Bung I Made Cok Wirawan,
 
Sebelumnya saya mohon maaf kalau pernyataan saya dianggap terlalu berlebihan 
soal Polisi.
Saya membedakan antara Prestasi Polisi, Kerja Keras Polisi dengan Hati Nurani 
Polisi.
Soal Prestasi Polisi dan Kerja Keras Polisi, terkadang kita dibuat terkagum - 
kagum dengan kemampuan dan kecepatannya dalam menindak aksi kejahatan dan 
Trorisme di Indonesia.
Saya sepakat bahwa dalam banyak kasus, Polisi perlu mendapat acungan jempol 
karena prestasinya dalam menindak kejahatan dan trorisme yang sangat meresahkan 
masyarakat.
Tetapi soal Hati Nurani Polisi ???
Apakah Polisi bekerja berdasarkan Hati Nurani???
Banyaknya orang tidak bersalah masuk penjara karena tidak tahan disiksa saat 
diperiksa Polisi, tewas atau luka - luka akibat Aparat Kepolisian salah tembak, 
sudah bukan rahasia lagi.
Tetapi apakah ada kasus Polisi yang tertekan batinnya karena telah dengan 
sengaja mencelakakan masyarakat Tidak Bersalah???
Kelihatannya kasus itu tidak pernah terjadi, minimal laporan dari Unit 
Psikologi Kepolisian tentang jumlah Polisi yang stres dan tertekan karena 
merasa berdosa telah dengan sengaja mencelakakan masyarakat tidak berdosa.
Kasus pembunuhan yang melibatkan Ketua KPK dan Perwira Menengah Polri 
menunjukkan bahwa dalam upayanya untuk naik pangkat menjadi Jendral, seorang 
Perwira Menengah Polri tega merencanakan pembantaian terhadap Masyarakat yang 
tidak berdosa.
Apakah ada penyesalan dari Perwira Menegah Kepolisian tersebut???
Yang diulas Media Massa hanyalah: Pamen Polisi tersebut beserta keluarganya 
amat sangat menyesal karena peluangnya menjadi Jendral Polisi sudah tertutup 
rapat.
Tidak dipersoalkan bagaimana rasanya membantai Pihak Yang Tidak Bersalah.
Itu hanya salah satu contoh pak.
Kalau anda berkunjung ke Markas Kepolisian, anda akan menyaksikan bagaimana 
para calo SIM dan STNK bergentayangan di depan aparat kepolisian, tetapi tidak 
ada tindakan apapun dari Pihak Kepolisian.
Razia terhadap para Calo hanya dilakukan sekali - sekali, sekedar untuk basa- 
basi belaka.
Bila Polisi punya Hati Nurani, pasti para Calo tersebut sudah dibabat habis..
Seminggu yang lalu saya ditangkap Polisi yang berjaga di Pos Polisi di samping 
Citra Land. Saat saya keluar dari Citra Land, saya hanya mengikuti rambu yang 
ada.
Ternyata di ujung jalan, menjelang Pos Polisi Tanjung Duren, ada larangan untuk 
terus, tetapi juga ada larangan tidak boleh balik, karena jalan itu untuk 1 
arah.
Pilihannya hanya masuk ke Tempat Parkir Hotel Citra Land.
Karena saya tidak berniat ke Hotel Citra Land, ya mobil saya saya jalankan 
terus. Saat itu ada 3 mobil lain yang melakukan hal yang sama. Saya di urutan 
paling belakang.
Saat ke empat mobil tersebut di hentikan Polisi di depan Pos Polisi Tanjung 
Duren, saya protes keras, karena tidak ada niatan saya untuk melanggar Rambu 
Lalu Lintas.
Komandan Polisi di Pos tersebut tidak kalah ngototnya bahwa saya telah 
melakukan kesalahan karena telah mengikuti rambu lalu Lintas yang tidak ada 
stempel DLLAJR.
Menurut Polisi, masyarakat manapun memiliki kewenangan untuk memasang rambu 
lalu Listas. Yang memasang rambu Penyesatan tersebut adalah Pihak Citra Land, 
bukan DLLAJR dan Polisi tak berdaya mencegahnya.
Para pengendara tidak harus patuh pada Rambu Lalu Lintas yang tidak ada stempel 
DLLAJR.
Lha mana sempat para pengendara memperhatikan apakah rambu tersebut resmi atau 
tidak, kalau tidak ada tindakan dari Aparat Kepolisian untuk menertibkan rambu 
tersebut.
Untuk membuktikan bahwa Rambu Dilarang Masuk adalah Sah dan Rambu Jalan Hanya 
Untuk Satu Arah adalah Liar, maka saya minta Aparat Kepolisian mendampingi saya 
untuk memeriksa apakah Rambu Dilarang Masuk memang rambu resmi.
Eh, ternyata Rambu Dilarang Masuk juga tidak ada stempel dari DLLAJR.
Karena malu, akhirnya Pihak Kepolisian mengembalikan STNK dan SIM saya.
Saat saya kembali ke lokasi, ternyata 3 mobil lainnya sudah tidak ada.
Kata istri saya yang menunggu di Mobil, mereka bisa bebas setelah melakukan 
Salam Tempel kepada Polisi yang jaga di Pos Polisi tersebut.
Apa kesimpulannya???
Polisi tersebut dalam menjalankan tugasnya tidak disertai Hati Nurani.
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo


--- Pada Rab, 21/10/09, imcw <[email protected]> menulis:


Dari: imcw <[email protected]>
Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tendangan 'Maut' Pak Polisi.....
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 21 Oktober, 2009, 6:15 AM


 



Sahabatku Adyanto Aditomo,

Seandainya saya polisi saya akan sakit hati mendengar pernyataan anda
ini karena setahu saya tidak sedikit polisi yang benar benar mencurahkan 
hidupnya
untuk pekerjaan. Mereka berjemur di siang hari untuk mengatur lalu
lintas sehingga perjalanan kita menjadi nyaman. Mereka berjibaku
dengan perampok dan pencuri agar hidup kita menjadi aman. Jadi, tidak
semua polisi tidak mempunyai hati nurani.
--
i made cock wirawan

Kirim email ke