Bung Anton yb,
biasanya saya banyak setujunya dengan tulisan-tulisan Anda. tetapi kali ini
tidak. Saya melihat sosok Dr. Gadis sebagai sosok kaum akademis yang masih
mau menjejakkan kakinya ke tanah. Saya tidak kenal langsung dengan rekan
Gadis. Saya hanya kenal melalui beberap tulisannya, itupun tidak semua.

Bahwa dia sekarang ada di Amerika, dan kemudian banyak mengkritisi
kejadian-kejadian di Amerika --seperti fenomena Hillary-- dan menjadikannya
sebagai kajian dalam tulisan-tulisannya, menurut saya masih wajar.Bahkan
dalam tataran tertentu juga masih dibutuhkan.

Ada orang-orang yang lebih banyak bergelut dengan perempuan-perempuan di
aras grassroot dan tidak punya kesempatan untuk mengkritisi gerakan
perempuan di level elit. Seperti saya, nampaknya terlanjur "enjoy" dengan
pergulatan perempuan-perempuan di ujung-ujung antah-berantah yang kadang
tidak saya sadari lagi bahwa bumi yang kami pijak ini masih bernama
Indonesia. Yang tidak bisa berbahasa Indonesia; yang martabatnya 1000%
tergantung kepada bapaknya ketika masih berstatus gadis, dan kemudian
suaminya dan keluarga dalam 5 tahun masa pernikahannya, dan suaminya dalam
sisa hidupnya. Yang harus bekerja dari rata-rata dari pukul 05.00 s.d 23.00
NON-STOP: dari urusan dapur-kebun karet-kebun sayur-sumur-anak-anak sampai
kasur (saya mencatat wawancara tidak formal saya dan angket sederhana yang
diisi oleh 1150 perempuan di setiap desa dimana kami punya program di Nias
ini), yang meskipun sudah kerja nonstop ketika suaminya enak-enak minum tuak
di lapo, harus tetap tunduk karena tidak ada tempat berlari, karena kembali
ke rumah ortu berarti mengembalikan mas kawin yang telah diterima ortu dan
paman-pamannya, yang tidak tahu bahwa harga minyak tanah dan gas sudah
membumbung sedemikian rupa karena pasar yang hanya sekali seminggu itu harus
ditempuh dengan jalan kaki melewati jalan berlumpur setinggi pinggang,
dst...dst... Yang setelah bekerja sedemikian kerasnya masih saja hidup dalam
kemiskinan!!!

4 tahun terakhir ini saya lebih banyak menjalani hidup saya dengan mereka.
Dan saya menikmati melihat perubahan yang terjadi dari bulan ke bulan dan
tahun ke tahun....

Mungkin begitu menikmatinya membuat orang seperti saya memang menjadi malas
menulis, dan dalam banyak hal ketinggalan dalam banyak wacana. (I know it is
just an excuse...) nah, orang-orang seperti saya, atau saya
ajalah,membutuhkan orang seperti mbak Gadis itu.

Saya percaya once she is back to Indonesia, she will be grounded again.....

So buat mbak Gadis, I dont know you personally, i know you just from a
distance. Keep up! Many women need you! And, happy Birthday too.

Salam,
Anna

On 9/4/08, manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Yang perlu diuji kebenarannya di sini adalah: apakah betul pernyataan
> Bung Anton bahwa Gadis cuma nulis tentang Amerika melulu atau Hillary
> Clinton melulu?
>
> Cara mengujinya? Gampang. Google mak nyuuuuuus! nanti kan keliatan apa Bung
> Aton yang betul atau Bung Anton yang kepleset.
>
> Untung Om Tan Malaka nggak hidup di zaman ini. Kalo iya, pasti dimarain
> Bung Anton karena suka "jalan-jalan" melangang buana ke mancanegara kaya
> Gadis. Eh, ada lho tulisan Tan Malaka tentang kota Shanghai yang pernah
> dikunjunginya di tahun 1930-an (kalo tak salah). Jangan-jangan tulisannya
> "nggak membumi" ya? Hehehe.
>
> manneke
> Pengagum tulisan-tulisan berbobot Bung Anton

Kirim email ke