Mariana Amirudin menggantikan Adrianna sebagai Direktur Jurnal Perempuan. 
Sebelum Adrianna, direkturnya adalah Gadis. Untung secara berkala diganti. Kalo 
misalnya Gadis nggak mau ada pergantian, niscaya JP akan jadi kaya Indonesia di 
bawah rezim Orba, yang mau berkuasa seumur hidup. Ini namanya kaderisasi. 
Mariana juga nggak akan seumur hidup jadi Direktur JP. Iya nggak, Mar?
�
Jadi, kurang pas membandingkan Gadis dan Mariana dalam konteks ini. Bung Anton 
pasti pernah ditolak cinta ya sama Gadis? Hehehe, tapi baguslag masih cuma 
ngegerundel di milis dan nggak pakai dukun pelet :))
�
manneke

--- On Wed, 9/3/08, anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Amerika Berlomba Membuat Sejarah: Perebutan 
Antara Ras dan Gender
To: [email protected]
Received: Wednesday, September 3, 2008, 7:24 AM






Mbak Gadis Arivia itu salah satu tokoh besar gerakan wanita di
Indonesia. Kiprahnya menjulang saat bersama Karlina Leksono dan
Wilasih Noviana kalo nggak salah gerakannya adalah SIP "Suara Ibu
Peduli" gerakan bagi-bagi susu.

Dia adalah salah satu filsuf perempuan besar Indonesia dan berpikiran
maju. Tapi sayangnya kini dia lebih asik di luar negeri ketimbang
berlumpur-lumpur di ladang gerakan perempuan di Indonesia. nah, tokoh
yang kelak akan menggantikannya adalah Mariana Amirudin, walaupun
tidak sepintar Gadis Arivia, Mariana ini memiliki watak militan.
Benihnya sudah tertabur dalam perlawanan anti Orde Baru. Saya rasa ke
depan gerakan perempuan Indonesia akan banyak mencatat sejarah
Mariana Amirudin ketimbang Gadis Arivia yang asik makan keju sambil
nonton gerak sejarah Indonesia.

Budiman Sudjatmiko dan Mariana Amirudin adalah aktivis yang mau
berlumpur-lumpur dalam sejarah Indonesia ke muka.

Anton

Kirim email ke