Tidak perlu ditanggapi. Ocehannya itu justru mengungkap 
dialah sesungguhnya yang rasis tukang fitnah rendahan 
karena jelas dia nggak bakal bisa membuktikan tuduhannya itu. 
Liat saja, omongannya kan selalu cuma mengukur baju sendiri 
di badan orang. Percuma diladeni. Semakin diladeni semakin 
telanjang dia. Kasihan, lama-lama bugil dia. Siapa sudi liatdia bugil.

Bukan cuma Ahok yang harus dibela dari serangan SARA.Dan, bukan hanya serangan, 
pembelaan berbau SARA (seperti 
dilakukan Nusron itu) juga perlu dilawan.
--- jonathangoeij@... wrote:
saya memang akan membela Ahok kalau diserang karena ras ataupun agamadisini yg 
saya bela bukan Ahok tetapi seseorang yg diserang bigot dan prejudice

juga saya membela Ahok yg diganjal maju independen
tetapi saya menyerang Ahok atas policy penggusuran tanpa ganti rugi yang 
diterapkan beliau
--- nesare1@... wrote :

Hehehehehe dulu ante disangka ajeg mendukung ahok karena ras nya.Sekarang ente 
ikut2an dia bashing ahok.Supaya kelihatan hebattttt ya?????!!!!Atau supaya ada 
temen?????!!!! Nesare From: Jonathan Goeij

Agar tentara dan polisi membantu beliau menghilangkan kemiskinan (orangnya?) 
dari Jakarta.
On Tuesday, October 25, 2016 10:51 PM, ajeg wrote:
Lha Gubernur Ahok kan senang bagi-bagi uang ke...tentara & polisi.
--- jonathangoeij@... wrote:
apa benar sih Ahok mengentaskan kemiskinan?
---
http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/16/10/26/ofmrrs377-nusron-lebih-menista-agama-mana-antara-ahok-dan-muslim-yang-biarkan-kemiskinan
Wednesday, 26 October 2016, 08:21 WIB

Nusron: Lebih Menista Agama Mana Antara Ahok dan Muslim yang Biarkan Kemiskinan?
Red: Teguh FirmansyahRepublika/Raisan Al Farisi Nusron Wahid REPUBLIKA.CO.ID, 
JAKARTA -- Anggota tim sukses Ahok yang juga politikus Partai Golkar Nusron 
Wahid mengatakan, lebih menista agama mana antara Ahok dengan mayoritas umat 
Islam yang masih membiarkan kemiskinan dan yatim piatu menderita?. Ia pun 
merujuk surah Al Maun. 

"Ahok sudah minta maaf dan klarifikasi pernyataanya, apa kita sudah total 
entaskan kemiskinan dan anak yatim sesuai perintah Alquran?" tanyanya lewat 
kicauan di Twitter, semalam.  

Menurutnya,  manusia itu lebih sensitif terhadap orang lain, daripada terhadap 
kekurangan diri sendiri. Itulah ciri orang yang tidak adil. "Semoga kita bisa 
adil."

Dalam kicauannya Nusron juga mempertanyakan mereka yang mengaku-aku NU namun 
tidak pernah ikut nyantri atau menjalankan budaya-budaya gerakan itu.  "Makin 
nyata, hari-hari ini bukann orang NU. Sok ngaku NU dan paling tahu tentang NU. 
Padahal nyantri gak pernah, ikut kaderisasi apalagi. Kepoo," katanya. 

Celakanya, kata Nusron, mereka melihat NU dengan caranya sendiri, bukan dengan 
NU. Mereka tidak pernah menjalankan ritus NU. Justru sering "mengadili" amalan 
NU. "Contohnya hari ini. Silaturrahmi ke kyai itu rutin. Beda pendapat juga 
biasa. Tetap silaturrahmi. Dari dulu kekuatan NU itu," katanya.  

KH Wahab Chasbullah sering beda pendapat denga KH Bisri Syansuri, tetap 
silaturrahmi. Mbah Wahab pendukung Sukarno, sedangkan Mbah Bisri nggak setuju.
"KH Maksum Lasem sering beda pendapat soal hukum dengan KH Baedlowi. Tetap 
silaturrahmi. Tidak ada yang aneh. Biasa. Karena saling paham," jelasnya.  
"Subhan ZE anti Sukarno. Mbah Wahab pro-Sukarno. Silaturrahmi dan tetap kekeh 
dengan pendiriannya. Itulah NU. Lentur, luwes dan moderat."
Baca juga, Ini Pernyataan Kontroversial Nusron Wahid yang Mengkritik Keputusan 
MUI.
Nusron mengatakan, ia dukung dan bela Ahok dalam kasus tuduhan menista Alquran. 
Kyai mungkin tidak setuju dengan sikapnya, tetap silaturrahmi. "Tabayyun 
biasa," kata Nusron.
Ketika ditanya mengapa dukung Ahok, Nusron menyampaikan argumentasi landasan 
fiqh-nya. Beliau (kyai) memahami. "Soal beda itu biasa di NU. Cair dan tidak 
kaku," jelasnya.  "Kita yang didik di pesantren dan NU terdidik harus tasawwur 
sebelum tashdiq. Paham persoalan sebelum mengambil sikap. Tidak gampang 
menuduh."

Sebelumnya Nusron bersilaturahmi dengan Ketua MUI Ma'ruf Amin yang juga warga 
NU. Dalam kicauan sebelumnya, ia menegaskan tidak pernah ribu dengan Ma'ruf 
Amin.
   

Kirim email ke