IMHO, ketika kita ngomongin keekonomian. Saat ini banyak yg ingin mengambil 
keuntungan secepat2nya. Jadi nanti menggunakan NPV (Net Present Value). Jadi 
justru sebenernya kebalikan mas, negara ingin memaintain keekonomian sebaik 
mungkin untuk mendapat reserve yg maksimal. Tapi dari segi company justru ingin 
mendapatkan dana secepatnya dengan memproduksikan lebih awal, sehingga banyak 
sekali yang pada akhirnya sumur2 water coning. Temtunya, dengan 
mempertimbangkan life contract dia di PSC itu.
Contoh:
Life of PSC Contract 31 Januari 2015, dibuat project sumur produksi utk tahun 1 
November 2014 dengan initial Rate Optimum : 50bopd, yang kemudian bisa POT (pay 
out time) dengan cumulative: 5000 barrel. 1 well bisa produksi 8000 barrel.

Nanti perhitungannya jadi

31 Januari 2015 - 1 November 2014 = 92 hari.
Initial Rate Optimum adalah 50 bopd (supaya.tidak water coning).
POT = 5000 Barrel
Jadi nanti dihitung
5000barrel/50bopd=100 hari (tidak ekonomis)
Dibuatlah produksi dengan tanpa choke menjadi 100bopd. 5000barrel / 100bopd = 
50 hari (ekonomis). Tapi secara manajemen reservoir menjadikan reservoir itu 
rusak (water coning dll). Sehingga secara keekonomian perusahaan akan 
mendapakan keuntungan. Tetapi utk Indonesia, kita menjadi memiliki kerugian 
karena yang harusnya 1 well bisa produksi 8000 barrel, karena water coning jadi 
hanya 7000 barrel. 1000barrel menjadi bypassed oil. Which is sudah meet dengan 
keekonomian project itu.

CMIIW
Koko

Sent from Yahoo Mail on Android

Kirim email ke