Ngomong2 tentang makin sedikitnya pemilih yg menggunakan hak pilihnya atau 
makin banyaknya golput, saya ingin melihat beberapa data terlebih dahulu. 
Waktu jaman Soeharto voters turn-out ternyata tinggi sekali dari th 1971 s/d 
1997 lebih dari 90% yg nyoblos, justru setelah itu turn-out berkurang banyak 
sekali bahkan th 2014 barusan jadi sekitar 70%-an. Jadi disini 30% pemilih 
memilih utk tidak memilih. Jokowi memenangkan sekitar 53% dari mereka yang 
memilih, tetapi kalau dilihat dari seluruh pemilih terdaftar hanya mendapatkan 
sekitar 53%*70%=37%.
US voters turn-out th 2012 cuman 53.6% Obama menang 51.1% dari popular vote, 
kalau dilihat dari seluruh potential pemilih suara yg didapat hanyalah 
51.1%*53.6%=27.39% sangat rendah sekali.
Sementara di Filipina barusan dengan turn-out 81.5% yg diikuti 5 capres Duterte 
berhasil mendapatkan suara terbanyak 39.01%, seandainya dihitung dari seluruh 
potential pemilih cuman 39.01%*81.5%=31.79%
Dus disini apa artinya para presiden itu baik Obama, Jokowi, ataupun Duterte 
tidak legitimate? Apakah mau menggunakan logika terbalik seperti 63% pemilih 
terdaftar tidak memilih Jokowi dst.? 

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Ha! ha! ha! 
Sejak kapan arti 'mayoritas' disamakan dengan 'ras'?!
Situ nuduh saya berprasangka terhadap jonathan karena 
menurutmu jonathan membela Ahok tersebab ras-nya. 
Diminta buktinya, lha yang disodori soal mayoritas...
("Yang perlu dikhawatirkan adalah tidak adanya pemimpin (setelah Gus Dur) 
yang peduli realita tentang suara mayoritas ini.")

Ini kan lagi-lagi situ ketangkep basah ngenyek diri sendiri,
bisanya cuma nelanjangi diri sendiri di depan umum. Mosok'mayoritas' dipahami 
sebagai SARA. Ini bukti situ memangnggak tau arti SARA.

Karena soal teks saja kebingungan melulu, ya wajar situmelulu asal jeplak di 
luar konteks bahkan OOT.
---- nesare1@.... wrote:
Ini tulisan ente Date: Tue, 28 Jun 2016 14:16:06 +0000 (UTC):
Ini sudah terlalu jauh ya dari topik soal Sumber Waras di acara ILC. Tapi 
okelah, soal Ahok ini saya cuma mau bilang: ada permainan, ada aturan main. 
Yang mau ikut main, wajib mematuhi aturan yang ada. Yang tidak mau patuh ya 
jangan ikut main. Sederhana. Permainan apa pun di seluruh dunia hukumnya ya 
sesederhana itu.
Di bawah sudah saya jelaskan bahwa sejauh ini belum terdengar Ahok mengeluh 
soal ketentuan yang berlaku. Dia selalu bilang akan mematuhi aturan yang ada. 
"Kalau dia (KPU) bilang tidak bisa ikut kalau tidak ada meterai, ya sudah tidak 
usah 
ikut,"http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/20/13325721/Ahok.Tidak.Akan.Ikut.Pilkada.jika.KPU.Terapkan.Aturan.Bermeterai
 Jadi, kenapa Anda harus pusing, sedangkan Ahok saja begitu santai.Saya nggak 
yakin Anda bakal sengotot ini kalau bukan Ahok yang maju sebagai calon 
perseorangan.

--- jonathangoeij@... wrote: anda rupanya masih kurang menyadari betapa hak 
masyarakat mencalonkan pemimpinnya baik dalam bentuk partai maupun independen 
dan hak masyarakat utk memilih adalah berkaitan, kalau anda concern dengan 
voting turnover seharusnya opini anda diutarakan utk mempermudah sso utk 
mencalonkan atau dicalonkan. sekarang ini terlihat beberapa nama yg 
mengutarakan niatnya mencalonkan diri ataupun didukung utk dicalonkan, tetapi 
karena peraturan/uu yg ngaco jadi sukar sekali yg maju jadi calon baik itu 
ahok, risma, yusril, lulung, sandiaga uno, dll padahal toh ada juga bagian dari 
masyarakat yg menginginkan mereka maju, bila kemudian tidak bisa maju bukannya 
akan menambah jumlah mereka2 yg nggak mau nyoblos. bukankah sebaiknya biarkan 
saja mereka2 itu maju mencalonkan diri masalah menang atau kalah nanti khan 
terserah pemilih. 
--- ajegilelu@... wrote :
Jangan khawatirkan pilihan masyarakat, karena masyarakat punya kecerdasan dan 
kearifannya sendiri. Selama ini toh terbukti angka golput terus membesar dari 
pemilu ke pemilu (termasuk pilkada) - kalau tidak boleh disebut sering 
"menang". 
Yang perlu dikhawatirkan adalah tidak adanya pemimpin (setelah Gus Dur) yang 
peduli realita tentang suara mayoritas ini. Ini yang ane dapet.Silahkan 
dikomentari yang ane kuningin tulisan ente itu! Hati hati banget ente ini 
nulisnya ya!!!! Nesare
From: ajeg
Karena mengaku ingat, mestinya ya tinggal tunjukkan
tulisan prejudice itu. Gampang, tinggal ambil dari arsipmilis.
Bisa?
Sebaliknya, tanpa perlu repot saya bisa tunjukkan sikaprasismu di posting ini. 
Tepatnya, rasis culas yang
tanpa malu memanipulasi kalimat saya tentang pembelaan
Nusron.
Kelihatan kok, situ culas dan nggak ngerti SARA itu apa.
---- nesare1@.... wrote:
Akh lucu ente ini!!!!Dulu ente nulis dan jelas2 prejudice sama si jonathan krn 
dia membela ahok krn ras nya.Sudah lupa ya??!!! Sekarang sok tampil sbg 
penyelamat ras. Eh jonathan, ngomong2 ente ngerti ndak kalimat terakhir si ajeg 
ini? hehehehehe. Si ajeg ini juga mau bashing nusron loh krn dia menuduh nusron 
membela orang Cina!!! Luar biasa orang satu ini dalam bashing mem bashing!!!!! 
Eh sialnya ente ketemu ane yg suka telanjangi ente!!Oh ya jangan dibalikin akh 
bahwa ane suka telanjang!!!!Ente kalau malu telanjang, ya berargumen. Jangan 
lari ngumpet saja dan bikin2 statements kaya’ gini akhhhhh!!!!! Nesare
From: ajeg
Tidak perlu ditanggapi. Ocehannya itu justru mengungkap
dialah sesungguhnya yang rasis tukang fitnah rendahan
karena jelas dia nggak bakal bisa membuktikan tuduhannya itu.
Liat saja, omongannya kan selalu cuma mengukur baju sendiri
di badan orang. Percuma diladeni. Semakin diladeni semakin
telanjang dia. Kasihan, lama-lama bugil dia. Siapa sudi liat
dia bugil.
Bukan cuma Ahok yang harus dibela dari serangan SARA.
Dan, bukan hanya serangan, pembelaan berbau SARA (seperti
dilakukan Nusron itu) juga perlu dilawan.
--- jonathangoeij@... wrote:
saya memang akan membela Ahok kalau diserang karena ras ataupun agama
disini yg saya bela bukan Ahok tetapi seseorang yg diserang bigot dan prejudice
juga saya membela Ahok yg diganjal maju independen
tetapi saya menyerang Ahok atas policy penggusuran tanpa ganti rugi yang 
diterapkan beliau
--- nesare1@... wrote :


Hehehehehe dulu ante disangka ajeg mendukung ahok karena ras nya.
Sekarang ente ikut2an dia bashing ahok.
Supaya kelihatan hebattttt ya?????!!!!
Atau supaya ada temen?????!!!!
Nesare
From: Jonathan Goeij
Agar tentara dan polisi membantu beliau menghilangkan kemiskinan (orangnya?) 
dari Jakarta.
On Tuesday, October 25, 2016 10:51 PM, ajeg wrote:
Lha Gubernur Ahok kan senang bagi-bagi uang ke...tentara & polisi.
--- jonathangoeij@... wrote:
apa benar sih Ahok mengentaskan kemiskinan?
---
http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/16/10/26/ofmrrs377-nusron-lebih-menista-agama-mana-antara-ahok-dan-muslim-yang-biarkan-kemiskinan
Wednesday, 26 October 2016, 08:21 WIB

Nusron: Lebih Menista Agama Mana Antara Ahok dan Muslim yang Biarkan Kemiskinan?
Red: Teguh FirmansyahRepublika/Raisan Al Farisi Nusron Wahid REPUBLIKA.CO.ID, 
JAKARTA -- Anggota tim sukses Ahok yang juga politikus Partai Golkar Nusron 
Wahid mengatakan, lebih menista agama mana antara Ahok dengan mayoritas umat 
Islam yang masih membiarkan kemiskinan dan yatim piatu menderita?. Ia pun 
merujuk surah Al Maun. 

"Ahok sudah minta maaf dan klarifikasi pernyataanya, apa kita sudah total 
entaskan kemiskinan dan anak yatim sesuai perintah Alquran?" tanyanya lewat 
kicauan di Twitter, semalam.  

Menurutnya,  manusia itu lebih sensitif terhadap orang lain, daripada terhadap 
kekurangan diri sendiri. Itulah ciri orang yang tidak adil. "Semoga kita bisa 
adil."

Dalam kicauannya Nusron juga mempertanyakan mereka yang mengaku-aku NU namun 
tidak pernah ikut nyantri atau menjalankan budaya-budaya gerakan itu.  "Makin 
nyata, hari-hari ini bukann orang NU. Sok ngaku NU dan paling tahu tentang NU. 
Padahal nyantri gak pernah, ikut kaderisasi apalagi. Kepoo," katanya. 

Celakanya, kata Nusron, mereka melihat NU dengan caranya sendiri, bukan dengan 
NU. Mereka tidak pernah menjalankan ritus NU. Justru sering "mengadili" amalan 
NU. "Contohnya hari ini. Silaturrahmi ke kyai itu rutin. Beda pendapat juga 
biasa. Tetap silaturrahmi. Dari dulu kekuatan NU itu," katanya.  

KH Wahab Chasbullah sering beda pendapat denga KH Bisri Syansuri, tetap 
silaturrahmi. Mbah Wahab pendukung Sukarno, sedangkan Mbah Bisri nggak setuju.
"KH Maksum Lasem sering beda pendapat soal hukum dengan KH Baedlowi. Tetap 
silaturrahmi. Tidak ada yang aneh. Biasa. Karena saling paham," jelasnya.  
"Subhan ZE anti Sukarno. Mbah Wahab pro-Sukarno. Silaturrahmi dan tetap kekeh 
dengan pendiriannya. Itulah NU. Lentur, luwes dan moderat."
Baca juga, Ini Pernyataan Kontroversial Nusron Wahid yang Mengkritik Keputusan 
MUI.
Nusron mengatakan, ia dukung dan bela Ahok dalam kasus tuduhan menista Alquran. 
Kyai mungkin tidak setuju dengan sikapnya, tetap silaturrahmi. "Tabayyun 
biasa," kata Nusron.
Ketika ditanya mengapa dukung Ahok, Nusron menyampaikan argumentasi landasan 
fiqh-nya. Beliau (kyai) memahami. "Soal beda itu biasa di NU. Cair dan tidak 
kaku," jelasnya.  "Kita yang didik di pesantren dan NU terdidik harus tasawwur 
sebelum tashdiq. Paham persoalan sebelum mengambil sikap. Tidak gampang 
menuduh."

Sebelumnya Nusron bersilaturahmi dengan Ketua MUI Ma'ruf Amin yang juga warga 
NU. Dalam kicauan sebelumnya, ia menegaskan tidak pernah ribu dengan Ma'ruf 
Amin.

Kirim email ke