Pada Selasa, 5 September 2017 19:57, "Roeslan [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
 

     Hi Nasere kamu harus jujur !!! Kamu menulis nasionalisasi  roeslan 
komunis. Stempel komunis itu selalu digunakan oleh orang-orang pendukung 
Orba,seperti FPI  dan sebangsanya. Polapikir semacam itulah yang kamu  ikuti.  
Oleh karena itu sungguh relevan jika saya katakan bahwa kamu itu sejatinya 
adalah pensukung setia Rezim militer fasis Suharto, yang secara aktif 
menggunakan tuduhan komunis kepada siapa saja yang mengkritik Jokowi. 
Selanjutnya saya tidak akan melayani kau Nasere, karena percuma berdiskusi 
dengan oprang yang sama selkali tidak hujur.!!!   Roeslan  Von: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Dienstag, 5. September 2017 14:21
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung    Bung Karno diberi stempel komunis oleh Orba?Kapan ini? siapa yang 
kasih stempel? Dimana? Yang benar: bung Karno dicap sebagai pendukung PKI 
tetapi bukan dicap sebagai komunis.  Kalau mau lebih kritis: bukan soeharto 
yang men cap komunis itu kepada lawan politiknya. Itu konteksnya perang dingin. 
Soeharto menggunakan hantu komunisme itu karena diajarin oleh bosnya yaitu USA 
yg menggunakan hantu komunisme diberbagai negara. Tidak usah dicap pun, bung 
Karno sudah mengatakan al: dia Marxist (bung Karno gak pernah bilang dia 
komunis); anti komunis phobia; Pancasila kiri; kontribusi kelompok kiri; 
pelarangan marxisme dll. Dia menekankan dan bilang dirinya adalah Marxist. 
Bentuknya di RI adalah marhaenisme. Dia gak pernah bilang dirinya seorang 
komunis. dia juga terang2an bilang pimpinan PKI keblinger…..dst…dst…. Ini kata2 
bung Karno:Komunisme, marxisme, sosialisme atau dengan nama apapun timbul 
daripada sociale verhoundingen (baca: relasi sosial ekonomi). (Pidato Sukarno 
di hadapan delegasi Angkatan 45, di Istana Merdeka, Jakarta, 6 September 1966) 
Pendek kata, kalau saudara mengaku atau menamakan dirimu anak Bung Karno, saya 
tidak mau punya anak yang tidak kiri. Ya, saya tidak mau punya anak yang tidak 
kiri. Kalau yang cuma mulutnya saja progresif revolusioner, tetapi di dalam 
hatinya sebetulnya kanan. (Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan 
Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965) Pendek kata, kalau social 
economische verhoudingen (keadaan sosial ekonomi) kita baik, tidak bisa ini 
komunisme tumbuh. Tidak dengan cara menggorok orang-orang yang dinamakan 
komunis. (Pidato Sukarno di hadapan delegasi Angkatan 45, di Istana Merdeka, 
Jakarta, 6 September 1966) Presiden pertama RI Soekarno sempat dicap sebagai 
pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Tuduhan itu berujung pada pencabutan 
kekuasaan Soekarno melalui TAP MPRS XXXIII Tahun 1967 tertanggal 12 Maret 1967. 
Dalam pasal 6 TAP MPRS ini, pejabat presiden jenderal Soeharto diserahkan 
tanggung jawab untuk melakukan proses hukum secara adil untuk membuktikan 
kebenaran dugaan pengkhianatan Presiden Soekarno tersebut. Dimana ada cap 
komunisme dari soeharto ke bung Karno? Apalagi dalam konteks nasionalisasi 
perusahaan asing? Yang lebih penting dari mana bung menarik kesimpulan bahwa 
saya adalah “pendukung setia orba Suharto”? Tulisan saya yang mana yang bikin 
bung menarik kesimpulan ini? Saya hanya menulis sejarah.Nasionalisasi itu hanya 
terjadi dalam 2 keadaan: revolusi dan di negara komunis. Memangnya bisa terjadi 
dalam keadaan apa lagi?  Nesare   From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, September 5, 2017 6:43 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: AW: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   Jawaban bung saya tanggapi sebagi hasil kebodohan bung dalam memahami 
nasionalisme revolusioner seperti Bung Karno, yang pernah mengambil alih 
perusahaan-perusahaan asing di Indonesia, tanpa ganti rugi; yang oleh Orde Baru 
Suharto dan kaum Neokolonialis pimpinan imperiakisme A S; Bung Karno lalu lalu 
diberi stempel komunis, dan atas dasar itulah, maka bung Karno ditumbangkan dan 
dibunuh secara sadis . Polapikir seperti Suharto dan para majikannya yaitu kaum 
Neokolonialisme dan Inmperioalisme, inilah SUMBER KEBODOHAN, yang melekat erat, 
dan meracuni kesadaran pribadi bung, yang tercermin dalam bentuk: pola pikir 
mekanistik dalam konteks memberi stempel komunis pada siapa saja yang anti 
neolibralise, anti kolonialisme dan imperialisme, termasuk pada saya.  Bagus, 
dengan demikian Kebodohan bung itu secara jelas telah menbuka hakekat pribadi 
bung yang sebenarnya, yaitu : Bung itu sebenarnya adalah  pendegukung setia 
orde Baru Suharto, yang berpura-pura sebagai seorang nasionalis sejati yang 
paling baik, dan pendukung Bung Karno. Tapi cetusan-cetusan bung telah membuka 
lebar-lebar hakekat bahwa bung sejatinya adalah seorang pendukung rezim 
diktator militer Suharto, yang sudah Kronis menderita penyakit Komunistophobi. 
Karena dalam cetusan-cetusan anti komunisme bung itu tanpa menunjukkan 
bukti-bukti yang akurat, bung lemparkan begitu saja tanpa menggunakan akal 
sehat, karean system berpikir bung telah rusak, gara-gara menggunakan cara 
berpikir yang bedasarkan pada idola-idola. Gara-gara mengidolakan Jokowi , maka 
semua orang yang mengkriki Jokowi langsung di beri stempel komunis, tanpa 
bertpikir panjang.  Roeslan Von: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Gesendet: Dienstag, 5. September 2017 00:52
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   Roeslan: NASIONALISASI ADALAH PROSES DI MANA NEGARA MENGAMBIL ALIH 
KEPEMILIKAN SUATU PERUSAHAAN MILIK SWASTA ATAU ASUNG. Nesare: setuju ini benar. 
Dinegara apa bisa terjadi hal ini? Bagi saya hanya di negara komunisme. Kenapa? 
Karena dinegara komunisme tidak ada kepemilikan individu. Ini dasar 
berpikirnya. Jadi perusahaan asing akan dinasionalisasikan ketika komunisme 
menang. Apakah ini salah?Bung kan mau nasionalisasi 100% gratis/gak bayar dan 
hanya bisa terjadi dinegara komunisme. Sekarang RRT dan kuba yang masih disebut 
negara komunisme saja sudah tidak bisa menerapkan nasionalisasi ini lagi. 
Kenapa? Karena system ekonominya sudah dibuka dan menganut kapitalisme. Saya 
sudah bilang sebelumnya nasionalisasi itu ada karena 2 hal: revolusi dan 
komunisme. Komunisme sendiri sudah tidak ada lagi bentuk nyatanya sekarang ini 
(baca: tidak ada negara komunis lagi didunia ini sekarang). Yang ada hanyalah 
negara sosialisme. Ini yang ditentang oleh tatyana. Saya sudah berulang2 kali 
nulis sosialisme itu adalah peralihan dari kapitalisme ke komunisme. Istilah 
remo yg dilabelkan tatyana ke chan itu adalah sosialisme. Tolong jelaskan 
bagaimana cara bung mau menasionalisasikan PTFI itu? Merubah RI menjadi 
komunisme dulu?Atau mau revolusi lagi? Pertanyaan terakhir: apakah bung tidak 
berani menyatakan diri sebagai komunis? saya sudah lemparkan pertanyaan ini ke 
tatyana tetapi tidak pernah dijawab. Jelas sekali ideologi bung berdua adalah 
komunisme. Moso’ malu bilang begitu. Saya saja tidak malu bilang saya 
kapitalis. Saya gak pernah bilang kapitalisme hebat. Sedangkan bung berdua yang 
selalu mencerca kapitalisme yang sudah dianut seluruh dunia.  Kalau jawaban 
atas pertanyaan terakhir saya ini adalah bung bukan komunis, artinya saya salah 
mengatakan “nasionalisasi roeslan ala komunisme”. Saya akan tarik klaim saya 
ini.  Silahkan diklarifikasi! Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, September 4, 2017 3:05 PM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: AW: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   Nampaknya bung Nesare ini telah menjadi murit setianya Orde baru  
Suharto, sehingga kejangkitan penyakit Komunistophobi, ini tercermin dalam 
tulisannya yang menyatakan bahwa Nasionalissi roeslan ala komunis.  Wah hebat 
betul cuci otak yang telah dilakukan oleh rezim militerfasis suharto, sampai 
sampai seorsng terpelajar seperti  Nesare tak bisa  membedakan antara 
nasionalisasi dengan komunisme.Setiap orang bilang Nasionalisasi lalu distempel 
Komunis. Ini membutikan bahwa nesara itu sejatinya adalah murit yang paling 
setia pada Rezim milkiter fasis Suharto. Saya tidak yakin bahwa Nesare  bisa 
memahami apa yang dutulis  di Wikipedia Indonesia, bahwa NASIONALISASI ADALAH 
PROSES DI MANA NEGARA MENGAMBIL ALIH KEPEMILIKAN SUATU PERUSAHAAN MILIK SWASTA 
ATAU ASUNG.  Mengambil alih itu artinya seluruh perusahaan (100%) disita tanpa 
bayar sepeserpun Kutipan Wikipedia Indonesia dibawah ini saya ambil dari Google 
(bukan karangan saya). Sekarang ganti bung harus menjelaskan apa yang bung 
maksud Nasionalisasi ala komunis harap bung jelaskan secara ilmiah!!! Ini 
penting buat kita semua.  Semoga bung bisa sembuh dari penyakit komunistophobi. 
Roeslan.  WIKIPEDIA INDONESISA 
Nasionalisasi 
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasNasionalisasi adalah proses 
di mana negara mengambil alih kepemilikan suatu perusahaan milik swasta atau 
asing. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, negara yang bertindak sebagai 
pembuat keputusan. Selain itu para pegawainya menjadi pegawai negeri. Lawan 
dari nasionalisasi adalah privatisasi.  Von: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Gesendet: Sonntag, 3. September 2017 17:02
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   Hehehehehe dulu dengan sombongnya bilang nasionalisasi (eh 
nasionalisasi yg ente maksud = beli saham) freeport. Sekarang rejim Jokowi 
sudah setuju beli 51% saham yg duitnya gak tahu dari mana, eh ente ngomong ini 
seperti menyuntik duit.Sombongnya (baca: gobloknya) minta ampun. Persoalan 
freeport itu bukan hanya persoalan bisnis saja. Itu persoalan “Corporate 
America” yg menjadi soko guru negara ente. Disinggung sedikit saja bisa ngamuk 
negara ente. Kenapa ngamuk? Karena “Corporate America” itu adalah alat yg 
digunakan utk menjajah dalam sejarah modern dunia ini terutama setelah menang 
PD2.Baca tulisan chan yg gak sok tahu. Teknis main saham nya saja ente ngak 
ngerti (mana ngerti ente kalau jual beli saham pakai blok blokan?!!). Belum 
lagi isi perut dalamnya freeport. Begitu juga: kemampuan teknis Indonesia dalam 
mengelola; apakah masih feasible utk dikelola; USA kalau marah akan ganggu RI 
tidak plus serangan2 baik langsung maupun pre emptive dll. SUDAH DIAM KAN?!!! 
KABUR KEMANA ENTE?!!!  Ni baca tulisan ente yg dulu: 12/6/2015Oon, 
nasionalisasi itu perlu biaya baik itu di BUMN-kan ataupun di provatisasi, 
terkecuali Indonesia mau menjadi negara "tirai rotan".

---In [email protected], <nesare@...> wrote :Bung Roeslan ngerti tidak 
apa yang dimaksud oleh jonathan dengan nasionalisasi Freeport itu? Ini tulisan 
jonathan selanjutnya: Harga saham Freeport saat ini lagi murah2nya, ditambah 
berita licensing tidak akan diperpanjang harganya bisa "dirt-cheap". Saat yang 
tepat sekali untuk nasionalisasi. Nasionalisasi Freeport versi jonathan itu 
adalah beli saham Freeport yang sedang murah.Dia ini lagi ngomong dalam konteks 
neoliberal.Dari dulu jonathan ini sudah saya telanjangi bahwa dia itu bukan 
democrat. Dia ngomongnya adalah registered democratic party di USA. Tetapi isi 
sebetulnya, dia itu adalah anggota partai democrat krn unsur pragmatisme saja, 
tetapi bukan idealisme. Jadi jonathan itu bukan orang kiri. Beda dengan bung 
Roeslan yang memang orang kiri. Hati2 kalau menyetujui ide seseorang. Memangnya 
ini yang dimaksud nasionalisasi bung Roeslan? SalamNesare  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, December 04, 2015 2:53 PM
To: GELORA45@yahoogroupscom; 'Jonathan Goeij'
Subject: AW: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!   Usulan yang bagus bung JG, saya juga 
setuju, karena menasionalisasi Freeport itu sejalan dengan Pasal 33 UUD45. 
Salam,  Roeslan Von: GELORA45@yahoogroupscom [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Freitag, 4. Dezember 2015 21:31
An: [email protected]
Betreff: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!  Saya kok setuju Freeport di nasionalisasi, 
dengan demikian kepentingan US di Papua akan berkurang banyak bahkan mungkin 
tidak ada lagi, resolusi PBB agar diadakan referendum penentuan nasib sendiri 
bisa gol karena tidak ada lagi negara besar yg menghalangi.

---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :

Karakter penguasa pemerintahan Indonesia sekarang ini komprador atau
bukan? Apa mungkin komprador mensita milik tuannya? From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, September 2, 2017 10:22 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   
Melihat apa yg akan dilakukan dgn divestasi 51% ini, kok sepertinya pihak 
Indonesia jadinya kayak menyuntik dana. Freeport Indonesia go public di BEJ dan 
telah terjamin ada yg beli 51% sahamnya.

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :Dilihat sepintas apa yang 
bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi, apakah masalah Freeport, 
tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu sederhana? Kalau begitu sederhana 
kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan Freeport saling ngotot bertahan pada 
pendapat masing-masing, dan diahri terakhir pihak Freeport baru ngalah dan 
bersedia devestasi untuk bisa memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana 
masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa? 
RI atau Freeport yang lebih diuntungkan, ..? Saya melihat KESALAHAN pihak RI, 
dari penandatanganan menyerahkan Freeport membuka tambang emas ini di tahun 
1967! Dimana Suharto sepenuhnya menyerahkan pada Freeport tanpa ada usaha 
memperjuangkan keuntungan/kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia sebagai 
PEMILIK HARTA BUMI kekayaan Nusantara ini! Disini perbedaan PRINSIP antara 
Suharto dan Deng saat jalankan politik buka-pintu, mengundang masuk 
MODAL-ASING! Deng b erusaha dengan masuk modal-asing, rakyat TIongkok bisa 
diuntungkan, belajar dan akhirnya menguasai usaha yang dijalankan itu! Tidak 
lebih dari 20 tahun, rakyat Tiongkok bisa menguasai dan bikin sendiri segala 
produksi yang dikerjakan modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip BERDIKARI, 
KREATIF, rakyat Tiongkok berhasil mengembangkan prinsip-prinsip teknologi yang 
berhasil dikuasai itu! Sedang Suharto, TIDAK! Yang diperhitungkan berapa besar 
KOMISI yang bisa masuk kantong sendiri, bagaimana kesejahteraan rakyat tidak 
peduli, ... begitulah akhirnya rakyat banyak tetap menderita kemiskinan, 
ekonomi nasional belum berhasil keluar dari lembah keterpurukkan sampai 
sekarang.  Yang menjadi problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021, 
sudah bisa dan mampukah RI meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus 
diperhitungkan serius oleh pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh 
Freeport yang jumlahnya belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu, 
tentu ada 2 cara, melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain. 
Nampaknya RI memilih Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan 
LEBIH BESAR pada RI! Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil 
cara minta 51% saham dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport 
sebagai jalan yang dianggap paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan 
usaha sampai 2041. Dan jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai 
kemana-mana! Dan sangat saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK 
itu, kemungkinan juga tidak menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper 
teknologi penampangan pada pihak pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa 
menjalani sendiri usaha tambang emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS! 
Salam,ChanCT  From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] Sent: Saturday, 
September 2, 2017 2:59 AMTo: Yahoogroups Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham 
Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung   Kelihatannya banyak yang bermata 
jernih bisa melihat hal simple seperti ini. ---Ketiga, Redhi menilai pembelian 
saham divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan 
yang sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham 
divestasi pun maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT 
Freeport menjadi milik Pemerintah Indonesia..30 August 2017 09:10 WITA
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung
Editor: Adil Patawai AnarRAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam 
Universitas Tarumanegara, Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan 
melalui perundingan antara PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan 
keuntungan bagi Pemerintah Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan 
perundingan mengandung masalah. Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport 
tidak sesuai dengan UU Minerba. Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui 
penetapan WPN yang harus disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan 
kepada BUMN. Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport 
yang di waktu yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun. 
Namun hingga saat ini belum ada progres terkait hal tersebut. "Toh hingga detik 
ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah strategis untuk bisa 
menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," ujar Redhi, dilansir 
republika.co.id, Rabu (29/8/2017). Ketiga, Redhi menilai pembelian saham 
divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang 
sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun 
maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport 
menjadi milik Pemerintah Indonesia. Terkait divestasi saham oleh PT Freeport, 
sesungguhnya dalam KK perpanjangan 1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT 
Freeport yang harusnya pada tahun 2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah, 
namun faktanya hingga detik ini kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga 
direalisasikan PT Freeport. Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk 
mengukuhkan kembali PT Freeport untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang 
kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia sangat rendah. 
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport 
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport 
kepada generasi saat ini," ujar Redhi.  #yiv9491025063 #yiv9491025063 -- 
#yiv9491025063ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 
0;padding:0 10px;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-mkp #yiv9491025063hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-mkp #yiv9491025063ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-mkp .yiv9491025063ad 
{padding:0 0;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-mkp .yiv9491025063ad p 
{margin:0;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-mkp .yiv9491025063ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-sponsor 
#yiv9491025063ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063ygrp-sponsor #yiv9491025063ygrp-lc #yiv9491025063hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063ygrp-sponsor #yiv9491025063ygrp-lc .yiv9491025063ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9491025063 #yiv9491025063actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9491025063
 #yiv9491025063activity span {font-weight:700;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9491025063 #yiv9491025063activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9491025063 #yiv9491025063activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9491025063 #yiv9491025063activity span 
.yiv9491025063underline {text-decoration:underline;}#yiv9491025063 
.yiv9491025063attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9491025063 .yiv9491025063attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9491025063 .yiv9491025063attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9491025063 .yiv9491025063attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9491025063 .yiv9491025063attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9491025063 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9491025063 .yiv9491025063bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9491025063 
.yiv9491025063bold a {text-decoration:none;}#yiv9491025063 dd.yiv9491025063last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9491025063 dd.yiv9491025063last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9491025063 
dd.yiv9491025063last p span.yiv9491025063yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9491025063 div.yiv9491025063attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9491025063 div.yiv9491025063attach-table 
{width:400px;}#yiv9491025063 div.yiv9491025063file-title a, #yiv9491025063 
div.yiv9491025063file-title a:active, #yiv9491025063 
div.yiv9491025063file-title a:hover, #yiv9491025063 div.yiv9491025063file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9491025063 div.yiv9491025063photo-title a, 
#yiv9491025063 div.yiv9491025063photo-title a:active, #yiv9491025063 
div.yiv9491025063photo-title a:hover, #yiv9491025063 
div.yiv9491025063photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9491025063 
div#yiv9491025063ygrp-mlmsg #yiv9491025063ygrp-msg p a 
span.yiv9491025063yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9491025063 
.yiv9491025063green {color:#628c2a;}#yiv9491025063 .yiv9491025063MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9491025063 o {font-size:0;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063photos div {float:left;width:72px;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9491025063
 #yiv9491025063reco-category {font-size:77%;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063reco-desc {font-size:77%;}#yiv9491025063 .yiv9491025063replbq 
{margin:4px;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063ygrp-mlmsg select, #yiv9491025063 input, #yiv9491025063 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063ygrp-mlmsg pre, #yiv9491025063 code {font:115% 
monospace;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-mlmsg #yiv9491025063logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-msg 
p#yiv9491025063attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063ygrp-reco #yiv9491025063reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-sponsor 
#yiv9491025063ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063ygrp-sponsor #yiv9491025063ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063ygrp-sponsor #yiv9491025063ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9491025063 #yiv9491025063ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9491025063 
#yiv9491025063ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9491025063 

   

Kirim email ke