to2n_olin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: --- > Pras
>
Pertama sekali aku ingin mengajukan pertanyaan tentang konsep homo
economicus sebagai yang terutama dan terdepan. Dan lebih-lebih sebagai
proyek filosofis.
Apa pengandaian dasar sehingga konsepsi ini terutama sekali sampai
bisa menjadi salah satu konsepsi utama yang dipakai dewasa ini? Dan
anehnya kebanyakan diterima begitu saja oleh kita. Coba periksa saja
buku ekonomi yang diajarkan dalam kurikulum, bahkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Kalau konsep ini dicurigai sebagai bentuk penindasan, kenapa banyak
dipakai?
Sementara itu saja dulu. Thanks...
Pras:
Sdr.Toton,
Persis di kalimat terakhir Anda kita merasa homo economicus layak diurai,
yakni "jika ini dicurigai sebagai bentuk penindasan, kenapa banyak dipakai?"
Tentu tak cukup jika kita mau mengurai masalahnya sejak awal. Namun kira2
masalahnya adalah bahwa homo economicus memandang seluruh relasi manusia
layaknya transaksi, berarti berdimensi laba-rugi, entah itu sosial, politik,
kultural, atau religius. Nah dalam konsep demikian jelaslah efisiensi menjadi
penting, dan perlombaan untuk itu dimulai. Bisa dibayangkan dlm "start" yg
tidak sama dan adil, dapatkah kita finish bersamaan? jikapun sama, tentu tetap
dalam ragam ketaksamaan, yg miskin tetap (atau malah lebih) miskin, dan
sebaliknya. Efisiensi jg memiliki dogma bahwa yang malas dilindas dan yang
rajin menangguk untung, tapi sesederhana itukah soalnya? saya kira tidak. Jelas
di sini konsepsi mengenai pasar menjadi penting. Jika dulu pasar itu sekedar
menjadi BAGIAN dari interaksi manusia, kini semuanya adalah pasar. Sekarang
semua didekati dg istilah pasar, bahkan memilih pejabat harus market-friendly,
kebijakan harus market-friendly, salah2 mata uang rontok. Lalu siapakah
pasar itu?
Di sinilah kiranya titik krusial yg harus jeli diamati, pasar telah menjadi
sihir baru. Neoliberalisme yg mengusung "kebebasan" terbukti serta merta
meniadakan kebebasan. Karena prasyarat kebebasannya: free-market, free-trade,
semua mengandaikan peran negara, melalui proyek kebebasan: liberalisasi,
privatisasi, dan deregulasi. Ketiganya disebut David Harvey sebagai taktik
"accumulation by dispossesion", menguasai dg cara memecah belah kepemilikan.
Dampaknya:
-Konsepsi masyarakat tanpa-tapal-batas menjadi proyek liberalisasi, tarif
murah-meriah menjadi pintu masuk kolonisasi perdagangan, seraya menerapkan
politik tarif di dlm negerinya sendiri,
-konsepsi negara, menjadi korpokrasi, pebisnis dan pengusaha juga, semua
didekati dg untung-rugi, maka harus bikin neraca, kebijakan yg
pro-pasar=pro-pengusaha, kedaulatan dikoyak akibat seperti ditulis Fred Thomas
itu, patria dan human menjadi resources bukan subjek.
-homo economicus dan proyek neoliberalisme menjadi self-prophecy yg menuntut
fullfilment melalui keyakinan diri, mirip ilmu2 pengembangan diri:
percaya=terbukti nyata, tak percaya=gagal, Anda adalah apa yg Anda pikirkan,
samasekali tak ada dimensi sosial, mengapa? karena tidak efisien.
- kebebasan? belilah kebebasan itu dan Anda akan segera dimangsa sesama Anda,
homo homini lupus lah kredonya, bagaimana tidak? tuntutan produksi dan
efisiensi menjadi prioritas, sekali Anda ketiduran seketika itu pula "peluang"
atau "kesempatan" akan diambil alih yg lain.
- Stiglitz (2006) justru gamang dg globalisasi dan mulai melirik skenario
lain: another world is possible, mengapa? jelas konsep neoliberalisme dan
manusia sempit-picik ala homo economicus tak akan mampu menopang tuntutan zaman
utk memberantas kemiskinan. Manusia tanpa-dimensi-sosial tentu tak layak
diharapkan. Jeffrey Sach (2005) menyajikan data serupa; kemiskinan harus
diakhiri! caranya? Ia melirik dunia ketiga yg harus aktif dan proaktif.
Lalu adakah harapan? Tentu saja. Pertanyaan "neoliberalisme banyak dianut
tetapi mengapa dianggap bermasalah" menjadi problem etis, khususnya mereka
meradikalkan pandangan utilitarianisme Bentham atau Mill. Sedikit korban tak
mengapa demi sejahteranya dunia. Benarkah? Ya jika yg Anda tanya Thomas
Friedman, tidak jika yg anda tanya aktivis WSF.
Jalan keluar? Memikirkan globalisasi secara lain. Tdk dg banalitas kembali ke
primordialisme yg tribal, lalu menjadi fundamentalis, melainkan menjadi manusia
cerdas, ibarat manusia-atas Nietzsche yg mampu menari-nari di atas seutas tali
yg getas. Dapatkan?
Refleksi filosofis agaknya menjadi relevan. Dunia ilmu kita dikuasai ilmu2
positivistik, semua bicara data tapi data itu tak bicara apa2. Semua
diproyekkan, kemiskinan dibicarakan tdk diselesaikan. Semua menuding dan tak
ada yg merasa lagi dituding. Semua menyalahkan saja.
Sanggupkan filsafat mengemban tugas mulia ini, menjadi medium reflektif. Ya
menurut saya harus!
Ada ide lain?
Pras
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com