Sekali lagi, Google. Biar komentar makin manteb dan mak nyuuus. Juga denger 
kata miliser Nuning yang cerita tentang kiprah Gadis.
 
Gadis menjadi dosen tamu di AS itu tidak selamanya. Ini kan bagian dari 
kerjasama internasional antara UI dan universitas di AS. Yang dapet nama harum, 
selain Gadis pribadi dan UI, juga Indonesia (dan perempuannya). Kalo term-nya 
selesai, ya Gadis pasti pulanglah ke Indonesia.
 
Jadi dosen tamu di negeri lain itu praktik yang cukup lazim di perguruan 
tinggi. Demikian pula jika kita menerima dosen tamu dari universitas luar 
negeri. Lain hal kalo Gadis itu minggat ke AS dan mukim permanen di sana.
 
Hayo Bung Anton, kumur-kumur dulu pake Listerine supaya nggak sering sakit gigi 
:)
 
manneke
 
manneke

--- On Wed, 9/3/08, anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Amerika Berlomba Membuat Sejarah: Perebutan 
Antara Ras dan Gender
To: [email protected]
Received: Wednesday, September 3, 2008, 1:01 PM






Yee, Pak Manneke emang kagak ada babar blasss peranan saya pada 
gerakan perempuan di Indonesia, anak yang sebelas kali kagak naek 
kelas juga ngarti...lha saya di milis ini cuman ngomentarin aja kok, 
sama kayak komentator bola. Kagak bisa maen, tapi jago komentar 
hahahaha.... .

Tapi apa toh salah saya bila saya komentari, di saat ini, ...sekali 
lagi disaat ini, kalo Si Gadis itu masih ngendon di Amerika sono, ya 
mana ada fungsinya buat gerakan perempuan di Indonesia, kenapa 
potensi Gadis yang besar itu nggak masuk dalam kancah perjuangan 
disini bersama Mariana, Siti Musdah Mulia, Ratna Sarumpaet, Dita 
Indah Sari, Faiza Marzuki yang isterinya Max Lane itu. Mungkin 
pilihan hidup di Amerika Serikat lebih nyaman kali ya? Sembari enak 
enak di rumah baca dinamika politik perempuan Amerika, seraya lupa 
bahwa kehidupan wanita di Indonesia masih jauh dari layak.

Saya kok jadi teringat Lea Jellinek, seorang peneliti dari Australia 
yang meneliti tentang kemiskinan di Tanah Abang. Justru daya tahan 
manusia terhadap cobaan kemiskinan adalah kaum wanitanya. Nah, 
seandainya orang yang memilih hidupnya berjuang di ranah penghormatan 
terhadap martabat wanita Indonesia benar-benar memperhatikan ini, 
betapa potensi luar biasa kaum wanita Indonesia bila dilihat dari 
sisi potensi daya serap kapital. Kapital-lah jalan paling penting 
sebagai pembuka penghormatan gerakan wanita. 

Mari kita toleh apa yang terjadi pada perempuan-perempuan Indonesia, 
bukannya malah terbengong-bengong melihat ruang gerak perempuan di 
Amerika dan melototin Hillary Clinton mulu, cobalah pelototi ruang 
gerak Mbok Rajinem, Mbok Sukilah, Uni Zahra atau Mbak Karsiyem. 
Sekali lagi ini hanya komentar, toch milis juga tempat komentar.... .

Anton 

Di Mata Perempuanlah Rahasia Hidup Kerap Tersimpan... .........

> ----- Original Message ----- 
> From: "manneke budiman" <hepaesthos@ ...>
> To: <Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com>
> Sent: Wednesday, September 03, 2008 1:17 AM
> Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Amerika Berlomba Membuat 
Sejarah: 
> Perebutan Antara Ras dan Gender
> 
> 
> Mbak Asmarandana,
> �
> Jika Anda google nama Gadis Arivia, Anda akan melihat bahwa yang 
telah 
> diperbuatnya untuk Indonesia sudah segudang. Di AS pun dia masih 
terus 
> membantu Jurnal Perempuan serta gerakan-gerakan perempuan lainnya. 
Dia juga 
> termasuk dalam 3 perempuan yang ditangkap di awal masa Reformasi 
akibat demo 
> krisis susu di Bunderan HI.
> �
> Anda kayanya perlu mengoreksi statement Anda yang 
berbunyi: "[Gadis] 
> menghabiskan potensinya di Amerika sana ketimbang di Indonesia yang 
> sangat-sangat membutuhkan pertolongan. .."
> �
> Statement ini memberi kesan bahwa Gadis seolah-olah tak pernah 
berbuat 
> sesuatu yang berarti untuk membantu perbaikan hidup perempuan 
Indonesia. 
> Hehehe, kalo dibanding Bung Anton nih, jujur aja, kiprah Bung Anton 
dalam 
> memajukan perempuan Indonesia masih jauh banget deh dibanding apa 
yang sudah 
> dikerjakan Gadis. Malah kalo lagi sakit gigi, Bung Anton suka 
keluar dengan 
> tulisan-tulisan yang justru kurang simpatik pada perjuangan 
perempuan 
> Indonesia. Hayo Bung Anton, ngaku enggak? Hehehe.
> �
> Gadis tak hanya menulis tentang perempuan Indonesia, tapi berbuat 
nyata 
> untuk mereka. Jejak rekamnya dalam hal ini tak terbantahkan. Maka 
itu, perlu 
> tampaknya Mbak Asmarandana ini bikin PR dulu dengan menyimak jejak 
rekam 
> itu, sebelum membangun kesan bahwa Gadis lebih suka buang-buang 
waktu di AS 
> daripada bekerja membantu perempuan Indonesia.
> �
> Tulisannya yang "membumi" tentang perempuan Indonesia juga segudang 
kok, 
> Mbak. Coba deh sedikit rajin mencari faktanya. gampang kok, ada 
Google toh?
> �
> manneke

 














      __________________________________________________________________
Instant Messaging, free SMS, sharing photos and more... Try the new Yahoo! 
Canada Messenger at http://ca.beta.messenger.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke