Dear Pak Harya,

Menurut bapak, kita jangan terlalu tergantung pada kendaraan pribadi.
Just wondering, apakah transportasi publik di Indonesia sudah dapat
dihandalkan ?

Apakah Metro Mini & Kopaja adalah kendaraan layak pakai ?
Apakah kita bisa on-time dengan kendaraan yang sering ngetem di sembarang
tempat ?
Apakah kita bisa nyaman di dalam bus yang isinya banyak orang yang merokok ?

Tampaknya end-to-end system transportasi di Indonesia memang harus
diperbaiki. Dan pemerintah atau siapapun itu yang bertanggung jawab, harus
punya KPI (Key Performance Indicator) yang dapat terukur dan mereka harus
memiliki SLA (Service Level Agreement) yang secara periodik di ukur dan
dipertanggungjawabkan.


2009/9/22 Harya Setyaka <[email protected]>

> Kalau saja tidak terlampau tergantung pada kendaraan pribadi, tentunya
> kenaikan tariff tol tidak terlalu  dipermasalahkan.
>
> Jalan tol itu kan perlu pemeliharaan, antara lain diaspal ulang dlsb..
> Harga material dan jasa konstruksi naik, ya tentunya tarif juga ikut naik..
>
> Lagipula, kenaikan itu diatur dalam PP 15/2005 tentang Jalan Tol.
> Disebutkan tariff disesuaikan setiap 2 tahun sekali dengan acuan inflasi.
> Jadi kalau inflasi nya negatif, alias deflasi, maka secara otomatis tariff
> tol juga turun.
>
> Koq ngdumel biaya hidup makin tinggi.. Tapi kalau gaji naik malah makin
> rajin belanja yg  tersier (beli handphone baru, fashion item, pupur gincu,
> parfum, liburan ke LN , dlsb)...
>
> Kalau mau fair, jalan tol itu barang mewah.. Yg ga mampu beli mobil tidak
> bisa menikmati..
> Sekalian saja protes ke Luis Vitton, kenapa harga tas nya naik terus..
>
> Kalau ragu akan transparansi PT Jasa Marga, BPJT, atau bahkan DirJen Bina
> Marga dan MenPU, lain cerita.. Tidak harus nunggu tariff naik baru mendadak
> galak..
>
>
> Salam,
> -K-

Kirim email ke