Subject: [filsafat] Re: Homo Imago Dei Versus Homo Economicus
Thursday, February 22, 2007 8:05 AM, kibroto wrote:

"Euphemisme tidak akan merubah martabat sebab, pada ada Homo Homini
Lupus. Manusia adalah srigala bagi manusia lainnya. Manusia adalah
obyek bagi manusia lainnya. 
Pada akirnya, bukan Homo Imago Dei melainken Homo Imago Homo. Citra
seseorang ditentuken oleh manusia lain. Seseorang menjadi obyek atau
subyek tergantung relasi orang2 tsb."

Mas Kibroto, 

Tulisan yang saya kutip di atas, jika dimutlakkan menjadi suatu konstruksi 
rasional tentang 'siapa manusia', pastilah tidak lepas dari kontroversi. 
Maksudnya, 'penentuan' untuk menjadi entah subyek entah obyek apakah 
semata-mata tergantung dari manusia lain? Jika serta merta penentuan (status?) 
itu ditempatkan dalam konteks 'relasional' dengan "yang lain", boleh jadi ini 
suatu disposisi yang pas. Hal itu dapat dipahami sebagai sifat 
dimensionalitas-relasionalnya, sebagai unsur konstitutif  'status'-nya, entah 
sebagai subyek atau obyek. Namun, jika dimensi-relasional itu direduksi pada 
centrum "manusia lain", dimanakah letak unsur konstitutif dimensi-relasional 
tersebut? 
Boleh jadi, pereduksian ini membawa kita pada salah satu ekstrim dari pemikiran 
bipolar: atau A atau B; tidak membuka peluang untuk A dan B atau bukan A dan 
bukan B (?)
Kebolehjadian yang lain adalah jika hal tersebut dilakukan, ya itu menunjukkan 
posisi kita ada dimana. Artinya, penjelasan yang kita paparan menunjukkan 
dimana keyakinan kita dalam mengkonstruksi suatu relasi yang kita kaji. 
Misalnya: Sartre akan menilai bahwa relasi yang ada hanyalah relasi 
subyek-obyek; dan tidak mungkin ada relasi subyek-subyek (boleh jadi latar 
belakang masa lalu dan kondisi jasmaniah Sartre menentukan posisi filosofisnya 
tentang relasi ini?). Tapi Buber atau Marcel akan omong yang berbeda dengan 
Sartre.

So, jika "citra" seseorang ditentukan oleh orang lain, sebenarnya independensi 
seorang manusia justru terwujud dengan penguasaannya atas orang lain; bukan 
penguasaan atas dirinya sendiri? Atau bagaimana? Karena ketika "citra" 
seseorang ditentukan oleh orang lain, setiap orang belum tentu dapat menentukan 
citra dirinya sendiri, jika statement di atas bernilai relatif? Jika dinilai 
absolute, wah ....tentu orang tidak punya kemungkinan untuk mencitrakan dirinya 
sendiri? Meskipun ini masih dalam tataran pencitraan, tapi salah satu 
konsekuensinya adalah pertanyaan: lalu siapa yang menentukan siapa manusia 
(seseorang)?
Kalau saya siy masih memilih untuk menentukan sendiri dalam pemahaman "the 
existence precedes essence". So, entah bagaimana relasi dengan orang lain, 
"penentuan" siapa saya -yang paling utama dan pokok- bersumber dari diri saya 
sendiri. Dengan demikian, pihak yang lain menjadi sekunder -dalam arti itu!

Mohon pencerahan....lagi....
tabik
agoengdegandjoeran

_ 

Kirim email ke