Saya kenal banyak orang, terutama generai muda, yang sama sekali tidak punya
latar belakang keluarga korban 65 dengan jelas dan gamblang menyatakan bahwa
yang bunuh 6 jenderal dan 1 kapten adalah Cakrabirawa, artinya TENTARA. Kalau
orang mau mengakui bahwa itulah faktanya, maka anak-anak para jenderal itu,
seperti Letjen Agus Wijoyo, kalau mau rekonsiliasi, ya SEHARUSNYA dengan
anak-anak para PEMBUNUH ayah mereka, yaitu anggota Cakrabirawa yang melakukan
serangan, penculikan dan pembunuhan itu, bukan? Mengapa mereka
ber"rekonsiliasi" dengan satu dua anak penggede PKI dan anggota Gerwani atau
korban pemenjaraan, penyiksaan dan pembuangan rezim Suharto??? Kelihatannya,
sementara anak penggede PKI dan sementara korban 65 yang tampil untuk jadi
"contoh" rekonsiliasi dengan sementara anak jenderal-jenderal, tidak sadar
bahwa mereka digunakan oleh media dan "otak" di belakang etalase rekonsiliasi
justru untuk terus memfitnah PKI sebagai "pembunuh" 6 jenderal dan kapten
itu.Dan disini masuk peran si remo dan renegad Chan yang membantu pendukung
ORBA dengan turut mengorek-ngorek 'kejahatan' PKI untuk "membuktikan" dan
menuntut PKI untuk bertanggung jawab atas banjir darah 65-66!!!!
Letjen Agus Wijoyo walaupun sudah mengakui dan percaya bahwa keenam jenderal
dan kapten itu tidak disiksa atau disayat-sayat badannya dan kemaluannya, tapi
TETAP MENGANGGAP PKI MELAKUKAN PEMBUNUHAN DAN MENEROR MASYARAKAT. Dibawah ini
kata-katanya:…” PKI harus bertanggung jawabatas kekerasan yang mereka lakukan
di tahun 1948, pada 1 Oktober 1965 dansebelumnya. Mereka melakukan pembunuhan
dan meneror masyarakat. Puncaknyaadalah membunuh para jenderal di malam kelam
tersebut.”.
Pandangan Agus Wijoyo ini PADA HAKEKATNYA senafas dengan pandangannya si Remo
dan renegad Chan. Kelihatan sekali kebenciannya terhadap PKI. Yah, tidak
heran!!! Dan juga kelihatan letjen Agus Wijoyo tidak berbeda dari para
jenderal yang sampai sekarang terus mempertahankan pandangan bahwa PKI dalang
G30 S dan memberontak!!!
Saya ingat dulu si Pelana Kuda alias Atjong dikeluarkan oleh Chan dari milis
Gelora 45, disebabkan oleh sikapnya yang sangat membenci PKI dan bersyukur
adanya penindasan Suharto yang dianggapnya sebagai penyelamat Indonesia. Saya
tidak tahu apa anda ingat itu? Eh....tahu-tahunya secara diam-diam diterima
kembali si Pelana Kuda. Bahkan Chan turut mempropagandakan penjualan CD
musiknya Pelana Kuda. Saya sama sekali tidak heran melihat tingkah lakunya si
Chan. Chan dan Pelana Kuda sama!!!!Karena saya belajar dari pengalaman dan
sejarah, orang remo adalah pembantu kaum imperialis dan sudah tentu juga
antek-antek lokalnya. Karena remo menghilangkan kontradiksi dan perjuangan
kelas yang memudahkannya untuk loncat ke seberang barisan di mana dulu dia
berada.
On Thursday, October 5, 2017 10:22 PM, "Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Saya rasa Wikana menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang hilang
tidak ketentuan rimbanya dijemput tentara.
Si Agus Wijoyo saya rasa sedang berada di-awang2 menikmati sanjungan seakan
dirinya orang berjiwa besar yang memaafkan.
On Thursday, October 5, 2017, 11:04:27 AM PDT, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote:
Dan bagaimana nasib Wikana setelah G30S? Setelah dijemput tentara, lantas
hilang tidak diketahui apa yang terjadi....??? Ada yang tahu apa yang terjadi
dengan dirinya? KALAU memang benar Wikana hilang, tak diketahui apa yang
terjadi dengan dirinya, maka ia hanya satu dari puluhan ribu atau ratusan ribu
yang hilang lenyap seperti ditelan bumi.... Bukannya saya tidak merasakan
kesedihan dari anak-anak para jenderal yang dibunuh tentara juga..... Tapi
jutaan harus mati, dipenjara, disiksa dan dihilangkan untuk "membalas" kematian
6 jenderal dan seorang kapten!!! Seperti banyak terjadi di jaman Nazi, untuk
seorang tentara Nazi yang terbunuh, penduduk sekampung harus
mati....Persahabatan, undangan makan, silaturahmi antara anak-anak para
jenderal dan keluarga serta korban genosida adalah urusan pribadi. Yang menarik
perhatian, Agus tidak henti-hentinya menggunakan kesempatan silaturahmi dan
rekonsiliasi untuk "mengingatkan" akan "kejahatan" dan 'hutang darah" PKI baik
di aksi sepihak, peristiwa Madiun atau kejadian lain.
On Tuesday, October 3, 2017 6:15 PM, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
(Tiada) Proklamasi Indonesia Tanpa Wikana
Wikana [Gambar/Sabit]
Reporter: Petrik Matanasi10 November, 2016
- Wikana jadi juru bicara dan pemimpin kelompok muda
- Hatta berkeras tak mau dipaksa untuk segera proklamasi
- Tanpa Wikana Proklamasi tak akan berjalan lancar terjadi
Proklamasi 17 Agustus 1945 tak bisa dilepaskan dari peran Wikana dan
pemuda-pemuda lain yang bersamanya mendesak golongan tua yang ragu untuk
menyegerakan pernyataan kemerdekaan.
tirto.id - Golongan tua, yang kemudian dicap kolaborator Jepang, karena
terpaksa bekerjasama dengan Pemerintah Militer Balatentara Jepang, merasa ngeri
jika tergesa-gesa untuk proklamasi. Mereka terjepit dalam situasi akhir Perang
Dunia: Jepang yang sebentar lagi kalah, namun hanya Jepang yang (pernah)
menjanjikan mendukung kemerdekaan. Masalahnya, jika Jepang tak segera
memerdekakan, namun pada saat yang sama Sekutu kadung memenangkan Perang Dunia,
maka janji Jepang niscaya kasip dan Sekutu belum tentu menyetujui kemerdekaan
Indonesia. Jika segera memerdekakan diri secara sepihak, masalahnya Jepang
masih eksis sebagai penguasa.
Golongan muda, kebanyakan mahasiswa dan pemuda yang tinggal di asrama-asrama
sekitar Menteng, pernyataan kemerdekaan harus sesegera mungkin diumumkan. Tak
hanya selekas-lekasnya, namun juga mesti dinyatakan tanpa campur tangan Jepang.
Jika tidak, kemerdekaan Indonesia hanyalah hadiah dari Jepang.
Darah muda mereka yang bergejolak itu bahkan tak peduli dengan berbagai risiko,
katakanlah jika Jepang mengamuk karena proklamasi tersebut. Golongan tua, yang
punya banyak perhitungan politik, lebih memilih menghindari korban jiwa. Mereka
menunggu kepastian. Mencoba mengharapkan Jepang bisa secepatnya memerdekakan
Indonesia, sebagaimana dijanjikan oleh petinggi Jepang sepekan sebelumnya di
Vietnam kepada Sukarno-Hatta.
Tapi waktu tak bisa menunggu. Sjahrir memberitahu bahwa Jepang sudah menyerah
kalah. Sekutu sudah pasti akan datang mempertahankan status quo sebagaimana
situasi sebelum Jepang masuk. Proklamasi kemerdekaan terancam.
Di sinilah angkatan muda, dengan Wikana jadi juru bicara dan pemimpinnya,
memainkan peranan. Mereka mengambil langkah yang sebenarnya berbahaya, yaitu
membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok. Rencananya: mereka akan memaksa
Sukarno-Hatta memproklamirkan Indonesia. Tapi siasat itu gagal. Sukarno-Hatta
tetap tidak mau melakukannya. Mereka masih belum yakin dengan kebenaran kabar
menyerahnya Jepang.
Pada petang 16 Agustus 1945, Sukarno-Hatta kembali ke Jakarta karena situasi
sudah kelewat genting. Kabar tentang menyerahnya Jepang sudah nyaris tidak bisa
lagi dibantah. Malam 16 Agustus itu juga, Sukarno-Hatta meminta keterangan
kepada pihak Jepang dan barulah mereka tahu bahwa berita menyerahnya Jepang
memang benar.
Justru karena itulah mereka tak bisa lagi menuntut Jepang memenuhi janjinya.
Sebab Jepang adalah pihak yang kalah sehingga harus memenuhi permintaan Sekutu
untuk menjaga status quo. Jepang sendiri mengklaim mereka bersedia
memfasilitasi kemerdekaan Indonesia jika Sukarno-Hatta ada di Jakarta pada pagi
sampai sore 16 Agustus 1945 itu. Tapi keduanya masih di Rengasdengklok.
Sukarno, dan terutama Hatta, enggan mengakui peranan angkatan muda. Bagi
keduanya, jika mereka tak dibawa paksa ke Rengasdengklok, Indonesia bisa
merdeka pada siang hari 16 Agustus. Peristiwa Rengasdengklok menunda proklamasi
Indonesia.
Masalahnya: jika Indonesia merdeka pada 16 Agustus, maka Indonesia sulit
menghindar dari dakwaan bahwa proklamasi adalah pemberian Jepang,
sekurang-kurangnya berkat perlindungan Jepang. Inisiatif Wikana, dkk., memang
gagal mendesak Sukarno secepat-cepatnya mengumumkan kemerdekaan sebagaimana
direncanakan. Namun di luar skema itu, Wikana, dkk., justru berhasil mencegah
proklamasi kemerdekaan diumumkan dalam kerangka Jepang.
Wikana dalam Proklamasi
Semuanya terjadi karena sebagian pemuda dan Mahasiswa yang berhasil mendapatkan
berita penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945 di
kapal perang USS Missouri. Berita itu menyebar di kalangan terbatas. Tak hanya
menyebar, berita itu juga disikapi para pemuda. Mereka segera berkumpul esok
harinya, 15 Agustus 1945, di bawah pohon. Masih di sekitar Cikini. Wikana
hadir di sana.
Rapat sederhana itu memutuskan mengirim delegasi pemuda untuk berbicara pada
golongan tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka begitu
bersemangat. Bahkan ketika itu, Ahmad Aidit, pemuda asal Belitung, mengusulkan
Sukarno sebagai Presiden setelah Proklamasi. Mengenai siapa yang akan mereka
kirim, telah dipilih Suroto Kunto, Subadio, Wikana dan Aidit untuk bicara para
Soekarno yang dianggap wakil angkatan tua.
Malam harinya, keempat pemuda tadi menemui Soekarno di kediamannya, Jalan
Pegangsaan Timur 56, yang kini menjadi Tugu Proklamasi. Kebetulan, rumah
Sukarno sedang ramai oleh orang-orang Golongan Tua. Sukarno dan Hatta ketika
itu baru saja pulang dari Saigon menemui Marsekal Terauchi di sana.
Seperti rencana rapat di bawah pohon, Wikana mendesak agar kemerdekaan
diumumkan secepat-cepatnya. Jika perlu pada 16 Agustus 1945. Sukarno yang tak
suka dipaksa, enggan menuruti mau para pemuda itu. Soekarno tak bisa ambil
keputusan sendiri. Harus ada pembicaraan dengan golongan tua yang lain dulu
untuk proklamasi.
Wikana dan kawan-kawan pemuda yang ikut dengannya mempersilakan para golongan
tua untuk berunding dan pemuda menunggu di beranda rumah. Mohamad Hatta keluar
menemui pemuda-pemuda itu. Hatta berkeras mereka tak mau dipaksa untuk segera
proklamasi karena menanti penyerahan kekuasaan dari Balatentara Jepang. Tak
lupa Hatta menantang pemuda yang dianggap tak mau mengerti tadi. Yang dimau
golongan tua berharap golongan muda bersabar.
“Jika saudara-saudara memang sudah siap dan sanggup memproklamasikannya,
cobalah! Saya pun ingin lihat kesanggupan saudara-saudara.,” kata Hatta pada
para pemuda itu.
“Jika besok siang belum juga diumumkan, kami, para pemuda akan bertindak dan
menunjukan kesanggupan yang saudara kehendaki,” balas Wikana. Kepada Sukarno,
Wikana juga mengancam, “Jika tidak mau memproklamasikan, maka esok akan terjadi
pembunuhan dan pertumpahan darah.”
Menurut Suhartono Pranoto, dalam Kaigun Angkatan Laut Jepang Penentu Krisis
Proklamasi (2007), Sukarno tak mempan dengan ancaman tersebut dan balik
menantang, “Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya...”
Tekanan proklamasi tak hanya dari golongan muda, tapi juga datang dari Sutan
Sjahrir. Sore sepulang Sukarno-Hatta kembali dari Vietnam, ia mendesak Hatta
untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia.
“Sjahrir menjumpai Hatta, menceritakan kepadanya tentang cerita-cerita
penyerahan itu, dan mendesaknya supaya membuat Proklamasi Kemerdekaan diluar
kerangka Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dengan alasan bahwa
sekutu yang menang pasti tidak mau berurusan dengan suatu negara yang
disponsori Jepang,” tulis Ben Anderson dalam bukunya Revolusi Pemoeda (1988).
Akhirnya, pada 16 Agustus 1945, para pemuda menujukan kesanggupannya. Bukan
memproklamasikan sendiri. Tapi untuk mendesak lebih jauh. Dengan cara, Sukarno
dan Hatta mereka culik. Begitu juga istri Soekarno, Fatmawati, dan anak yang
masih kecil, Guntur, terpaksa jadi satu paket dengan Sukarno. Para pemuda
menyebut jika PETA dan Heiho akan berontak, jadi Sukarno-Hatta diamankan para
pemuda. Dengan memakai dua mobil, mereka dibawa ke Rengasdengklok , Karawang.
Daerah ini dirasa aman, karena komandan PETA di wilayah itu menjamin keamanan
Bung Karno dan Bung Hatta.
Pemberontakan itu tak pernah terjadi.
Ahmad Soebardjo sempat mengira Angkatan Darat Jepang menangkap Sukarno-Hatta.
Begitu pun Laksamanan Maeda, yang menjadi wakil Angkatan Laut Jepang di
Jakarta. Nishijima, asisten Laksamana Maeda, lalu menemukan Wikana di Asrama
Indonesia Merdeka dan memaksa Wikana menunjukan di mana Sukarno-Hatta.
Perdebatan emosional sempat terjadi. Perdebatan itu berakhir setelah ada
jaminan bahwa Nishijima dan Maeda akan bekerjasama untuk mengumumkan
proklamasi. Tanpa menujukkan di mana Sukarno-Hatta, Wikana mengatur kepulangan
keduanya ke Jakarta.
Subardjo lalu menjemput ke Rengasdengklok sore harinya. Tiba di sana, hari
sudah senja. Soebardjo meyakinkan para penjaga bahwa Laksamana Maeda mendukung
proklamasi tersebut. Pukul delapan malam, mereka semua kembali ke Jakarta.
Malam itu juga, begitu sudah tiba lagi di Jakarta, Sukarno-Hatta begadang
bersama yang lain. Di rumah Maeda, naskah Proklamasi pun lahir. Esok paginya,
17 Agustus 1945, dibacakan di rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56.
Setelah itu, segalanya telah dicatat oleh sejarah!
share infografik
Adik Seorang Digulis
Wikana bukan pemuda hasil bentukan Jepang. Wikana bahkan tergolong anti-fasis
Jepang meski dia bekerja untuk Angkatan Laut Jepang dalam Asrama Indonesia
Merdeka yang didirikan pada Oktober 1944. Maeda yang mendirikan asrama
tersebut. Diam-diam Maeda agak berseberangan dengan militer Jepang di
Indonesia. Soebardjo selaku pimpinan asrama mempekerjakan Wikana karena
pengaruhnya di Gerindo. Wikana sepintas terlihat bekerja untuk Jepang. Hal ini
membuat Wikana terlindung dari mata-mata Jepang yang benci dengan komunis
pengikut Tan Malaka macam dirinya.
Dalam pergerakan nasional zaman kolonial Hindia Belanda, menurut Ben Anderson,
Wikana adalah anak didik Sukarno dan pernah menjadi anggota Barisan Pemuda
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Wikana adalah ketua pertama Gerindo. Wikana
juga dekat dengan Sekolah Taman Siswa di Jawa Barat. Pada 1940, Wikana
tertangkap karena menyebarkan buletin komunis ilegal Menara Merah.
Pergerakan dan Komunisme memang bukan hal aneh bagi Wikana. Winanta, abangnya,
adalah seorang Digoelis yang telah menulis novel Antara Hidup dan Mati atau
Buron dari Boven Digul. Winanta dianggap terlibat Pemberontakan PKI 1926. Tidak
banyak catatan soal abangnya.
Wikana dan Winanta adalah anak dari Raden Haji Soelaiman, pendatang Jawa asal
Demak yang tinggal di Sumedang, Jawa Barat. Setelah melewati pendidikan barat
di ELS dan MULO, Wikana masuk pergerakan nasional sejak 1930an. Wikana yang
kelahiran Sumedang, pada 16 Oktober 1914 itu, tak berbeda jauh dengan abangnya.
Keduanya hanya beda zaman dalam bergerak.
Di zaman Jepang, menurut Harry Poeze dalam Madiun 1948 PKI Bergerak (2011),
meski tak sebebas di zaman kolonial Hindia Belanda, Wikana masih berpolitik.
Kali ini dengan resiko besar. Di masa pendudukan Jepang itu, Aidit dan Lukman,
bakal pimpinan Central Comite (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI), berhasil
direkrutnya masuk asrama. Mereka mendirikan Gerakan Indonesia Merdeka
(Gerindom).
Setelah kemerdekaan Indonesia, ia terlibat dalam peristiwa Madiun 1948 yang
diinisiasi oleh Front Demokrasi Rakyat FDR. Sebelum Peristiwa Madiun, Wikana
adalah Gubernur Militer di Solo. Di FDR, Wikana diserahi urusan kepemudaan.
Setelah peristiwa Madiun 1948, dia menghilang dan baru muncul kembali pada awal
1950-an.
Wikana melanjutkan karier politiknya dengan menjadi anggota CC PKI. Meski dulu
pernah bersama Aidit dan Lukman di zaman pendudukan Jepang, Wikana kemudian
terbuang dari lingkaran kepemimpinan PKI setelah kedua tokoh itu jadi pemimpin
besar PKI. Saat meledak peristiwa 1965, Wikana adalah anggota Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).
Dia pernah tinggal di sekitar Jalan Dempo, Matraman Plantsoen. Ketika G30S
berlangsung, Wikana sedang menghadiri hari Nasionalis Tiongkok di Beijing.
Pulang dari Beijing pada 10 Oktober 1965, Wikana disembut tentara yang kemudian
menggiringnya ke KODAM Jaya. Setelah menginap di KODAM dia dibebaskan. Setelah
sekian bulan di rumah, pada Juni 1966, dia dibawa lagi oleh tentara. Dan sejak
itu ia tak pernah kembali.
Wikana sendiri punya keinginan tertentu jika ajalnya tiba. “Kalau harus mati,
saya pilih mati di tanah air,” kata Wikana seperti dikatakan cucu menantunya
yang dilansir Historia. Abriyanto, cucu menantunya, sedang menyusun biografi
Wikana.
Wikana jelas sosok yang patut dicatat dalam sejarah Indonesia. Dalam skripsinya
Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan (1969), Soe Hok Gie, mencatat: tanpa
Wikana Proklamasi Indonesia tak akan berjalan lancar.
Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN atau tulisan menarik lainnya Petrik
Matanasi
(tirto.id - pet/zen)
#yiv1610460474 #yiv1610460474 -- #yiv1610460474ygrp-mkp {border:1px
solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-mkp #yiv1610460474hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-mkp #yiv1610460474ads
{margin-bottom:10px;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-mkp .yiv1610460474ad
{padding:0 0;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-mkp .yiv1610460474ad p
{margin:0;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-mkp .yiv1610460474ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-sponsor
#yiv1610460474ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-sponsor #yiv1610460474ygrp-lc #yiv1610460474hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-sponsor #yiv1610460474ygrp-lc .yiv1610460474ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1610460474 #yiv1610460474actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1610460474
#yiv1610460474activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1610460474
#yiv1610460474activity span {font-weight:700;}#yiv1610460474
#yiv1610460474activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv1610460474 #yiv1610460474activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1610460474 #yiv1610460474activity span
span {color:#ff7900;}#yiv1610460474 #yiv1610460474activity span
.yiv1610460474underline {text-decoration:underline;}#yiv1610460474
.yiv1610460474attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv1610460474 .yiv1610460474attach div a
{text-decoration:none;}#yiv1610460474 .yiv1610460474attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1610460474 .yiv1610460474attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1610460474 .yiv1610460474attach label a
{text-decoration:none;}#yiv1610460474 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv1610460474 .yiv1610460474bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1610460474
.yiv1610460474bold a {text-decoration:none;}#yiv1610460474 dd.yiv1610460474last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1610460474 dd.yiv1610460474last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1610460474
dd.yiv1610460474last p span.yiv1610460474yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv1610460474 div.yiv1610460474attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv1610460474 div.yiv1610460474attach-table
{width:400px;}#yiv1610460474 div.yiv1610460474file-title a, #yiv1610460474
div.yiv1610460474file-title a:active, #yiv1610460474
div.yiv1610460474file-title a:hover, #yiv1610460474 div.yiv1610460474file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1610460474 div.yiv1610460474photo-title a,
#yiv1610460474 div.yiv1610460474photo-title a:active, #yiv1610460474
div.yiv1610460474photo-title a:hover, #yiv1610460474
div.yiv1610460474photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1610460474
div#yiv1610460474ygrp-mlmsg #yiv1610460474ygrp-msg p a
span.yiv1610460474yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1610460474
.yiv1610460474green {color:#628c2a;}#yiv1610460474 .yiv1610460474MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv1610460474 o {font-size:0;}#yiv1610460474
#yiv1610460474photos div {float:left;width:72px;}#yiv1610460474
#yiv1610460474photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1610460474
#yiv1610460474photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1610460474
#yiv1610460474reco-category {font-size:77%;}#yiv1610460474
#yiv1610460474reco-desc {font-size:77%;}#yiv1610460474 .yiv1610460474replbq
{margin:4px;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-mlmsg select, #yiv1610460474 input, #yiv1610460474 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-mlmsg pre, #yiv1610460474 code {font:115%
monospace;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-mlmsg #yiv1610460474logo
{padding-bottom:10px;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-msg
p#yiv1610460474attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-reco #yiv1610460474reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-sponsor
#yiv1610460474ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-sponsor #yiv1610460474ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-sponsor #yiv1610460474ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv1610460474 #yiv1610460474ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1610460474
#yiv1610460474ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv1610460474