Suatu kehormatan kalau di era PD-II negara-negara bekas penjajah,khususnya 
Barat, bersedia melepas tanah-tanah jajahannya lalududuk sama tinggi dan 
berdiri sama rendah dengan bangsa-bangsa lain.
Kenyataannya kan nggak begitu. Mereka terbiasa hidup disiplin 
terkungkung struktur bahkan definisi. Karena itu Bertrand Russel 
mengibaratkan bangsa Barat tak ubahnya garnisun militer yang 
rapi berlapis-lapis namun selalu kalangkabut setiap berhadapan 
dengan disiplin Spartan. Hanya kecurangan dan kekerasan yang bisa 
menyelamatkan kekuasaan Barat dari semangat Spartan.
Ilustrasi ini barangkali lebih mudah Anda kunyah untuk memahamikenapa nyak-babe 
akhirnya memutuskan untuk memperkenalkan diri 
kepada kaum penjajah bahwa 'Indonesia' adalah jutaan "Spartacus" 
yang berhimpun dalam disiplin organisasi dan teritorial: negara. 
Harapannya jelas, agar para bekas penjajah yang merasa sebagai ras 
unggul di muka bumi itu mau duduk-berdiri sama tinggi dengan segala ras.

Jadi, sekali lagi, melihat sejarahnya, kewarganegaraan-ganda bukanlah 
masalah bagi Indonesia. Masalah sebenarnya: beranikah Baratmembiarkan Indonesia 
maju menjadi masyarakat sejahtera, adil-makmur, 
sejajar dengan mereka?
Omong-kosong dengan rengekan Barat soal keuntungan pribadi yang 
bisa didapat dari kewarganegaraan-ganda. Jepang, sebagai "keluarga kecil" 
yang makmur, terlihat lebih fair. Sebagai kerajaan bekas penjajah juga, 
mereka lebih mampu menghormati keanggotaan "keluarga" lain.
--- jonathangoeij@... wrote:
jadi kalau begitu yg namanya Negara Indonesia itu sebenarnya tidak ada karena 
tidak pernah diproklamirkan, ha ha ha mungkin lebih bagus begitu dan daerah2 
bisa bebas jadi negara2 tersendiri akan banyak muncul negara2 kecil yg sekaya 
atau bahkan lebih kaya dari Brunei.
balik ke uu kewarganegaraan, justru UU Kewarganegaraan th 46 itu yg berdasarkan 
UUD 45 asli, sedang UU Kewarganegaraan th 58 berdasarkan UUDS 50, UU 
Kewarganegaraan 2006 berdasarkan UUD 45 hasil amendemen. dus satu2nya UU 
Kewarganegaraan berdasarkan UUD 45 asli hasil pemikiran bapak ibu pendiri 
bangsa itu mengenal dwi kewarganegaraan.

kalau ditanya apakah kewarganegaraan ganda itu menguntungkan bagi mayoritas 
rakyat yg lebih dari 200 juta orang itu? jawabnya jelas menguntungkan sebagian 
kecil saja paling hanya beberapa juta saja. tetapi apakah merugikan? jawabnya 
juga tidak merugikan.

tetapi kalau dilihat betapa makin lama makin banyak orang Indonesia yg mencari 
nafkah atau ilmu di manca negara maka tidak terhindarkan mereka2 itu mempunyai 
kewarganegaraan baru ataupun membentuk keluarga dgn penduduk setempat dan 
beranak pinak, belum lagi dgn globalisasi makin banyak juga orang asing yg 
tinggal di Indonesia utk kemudian melakukan naturalisasi ataupun menikah dgn 
orang Indonesia. kebutuhan uu kewarganegaraan baru yg lebih fleksibel dan 
mengenal kewarganegaraan ganda akan makin mendesak.
--- ajegilelu@... wrote :
Pernah menyimak tulisan-tulisan dan pemikiran emak-bapak pendiri?
Cobalah sesekali, siapa tahu tersambar pencerahan yang samasekali
membongkar kegelapan yang terlihat dan terasakan saat ini. Bisa jadi
setelah tersambar begitu Anda pingsan dulu sebelum kemudian
keranjingan mencari perspektif emak-bapak di setiap kondisi yang
sedang terjadi. Dalam hal kewarganegaraan ini misalnya, saya tetap
menduga yang diinginkan emak-bapak tempohari sebenarnya bukan
mendirikan negara.

Terbukti, teks Proklamasi 17-8-45 tidak menyatakan kemerdekaan 'negara'
- pernyataan yang tersurat di sana hanyalah kemerdekaan 'Indonesia'.
Begitu juga yang bisa ditemukan pada falsafah / ideologi Pancasila, lagu
Indonesia Raya, maupun Sumpah Pemuda. Tidak ada yang menyebut-nyebut
kata 'negara'.

Tanda-tanda kenegaraan baru terlihat pada Undang-undang Dasar 1945 yang
dilahirkan setelah 'Indonesia' merdeka. Itupun dalam mukadimahnya masih
tetap bicara lantang tentang Bangsa, Rakyat, di atas dunia.

Berdasarkan ekspresi emak-bapak pendiri tentang ke-Indonesia-an tersebut,
saya tentu saja setuju kalau kewarganegaraan-ganda dibilang tidak ada masalah.
Sebab, bangsa(-bangsa) yang tergabung dalam 'Indonesia' sesungguhnya
secara filosofis tidak lain dan tidak bukan memang disiapkan untuk menjadi
warga manusia; warga bumi, bahkan warga alam semesta.
Masalahnya, syarat untuk menjadi seperti itu belum juga tercapai.
Nah, sebagai masyarakat yang belum sejahtera, belum adil-makmur, ditambah
lagi dengan terus kehilangan daya saing (baik ketrampilan maupun produk),
jelas sekali kewarganegaraan-ganda hanya bermanfaat bagi individu pemeluk
paspor ganda. Tidak bagi seluruh komunitasnya.

Coba lihat, dengan menganut asas kewarganegaraan-tunggal saja, hak dan
kesempatan komunitas 'Indonesia' sudah terancam monster kebebasan bernama
globalisasi (al. lewat sang anak buah bernama MEA). Walhasil, kesempatan
untuk melaksanakan kewajiban, al. membayar pajak, juga menyempit.
Sebaliknya, dengan menerapkan kewarganegaraan-ganda berarti membuka
kesempatan kepada orang asing untuk menjadi WNI ikutan yang hanya ingin
memanfaatkan hak sebagai WNI tetapi kewajibannya hanya dia berikan
ke negara asalnya.

Tanpa daya tahan (pajak cekak, rupiah lemah dll) ditambah tanpa daya saing
di iklim serba liberal begini, maka yang paling mungkin dikerjakan untuk 
bertahan
hidup ya lagi-lagi cuma kombinasi antara kerja nguli, ngutang, dan ngimpor.
Kerja, kerja, kerja, eh "blanda" masuk juga...
--- jonathangoeij@... wrote:
Sebenarnya,waktu baru merdeka dulu waktu UUD 45 masih dianut secara murni 
waktuPancasila 1 Juni masih diterapkan waktu Bhineka Tunggal Ika benar2menjadi 
filsafat Indonesia menganut dwi-kewarganegaraan, dan itu terjadiselama kurang 
lebih 13 tahun.

Justruwaktu UUD 45 ditaruh dipinggiran nggak dipakai dwi-kewarganegaraandihapus 
jadi tabu dan orang2nya dipandang dgn curiga akan kesetiaannyaapalagi setelah 
Pancasila jadi sakti dan Bhineka Tunggal Ika jadiabang2e lambe.

Dus sebenarnya kembali menganut dwi-kewarganegaraan tidak ada masalah sama 
sekali.
--- ajegilelu@... wrote :



.
 
   

Kirim email ke