Dari data yang ada saja sudah terlihat jelas bagaimana si K3S bermain.
bagaimana membuat IRO dengan skema seperti itu yang jelas2 untuk menghasilkan 
50 bopd saja bnyak rintangan, apalagi di up jadi 100 bopd.
karena mereka TIDAK MEMIKIRKAN kerugian negara. pasti bnyak solusi dengan 
adanya case water cloning ini, misalnya kita  bisa buat skema dual completion, 
enginering pasti mengerti betul mengenai hal ini.
Saya bisa mengatakan pegawasan terhadap K3S yg dilakukan oleh SKK MIGAS belum 
maximal.
adanya cost recovery ini membuat mereka bebas dalam melakukan apapun terkait 
biaya produksi, meskipun pada dasarnya negara sudah mengatur tentang syarat dan 
ketentuan "cost recovery".
 
Satu contoh lagi terhadapa pengwasan terhadap DATA yg di peroleh dari SKK 
MIGAS, perlu dikaji untuk memaparkan kepada publik suatu nilai mengenai migas 
kita.
1. kurangnya Punishement and reward terhadap K3S yg tidak Patuh kepada SKK
2. perlu dikaji tentang validitas data yg dikasih oleh K3S untuk pelaporan 
kepada SKK.
mungkin itu yang bisa saya komentari, karena kita sifatnya diskusi jadi ndak 
masalah toh memberikan pendapat pribadi.
 
Regards,
 
Hikmat 


On Monday, October 20, 2014 7:18 AM, Bhaskara Aji <[email protected]> 
wrote:
  


IMHO, ketikakitangomonginkeekonomian. 
Saatinibanyakyginginmengambilkeuntungansecepat2nya. 
JadinantimenggunakanNPV(NetPresentValue). Jadijustrusebenernyakebalikanmas, 
negarainginmemaintainkeekonomiansebaikmungkinuntukmendapatreserveygmaksimal. 
Tapidarisegicompanyjustruinginmendapatkandanasecepatnyadenganmemproduksikanlebihawal,
 sehinggabanyaksekaliyangpadaakhirnyasumur2waterconing. Temtunya, 
denganmempertimbangkanlifecontractdiadiPSCitu.
Contoh:
Life of PSCContract 31 Januari 2015, dibuatprojectsumurproduksiutktahun1 
November 2014 denganinitialRateOptimum : 50bopd, 
yangkemudianbisaPOT(payouttime) dengancumulative: 5000 barrel. 1 
wellbisaproduksi8000 barrel. 
Nantiperhitungannyajadi 
31 Januari2015 -1 November2014 = 92 hari.
InitialRateOptimumadalah50 bopd(supaya.tidakwaterconing).
POT= 5000 Barrel
Jadinantidihitung
5000barrel/50bopd=100 hari(tidakekonomis)
Dibuatlahproduksidengantanpachokemenjadi100bopd. 5000barrel / 100bopd = 50 
hari(ekonomis). 
Tapisecaramanajemenreservoirmenjadikanreservoiriturusak(waterconingdll). 
Sehinggasecarakeekonomianperusahaanakanmendapakankeuntungan. 
TetapiutkIndonesia, kitamenjadimemilikikerugiankarenayangharusnya1 
wellbisaproduksi8000 barrel, karenawaterconingjadihanya7000 barrel. 1000barrel 
menjadi bypassed oil. Whichissudahmeetdengankeekonomianprojectitu.
 
CMIIW
Koko
 
Sent from Yahoo Mail on Android 
From:"hikmat_geologist - [email protected]" 
<[email protected]>
Date:Mon, Oct 20, 2014 at 6:47
Subject:Re: [fgmi] Oil Fund Economic in Norway

 
Kebutuhan perusahaan vs kebutuhan negara..hehe..

Ga akan ada perusahaan yg mau lifetime perusahaannya abis gr2 menghasilkan 
lifting tinggi..pasti di maintaince sm mereka..

Sedangkan negara pengen lifting tinggi..

Ini semua hanya permainan pilitik dan bisnis semata..

Bukan teknologi yg dibutuhkan secara mandatori..tp lebih ke kesadaran dan jiwa 
nasionalis yg harus dipupuk kembali..

Regards, 

Hikmat


Sent from Samsung Mobile


-------- Original message --------
From: Cahyo Utomo Putro <[email protected]> 
Date: 18/10/2014  14:31  (GMT+07:00) 
To: [email protected] 
Subject: Re: [fgmi] Oil Fund Economic in Norway 


Miris ya melihat kapasitas kilang nasional, kalo rumusnya :

Tombok produksi: 1.4 juta - 800rb = 600rb
Kapasitas dan jenis minyak yg bisa diproses di kilang = 400rb
Export minyak yang ga bs diproses di dalam negeri: 800rb-400rb = 400rb

Itu sama aja kita ekspor minyak dengan harga relatif murah setalah
sudah matang kita impor lagi dengan harga mahal ???

Gimana gak jebol uang pertamina dengan skema yang jelas merugikan diri
sendiri???

Sedemikian susahkah membangun kilang yang minimal menutupi kebutuhan nasional???

Gak malukah kita dengan singapura yang merupakan negara seluas Kota
Yogyakarta namun
 kapasitas kilangnya mencapai satu juta bopd ???

CMIIW ya Mas Koko,

Salam
Cahyo

Pada tanggal 17/10/14, Rizqi Syawal <[email protected]> menulis:
> Kita itu terlalu sibuk dgn urusan mafia migas yg tak jelas.... sedikit
> sedikit nuduh si A besok nuduh si B . . . .
>
> Yg benar itu adalah fungsi pengawasan kelembagaan yg terus berjalan lifting
> migas yg saat ini nambah ruwet apalagi pihak daerah punya hak akhirnyaa
> beberapa urusan teknis yg mumpuni akhirnya kalah di tengah jalan oleh
> urusan non teknis... eh tetap aja rakyat teriak ini itu pake bilang di
> jajah asing lah inilah itulah . . . . .
>
> Sekedar curhat org yg masih setengah geosaintis
> On Oct 17, 2014 9:33 PM, <[email protected]> wrote:
>
>> Jika saya mengesampingkan Konsumsi,
>>
>> Jika Produksi 800rbu- ttpi Cost utk menciptakan 800rbu + penjualannya
 tdk
>> saling menutupi apakah tetap dikategorikan sbgai Defisit??
>> Jadi 800rbu barrel itu jadi tidak "ekonomis" karena biaya produksinya yg
>> besar sekali, belum lagi menombok utk sisa konsumsi yg bgitu besar jg,,
>>
>> Misal, biaya yg dibutuhkan utk mengeluarkan 800rbu itu dimampatkan jadi
>> 100rupiah, dari 1000 rupiah, menurut hemat saya akan jd "ekonomis" dan
>> bisa
>> menutupi kekurangan "kebutuhan konsumsi" kita..
>>
>> Sederhananya sih begitu..
>> Terlepas dari Mafia Migas yg memang harus diberantas, tp pernahkah
>> terpikir utk mengurangi biaya yg tidk semestinya dibebankan kepada
>> Negara??
>>
>> Hmmm.. saya berpikir sederhana saja,, maklum baru bs mengamati saja, dari
>> jauh lagi, utk meraba jg ga bisa, blm muhrim #eh,,
>>
>>
 Hahahaha...
>>
>> Salam
>> Tatzky
>>
>> Sent from my BlackBerry 10 smartphone.
>> Tatzky Reza Setiawan
>> Geologist
>> +62 82136 125314
>> +62 81294 037682
>>   Original Message
>> From: Cahyo Utomo Putro
>> Sent: Friday, October 17, 2014 21:20
>> To: [email protected]
>> Reply To: [email protected]
>> Subject: Re: [fgmi] Oil Fund Economic in Norway
>>
>> Dulu pernah baca ulasan salah satu guru besar ekonomi UGM yang
>> mengatakan bahwa penurunan lifting migas Indonesia tidak lepas dari
>> adanya mafia migas. Dibuatlah agar lifting migas punya gap cukup jauh
>> dari kebutuhan nasional supaya para mafia ini untung besar dari tender
>> pengadaan migas dari luar negeri.
>>
>> Lepas dari benar tidaknya, satu hal yang miris adalah ternyata
 ada
>> saudara sebangsa kita sendiri yang tidak ingin melihat kemandirian
>> energi nasional,
>>
>> CMIIW ya
>>
>> Pada tanggal 17/10/14, Bhaskara Aji <[email protected]> menulis:
>> > Produksi dan konsumsi mas tatzky,
>> > Produksi 800rb. Kalau konsumsi 1.4 juta. Defisit 600rb barel.
>> > Dari 800rb tersebut masih ada yg diekspor lagi, krn minyaknya ngga
>> > sesuai
>> > dngan spek kilang di Indonesia. So impor realnya bisa lebih besar drpd
>> 600rb
>> > barel :D
>> > Skr tambah2 harga minyak turun. So dont expect indonesia akan
>> > mendapatkan
>> > revenue seperti tahun2 sebelumnya.
>> >
>> > Mas Avel, itu sebenernya memberikan %APBN thd pengembangan SDM khan?
>> Memang
>> > pendidikan itu penting dan SDM harus diutamain!
 Jangan SDA nya mulu di
>> > perhatiin.
>> >
>> > Bhaskara Aji
>> > G0001
>> >
>> > Sent from Yahoo Mail on Android
>> >
>> >
>>
>

Kirim email ke