--- In [email protected], "sesawi04" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> --- In [email protected], "to2n_olin" <to2n_olin@> wrote:
> >
> > --- In [email protected], "sesawi04" <sesawi04@> wrote:
> > >
> > > 
> > > Salam rekan2,
> > > Setelah membaca artikel ini, bolehkan kita bertanya: homo 
> economicus 
> > > itu fakta atau konsep metafisis?
> > > 
> > > 
> > > Prastowo
> > > 
> > > --- In [email protected], "wahyudibaca" <wahyudibaca@> 
> > > wrote:
> > > >
> > > > Homo Imago Dei Versus Homo Economicus
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > Oleh
> > > > Fred Thomas
> > > >
> > >
> > Memang penjelasan tadi memberikan satu pertanyaan pokok tentang
> > dikotonomi homo economicus dan homo imago Dei. Masih memerlukan
> > deskripsi yang lebih memadai kalau menurutku. Gimana?
> >
> 
> Jika demikian halnya mari kita mulai fokus ke filsafat ekonomi. Homo 
> economicus lahir dari rahim neoliberalisme, sebuah bentuk estrem 
> dari liberalisme. Adalah Gary Becker, ekonom mazhab Chicago yang 
> fundamentalis, yang mengatakan bahwa "ekonomi memberikan semesta 
> pendekatan paling komprehensif untuk memahami semua perilaku 
> manusia..." (saya kutip dari pidato kebudayaan Herry-Priyono), dan 
> meski manusia boleh jadi homo culturalis, homo politicus, dll,namun 
> pertama dan utama manusia adalah homo ekonomicus.
> Homo economicus adalah konsekuensi dari optimisme, bahkan 
> simplifikasi gagasan ekonomi-politik, atau lebih tepatnya proyek 
> filosofis. Namun sebelum sampai ke kesimpulan dengan memeriksa homo 
> economicus, saya sendiri mengajak rekan2 utk mendefinisikan atau 
> menelusuri jejak-jejak neoliberalisme, dari mana dan mau ke mana. 
> Adakah rekan2 ingin memberi kontribusi apa neoliberalisme versi Anda?
> Maaf, menurut hemat saya ini salah satu kunci mengenal dan memahami 
> lanskap okonomi-politik global dan nasional, maka saya sangat 
> tertarik untuk lebih tahu.
> Terima kasih.
> 
> salam,
> 
> Pras
>
Pertama sekali aku ingin mengajukan pertanyaan tentang konsep homo
economicus sebagai yang terutama dan terdepan. Dan lebih-lebih sebagai
proyek filosofis. 
Apa pengandaian dasar sehingga konsepsi ini terutama sekali sampai
bisa menjadi salah satu konsepsi utama yang dipakai dewasa ini? Dan
anehnya kebanyakan diterima begitu saja oleh kita. Coba periksa saja
buku ekonomi yang diajarkan dalam kurikulum, bahkan dalam kehidupan
sehari-hari. 
Kalau konsep ini dicurigai sebagai bentuk penindasan, kenapa banyak
dipakai? 
Sementara itu saja dulu. Thanks...




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke