daripada menantang barat lebih baik menantang diri sendiri "beranikah maju tanpa menunggu diberi barat" kewarganegaraan-ganda saat ini pada dasarnya bukan benar2 kewarganegaraan ganda bahkan menimbulkan dilema bagi sang anak karena memaksa harus memilih bapak atau emak, seharusnya biarkan saja tidak harus melepas salah satu. saya tidak begitu jelas pertanyaan ini "kenapa AS yang sudah kuat, pinter, kaya, masih mempersoalkan kewarga-negara-an?" setahu saya AS tidak begitu mempermasalahkan bi-citizenship bahkan sebagai contoh Senator Ted Cruz mempunyai Canada citizenship karena lahir di Canada dan juga US citizenship karena ibunya US citizen, dan baru saja me-renounce Canada Citizenship waktu kampanye calon presiden setelah terjadi debat diantara scholars apakah beliau eligible jadi presiden atau tidak. Dus disini terlihat bahkan sampai jadi anggota legislatif (senator) sekalipun seorang yg berkewarganegaraan ganda tidak ada masalah sama sekali dan baru utk kepresidenan hal itu jadi perdebatan. ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :
Yang bilang kewarganegaraan-ganda bertentangan dengan Mukadimah UUD'45 siapa ya? Sejak awal saya katakan:"Berdasarkan ekspresi emak-bapak pendiri tentang ke-Indonesia-an tersebut, saya tentu saja setuju kalau kewarganegaraan-ganda dibilang tidak ada masalah. Sebab, bangsa(-bangsa) yang tergabung dalam 'Indonesia' sesungguhnya secara filosofis tidak lain dan tidak bukan memang disiapkan untuk menjadi warga manusia; warga bumi, bahkan warga alam semesta." Di setiap posting penekanan saya tidak berubah dari itu sejak judul subject. Sabtu kemarin pun masih saya tekankan ulang:"Walhasil, menjadi warga suatu negara maupun berkewarganegaraan ganda mah samasekali nggak penting, selama tujuan kemerdekaan Indonesia tercapai." Faktanya, sampai sekarang tujuan kemerdekaan itu belum tercapai. Kenapa? "Jujur saja, sejak Peristiwa '65, pencapaian tujuan kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari peran Barat. Karena itu saya beri tantangan: 'beranikah Barat membiarkan Indonesia maju menjadi masyarakat sejahtera, adil-makmur, sejajar dengan mereka?' Begini-begini, toh lidah Indonesia pernah menjawab: Go to hell!" Kesimpulan, Indonesia tidak menolak kewarganegaraan-ganda.Buktinya, sekarang saja sudah menganut kewarganegaraan-ganda sekalipun terbatas. Jadi, siapa yang bilang kewarganegaraan-ganda bertentangan dengan Mukadimah UUD'45? Kalau menurut Anda ada kesamaan antara UUD'45 dan Declarationof Independence - khususnya mengenai negara dan manusia di bumi -kenapa AS yang sudah kuat, pinter, kaya, masih mempersoalkan kewarga-negara-an? Bukankah sebentar lagi bakal berlaku kewarga-Bumi-an, kewarga-Mars-an, warga galaksi lain dst. --- jonathangoeij@... wrote: Saya mungkin belum baca buku yg anda maksudkan, bisakah anda jelaskan sedikit. Apakah anda maksudkan mukadimah uud 45 terinspirasi declaration of independence, hal ini mungkin benar. Ada satu kalimat di declaration of independence yg sering dilupakan "That whenever any Form of Government becomes destructive of these ends, it is the Right of the People to alter or to abolish it, and to institute new Government, laying its foundation on such principles and organizing its powers in such form, as to them shall seem most likely to effect their Safety and Happiness. " kalimat ini tidak tercantum di mukadimah tetapi secara praktek telah dilakukan th 98 waktu penggulingan Soeharto. Kembali ke-kewarganegaraan ganda, saya kok tidak melihat adanya pertentangan dgn mukadimah. --- ajegilelu@... wrote : Dengan terus memberi "bantuan" itu artinya Barat takut. Indonesia sudah menjawab Go to hell. Begini saja, soal kedudukan 'negara' dan manusia di bumi boleh juga Anda baca-baca tentang Jefferson. Bandingkan preambul deklarasi kemerdekaan AS dengan Mukadimah UUD'45 berikut pemikiran yang melatari, termasuk catatan Jefferson soal Virginia. Atau, dengan sedikit berimajinasi barangkali Anda bisa membayangkan tampang Jefferson yang berseri-seri memacu kudanya ngebut ke Monticello di tengah hujan salju ketika terbebas dari beban sebagai presiden. Nah, kenapa tugas kenegaraan AS menjadi beban bagi manusia. Lucunya lagi, membebani manusia Jefferson yang ikut menyusun ketatanegaraan Amerika Serikat. --- jonathangoeij@... wrote: sebenarnya pertanyaannya bukan "beranikah Barat membiarkan Indonesia maju menjadi masyarakat sejahtera, adil-makmur, sejajar dengan mereka?" tetapi "beranikah Indonesia menjadi maju tanpa menggantungkan diri dari belas kasihan barat?" --- ajegilelu@... wrote : Karena Anda bawa-bawa UUD'45 ya saya jelaskan bahwaMukadimah UUD'45 mengagendakan Bangsa Indonesia untuk menjadi warga bumi, bahkan alam semesta. Walhasil, menjadi warga suatu negara maupun berkewarganegaraan ganda mah samasekali nggak penting, selama tujuan kemerdekaan Indonesiatercapai. Untuk memahami ini tidak cukup hanya dengan membaca kitab UUD'45. Perlu dukungan referensi, tulisan, buku, sukur-sukur obrolan dengan mereka yang kenal pemikiran nyak-babe pendiri. Jujur saja, sejak Peristiwa '65, pencapaian tujuan kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari peran Barat. Karena itu saya beri tantangan: "beranikah Barat membiarkan Indonesia maju menjadi masyarakat sejahtera, adil-makmur, sejajar dengan mereka?" Begini-begini, toh lidah Indonesia pernah menjawab: Go to hell! Buat negara imigran seperti AS, kewarganegaraan-ganda mungkin penting bagi Democrat. Entah dengan Republic. Yang pasti, setiap negara / komunitas punya latar dan tujuan masing-masing. Biarkan sajalah demokrasi di dunia ini berjalan dengan menghormati perbedaan, bukan dengan memaksakan keseragaman. Apalagi sekedar untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Jadi, sebelum kemauan politik, perlu akal sehat lebih dulu. --- jonathangoeij@... wrote: kalau begitu dalam kewarganegaraan ganda toh tidak ada urusannya dgn barat segala, itu jelas cuman masalah kemauan politik saja. --- ajegilelu@... wrote : Bukan menunggu, itu memberi, karena Barat selalu butuh untuk diaku serba paling. Paling kuat, paling pinter, paling kaya, baik hati, dan suka menabung. Apa pantes sehebat itu masih terus merengek supaya diijinkan menghisap hak orang lain. Seluruh dunia tahu kok apa yang terjadi kalau ditolak. Cuma Barat yang tidak tahu. Atau belagak pilon saja. --- jonathangoeij@... wrote: kenapa kok menunggu belas kasihan Barat? kutipan:Jadi, sekali lagi, melihat sejarahnya, kewarganegaraan-ganda bukanlah masalah bagi Indonesia. Masalah sebenarnya: beranikah Barat membiarkan Indonesia maju menjadi masyarakat sejahtera, adil-makmur, sejajar dengan mereka? --- ajegilelu@... wrote :
