalem hati) itu biro tata 
>ruang kota..he he he..yang punya ide gokil bikin kota yang transportasi publiknya 
>amburadul, tapi pusatnya terkonsentrasi banget. saking parahnya ampe gue yang betawi 
>aje pengen pindah..:-).
>
> biar ada kemajuan, mungkin LSM-LSM, dept-dept, biro pemerentahan yang nggak perlu 
>deket-deket pusat pemerentahan di pindahkan keluar, kayak dephutbun, pariwisata, 
>walhi etc .. kaum urbannya kan nggak pada ke jakarta doank jadinya (yang nanti jadi 
>pesuruh, tk indomie  etc), akhirnya gue kan bisa beli rumah yang nggak perlu 
>jauh-jauh transportnya, lebih manusiawi en ramah lingkungan, developer juga kali jadi 
>rala rela bikin fasilitas umum karena tanahnya nggak mahal-mahal amat.
> segitu dulu deh..
>
> bye
> **************************************************************
> Danial Irfachsyad
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Department of Chemistry
> University of Southampton
> **************************************************************
>

Hallo juga !!
Seperti yang saya kemukakan, isu ini bukanlah suatu yang harus dilihat hitam atau 
putih. Akan tetapi suatu ajakan, bagi kita semua untuk meningkatkan kesadaran dan 
kewaspadaan (consciousness and awareness) akan arti kehidupan yang selayaknya (what 
should be) dan bagaimana seharusnya dilakukan (what ought to be done) dalam melakukan 
kegiatan pembangunan bukan hanya bagi kita tapi juga bagi generasi setelah kita. 
Barangkali ini makna dan maksud pembangunan berkelanjutan. Dilain
pihak, dalam setiap kegiatan pembangunan hendaknya kita tidak hanya menitik beratkan 
material profit oriented akan tetapi social benefit harus menjadi pertimbangan dan 
dibuat seimbang (equilibrium).

Akan tetapi celakanya, doktrin Kalau ada Uang Habis Perkara (KUHP) dan sila Keuangan 
Yang Maha Kuasa mendominasi tatanan kehidupan masyarakat Indonesia. Ya  LSMnya (Kasus 
LSM dan dana KUT di Sulawesi Selatan ) apalagi (maksudnya lebih-lebih lagi) di 
Instansi Pemerintahan yang nota bene Money Monger. Bukan hanya di wilayah ini kasus 
ini terjadi, akan tetapi telah merebak sampai ke institusi pendidikan dimana idealisme 
dirusak dengan uang, yang membuat KEBENARAN ILMU menjadi porak
poranda.

Sebagai contoh kasus, dasar utama (prime basic) pembuatan aturan dan 
perundang-undangan adalah melindungi Hak asazi dan Martabat manusia (eg. Declaration 
of Human Right) akan tetapi di Ind. pembuatan aturan dan undang-undang untuk 
dilanggar, ironis bukan ?!. Oleh sebab itu saya menjadi sangat yakin, bahwa kepedulian 
para elite tidak (belum ????) serius menangani kasus kerusakan lingkungan bahkan 
membuat kerusakan baru dengan dalih untuk kepentingan rakyat. Di sisi lain, kalau ada
5% dari aturan, undang-undang yang SUDAH dibuat itu dijalankan sudah sangat baik.

Saya bukan Nabi, Ulama atau Priest, dari sisi agama saya berada di urutan paling 
belakang; akan tetapi saya tidak mau jadi pendosa untuk merestui hal-hal yang tidak 
selayaknya khususnya Pembangunan Lingkungan Pemukiman yang tidak manusiawi dengan 
menghalalkan segala cara. Sebagai seorang beragama, kalau kita meyakini masih ada 
kehidupan sesudah hari ini tentunya hal-hal seperti ini tidak kita lakukan. Barangkali 
kita perlu menghayati makna yang ditulis dalam buku Humanities and
Engineering (ed. Schaub, J.H. & Sheila K.D., 1982), juga syair Ebiet - Menjaring 
Matahari dan Elegi Esok Hari.

Rekan  DIT yang terhormat, banyak sekali hal-hal disekeliling kita yang baik untuk 
kita simak, pelajari dan hayati untuk menjadikan kita sadar dan waspada.
Jadi kalau saya, bahkan dalam hatipun saya tidak mau memaki karena saya takut saya 
kehabisan energi untuk berfikir jernih dengan selalu memaki tanpa way out. Mari kita 
cari sama-sama solusinya - What is the best alternative and option to deal with.
Sorry ya!! kalau ada kata yang menyinggung (kebiasaan orang timur), karena tanpa 
basa-basi hubungan ini menjadi hambar.

Sekian dulu chat ini! nanti kita sambung lagi.

bye!!

Kirim email ke