Yang bilang kewarganegaraan-ganda bertentangan 
dengan Mukadimah UUD'45 siapa ya? 

Sejak awal saya katakan:"Berdasarkan ekspresi emak-bapak pendiri tentang 
ke-Indonesia-an tersebut,
saya tentu saja setuju kalau kewarganegaraan-ganda dibilang tidak ada masalah.
Sebab, bangsa(-bangsa) yang tergabung dalam 'Indonesia' sesungguhnya
secara filosofis tidak lain dan tidak bukan memang disiapkan untuk menjadi
warga manusia; warga bumi, bahkan warga alam semesta."
Di setiap posting penekanan saya tidak berubah dari itu 
sejak judul subject.

Sabtu kemarin pun masih saya tekankan ulang:"Walhasil, menjadi warga suatu 
negara maupun berkewarganegaraan ganda mah 
samasekali nggak penting, selama tujuan kemerdekaan Indonesia tercapai."
Faktanya, sampai sekarang tujuan kemerdekaan itu 
belum tercapai. Kenapa?
"Jujur saja, sejak Peristiwa '65, pencapaian tujuan kemerdekaan Indonesia 
tidak bisa lepas dari peran Barat. Karena itu saya beri tantangan: 'beranikah 
Barat 
membiarkan Indonesia maju menjadi masyarakat sejahtera, adil-makmur, 
sejajar dengan mereka?' Begini-begini, toh lidah Indonesia pernah menjawab: 
Go to hell!"

Kesimpulan, Indonesia tidak menolak kewarganegaraan-ganda.Buktinya, sekarang 
saja sudah menganut kewarganegaraan-ganda 
sekalipun terbatas.
Jadi, siapa yang bilang kewarganegaraan-ganda bertentangan 
dengan Mukadimah UUD'45?
Kalau menurut Anda ada kesamaan antara UUD'45 dan Declarationof Independence - 
khususnya mengenai negara dan manusia di bumi - kenapa AS yang sudah kuat, 
pinter, kaya, masih mempersoalkan 
kewarga-negara-an? Bukankah sebentar lagi bakal berlaku kewarga-Bumi-an, 
kewarga-Mars-an, warga galaksi lain dst.

--- jonathangoeij@... wrote:

Saya mungkin belum baca buku yg anda maksudkan, bisakah anda jelaskan sedikit.
Apakah anda maksudkan mukadimah uud 45 terinspirasi declaration of 
independence, hal ini mungkin benar. Ada satu kalimat di declaration of 
independence yg sering dilupakan "That whenever any Form of Government becomes 
destructive of these ends, it is the Right of the People to alter or to abolish 
it, and to institute new Government, laying its foundation on such principles 
and organizing its powers in such form, as to them shall seem most likely to 
effect their Safety and Happiness. " kalimat ini tidak tercantum di mukadimah 
tetapi secara praktek telah dilakukan th 98 waktu penggulingan Soeharto.
Kembali ke-kewarganegaraan ganda, saya kok tidak melihat adanya pertentangan 
dgn mukadimah.
--- ajegilelu@... wrote :
Dengan terus memberi "bantuan" itu artinya Barat takut.
Indonesia sudah menjawab Go to hell.

Begini saja, soal kedudukan 'negara' dan manusia di bumi
boleh juga Anda baca-baca tentang Jefferson. Bandingkan
preambul deklarasi kemerdekaan AS dengan Mukadimah UUD'45
berikut pemikiran yang melatari, termasuk catatan Jefferson
soal Virginia.

Atau, dengan sedikit berimajinasi barangkali Anda bisa
membayangkan tampang Jefferson yang berseri-seri memacu
kudanya ngebut ke Monticello di tengah hujan salju ketika
terbebas dari beban sebagai presiden.

Nah, kenapa tugas kenegaraan AS menjadi beban bagi manusia.
Lucunya lagi, membebani manusia Jefferson yang ikut menyusun
ketatanegaraan Amerika Serikat.
--- jonathangoeij@... wrote:
sebenarnya pertanyaannya bukan "beranikah Barat membiarkan Indonesia maju 
menjadi
masyarakat sejahtera, adil-makmur, sejajar dengan mereka?" tetapi "beranikah 
Indonesia menjadi maju tanpa menggantungkan diri dari belas kasihan barat?"
--- ajegilelu@... wrote :
Karena Anda bawa-bawa UUD'45 ya saya jelaskan bahwaMukadimah UUD'45 
mengagendakan Bangsa Indonesia untuk
menjadi warga bumi, bahkan alam semesta. Walhasil, menjadi
warga suatu negara maupun berkewarganegaraan ganda mah
samasekali nggak penting, selama tujuan kemerdekaan Indonesiatercapai.
Untuk memahami ini tidak cukup hanya dengan membaca
kitab UUD'45. Perlu dukungan referensi, tulisan, buku,
sukur-sukur obrolan dengan mereka yang kenal pemikiran
nyak-babe pendiri.

Jujur saja, sejak Peristiwa '65, pencapaian tujuan kemerdekaan
Indonesia tidak bisa lepas dari peran Barat. Karena itu saya beri
tantangan: "beranikah Barat membiarkan Indonesia maju menjadi
masyarakat sejahtera, adil-makmur, sejajar dengan mereka?"
Begini-begini, toh lidah Indonesia pernah menjawab: Go to hell!
Buat negara imigran seperti AS, kewarganegaraan-ganda mungkin
penting bagi Democrat. Entah dengan Republic. Yang pasti,
setiap negara / komunitas punya latar dan tujuan masing-masing.
Biarkan sajalah demokrasi di dunia ini berjalan dengan menghormati
perbedaan, bukan dengan memaksakan keseragaman. Apalagi
sekedar untuk kepentingan-kepentingan pribadi.
Jadi, sebelum kemauan politik, perlu akal sehat lebih dulu.
--- jonathangoeij@... wrote:
kalau begitu dalam kewarganegaraan ganda toh tidak ada urusannya dgn barat 
segala, itu jelas cuman masalah kemauan politik saja.

--- ajegilelu@... wrote :

Bukan menunggu, itu memberi, karena Barat selalu butuh untuk
diaku serba paling. Paling kuat, paling pinter, paling kaya, baik hati,
dan suka menabung.

Apa pantes sehebat itu masih terus merengek supaya diijinkan
menghisap hak orang lain.

Seluruh dunia tahu kok apa yang terjadi kalau ditolak. Cuma Barat
yang tidak tahu. Atau belagak pilon saja.
--- jonathangoeij@... wrote:

kenapa kok menunggu belas kasihan Barat?
kutipan:Jadi, sekali lagi, melihat sejarahnya, kewarganegaraan-ganda bukanlah
masalah bagi Indonesia. Masalah sebenarnya: beranikah Barat
membiarkan Indonesia maju menjadi masyarakat sejahtera, adil-makmur,
sejajar dengan mereka?

--- ajegilelu@... wrote :

Suatu kehormatan kalau di era PD-II negara-negara bekas penjajah,
khususnya Barat, bersedia melepas tanah-tanah jajahannya lalu
duduk sama tinggi dan berdiri sama rendah dengan bangsa-bangsa lain.
Kenyataannya kan nggak begitu. Mereka terbiasa hidup disiplin
terkungkung struktur bahkan definisi. Karena itu Bertrand Russel
mengibaratkan bangsa Barat tak ubahnya garnisun militer yang rapi
berlapis-lapis namun selalu kalangkabut setiap berhadapan dengan
disiplin Spartan. Hanya kecurangan dan kekerasan yang bisa menyelamatkan
kekuasaan Barat dari semangat Spartan.

Ilustrasi ini barangkali lebih mudah Anda kunyah untuk memahami
kenapa nyak-babe akhirnya memutuskan untuk memperkenalkan diri
kepada kaum penjajah bahwa 'Indonesia' adalah jutaan "Spartacus"
yang berhimpun dalam disiplin organisasi dan teritorial: negara.
Harapannya jelas, agar para bekas penjajah yang merasa sebagai ras
unggul di muka bumi itu mau duduk-berdiri sama tinggi dengan segala ras.

Jadi, sekali lagi, melihat sejarahnya, kewarganegaraan-ganda bukanlah
masalah bagi Indonesia. Masalah sebenarnya: beranikah Barat
membiarkan Indonesia maju menjadi masyarakat sejahtera, adil-makmur,
sejajar dengan mereka?

Omong-kosong dengan rengekan Barat soal keuntungan pribadi yang
bisa didapat dari kewarganegaraan-ganda. Jepang, sebagai "keluarga kecil"
yang makmur, terlihat lebih fair. Sebagai kerajaan bekas penjajah juga,
mereka lebih mampu menghormati keanggotaan "keluarga" lain.
--- jonathangoeij@... wrote:

jadi kalau begitu yg namanya Negara Indonesia itu sebenarnya tidak ada karena 
tidak pernah diproklamirkan, ha ha ha mungkin lebih bagus begitu dan daerah2 
bisa bebas jadi negara2 tersendiri akan banyak muncul negara2 kecil yg sekaya 
atau bahkan lebih kaya dari Brunei.
balik ke uu kewarganegaraan, justru UU Kewarganegaraan th 46 itu yg berdasarkan 
UUD 45 asli, sedang UU Kewarganegaraan th 58 berdasarkan UUDS 50, UU 
Kewarganegaraan 2006 berdasarkan UUD 45 hasil amendemen. dus satu2nya UU 
Kewarganegaraan berdasarkan UUD 45 asli hasil pemikiran bapak ibu pendiri 
bangsa itu mengenal dwi kewarganegaraan.

kalau ditanya apakah kewarganegaraan ganda itu menguntungkan bagi mayoritas 
rakyat yg lebih dari 200 juta orang itu? jawabnya jelas menguntungkan sebagian 
kecil saja paling hanya beberapa juta saja. tetapi apakah merugikan? jawabnya 
juga tidak merugikan.

tetapi kalau dilihat betapa makin lama makin banyak orang Indonesia yg mencari 
nafkah atau ilmu di manca negara maka tidak terhindarkan mereka2 itu mempunyai 
kewarganegaraan baru ataupun membentuk keluarga dgn penduduk setempat dan 
beranak pinak, belum lagi dgn globalisasi makin banyak juga orang asing yg 
tinggal di Indonesia utk kemudian melakukan naturalisasi ataupun menikah dgn 
orang Indonesia. kebutuhan uu kewarganegaraan baru yg lebih fleksibel dan 
mengenal kewarganegaraan ganda akan makin mendesak.

--- ajegilelu@... wrote :
Pernah menyimak tulisan-tulisan dan pemikiran emak-bapak pendiri?

Kirim email ke