Saya sampai saat ini kok masih bingung, seolah tidak ada hasil penilaian IDI terhadap kerja RS Omni dalam mengobati bu Prita. Begitu banyaknya orang yang menyumbang koin kalau saya lihat salah satu faktornya adalah karena mereka pernah merasa "dikerjain" rumah sakit.
Saya pribadi suka gondok dengan karyawan rumah sakit (tetapi saya yakin itu karena manajemen RS yang suka maen kuasa), misalnya saya atau keluarga diminta tes lab darah, tetapi ketika saya minta penjelasan mengapa macam tesnya ini dan tidak itu, jawaban yang sering saya terima, sudah lakukan dulu tesnya dan nanti akan saya baca hasilnya. Ketika hasil itu ada dan kemudian memberi obat dan nyatanya tidak sembuh dan balik lagi, maka dijelaskan kalau perlu tes darah lainnya. Model begini ini khan namanya bikin gondok. Kalau saya perhatikan, ketika pakai askes maka jenis uji lab akan ketat (terbatas), tetapi kalau tidak pakai askes, kok sepertinya banyak banget yang harus diuji. Kembali ke rengekan RS Omni untuk memperhatikan nasib karyawannya, saya pribadi sangat setuju bila karyawan berani melawan jika RS membuat kebijakan yang merugikan pasien. Ini penting karena kalau pasien merasa dirugikan, maka cerita akan menyebar dan akibatnya karyawan yang akan rugi karena RS sepi sehingga bonus hilang dan sangat mungkin kena PHK. Lebih dari itu, kebijakan yang merugikan pasien itu sama saja dengan PENIPUAN. Orang sudah sakit kok malah ditipu, gila..... andry --- In [email protected], manneke budiman <hepaest...@...> wrote: > > Kalo saya jadi karyawannya OMNI, saya marah bukan maen sama manajemen OMNI, > bukan nyalahin Prita-nya. yang bikin nasib mereka susah dan kini terancam > kehilangan kerja sebab perusahaan tutup tak lain dan tak bukan adalah ulah > perusahaannya sendiri. Mereka kejam dengan customer yang mestinya dihormati, > apalagi sama karyawannya, saya berani asumsikan pasti manajemen ini juga maen > kuasa. > Â > manneke
