setuju... istri saya yang baru (baru januari kemaren maksudnya) tahun
lalu pindah kerja 3 kali karena merasa bergaji terlalu rendah, 2 tahun
lalu juga 3 kali pindah kerja.. kadang kesal juga liatin dia pindah
pindah melulu, sampe sekarang aja doi kadang masih ngomel terlalu
rendah digaji tapi aku udah ingatin klo ga usah keluar lagi lah..
capek dengernya.. bayangin aja baru kerja 2 minggu padahal gaji
pertama aja blum keluar udah merasa tidak layak trus cari cari kerjaan
baru.. hebatnya karena emang sdmnya mumpuni.. biiiissaaaa aja dapat..
dan heran deh.. gaji baru selalu lebih tinggi walau naiknya sih ga
tinggi tinggi amat tapi klo dibanding pns kaya saya.. mana bisa naik
gaji secepat itu? nunggu 2 tahun aja paliiiinngggg brapa.. siiihh...

intinya klo ga puas dan tempat lama emang udah mentok ga bisa bayar
lebih ya udah keluar aja.. klo mau gaji tanpa batas ya jadi pengusaha,
bisa bergaji nol rupiah atau unlimited

ya Tuhan cukupkan saya dengan apa yang saya punya hari ini..

Pada tanggal 26/03/10, Rizky Bareta <[email protected]> menulis:
>
>
>
>
>
> Salah satu keluhan manusia paling umum adalah tentang betapa
> murahnya
>
> kita dibayar. Keluhan ini muncul terutama ketika surat kenaikan gaji
>
> rutin kita terima. Betapa kenaikan take-home-pay itu tidak bisa
>
> mengimbangi kenaikan kebutuhan hidup kita. Meskipun komplain itu
>
> tidak selamanya jelek. Namun, untuk soal gaji kita perlu bertanya
>
> lagi; benarkah kita ini dibayar terlalu murah?
>
>
>
> Ada sahabat yang getol mengomel tentang gaji. Suatu kali, kami
>
> berkesempatan makan siang setelah sekian lama tidak berjumpa.
>
> Komplain itu masih menjadi bagian dari dirinya. Lalu saya
>
> bertanya; "Memangnya elo digaji berapa?" Sebuah pertanyaan untung-
>
> untungan. Tidak dijawab juga tidak apa-apa.
>
>
>
> "Yaaa, sekitar segini lah." Saya terbelalak karena dia begitu terbuka
>
> dengan gajinya, dan juga karena menurut hemat saya gajinya sudah
>
> tergolong besar untuk ukuran pekerjaan dan jabatan yang dia sandang.
>
>
>
> "Pren, elu tahu rata-rata pendapatan orang Indonesia itu hanya
>
> sekitar $1,600 setahun. Artinya, cuma sekitar satu setengah juta
>
> setiap bulan. Lha, elo sudah lebih dari sepuluh kali lipat dari itu."
>
>
>
> "Heh, elo jangan anggap gue pekerja kelas bawah gitu ye. Ya nggak
>
> berlaku lah rata-rata pendapatan semua penduduk termasuk kelas
>
> pekerja kasar dikampung-kampung dan pelosok desa tuch!" dia menukas
>
> dengan nada sengit.
>
>
>
> "Oke, oke," saya mengangkat tangan. "Tapi, rata-rata pendapatan
> orang
>
> yang kerja di Jakarta pun cuma sekitar $5,167/tahun, Man. Empat setengah
>
> jutaan doang." Mata saya tertuju kearah piring. Tapi saya tahu teman
>
> saya ini melotot. "Gaji elu masih berkali-kali lipat dari itu."
>
>
>
> "Heh, boy, udah gua bilang jangan pake rata-rata dong. Kemampuan gue
>
> juga kan diatas rata-rata!" katanya.
>
> "Dan elo juga sudah dibayar jaoooh diatas rata-rata," tangkis saya.
>
> "Ah, susah kali ngomong sama kau tuch!" Saya tidak kaget ketika dia
>
> menggebrak meja. Sifat aslinya keluar kalau sedang terdesak. "Orang
>
> harus dibayar sesuai dengan kemampuan dan kontribusinya masing-
>
> maaaasing!" Gayanya mirip Giant dalam film Dora Emon.
>
>
>
> "Wah, kalau yang satu itu gue setuju abis, Man. Masalahnya, elu udah
>
> dibayar tinggi, masih komplen juga." Saya bilang. "Atas dasar apa elu
>
> merasa pantas mendapatkan bayaran lebih tinggi?"
>
>
>
> "Pertama, teman gue." katanya "Diperusahaan lain dibayar lebih
>
> tinggi, padahal kemampuan gue nggak kalah dari dia."
>
> lanjutnya. "Kedua, gue udah kerja disini lebih dari lima tahun.
>
> Maasak, cuma segini-segini doang!"
>
>
>
> "Menurut gue," saya meneguk teh botol. "ada satu cara yang lebih
>
> objektif untuk menentukan apakah elo dibayar terlalu murah atau
>
> tidak."
>
> "Gimana?"
>
> "Caranya," saya berhenti sejenak. "Elu harus menentukan satu
> hal.
>
> Yaitu; kalau elu tidak bekerja diperusahaan manapun, elu bisa
>
> mendapatkan penghasilan berapa?" Sesendok sayur bayam masuk kemulut
>
> saya. "Nah, kalau elu dibayar dibawah angka itu, maka elu dibayar
>
> terlalu murah. Jika tidak, artinya elu sudah mendapatkan bayaran yang
>
> layak."
>
>
>
> Saya tahu bahwa gagasan ini agak kurang lazim. Tetapi anehnya,
>
> meskipun kita tidak puas dengan bayaran yang kita terima, kita masih
>
> juga bercokol disitu. Pertanda bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki
>
> dasar yang kuat untuk menuntut bayaran lebih dari itu. Sebab, jika
>
> kita benar-benar memiliki alternatif lain yang jauh lebih baik,
>
> tidaklah mungkin kita berdiam diri.
>
>
>
> Mungkin, hengkang ketempat lain bisa jadi pilihan. Tidak aneh. Kalau
>
> perusahaan pesaing merekrut kita, pastilah mereka bersedia membayar
>
> ekstra dimuka. Karena, itu bagian dari strategy persaingan bisnis
>
> mereka. Kadang, perusahaan lama melakukan 'buy back' juga. Tapi hal
>
> ini tidak selalu bisa menggambarkan kemampuan dan kelayakbayaran kita
>
> sebagai individu secara utuh. Sebab, ada 'benchmark' disetiap
>
> industry. Artinya, selalu ada saat dimana gaji kita tidak bisa naik
>
> lagi kecuali kita layak untuk dipromosi kepada jabatan dan tugas yang
>
> lebih tinggi. Makanya, tidak aneh jika ada karyawan yang direkrut
>
> dengan bayaran awal yang tinggi, tapi kenaikan gaji berkalanya tak
>
> terlalu bermakna.
>
>
>
> Sebaliknya, jika kita bisa menentukan; 'berapa pendapatan yang bisa
>
> kita hasilkan jika tidak bekerja untuk perusahaan manapun'. Maka kita
>
> akan bisa menentukan 'nilai' kita yang sesungguhnya. Misalnya, jika
>
> kita bisa menghasilkan 70 juta sebulan, maka kita bisa bernegosiasi
>
> dengan manajemen untuk mendapatkan bayaran yang sekurang-kurangnya
>
> setara dengan itu. Mengapa kita harus bertahan disana, jika
>
> bayarannya jauh lebih rendah dari yang bisa kita hasilkan sendiri?
>
> Namun, jika perusahaan sudah membayar kita lebih tinggi dari itu;
>
> kita tahu apa artinya itu, bukan?.
>
>
>
> Sahabat saya menggugat: "Kalau gua bisa kerja sendiri ngapain gua
>
> disini? Dari dulu gua pasti sudah berhenti! Gua disini, karena gua
>
> nggak bisa kerja sendiri!" Betul. Disitulah point utamanya. Kita
>
> menyandarkan diri kepada perusahaan itu, tanpa ada alternatif lain
>
> yang lebih baik. Jika demikian situasinya, bukankah akan lebih baik
>
> jika kita berfokus kepada kontribusi yang bisa kita berikan ditempat
>
> kerja? Tanpa harus terlebih dahulu berhitung-hitung soal gaji. Sebab,
>
> jika kita hanya bisa menjadi karyawan dengan prestasi rata-rata,
>
> mengapa perusahaan harus mengistimewakan kita? Sebaliknya, jika
>
> memang kita berprestasi sangat tinggi; tidaklah mungkin perusahaan
>
> menyia-nyiakan kita. Bahkan, kenaikan gaji 'tidak lazim' mungkin bisa
>
> kita terima tanpa terduga. Dan, jikapun perusahaan tempat kerja kita
>
> benar-benar menutup mata; masih banyak perusahaan baik yang bersedia
>
> mempekerjakan kita, dengan bayaran yang sepantasnya. Asal kita bisa
>
> menunjukkan 'siapa sesungguhnya' kita ini.
>
> cuma intermezzo aja, gaji kita itu lebih tinggi dari gaji rata2 orang
> Indonesia, sudah seharusnya kita selalu bersyukur, amin....
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


-- 
=================================
Gautama Seti
Financial Advisor
http://www.facebook.com/mas.gaut

Kirim email ke