Yee, Pak Manneke emang kagak ada babar blasss peranan saya pada gerakan perempuan di Indonesia, anak yang sebelas kali kagak naek kelas juga ngarti...lha saya di milis ini cuman ngomentarin aja kok, sama kayak komentator bola. Kagak bisa maen, tapi jago komentar hahahaha.....
Tapi apa toh salah saya bila saya komentari, di saat ini, ...sekali lagi disaat ini, kalo Si Gadis itu masih ngendon di Amerika sono, ya mana ada fungsinya buat gerakan perempuan di Indonesia, kenapa potensi Gadis yang besar itu nggak masuk dalam kancah perjuangan disini bersama Mariana, Siti Musdah Mulia, Ratna Sarumpaet, Dita Indah Sari, Faiza Marzuki yang isterinya Max Lane itu. Mungkin pilihan hidup di Amerika Serikat lebih nyaman kali ya? Sembari enak enak di rumah baca dinamika politik perempuan Amerika, seraya lupa bahwa kehidupan wanita di Indonesia masih jauh dari layak. Saya kok jadi teringat Lea Jellinek, seorang peneliti dari Australia yang meneliti tentang kemiskinan di Tanah Abang. Justru daya tahan manusia terhadap cobaan kemiskinan adalah kaum wanitanya. Nah, seandainya orang yang memilih hidupnya berjuang di ranah penghormatan terhadap martabat wanita Indonesia benar-benar memperhatikan ini, betapa potensi luar biasa kaum wanita Indonesia bila dilihat dari sisi potensi daya serap kapital. Kapital-lah jalan paling penting sebagai pembuka penghormatan gerakan wanita. Mari kita toleh apa yang terjadi pada perempuan-perempuan Indonesia, bukannya malah terbengong-bengong melihat ruang gerak perempuan di Amerika dan melototin Hillary Clinton mulu, cobalah pelototi ruang gerak Mbok Rajinem, Mbok Sukilah, Uni Zahra atau Mbak Karsiyem. Sekali lagi ini hanya komentar, toch milis juga tempat komentar..... Anton Di Mata Perempuanlah Rahasia Hidup Kerap Tersimpan............ > ----- Original Message ----- > From: "manneke budiman" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Wednesday, September 03, 2008 1:17 AM > Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Amerika Berlomba Membuat Sejarah: > Perebutan Antara Ras dan Gender > > > Mbak Asmarandana, > � > Jika Anda google nama Gadis Arivia, Anda akan melihat bahwa yang telah > diperbuatnya untuk Indonesia sudah segudang. Di AS pun dia masih terus > membantu Jurnal Perempuan serta gerakan-gerakan perempuan lainnya. Dia juga > termasuk dalam 3 perempuan yang ditangkap di awal masa Reformasi akibat demo > krisis susu di Bunderan HI. > � > Anda kayanya perlu mengoreksi statement Anda yang berbunyi: "[Gadis] > menghabiskan potensinya di Amerika sana ketimbang di Indonesia yang > sangat-sangat membutuhkan pertolongan..." > � > Statement ini memberi kesan bahwa Gadis seolah-olah tak pernah berbuat > sesuatu yang berarti untuk membantu perbaikan hidup perempuan Indonesia. > Hehehe, kalo dibanding Bung Anton nih, jujur aja, kiprah Bung Anton dalam > memajukan perempuan Indonesia masih jauh banget deh dibanding apa yang sudah > dikerjakan Gadis. Malah kalo lagi sakit gigi, Bung Anton suka keluar dengan > tulisan-tulisan yang justru kurang simpatik pada perjuangan perempuan > Indonesia. Hayo Bung Anton, ngaku enggak? Hehehe. > � > Gadis tak hanya menulis tentang perempuan Indonesia, tapi berbuat nyata > untuk mereka. Jejak rekamnya dalam hal ini tak terbantahkan. Maka itu, perlu > tampaknya Mbak Asmarandana ini bikin PR dulu dengan menyimak jejak rekam > itu, sebelum membangun kesan bahwa Gadis lebih suka buang-buang waktu di AS > daripada bekerja membantu perempuan Indonesia. > � > Tulisannya yang "membumi" tentang perempuan Indonesia juga segudang kok, > Mbak. Coba deh sedikit rajin mencari faktanya. gampang kok, ada Google toh? > � > manneke
