Pertama2 saya ucapkan terimakasih atas komentar/tanggapan para miliser atas postingan saya. Kondisi yang saya alami mungkin juga terjadi di hampir seluruh kanwil yang `kelebihan pegawai'. Ibarat kapal yang sesak karena kelebihan muatan, kalau nahkoda/kapten kapal tidak pandai mengendalikan kemudi kapal yang sarat muatan tersebut, tentunya akan sangat berbahaya bagi keselamatan penumpang. Apalagi bila dalam perjalanan harus menghadapi cuaca buruk, ombak besar, dll yang membahayakan keselamatan pelayaran. Disinilah dibutuhkan sifat kepemimpinan.
Sebenarnya saya ingin sekali mendapat komentar/tanggapan dari pak hari dan pak subasita yang sangat aktif di forum ini. Apakah kondisi yang saya ungkapkan tersebut juga terjadi di wilayah beliau dan bagaimana beliau menyikapinya. Setidaknya untuk mewakili suara para pimpinan. Tapi mungkin beliau belum sempat karena kesibukan. Saya kurang sependapat dg analogi yang dikemukakan oleh sdr.Surya. Analogi tsb menurut saya tidak tepat. Saya tidak menginginkan teman2 menjadi sengsara krn kemauan saya. Pencabutan/pembatalan remunerasi adalah wacana yang dikemukakan oleh ibu menkeu. Saya sebagai pelaksana di tingkat paling bawah hanya mencoba menyikapi sesuai dg kondisi yang saya temui. Yang saya inginkan adalah agar nurani kita lebih peka atas kondisi keuangan negara kita. Remunerasi yang kita nikmati adalah uang rakyat, rakyat Indonesia yang sebagian besar masih di bawah garis kemiskinan. Rakyat yang seperti digambarkan oleh sdr. Acep, membanting tulang, mengucurkan keringat demi mendapat sesuap nasi, atau membiayai pendidikan anak2nya krn sekolah gratis di negara ini masih sangat terbatas. Saya salut atas kepekaan sdr.Acep melihat situasi yang kita temui sehari2, terjadi di depan mata kita. Mungkin dinginnya AC di kantor kita telah membekukan kepekaan kita, mungkin fasilitas negara yang kita pakai sehari2 mulai membuat kita lupa seakan itu milik kita pribadi, bukan titipan rakyat. Mungkin juga uang makan yang kita dapatkan masih kurang banyak sehingga untuk biaya makan kita masih mengambil dari anggaran kantor. Karena setau saya masih ada kepala kantor yang mengambil uang dari jamuan tamu (gpp kalo emang ada tamu dinas, tapi ini tamu gak ada tapi tiap bulan ada spj jamuan tamu. Aneh tapi nyata! ), atau entah uang taktis dari mana untuk membeli sekedar sarapan, makan siang ataupun kudapan lainnya. Masih kurang banyakkah fasilitas kantor ( seharusnya utk dinas ) yang ingin dinikmati demi kepuasan pribadi? Inti postingan saya juga bukan menyesali nasib seperti yang dikemukakan sdr.Endah. Apa yang saya ungkapkan lebih kepada keprihatian saya akan kondisi kantor kita yang sesungguhnya. Salah satu miliser kita pernah menampilkan postingan dari milis tetangga tentang pegawai negeri di Jepang. Saya sangat tergugah dg tulisan tsb. Kapan pegawai negeri kita bisa spt itu. Silakan teman2 baca lagi postingan tsb. Akhir kata saya juga manusia bisa yang tak lepas dari kekurangan. Namun saya selalu mencoba bekerja dg sepenuh hati. Slalu saya ingat petuah bijak " Janganlah meminta pelayanan sesuai kekuatan kita tetapi mintalah kekuatan sesuai dg pelayanan kita." Karena sesungguhnya segala perkara dapat kutanggung dalam DIA yang memberikan kekuatan kepadaku.
