+ Tidak histeris dan kejang-kejang berarti tidak ada trauma?
Berikut ini artikel yang mungkin bisa membantu Bung Manneke agar 'kuliah'nya
lebih mantap. :-).

Di Amerika Serikat, hampir 5,3 juta wanita usia 18 tahun dan lebih mengalami
kekerasan fisik dan kira-kira 1,5 juta wanita diperkosa atau serangan seksual
setiap tahun. Pada kebanyakan kasus, kekerasan yang menyerang wanita dilakukan
oleh seorang patner atau teman dekat (intim), suami atau seorang yang dikenal
oleh korban (1).
Para korban kekerasan ini tidak hanya akan menderita trauma fisik, namun
terutama sekali akan menderita stress mental yang amat berat bahkan bisa seumur
hidup. Yaitu meningkatnya kecemasan dan stress, merasa rendah harga diri,
depresi berat, gangguan makan (anoreksia nervosa atau bulimia nervosa) bahkan
stress pasca trauma (1,4).
http://hudachairi.multiply.com/journal/item/12/Kekerasan_Seksual_pada_Wanita

Gangguan stress pasca trauma adalah suatu gangguan kecemasan yang timbul setelah
mengalami atau menyaksikan suatu ancaman kehidupan atau peristiwa-peristiwa
trauma, seperti perang militer, serangan dengan kekerasan atau suatu kecelakaan
yang serius. Peristiwa trauma ini menyebabkan Anda memberikan reaksi dalam
keadaan ketakutan, tak berdaya dan mengerikan. Mengalami penderitaan akibat
perlakuan kejam yang berulang, ikut perang. Gejala-gejala umum meliputi :
• Kenangan yang muncul kembali dalam ingatan dan berulang-ulang, sangat mendalam
dan mengganggu akibat peristiwa tersebut.
• Berusaha menghindari keadaan-keadaan yang mengingatkan Anda pada peristiwa
tersebut.
• Menjadi mati rasa secara emosional dan suka menyendiri.
• Sulit tidur dan konsentrasi, ketakutan atas keselamatan pribadi.
Bila gejala-gejala gangguan stres pasca trauma menjadi parah, gangguan tersebut
menimbulkan ketidakmampuan.
http://www.f-buzz.com/2008/07/21/gangguan-stress-pasca-trauma/

Dengan gambaran demikian, wajar bila dalam jangka segera setelah peristiwa
traumatik individu mengalami hal-hal berikut:
• Ingatan yang mencengkeram seperti bayangan atau ingatan lainnya tentang
traumanya
• Merasa seperti kejadian terjadi lagi ("Flashbacks")
• Mimpi buruk, gangguan tidur
• Gangguan makan: mual dan muntah, kesulitan makan, atau justru kebutuhan sangat
meningkat untuk mengkonsumsi makanan
• Merasa terganggu bila diingatkan, atau teringat tentang traumanya (oleh
sesuatu yang dilihatnya, didengar, dirasakan, dicium, atau dirasakan (lidah)
• Ketakutan, merasa kembali berada dalam bahaya
• Kewaspadaan berlebih, kebutuhan besar untuk menjaga dan melindungi diri
• Kesulitan mengendalikan emosi/perasaan karena ingatan yang juga tak mampu
dikendalikan tentang trauma
• Kesulitan untuk berkonsentrasi atau berpikir jernih.
http://www.pulih.or.id/?lang=&page=self&id=115

Salam
Satria




--- In [email protected], manneke budiman <hepaest...@...> 
wrote:
Re: hasil visum manohara

Hehehe, lemot kok dipelihara? MIkirnya lama banget sih, Hib? Bertapa dulu ya?

Kalo tidak histeris dan kejang-kejang waktu memerankan dirinya sebagai korban 
penyiksaan dalam sinetron, ya kesimpulannya simpel saja: BERARTI TIDAK ADA 
TRAUMA. Gitu aja kok bingung sih?

Makanya jangan kegampangan pake kata "trauma", apalagi kalo kaga ngerti artinya 
apa. Hahahaha!

manneke

Kirim email ke