Mbak Asmarandana, � Jika Anda google nama Gadis Arivia, Anda akan melihat bahwa yang telah diperbuatnya untuk Indonesia sudah segudang. Di AS pun dia masih terus membantu Jurnal Perempuan serta gerakan-gerakan perempuan lainnya. Dia juga termasuk dalam 3 perempuan yang ditangkap di awal masa Reformasi akibat demo krisis susu di Bunderan HI. � Anda kayanya perlu mengoreksi statement Anda yang berbunyi: "[Gadis] menghabiskan potensinya di Amerika sana ketimbang di Indonesia yang sangat-sangat membutuhkan pertolongan..." � Statement ini memberi kesan bahwa Gadis seolah-olah tak pernah berbuat sesuatu yang berarti untuk membantu perbaikan hidup perempuan Indonesia. Hehehe, kalo dibanding Bung Anton nih, jujur aja, kiprah Bung Anton dalam memajukan perempuan Indonesia masih jauh banget deh dibanding apa yang sudah dikerjakan Gadis. Malah kalo lagi sakit gigi, Bung Anton suka keluar dengan tulisan-tulisan yang justru kurang simpatik pada perjuangan perempuan Indonesia. Hayo Bung Anton, ngaku enggak? Hehehe. � Gadis tak hanya menulis tentang perempuan Indonesia, tapi berbuat nyata untuk mereka. Jejak rekamnya dalam hal ini tak terbantahkan. Maka itu, perlu tampaknya Mbak Asmarandana ini bikin PR dulu dengan menyimak jejak rekam itu, sebelum membangun kesan bahwa Gadis lebih suka buang-buang waktu di AS daripada bekerja membantu perempuan Indonesia. � Tulisannya yang "membumi" tentang perempuan Indonesia juga segudang kok, Mbak. Coba deh sedikit rajin mencari faktanya. gampang kok, ada Google toh? � manneke
--- On Mon, 9/1/08, Asmarandana Marcia <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Asmarandana Marcia <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Amerika Berlomba Membuat Sejarah: Perebutan Antara Ras dan Gender To: [email protected] Received: Monday, September 1, 2008, 9:55 PM Buat Pak Manneke dan Mbak Gadis salam kenal... Menurut saya apa yang dibicarakan oleh Pak Anton tentang bahasan perempuan yang tidak membumi dari Mbak Gadis Arivia dalam hal ini tepat. Tapi sebagai bahan referensi juga tidak apa-apa, namun menurut saya sayang sekali bila Mbak Gadis menghabiskan potensinya di Amerika Sana ketimbang di Indonesia yang sangat-sangat membutuhkan pertolongan dari wanita-wanita pemberani seperti Mbak Gadis. Saya sendiri adalah penggemar berat tulisan-tulisan Pak Anton baik di FPK maupun di Blognya yang selalu di update. Saya ingin bertanya pada Pak Anton tentang perempuan Indonesia dimana Pak Anton pernah menulisnya di salah satu tulisan di FPK ini yang masih saya ingat. Pertama, bagaimana perspektif perempuan Indonesia dari sisi kesejarahan, budaya dan artifisial-artifisi al agama. Kedua, bagaimana makna penempatan perempuan dari sisi kekuasaan di Indonesia. Ketiga, Apa peran perempuan dalam atmosfer kapitalisme dan apa peran perempuan dalam Sosialisme dan apa ideologi-ideologi itu mempengaruhi peran perempuan. Begitu aja Pak Anton.....terus menulis Pak, karena saya dan teman-teman saya terus menunggu tulisan-tulisan Bapak.... Cheers Asmarandana Powered by Telkomsel BlackBerry�
