Wacana "alat bukti kuat" ini selama ini selalu digembor-gemborkan oleh polisi dan jaksa, serta para pendukungnya. Namun, selama ini pula, yang dikasih nama keren "alat bukti kuat" itu dengan mudah digugurkan satu persatu, dan terbukti cuma isapan jempol doang. Mau contoh, Mase Suhaimi? 1) Bukti kuat 1: kesaksian Ary Muladi --> ternyata BAP itu sudah dicabut. 2) Bukti kuat 2: kendaraan KPK di Bellagio --> ternyata tak bisa dijadikan bukti pemerasan 3) Bukti kuat 3: Bibit terima uang suap --> ternyata saat itu ybs ada di Peru 4) Bukti kuat 4: Chandra teriam suap di mobil --> ternyata tak dapat dikonfirmasikan itu Chandra atau bukan 5) Bukti kuat 5: ada hubungan antara Chandra dan keluarga Nurcholosh Madjid dan MS Kaban --> ternyata mereka tak saling kenal 6) Bukti kuat 6: Yulianto serahkan uang suap kepada Chandra dan Bibit --> ternyata sampai detik ini orang yang namanya Yulianto tak kunjung ditemukan Naaaah, bukti kuat bahwa Anggodo memfitnah SBY dan merencanakan menghabisi Chandra, yang sudah snagat kuat terbukti leat rekaman dan diakui sendiri oleh Anggodo, malah tak digubris untuk dijadikan bahan tuntutan terhadap Anggodo. Jadi, "alat bukti kuat" apa lagi yang Anda maksud, Mase Suhaimi? Ada bukti rahasiakah? Kami udah bolak-balik kecewa nih. Selalu dibilang ada bukti kuat, nyatanya cuma dagelan doang. Halah. manneke
--- On Mon, 11/23/09, sawung <[email protected]> wrote: From: sawung <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Polisi Oh Polisi To: [email protected] Received: Monday, November 23, 2009, 4:01 AM amburadul gimana? nenek tersebut buta huruf dan tidak mengerti aturan. polisi sudah tepat menganjurkan supaya berdamai saja, dan hukum memungkinkan untuk itu. kasus tersebut dilaporkan bukan kasus tertangkap tangan. pelapornya adalah dari pihak perkebunan. ruang pengadilan kita belum mampu menciptakan keadilan pak. ketika reformasi dulu mestinya yang dilakukan adalah menyeleksi hakim, polisi dan jaksa karena perekrutan dibawah rezim otoriter biasanya menghasilkan penegak hukum yang korup. ketika jaman soeharto kita masih bisa menemukan hakim yang bagus-bagus semacam pak bismar, pak adi andojo dan pak benjamin yang direkrut dengan benar di rezim sebelumnya. mereka berani memutuskan berbeda dari tekanan rejim yang berkuasa. saran saya seleksi ulang semua hakim dulu. regards
