Hahahaa, bung Goei, ... kenapa saya harus jadi penganut kapitalisme, sejati pula??? TIDAK, tidak perlu begitu hanya karena saya melihat kapitalis-kapitalis masih bisa dan HARUS digunakan untuk mendorong kemajuan perputaran ekonomi lebih cepat! Sebagaimana kenyataan yang dihadapi, dimana sistem kapitalisme itulah hubungan produksi termaju dijaman sekarang yang tidak bisa tidak TETAP berjalan, diberlakukan didunia ini! Tentu tidak bisa tidak siapapun harus ikuti sekalipun tidak SEPENUHNYA, dengan memberi BATAS pengembangan KESERAKAHAN, jangan biarkan keserakahan menggila-gila, sedang pemerintah yang berkuasa HARUS berusaha keras mengendalikan saja sebaik-baiknya, jangan biarkan terjadi pelanggaran UU dan bahkan mendorong kapitalis-kapitalis bisa berbuat sosial, ...
Nampaknya anda termasuk orang yang SERAKAH juga, pada saat seorang kapitalis sudah mau ikut membantu RAKYAT miskin, TETAP saja dianggap tidak ada artinya, sangat kecil dibandingkan dengan investasi ditempat lain, ... itulah KESALAHAN kebanyakan watak manusia! Sudah BAGUUUS, mereka mau berbuat baik, investasi didaerah terbelakang untuk bantu rakyat miskin, ... sebaliknya yang dirasakan mereka bukan hanya membuang lebih banyak waktu dan energi, harus berulangkali mengunjungi daerah-daerah pedalaman begitu sulit, masih menanggung resiko lebih BESAR usahanya gagal atau mandeg ditengah jalan, .... Saya melihatnya ini merupakan LANGKAH awal yang PERLU didorong lebih lanjut, dan juga tantangan bagi Pemerintah yang berkuasa untuk memberi kemudahan dan rangsang pada kapitalis-kapitalis untuk mau dan berani investasi didaerah-daerah pedalaman membantu mengentaskan rakyat miskin! Apalagi Wang kan sebelumnya juga sudah menanggung investasi pembangunan jalan tol sepanjang 2000Km, ... kan tidak elok kalau disodok lu harus keluarkan sekian% dari seluruh kekayaan! Biarlah dibekerja sesuai kesadaran dan perhitungannya sendiri saja. Bukankah begitu?! Memang kalau diperhatikan di Tiongkok, dimana kapitalis baru muncul, masih berusia sangat muda, sekitar 30 tahunan saja, jadi semangat untuk cepat kaya sangat tinggi, terdorong keserakahan orang bisa tidak peduli menerjang segala jalan pintas, apalagi HUKUM di RRT tertinggal dengan pertumbuhan ekonomi yang begitu dahsyatnya, jadi banyak pelanggaran terjadi. Pemalsuan merk saja mungkin tidak apa, tapi kalau sudah pemalsuan barang sampai-sampai tidak lagi pedulikan kemungkinan mematikan orang yang makan, sungguh celaka, ...! Disaat begini, untuk mengharapkan muncul filantropis tentu saja masih agak sulit. Tapi, dengan dimulai orang macam Wan Jianlin bersedia investasi 1,4 M di DanZhai adalah langkah awal yang cukup baik. Diharap saja bisa berlanjut dan bahkan diikuti oleh kapitalis-kapitalis lainnya, ... Saya pun SETUJUUU saja dengan pajak keuntungan ditarik lebih BESAR persentasinya setelah melewati batas atas, ... kabarnya memang begitu yang dijalankan Pemerintah TIongkok sekarang ini, bahkan sudah banyak pengusaha, khususnya modal-asing merasa sudah TIDAK produktif lagi di Tiongkok, ongkosnya sudah tidak untung lagi. Bukan saja upah buruh/karyawan naik cepat, pajak juga naik terlalu cepat. Sudah banyak pengusaha yang siap-siap untuk menyingkir pindah keluar ke negara-negara yang lebih MURAH, ke Vietnam, Asia tenggara termasuk Indonesia kembali, .... Salam, ChanCT From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] Sent: Thursday, January 26, 2017 8:39 AM To: Yahoogroups Subject: Re: [GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan Bung Chan, Kelihatannya anda sekarang menganut kapitalisme sejati bahkan kalau perlu para pengusaha dipajakin sekecil mungkin dan mengharapkan kemurahan hati mereka untuk memberi sumbangan/donation pada para fakir miskin. Atau mungkin penilaian saya salah? Terima kasih atas artikel Wang Jianlin dengan Wanda Group-nya yg membangun proyek pengentasan kemiskinan di kabupaten Danzhai senilai RMB 1.4 milyar itu (+/- $150 juta) yg meliputi pembangunan kampus Institut Teknik dan Penerapan (apakah Polytechnic maksudnya?), Kota Turis, dan Dana Utk Pengentasan Kemiskinan. Tentu ini merupakan upaya yg patut dipuji, semoga saja berhasil dan tidak ada orang miskin di kabupaten itu lagi. Sementara baru2 saja saya baca Wang Jianlin baru beli Nordic Cinema Chain senilai hampir $1 milyar dan sebelumnya investasi di Hollywood dgn membeli perusahaan yg memproduksi Jurasic World senilai $3.5 milyar. Menurut Forbes nilai kekayaan Wang Jianlin $31.5 milyar. Dibanding dgn kekayaan beliau proyek mega pengentasan kemiskinan di Danzhai itu cuman sebesar 0.4 percent relatif amat sangat kecil sekali, dibandingkan dgn investasi di gedung bioskop juga cuman seujung kuku. Saya lihat tidak begitu banyak taipan Tiongkok yg terlibat dalam proyek philanthropy skala besar seperti Wang Jianlin ini padahal di Tiongkok ada sangat banyak billioner dan milliuner, itupun nilai philanthropy Wang ini cuman seujung kuku dibanding nilai kekayaan beliau. Seandainya, pajak-nya dinaikkan sedikit saja katakanlah cuman naik 1 percent utk pengentasan kemiskinan yg dikenakan hanya utk milliuner dan billioner tentu hal ini tidak mempengaruhi bisnis mereka tetapi dana yg terkumpul tentu akan berlipat ganda dan bisa dipakai utk proyek2 pengentasan kemiskinan dibanyak kabupaten dan provinsi, ---In [email protected], <SADAR@...> wrote : Bung Goei yb, Dalam pengertian saya, PEMERATAAN selama masih hidup dijaman kapitalis, untuk menghilangkan kesenjangan sosial sangat sulit, dengan kata lain tidak mungkin! Jadi pemerataan itu baru akan terjadi dengan Rev. Sosialisme macam Lenin dan diikuti juga oleh Mao ditahun 1956 itu membasmi kapitalis! Hanya saja, karena masyrakat yang dihadapi di Rusia maupun TIongkok ketika itu masih sangat miskin dan terbelakang, yang terjadi yaa pemerataan kemiskinan. Sulit untuk merubah mencapai kemakmuran bersama. Bahkan Sovyet runtuh dengan sendirinya, dan RRT untuk bisa terus tumbuh berkembang lebih baik, Deng dengan berani melakukan koreksi atas kesalahan yang telah terjadi. Dan dalam 30 tahun terakhir ini mencapai kemajuan yang luar-biasa seperti yang kita saksikan bersama. Seandainya saja pemerataan itu mengambil jalan menahan perkembangan kapitalis-perseorangan, jangan kasih kapitalis-kapitalis itu menjadi kaya, ... katakanlah dengan penarikkan pajak keuntungan lebih BESAR lagi, sampai satu saat tentu akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi nasional melambat bahkan merosot, apalagi kalau sampai pada titik kegairahan kapitalis untuk investasi dan usaha dihancurkan. Akibatnya akan lebih celaka bagi buruh-karyawan yang jatuh penganggur, ... Maka, sampai sekarang belum saya lihat langkah ngerem, menahan pertumbuhan kapitalis di RRT ini dijalankan. Masih tetap dibiarkan tumbuh berkembang menjadi lebih KAYA, dan itu tentu saja membuat kesenjangan kaya-miskin juga lebih besar, sekalipun taraf hidup buruh/karyawan juga sudah terangkat jauh lebih baik. Yang saya perhatikan terakhir ini, nampak usaha pemerintah mendorong kapitalis-kapitalis itu untuk ikut membantu mengentaskan kemiskinan yang masih ada didaerah pedalaman/pegunungan. Mendorong kesadaran Kapitalis-kapitalis yang baru tumbuh itu, ... bisa menjadi DERMAWAN. Akhir tahun yl. saya menemukan tulisan yang mengungkap bagaimana Wang Jianlin, kapitalis terkaya di RRT, di tahun 2014 datang ke Kuizhou, berinvestasi 1,4 Milyar Yuan mengentaskan kemiskinan lebih 38 ribu warga di kabupaten Danzhai, ... lebih dari 10 kali Wang harus berkunjung dan merancang bagaimana membangkitkan usaha didaerah pegunungan terbelakang dan miskin itu. Kapitalis terkaya ini datang sendiri berkunjung dan berbincang dengan warga miskin disitu. Dimulai dengan bangun usaha peternakan babi, pengairan dan meningkatkan mutu air, pembangunan jalan, perkebunan teh dan, ... membangun sekolah untuk menampung anak-anak di kabupatan Danzhai. Bagi yang mengerti bhs. TIonghoa, untuk mengikuti laporan lengkapnya klik link: http://www.gelora45.com/news/RenMin_20170117.pdf Sungguh luar biasa! Bagaimana mungkin bisa dibayangkan ada kapitalis begitu baik-hati berusaha mengentaskan kemiskinan? Tapi, itulah KENYATAAN yang terjadi, bahkan Wang sebelumnya juga sudah ikut membantu membangun jalan tol sepanjang 2000 Km. Memang masalah mengentaskan kemiskinan didaerah pedalaman yang terbelakang, yaa mesti ada modal untuk bangun usaha, entah produksi kerajinan tangan, peternakan, pertanian atau perkebunan, biar warga disitu bisa dapat pekerjaan dan penghasilan yang lebih layak! Didoronglah kesadaran pengusaha-pengusaha berhasil itu untuk ikut membantu. Nah, yang juga saya perhatikan bagaimana mereka membangun DESA-DESA maju dan makmur, dengan jalan membagikan SAHAM koperasi-desa itu pada petani! Jadi setiap warga desa berubah menjadi kapitalis pemilik saham desa itu dan setiap tahun dapatkan pembagian bonus keuntungan yang didapat hasil kerja bersama. Begitu cara mereka mempercepat peningkatan kekayaan rakyat banyak yg semula sangat miskin itu. Seandainya saja, kecepatan petani-petani itu menjadi makmur bisa lebih cepat lagi tentu kesenjangan sosial juga menjadi berkurang, bukan yang sudah kaya diatas ditarik turun, tapi mempercepat yang miskin dibawah itu terangkat naik keatas lebih makmur! Inilah menurut saya jalan terbaik, ... dengan demikian akan membuat perputaran roda ekonomi nasional bisa terus maju lebih cepat. Salam, ChanCT From: jonathangoeij@... [GELORA45] Sent: Wednesday, January 25, 2017 10:34 AM To: [email protected] Subject: Re: [GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan bisakah anda menjelaskan lebih lanjut bagian yg ini dgn sedikit contoh. kutipan: Nampaknya Tiongkok sedang berusaha mendorong konglomerat-konglomerat itu ikut aktif mengentaskan warga kemiskinan yang tertinggal, ... investasi didaerah pedalaman, penggunungan yang miskin dan terbelakang. ---In [email protected], <SADAR@...> wrote : Kesenjangan sosial yang masih terjadi di Tiongkok tidak perlu disangkal, itulah kenyataan yang ada! Tapi, adalah juga kenyataan bahwa Tiongkok telah berhasil mengangkat lebih 600 juta rakyatnya lepas dari kemiskinan dan sekarang masih tertinggal lebih 50 juta yang masih hidup digaris kemiskinan yang targetnya akan diselesaikan sebelum tahun 2020 yad, dan, ... ada ahli ekonomi yang berani menyatakan lebih dari 300 juta warga Tiongkok sudah masuk lapisan menengah-atas. Nampaknya Tiongkok sedang berusaha mendorong konglomerat-konglomerat itu ikut aktif mengentaskan warga kemiskinan yang tertinggal, ... investasi didaerah pedalaman, penggunungan yang miskin dan terbelakang. Salam, ChanCT From: jonathangoeij@... [GELORA45] Sent: Tuesday, January 24, 2017 12:35 PM To: [email protected] Subject: Re: [GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan bagaimana dgn ini: The average figure, however, is skewed by the huge disparity between urban and rural incomes. Urban households’ per capita income was 29,831 yuan – almost $4,500 a year. Rural households have a per capita income of only 9,892 yuan – about $4 dollars a day. http://www.realclearworld.com/articles/2016/09/16/china_is_still_really_poor_112050.html ---In [email protected], <ehhlin@...> wrote : Bagimsna dgn Tiongkok? On Jan 24, 2017 2:37 AM, "'Sunny' ambon@... [GELORA45]" <[email protected]> wrote: res : Pertumbuhan ekonomi bukan berarti distribusi pendapatan kepada penduduk dan oleh sebab itu kemiskinan tidak bekurang. Jadi jangan salah paham kalau pentolan-pentolan rezim pengusaha berbicara tentang pertumbuhan ekonomi 6 atau 7% per tahun, lantas bertepuk tangan sambil bersorak-sorak gembira ria seperti kambing mengembik mengikuti suara gembala di padang tandus. http://mediaindonesia.com/ news/read/88433/pertumbuhan- tidak-kurangi-kemiskinan/2017- 01-20 Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan Jum'at, 20 January 2017 00:20 WIB Penulis: Sri Mulyani Indrawati Menteri Keuangan ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya SAYA melihat di seluruh dunia banyak negara yang mengalami ketimpangan pesat dari mulai 0,35% sampai mendekati 0,5%. Bahkan di Amerika Latin sampai 0,7%. Artinya betul-betul cuma segelintir orang yang merasakan kesejahteraan. Brasil dikatakan sukses karena Presiden Lula mengoreksi dari 0,7% jadi 0,6%. Itu dalam satu dekade menjadi presiden. Satu upaya yang luar biasa keras. Indonesia saat mencapai 0,4% alarm berbunyi. Ini berbahaya. Komentar datang dari mana-mana, media massa, masyarakat, partai politik, hingga stakeholder, dan ini disuarakan. Presiden Jokowi merespons dengan berbagai kebijakan karena kita tidak ingin naik lagi. Ini tidak mudah karena harus berlanjut dalam jangka menengah. Kalau kita lihat angka kemiskinan, yang harus diwaspadai adalah pertumbuhan kita tidak bisa mengurangi kemiskinan secara lebih cepat. Intervensinya bukan hanya melalui cash transfer, tapi juga memotong tali kemiskinan antargenerasi. Kalau keluarga miskin tidak bisa memberikan nutrisi anak mereka sejak di dalam perut sehingga anak tidak sehat, tidak punya akses kesehatan, tidak punya akses pendidikan, pasti anak mereka akan miskin dan cucu mereka juga demikian. Inilah kemiskinan antargenerasi. Inilah yang dipotong dan akhirnya diciptakan kartu pintar, kartu kesehatan. Mungkin ini sifatnya terlihat populis, tapi ini kebijakan yang harus dilakukan. Dari sisi stabilitas, inflasi dan nilai tukar bisa mengalami stabilitas dengan komparasinya di dalam dan luar negeri. Di dalam negeri secara historis dan di luar dengan negara-negara setara kita. Inflasi 2016 ialah yang terendah dalam satu dekade terakhir dan nilai tukar kita bisa bertahan atau bahkan mengalami apresiasi cukup sedikit di 2016, ketika seluruh dunia mengalami pelemahan di saat dolar AS mengalami penguatan luar biasa. Daya saing Eksternal ekspor dan impor serta cadangan devisa kita relatif comfortable. Kalau kita lihat, cadangan devisa di atas US$100 miliar dengan ekspor dan impor yang selalu kita buat imbang. Yang paling penting adalah capital inflow atau arus modal karena mereka percaya terhadap prospek dan stabilitas ekonomi Indonesia. Bagaimana kita melihat tantangan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Kita lihat dalam konteks hari ini berarti berbicara mengenai konteks tentang bagaimana memberantas kemiskinan, bagaimana mengurangi ketimpangan, bagaimana membuat masyarakat kita produktif memiliki daya saing. Dari sisi institusi karena orang sering lupa bahwa keberhasilan suatu negara maju dia tidak hanya berdasarkan hanya dari pembangunan fisik, dia juga membutuhkan pembangunan institusi. Institusi harus memiliki tata kelola yang baik, bersih, dan efektif. Ada institusi yang bersih, tetapi dia tidak efektif maka tidak banyak berguna juga. Dia bagus untuk inspirasi, tetapi tidak mampu untuk melayani masyarakat. Jadi, kita perlu institusi yang tata kelolanya baik, bersih, tetapi efektif. Ini adalah tantangan pembangunan bagi banyak negara di dunia. Saya dalam kapasitas pekerjaan saya sebelumnya melihat banyak negara di dunia mengalami apa yang disebut middle income trap. Dia biasanya mampu dari negara miskin, yaitu pendapatannya di bawah US$1.000 per kapita menjadi sekitar US$3.000-US$3.500. Kemudian dia stuck saja di sana. Lama-lama sampai mendekati US$10 ribu-US$11 ribu per kapita, tetapi dia tidak pernah naik menjadi high income country. Biasanya ciri-cirinya ialah tata kelola dan institusi yang bersih dan efektif sangat tertinggal dari kemajuan ekonominya sehingga waktu muncul kelas menengah masyarakat yang menginginkan aspirasi pemerintahan yang bersih yang berfungsi dan akuntabel, selalu dikecewakan. Kekecewaan terus-menerus, apalagi menjadi penyakit yang sangat sering terjadi, adalah munculnya apa yang disebut elite capture. Ada sekelompok elite atau biasanya elite di dekat mereka yang sudah menguasai negara tersebut, yang hanya terus-menerus memfokuskan policy-nya untuk kebaikan elite itu sendiri, dan itu terjadi di banyak negara. Apakah itu namanya menjadi oligarki, atau menjadi kronisme, namanya bisa macam-macam. Tetapi Anda bisa lihat dari Afrika hingga Timur Tengah, Rusia, Amerika Latin, Asia, banyak negara yang tidak pernah bisa lepas dari elite capture itu, biasanya mereka mengalami trap di tengah. Ini adalah salah satu pekerjaan rumah yang sangat luar biasa di dalam institusi. Makanya kami di Kementerian Keuangan dari 10 tahun lalu hingga sekarang berbicara tentang reform. Itu karena saya percaya Indonesia berhak dan harus memiliki institusi yang kuat dan bersih serta akuntabel. Tanggung jawab kemenkeu Karena berbicara tentang Kementerian Keuangan, menjadikan APBN sebagai instrumen yang menjadi tanggung jawab kami. APBN merupakan instrumen pembangunan yang luar biasa penting. Di dalam menciptakan tidak hanya pertumbuhan, tetapi mendekatkan kita kepada tujuan menyejahterakan masyarakat yang adil dan makmur. Seperti sebuah APBN banyak negara, dia terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Dari sisi pendapatan negara, kalau kita lihat, tren 10 tahun terakhir peningkatan dari sisi revenue atau penerimaan. Namun, kalau tadi dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang terutama didorong komoditas, Indonesia dalam hal ini, kami belum mampu untuk meng-capture-nya dalam bentuk penerimaan pajak yang cukup besar. Ini adalah PR yang cukup besar kalau kita lihat dari rasio penerimaan kita mengalami penurunan. Ini yang kemudian muncul indikator bahwa Indonesia dianggap sebagai negara yang inequality dan bahkan sudah masuk kepada sektor-sektor yang dianggap di-capture dan tidak mampu kita pajaki sehingga benefit dari sektor tersebut, terutama pertambangan, infrastruktur besar hanya dianggap menguntungkan untuk kelompok yang di atas daripada kelompok yang di bawah. Kegiatan pertambangan di Indonesia ketika economic boom pada saat komoditas tinggi, dia tidak membayar pajak sehingga negara tidak mampu melakukan redistribusi. Ini pekerjaan rumah yang luar biasa besar. Kalau sekarang kita melakukan tax amnesty karena kita yakin bahwa kita perlu melakukan deklarasi dan melihat, melakukan pemetaan terhadap potensi penerimaan negara. Belanja negara telah mencapai Rp2.080 triliun dan ini peningkatan yang cukup besar. Namun, kalau dilihat dari GDP kita, sebetulnya juga tidak terlalu besar. Jadi, kalau kita lihat APBN Indonesia, kita mampu untuk lari atau belanja lebih banyak apabila kita mampu mengumpulkan penerimaan yang lebih banyak. - See more at: http://mediaindonesia.com/ news/read/88433/pertumbuhan- tidak-kurangi-kemiskinan/2017- 01-20#sthash.FMloo7ek.dpuf
