Saya berpikir agak lain tentang mesjid kubah emas:) 
   
  Secara filosofi sebegitu penting kah kubah emas tersebut ditengah kemiskinan, 
ketiadaan biaya pendidikan, ketidakmampuan masyarakat berobat, busung lapar dan 
sejenisnya melanda Indonesia wabil khusus di Depok dan sekitarnya.
   
  Membaca dari koran, warga sekitar malah mengeluh jalan-jalan dilingkungannya 
jadi macet karena banyaknya kunjungan wisata. Bahkan walikota depok meminta 
pembuat masjid kubah emas untuk mau menyisihkan uang berlebih yang dimilikinya 
untuk memperlebar jalan disekitar lingkungan mesjid agar arus wisata yang 
datang untuk menyaksikan kemegahan kubah emas tersebut tidak sampai mengganggu 
kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.
   
  Mungkin ini salah satu cerminan dari masyarakat Indonesia yang lebih senang 
formalitas dan bungkusnya dibanding isi dan substansinya khususnya di bidang 
Spiritualitas. Orang boleh korupsi asal banyak menyumbang mesjid, pesantren, 
panti asuhan dan lain sebagainya.
   
  Uang korupsi bisa dipakai naik haji berkali-kali untuk mencuci dosa yang 
sudah diperbuat:)
   
  Berkenaan dengan sudah dekatnya ibadah haji, saya jadi teringat cerita sufi 
yang mungkin masih perlu ditelaah lagi sumbernya. Soalnya saya sudah lupa, 
kisah ini saya dapat sudah lamaaa sekali.
   
  Begini ceritanya:
   
  Suatu ketika seorang alim ulama bermimpi. Dalam mimpinya sesosok (malaikat) 
berkata: "Tahun ini tidak ada seorangpun yang ibadah hajinya diterima kecuali 
satu orang yaitu si Fulan (namanya saya lupa).
   
  Begitu terbangun sang alim merenung dan timbul rasa penasarannnya. Apa 
keistimewaan si Fulan hingga hanya dia yang ibadah hajinya diterima dari sekian 
juta manusia yang berhaji di tahun itu. Bergegaslah ia mencari keberadaan si 
fulan untuk belajar dari keistimewaannya.
   
  Akhirnya ia bertemu Fulan. Sang Alim pun menceritakan mimpinya. Si Fulan pun 
bercerita bahwa sebenarnya ia tidak menunaikan Haji tahun ini. Memang 
rencananya ia akan berhaji tahun ini. Tetapi begitu segala persiapan matang, ia 
mendengar seorang tetangganya sakit keras dan tidak mempunyai biaya untuk 
berobat. Akhirnya ia menggunakan uang yang dipunyainya untuk berhaji demi 
membantu pengobatan tetangganya. Alhasil uangnya menjadi berkurang untuk 
keperluan haji dan akhirnya rencana hajinya menjadi batal/tertunda. Tapi dia 
iklas menerimanya karena Allah SWT.
   
  Sang alim pun manggut dan takjub mendengar cerita si Fulan.
   
  Memang Allah jualah yang menentukan pahala dan dosa manusia namun semuanya 
tergantung juga dengan usaha manusia. Allah Maha Mengetahui siapa saja yang 
telah berusaha sebaik mungkin dan yang tidak ataupun diantara keduanya.
   
  Wallau a'lam.

       
---------------------------------
Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke