Ceritanya agak panjang tetapi tentunya anda lebih tahu, awalnya dari UU Pilkada 
Tidak Langsung yg dikeluarkan DPR lama hasil pembahasan bersama Mendagri 
Gamawan Fauzi yg kemudian menuai protes keras itu, Presiden SBY kemudian 
mengeluarkan PERPPU Pilkada Langsung utk mengganti UU Pilkada Tidak Langsung. 
PERPPU itu dgn sedikit perubahan kemudian dijadikan UU Pilkada 2015 yg hampir 
memakan korban Risma Walikota Surabaya yg di "calon-tunggal"kan, DPR kemudian 
merevisi lagi jadi UU Pilkada 2016 kali ini calon independen dipersulit 
sedemikian rupa.


---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Nah, siapa yang membuat undang-undang untuk kepentingan para bajingan seperti 
itu?
 

 Kaum penjajah juga bekerja dengan melindungi dirinya secara hukum melalui 
perundang-undangan.
 

 Siapa yang memberi legitimasi kepada partai untuk membuat undang-undang? 
 

 

 --- jonathangoeij@... wrote:
 Saya lihat persoalan yang ada terletak pada UU Pilkada 2016 yang notabene 
tidak memberi kesempatan pada masyarakat untuk mengajukan calon diluar partai 
politik yang ada, istilahnya calon perseorangan atau independen. Persyaratan 
surat dukungan ditambah KTP sedemikian banyak amat sukar dilakukan, selain itu 
sistem verifikasi faktual dengan metode sensus atau bertemu langsung tatap muka 
satu demi satu itu benar2 mendekati mustahil.
 

 Masalah lain adanya ketentuan kepala daerah lain harus mengundurkan diri kalau 
jadi calon, hal yg menjadi bantu sandungan besar mereka2 yg berprestasi dan 
sebenarnya mempunyai peluang yang besar.
 

 Dengan sistem yang ada sekarang ini akibatnya mereka2 yg maju jadi pesaing itu 
sebenarnya tidak kompeten tidak ada yg bisa dijual yg bisa kita lihat pada 
Pilkada DKI ini, yang dijual hanyalah bayang2 yg mboten2 yg lebih cenderung 
iming2 beli suara, sekedar utopis belaka. Celakanya karena menyadari ketidak 
kompetenan ini jadinya yang dijual malah SARA, benar2 hancur2an. Ciaklat!
 

 Seandainya saja calon independen itu tidak dipersukar sedemikian rupa, juga 
kepala daerah lain boleh mencalonkan diri tanpa harus kehilangan jabatannya 
yang sekarang, mungkin yg akan kita lihat Dolly dan Taman Bungkul vs. Kalijodo 
dengan skateparknya, universitas gratis vs. KJP, Kenjeran vs. Teluk Jakarta 
dlsb dlsb, apa saja yg telah dan akan dilakukan untuk mengatasi banjir, 
kemiskinan, pendidikan, penciptaan lapangan kerja, dll dll yg jauh lebih 
bermutu dibandingkan wacana penista agama. jenazah tidak disalatkan, isu2 
primitif itu. 
 

 

 ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :


 Ya, seperti yang saya bilang selama ini, sistem pemilihan umum yang 

 ada sekarang samasekali bukan untuk kepentingan Rakyat. 

 Pemilu terbukti cuma untuk kepentingan parpol dan orang-orang 

 yang mereka usung. Rakyat hanya dijadikan alas kaki orang-orang partai 

 untuk memasuki kawasan korup. Tambah konyol lagi, sejak pilgub 

 DKI 2012 Rakyat si alas kaki dipaksa berbenturan dalam sistem pemilu 

 ala kontes idol-idolan ini.
 

 Kurangajarnya, benturan sesama Rakyat ini diperluas ke skala nasional 


 mulai pilpres 2014, di mana para "alas kaki" dibuat ngotot membela 

 idola masing-masing sedangkan partai-partai asyik berhaha-hihi semeja 

 dan korupsi bareng. Nah, kali ini, melalui omongan Djarot, saya tunjukkan 

 secuil pertanda bagaimana partai menempatkan Rakyat hanya sebagai 

 alas kaki partai.
 


 Memang, Djarot terlihat mengutip omongan Ahok sampai "blabla" itu.
 Selebihnya, jelas dia bicara dengan memakai sebutan "kita". Waktu ditanya 

 siapa yang dia maksud dengan "kita", Djarot menjawab: "saya dan PDIP".
 


 Sekarang kita lihat kronologisnya. Pertama, persyaratan dari KPU untuk 

 calon perseorangan di DKI al. adalah pengumpulan KTP pendukung 

 sekurangnya 500 ribuan. Lalu, kita dengar pada bulan April 2016 Teman Ahok 

 berhasil kumpulkan lebih dari 500 ribu KTP (ada pesta syukurannya).
 

 Kedua, syarat KTP ini tiba-tiba dirobah. Ditambah menjadi satu juta KTP. 

 Tentu saja mengejutkan, walau tidak mengherankan. Apalagi perhatian 

 masyarakat saat itu sedang teralih ke berbagai peristiwa penting lain 
(semisal.. 

 pengunduran diri drummer Burgerkill, band kesukaan Jokowi, serta 

 mulai diputarnya film "My Stupid Boss" di bioskop, hahaa)... 


 

 Ketiga, tahu-tahu pada bulan Juni 2016 Teman Ahok syukuran lagi. 

 Katanya, 1 juta KTP terkumpul sudah.

 

 Dari kronologis tsb, omongan Djarot ini jelas menguak sebab-musabab
 batalnya Ahok maju sebagai calon perseorangan. Ternyata ada si "kita" 

 yang mendepak Teman Ahok dengan merobah persyaratan jumlah KTP. 

 

 Pertanyaannya, siapa saja sebenarnya si "kita" itu, kok bisa-bisanya mengatur 

 pemerintah (Kemendagri) dan KPU untuk tiba-tiba merobah persyaratan.


 

 Buat sebagian orang mah, siapa pun la cosa nostra itu, akibatnya sudah jelas: 

 Rakyat, terutama pendukung paslon, cuma dijadikan alas kaki mereka.
 Pemilu telah disalahgunakan untuk melegalkan kekuasaan mafia. 

 

 --- jonathangoeij@... wrote:
 


 
 apakah anda bermaksud menunjukkan kata2 Djarot yg ini:
 

 “Kalau Pak Gubernur mau melalui jalur perseorangan silakan,

 tetapi kita sudah berbeda prinsip. Beliau ngomong, waduh 

 ini gimana anak muda ini blabla… Sudah, kita anggap eksperimen 

 saja ini. Kita berikan persyaratan yang berat-berat supaya 

 tidak tercapai itu, ee...nyatanya tercapai. Sampe diberikan batas 

 satu juta (KTP) katanya tercapai gitu ya.” (menit 3:30)
 

 Saya rasa si Djarot quote Ahok terlihat dari kata "Beliau ngomong" mungkin 
benar Ahok memberi syarat yg berat seperti pengumpulan ktp ulang dan terus 1 
juta ktp padahal persyaratan KPU cuman 600 ribu.
 

 Tetapi ada benarnya juga kalau Ahok bisa mencampakkan Teman Ahok begitu saja 
beliau juga bisa dgn enteng mencampakkan yg lain termasuk jabatan gubernur utk 
kemudian jadi cawapres atau bahkan capres. Dalam hal ini si Djarot tentu tidak 
masalah sama sekali karena kemudian beliau yg akan jadi gubernur.
 

 --- ajegilelu@... wrote :


 Kalau linknya tidak bisa dibuka, coba klik yang ini:
 

  beuh..beuh..beuh..... https://www.youtube.com/embed/HjAzSRhSJmc
 

   [FULL] Kabar Tokoh - Djarot Saiful Hidayat: Di Jakarta Masih Banyak yang 
"Main" (2/11/2016) - YouTube https://www.youtube.com/embed/HjAzSRhSJmc
 

 

 From: ajeg
 

 Pada akhirnya keputusan memang di tangan Ahok, tapi coba
 simak omongan Djarot dalam video ini: 


 
bla..bla..bla..... 
https://groups.yahoo.com/neo/groups/gelora45/conversations/messages/202518?soc_src=mail&soc_trk=ma

 

 Teman Ahok yang memperjuangkan kepentingan Ahok saja 


 ditinggalkan begitu saja. Tentu bukan masalah samasekali 

 bagi Ahok & Megawati untuk juga mengabaikan kepentingan 

 warga DKI.
 

 --- jonathangoeij@... wrote:
 
 Tentang mencampakkan jerih payah Teman Ahok mengumpulkan 1 juta ktp itu saya 
rasa keputusan si Ahok sendiri PDIP waktu itu masih belum memutuskan mengusung 
Ahok, suatu hal yang mengecewakan sebetulnya. Mungkin benar PDIP tidak akan 
mendukung kalau melalui jalur independen, tetapi mencampakkan hasil kerja 
tahunan Teman Ahok yg memutuskan ya Ahok sendiri.

 



 --- ajegilelu@... wrote :




 

 Padahal, keputusan Mega untuk merampas Ahok dari 


 anak-anak muda ("Teman Ahok") sudah merupakan tamparan
 bagi kader PDIP yang lebih menginginkan cagub DKI dari 

 kalangan PDIP sendiri. Jadi, kalau Ahok-Djarot kalah ya harusnya 

 Megawati inilah yang dihukum kader.
 

 Tapi ya namanya juga Megawati, mengharuskan menang begini
 kan sama saja memaksa kader PDIP untuk menghalalkan segala cara.
 Nah, kalau akhirnya berhasil Ahok menang di pilkada tapi kalah 

 di pengadilan, maka inilah cara mudah untuk mengerek anak PDIP 

 menggantikan Ahok.

 Hehe Megawati, tentu terus terngiang kata-kata Ahok yang 

 mengecilkan peran & jasa ibu ketum dalam menjadikan Jokowi 

 sebagai presiden. Sebab, menurut kata-kata Ahok, Jokowi 

 mustahil jadi presiden kalau tanpa bantuan cukong pengembang.

 -
 


 Mega Akan Hukum Kadernya Jika Ahok-Djarot Kalah Pilkada
  
 Rabu, 15 Maret 2017 - 12:41 WIB
  
 JAKARTA (Pos Kota) – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan 
Basuki Tjahaja Purnama serta Djarot Saiful Hidayat akan melakukan pertemuan 
dengan relawan bersama dengan pasangan di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta 
Pusat, Rabu (15/3/2017).
  
 Juru Bicara Tim Pemenangan Basuki-Djarot Eva Kusuma Sundari mengatakan, 
pertemuan dengan relawan dilakukan untuk konsolidasi relawan. Pertemuan 
dilakukan karena Eva menilai relawan dari partai pengusung berjalan 
sendiri-sendiri.
  
 “Ketemu relawan untuk menguatkan. Selama ini kan partai dan relawan kelihatan 
jalan sendiri-sendiri. Ini lebih menguatkan bukan evaluasi,” katanya saat 
dihubungi Rabu (15/3/2017).
  
 Politisi PDI Perjuangan ini sempat berseloroh mengenai sikap Megawati jika 
pasangan petahana kalah pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
  
 “Bu Mega udah ngajak memenangkan, kalau Ahok-Djarot kalah bakal dihukum PDIP, 
suka gak suka mesti menangin,” tutupnya sambil tertawa.
 
 (ikbal/sir)
 














































Kirim email ke