Homo Imago Dei Versus Homo Economicus
Oleh
Fred Thomas
Sering kali terjadi, sadar atau tanpa sadar, kita kurang memerhatikan
martabat manusia. Kita umumnya hanya memperhatikan apakah orang
diperlakukan dengan adil atau tidak, baik material maupun sosial.
Apakah orang ini mendapat cukup makan? Apakah para pekerja mendapat
upah yang memadai? Apakah anak-anak orang iniskin bisa memperoleh
pendidikan formal? Bagaimana pelayanan kesehatan kepada masyarakat
golongan "bawah"? Kalau umpamanya para TKI diperlakukan tidak wajar
di pelabuhan udara, maka hal itu dikritik di meedia masa dengan.
alasan mereka "membawa devisa yang tidak sedikit", sehingga patut
diperlakukan dengan baik, tetapi bukan karena alasan martabat mereka
direndahkan!
Kita mengenal berbagai istilah yang sudah baku, namun, sekali lagi
sadar atau tanpa sadar, bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan
universal yang kita anut. Di antaranya istilah "sumber daya manusia"
(SDM) yang diterjemahkan dari bahasa Inggris human resources.
Perusahaan-penisahaan mempunyai Human Resources Department, yang dulu
disebut "Bagian Urusan Pegawai" atau "Urusan Personalia", yang
menurut penulis sebenarnya lebih tepat dan manusiawi. Kalau kita
bicara tentang "sumber daya manusia", maka tanpa sadar kita
menjadikan manusia itu sebagai suatu komponen dalam roda ekonomi di
samping "sumber daya alam" {natural recourses).
Dengan mensejajarkan manusia sebagai sumber daya, itu sama saja
melecehkan martabat manusia. Artinya, manusia menjadi sama dengan
sumber daya alam, yaitu "diturunkan" derajatnya menjadi "komponen
produksi" manusia menjadi "homo economicus" dan dengan demikian
dinilai berdasarkan kegunaan ekonomi semata dan bukan sebagai manusia.
Istilah human recources memang relatif baru, tetapi maknanya
sebenarnya sudah lama berlaku, yaitu sejak "revolusi industri" pada
abad ke 19. Sebelumnya orang memintal benang sendiri dan membuat kain
serta berbagai bahan keperluan, baik untuk memenuhi kebutuhannya
sendiri maupun untuk dijual. Pekerjaan itu dibuat dalam "industri
rumah" dan dikerjakan dengan tangan oleh para anggota keluarga,
dibantu dengan peralatan yang dibuat sendiri atau dibeli dari orang-
orang yang mempunyai keterampilan untuk membuatnya; itupun dalam
industri rumah. Setiap orang merupakan entrepreneur (pengusaha
mandiri).
Manusia Bernilai Ekonomi
Tetapi sejak penemuan mesin yang dapat menghasilkan barang keperluan
secara masal dengan harga yang jauh lebih murah, mulailah didirikan
pabrik-pabrik. Para pemodal melihat di sini kesempatan yang sangat
menjanjikan, maka makin banyak pabrik didirikan dengan modal mereka.
Pabrik-pabrik itu membutuhkan tenaga kerja, maka orang-orang yang
tadinya berkarya secara mandiri jemudian menjadi buruh pabrik. Pada
tahap inilah manusia menjadi "sumber daya" untuk mendukung produksi.
Jadi. pengertian "SDM" sudah ada sejak revolusi industri, walaupun
istilahnya belum dipakai waktu itu. Sebagai entrepreneur manusia
masih merupakan subyek yang atas prakarsanya sendiri memilih suatu
profesi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dirinya dan masyarakat.
Tetapi pada saat ia menjadi buruh pabrik sebagai unsur yang mendukung
produksi, ia menjadi homo economicus (manusia bernilai ekonomi), dan
tidak lagi sebagai manusia menurut martabatnya. Pabrik-pabrik di
Eropa waktu itu sangat menguntungkan para pemilik modal, sehingga
mereka menjadi kaya atas keringat dan penderitaan kaum pekerja: maka
terjadilah exploitation de I'homme par I'homme, exploitasi manusia
oleh manusia.
Keadaan itu ditentang oleh beberapa pemikir dan penulis, seperti
Robert Owen di Inggris dan Pierre Proudhon di Prancis yang
berpendapat bahwa tanah dan pabrik harus dimiliki oleh rakyat. Mereka
berpendapat demikian karena secara etis adalah amat tidak benar jika
sekelompok orang memperkaya diri dari hasil keringat (atau
eksploitasi) orang lain. Pandangan kedua penulis itu disebuit ideal
socialism.
Tetapi yang paling berpengaruh adalah pemikiran Karl Marx dalam
bukunya Das Kapital. Walaupun pemikiran Marx dan kritiknya bahwa para
pemilik modal meraih keuntungan dari jerih payah para pekerja adalah
benar, ia keliru dalam konsep "pertentangan kelas", yaitu antara kaum
kapitalis dan kaum buruh, yang menurut dia akan menjurus kepada
revolusi yang akhirnya membawa kemenangan bagi "kaum proletariat".
Karena tcori-teori Karl Marx bersifat materialistik, ia tidak
menyentuh martabat kaum buruh sebagai manusia. Yang ia permasalahkan
salah keadilan material semata-mata, hal mana masih merupakan faktor
utama di mana-mana hingga sekarang.
Adalah suatu ironi bahwa justru negara-negara demokratik-lah yang
menanggapi pemikiran Marx.. Dengan juga berpedoman pada sosialisme
ideal-nya Robert Owen dan Pierre Proudhon, negara-negara demokratik
menerapkan berbagai sistem kepemilikan usaha seperti antara lain
koperasi pertanian dan industri kecil.
Pemberian saham kepada para pekerja (atau koperasinya) dan
kepemilikan saham publik (rakyat). Juga dengan berdirinya serikat-
serikat buruh maka dalam alam demokrasi para eksekutif modal dan
pemimpin serikat buruh duduk bersama dan berunding untuk menemukan
win-win solution di mana pemodal tidak meraih keuntungan terlalu
banyak dan para pekerja menerima upah yang cukup untuk hidup layak.
Manusia Sebagai Subyek
Jiwa demokratis itulah membuat para pekerja kembali menjadi subyek
dan menjadi mitra dengan para pemodal dalam perusahaan. Sebagai
subyek orang tidak lagi "dipakai" atau dimanfaatkan demi keberhasilan
produksi, melainkan mereka berkarya dengan menggunakan ketrampilan,
pengetahuan atau tenaganya.
Manusia adalah subyek karena manusia adalah Homo Imago Dei (Manusia
Citra Allah, menurut Alkitab), Allah adalah subyek. maka manusia
sebagai "Citra Allah" adalah subyek pula, dan selalu subyek. Karena
itu manusia tidak bisa dan tidak boleh "dipakai", dimanfaatkan, apa
lagi diexploitasi sebagai homo economics. Maka yang ideal adalah
bahwa para pekerja/karyawan menjadi partner dalam perusahaan di mana
ketrampilan, pengetahuan dan tenaganya merupakan "modal" yang mereka
tanamkan dalam perusahaan, sedangkan upahnva adalah "dividennya".
Kalau hal itu diterapkan dengan sadar, maka dengan sendirinya
tertanam rasa memiliki pada para pekerja. Seorang pelamar atau
seorang karyawan bukan "sumber daya" melainkan manusia bermartabat,
karena ia adalah Homo Imago Dei, yang menawarkan atau
menanam "modalnya". What is in a name? Oooh....., a lot! n
Penulis adalah rohaniwan
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/