Mbak Gadis Arivia itu salah satu tokoh besar gerakan wanita di
Indonesia. Kiprahnya menjulang saat bersama Karlina Leksono dan
Wilasih Noviana kalo nggak salah gerakannya adalah SIP "Suara Ibu
Peduli" gerakan bagi-bagi susu.

Dia adalah salah satu filsuf perempuan besar Indonesia dan berpikiran
maju. Tapi sayangnya kini dia lebih asik di luar negeri ketimbang
berlumpur-lumpur di ladang gerakan perempuan di Indonesia. nah, tokoh
yang kelak akan menggantikannya adalah Mariana Amirudin, walaupun
tidak sepintar Gadis Arivia, Mariana ini memiliki watak militan.
Benihnya sudah tertabur dalam perlawanan anti Orde Baru. Saya rasa ke
depan gerakan perempuan Indonesia akan banyak mencatat sejarah
Mariana Amirudin ketimbang Gadis Arivia yang asik makan keju sambil
nonton gerak sejarah Indonesia.

Budiman Sudjatmiko dan Mariana Amirudin adalah aktivis yang mau
berlumpur-lumpur dalam sejarah Indonesia ke muka.


Anton




--- In [email protected], manneke budiman
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mbak Asmarandana,
>
> Jika Anda google nama Gadis Arivia, Anda akan melihat bahwa yang
telah diperbuatnya untuk Indonesia sudah segudang. Di AS pun dia
masih terus membantu Jurnal Perempuan serta gerakan-gerakan perempuan
lainnya. Dia juga termasuk dalam 3 perempuan yang ditangkap di awal
masa Reformasi akibat demo krisis susu di Bunderan HI.
>
> Anda kayanya perlu mengoreksi statement Anda yang
berbunyi: "[Gadis] menghabiskan potensinya di Amerika sana ketimbang
di Indonesia yang sangat-sangat membutuhkan pertolongan..."
>
> Statement ini memberi kesan bahwa Gadis seolah-olah tak pernah
berbuat sesuatu yang berarti untuk membantu perbaikan hidup perempuan
Indonesia. Hehehe, kalo dibanding Bung Anton nih, jujur aja, kiprah
Bung Anton dalam memajukan perempuan Indonesia masih jauh banget deh
dibanding apa yang sudah dikerjakan Gadis. Malah kalo lagi sakit
gigi, Bung Anton suka keluar dengan tulisan-tulisan yang justru
kurang simpatik pada perjuangan perempuan Indonesia. Hayo Bung Anton,
ngaku enggak? Hehehe.
>
> Gadis tak hanya menulis tentang perempuan Indonesia, tapi berbuat
nyata untuk mereka. Jejak rekamnya dalam hal ini tak terbantahkan.
Maka itu, perlu tampaknya Mbak Asmarandana ini bikin PR dulu dengan
menyimak jejak rekam itu, sebelum membangun kesan bahwa Gadis lebih
suka buang-buang waktu di AS daripada bekerja membantu perempuan
Indonesia.
>
> Tulisannya yang "membumi" tentang perempuan Indonesia juga segudang
kok, Mbak. Coba deh sedikit rajin mencari faktanya. gampang kok, ada
Google toh?
>
> manneke

Kirim email ke