Sy baru tahu. Setahu sy, Utara menentang perbudakan. Utara berbasis industri. Selatan melegalkan perbudakan, krn berbasiskan pertanian.
Perang itu adalah jg perang dunia industri vs agraris. Di Indonesia, budak byk direkrut dari bagian Timur, terutama dari Bali. Mrk terutama utk bertempur. Di perkebunan2 di Sumatera Timur, skrg Sumut, para kuli kontrak jg mirip dg budak. Perang pembebasan perbudakan di Indonesia mungkin yg dilakukan Trunojoyo. Mungkin dialah bapak pembebasan perbudakan pertama. Dan Trunojoyo bukan org Banyumas, bukan? Ijp Bagiku, Trunojoyo lbh hebat dari Diponegoro, pangeran ninggrat itu. Sent from my BlackBerry� wireless device from XL GPRS network -----Original Message----- From: Lisman Manurung <[EMAIL PROTECTED]> Date: Sat, 30 Aug 2008 20:02:44 To: <[email protected]> Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Amerika Berlomba Membuat Sejarah: Perebutan Antara Ras dan Gender Tatkala�konflik�antara penentang perbudakan dan pendukungnya merebak di abad yang lalu di Amerika,�di bawah permukaan yang terjadi adalah�konflik antara�kelas menengah di �kawasan yang makmur dengan kawasan yang lainnya. Kawasan makmur justru makmur karena perbudakan. Namun kemudian, perbudakan dinyatakan terlarang, dan mereka kemudian berpacu�menjadi negara modern, yang mengembangkan�ilmu manajemen. � Konflik di atas berakhir karena perbudakan dihapuskan.�Namun tidak berarti kaum budak kemudian menepuk dada berkeliling kota. Justru pihak yang menang membiarkan�hal-hal positif dari pihak yang kalah, dan kemudian sintesisnya membuat mereka semakin kokoh, yang ditandai dengan praktik manajemen modern dan kemudian ditiru seluruh dunia. Indikasinya, adanya perbedaan yang diterima semua pihak saat ini antara otoritas manajemen dan buruh di satu pihak, dan otoritas pemilik di lain pihak.��� � Ketika pemihak dan penentang konsep federal bertikai, akhirnya dimenangkan oleh kaum pendukung federalis. Namun jangan lupa, federalis mengadopsi sebanyak mungkin nilai-nilai atau pandangan yang diperjuangkan oleh kalangan penentangnya. � Amerika tumbuh dengan semangat rasional yang tinggi, semangat pragmatis. Sehingga, hal yang dilakukan pemenang ialah�menghargai dan mengadopsi nilai-nilai yang diperjuangan oleh pihak yang kalah. � Apa yang mereka sebut sebagai konflik, bukan seperti yang ada di dalam mind-set kita. Sebagai�bangsa yang berabad-abad terjajah, bagi kita setiap kemenangan politik berarti peluang untuk menginjak pihak yang kalah. Sebaliknya, perjuangan yang kalah adalah menghibisi sampai ke akar-akar potensi pihak lain. . � �
