Chan: Patut diperhatikan,dalam rangka “MEMPERINGATI 100Th Kemenangan Revolusi 
Oktober”, Republik RakyatTiongkok pada tgl. 26 September yl. menjelang Kongres 
19 PKT, melangsungkanSEMINAR Revolusi Oktober dan Sosialisme Berciri Khas 
Tiongkok, ... Bertekadteguh meneruskan OBOR Revolusi Oktober yang telah padam 
di Sovyet terus menyalalebih membawa dibumi Tiongkok! Kenyataan tidak dapat 
disangkal, setelah Sovyetroboh ditahun 1991, obor Sosialisme telah jatuh 
dipundak Rakyat Tiongkok dan,PKT dalam 30 tahun terakhir ini menunjukkan 
KEMAMPUAN memikul TUGAS MULIALenin-Stalin yang telah dicampakkan Gobarchove dan 
mengakibatkan Sovyet robohdibawah gempuran Budaya dan Finans Kapitalisme! Untuk 
mengenal lebih baik karyaLenin, PKT kembali menerbitkan Karya Lenin Lengkap 
dalam bhs. Tionghoa, agarrakyat Tiongkok harus benar-benar bisa memahami 
Leninisme dari karya langsungLenin sendiri!


 
Tatiana: Sudah saya singgungSEMINAR yang diorganisasi kaum remo Tiongkok 
menjelang Kongres PKT yang remodalam komentar tentang Konferensi di Amsterdam. 
Coba kawan-kawan perhatikan kokGorbachov yang disebut sebagai orang yang 
mencampakkan Sosialisme. Heran binajaib si Chan tidak menyinggung REVISIONISME 
MODERN dengan dedengkotnya KHRUSTJOV  sebagai biang kerok dari 
pengkhianatanterhadap Sosialisme.  Mengatakan “ PKT dalam 30 tahunterakhir ini 
menunjukkan KEMAMPUAN memikul TUGAS MULIA Lenin-Stalin….”adalah penipuan 
dansekaligus penghinaan terhadap Lenin dan Stalin!! Politikus dan wartawan 
Indonesiapunsudah semakin banyak yang tahu dan mengatakan dengan gamblang bahwa 
di TKKsekarang yang ada adalah sistim KAPITALIS!!! Bayangkan, selama 30 
tahunRESTORASI KAPITALIS DENG XIAOPING diberi nama oleh Chan….kemampuan 
memikulTUGAS MULIA LENIN DAN STALIN!!! Jadi Lenin dan Stalin dianggap 
seolah-olahmerestui restorasi kapitalis Deng!!!

 

Chan:Beberapa tulisan, makalah dan tanggapan dari Seminar yang berlangsung tgl. 
26Sept. itu, yang menurut saya PANTAS diajukan untuk kalian ketahui: 
adalah,pernyataan keharusan bagi setiap komunis yang mengaku materialisme 
danrealistis, bisa melihat keberhasilan Lenin-Stalin dengan Revolusi 
Oktobermeembangun negara sosialis pertama didunia ini! Bukan saja 
berhasilmempertahankan Sovyet menghdapi serangan Hitler dimasa PD-II, tapi 
jugaBERHASIL membawa Sovyet tumbuh menjadi negara industri yang sanggup 
bersaingdengan imperialisme AS, tidak hanya dibidang ekonomi, pertahanan tapi 
jugatermasuk kemajuan teknologi, peluncuran satelit dan astraunot diruang 
angkasasampai ke Bulan! Disaat itu sampai tahun-tahun 60-an kehidupan rakyat 
Sovyetjuga bisa dikatakan telah mencapai kesejahteraan yang lumayan, ... BEBAS 
dariKEMISKINAN! Ini kenyataan pertama yang harus diakui!


Tatiana:  Sudah saya bilang bahwa si Chan ini lidah takbertulang, oportunis!! 
Sekarang dia puji-puji Lenin dan Stalin. Padahal duludia bilang Lenin salah, 
karena membabat kaum kapitalis. Begitu juga Mao yang mengikuti kesalahan Lenin. 
Bacasendiri  tulisan Chan” Mao akhirnya juga tergesa-gesawujudkan masyarakat 
sosialisme, mengikuti kesalahan Lenin, ditahun 56menyerukan tingkat revolusi 
sosialis dimulai.  Bagaimana seorang pemimpin yang sudahbikin kesalahan begitu 
serius secara strategis, sekarang dia puji “…keberhasilanLenin-Stalin dengan 
Revolusi Oktober meembangun negara sosialis pertama diduniaini! 


 
Padahaldulu Si Chan juga yang bilang ….SOSIALISME itu belum ada contoh dan ada 
Negara yang BERHASIL mewujudkan dalamkenyataan. Inilah kata-katanya dulu:

Iyaa,... masalah pokoknya adalah sudut pandang yang berbeda. Apalagi masalah 
jalanSOSIALISME itu belum ada contoh dan ada negara yang BERHASIL mewujudkan 
dalamkenyataan. Bahkan Sovyet dan RRT dimasa Mao itu juga belum mencapainegara 
sosialisme sesungguhnya, baru langkah pertama dari perjalanan jauhmenuju 
sosialisme juga. Sovyet sudah roboh, diikuti negara-negara sosialisEropah 
timur,….


 
Nah,sekarang dia jilat air ludahnya sendiri dan memuji Lenin dan Stalin yang 
berhasilmembangun Negara sosialis pertama di dunia ini!!!

 

Chan: Kedua,setiap BANGSA yang besar tidak bisa tidak harus mempunyai 
pimpinan,Lenin-Stalin itulah Pemimpin BANGSA Rusia yang tidak boleh disangkal! 
BangsaRusia menjadi bangsa yang besar, Sovyet menjadi negara-kuat justru karena 
adapemimpin macam Lenin-Stalin! Inilah keritik keras PKT, dan diingatkan 
kembalidengan TEGAS oleh Deng, pada tahun 1980 atas kesalahan Khruschove 
yangkebablasan dalam mengkritik kesalahan Stalin yang dikatakan otoriter 
denganKEKERASAN itu! Bahwa negara-kuat harus mencerminkan adanya “KEBEBASAN 
PRIBADI”juga tidak salah! Tapi yang lebih PENTING dan UTAMA adalah adanya 
PERSATUAN danKESTABILAN POLITIK untuk bersama-sama melangkah maju dengan derap 
langkahSEREMPAK! ... Disinilah keunggulan Stalin dalam mengangkat KESATUAN 
BANGSA,membuat Bangsa Rusia besar dan membawa rakyat Sovyet maju sejahtera, 
...KENYATAAN yang tidak boleh disangkal, sekalipun dalam mpelaksanaan 
disana-siniada kesalahan!


 
Tatiana:Masih terus si Chan memuja Lenin dan Stalin!!! “Lenin-Stalin itulah 
Pemimpin BANGSA Rusiayang tidak boleh disangkal! Bangsa Rusia menjadi bangsa 
yang besar, Sovyetmenjadi negara-kuat justru karena ada pemimpin macam 
Lenin-Stalin !” Numpang tanya,sistim apa yang membuat Sovyet menjadi Negara 
kuat???? Kapitalisme atauSosialisme atau Tsarisme???


 
Ooo,sekarang dia sebut nama Khrustjov yang “kebablasan dalam mengkritik 
kesalahanStalin yang dikatakan otoriter dengan KEKERASAN itu”…. Jadi 
kesalahannyaKhrustjov HANYA KEBABLASAN dalam mengkritik kesalahan Stalin?!! 
Terus bagaimanadengan REVISIONISME MODERN yang telah memecah dan akhirnya 
membubarkan GerakanKomunis Internasional?? Gimana dengan konsep-konsep remo: 
Negara seluruhrakyat, PArtai seluruh rakyat, koeksistensi damai dengan 
imperialism, transisidamai ke sosialisme??? Apa sudah lupa semua itu atau 
sengaja melupakannya???


 
Tahunggak kawan-kawan??? Kaum remo TKK sedang menggunakan Lenin dan Stalin 
untukkepentingan nasionalnya sendiri yang sedang menghadapi masalah-masalah 
seriuspolitik (seperti pembangkangan di HK…) dan maslah ekonomi-sosial.  Mereka 
pakai nama Stalin untuk membenarkanKEKERASAN yang dilakukan pemerintah Tkk 
terhadap berbagai macam pembangkangan, yangdatang dari kanan ( yang dari kanan 
menuntut demokrasi liberal) maupun darikiri!!! Mereka bicara tentang KESTABILAN 
POLITIK DAN PERSATUAN yang akan terusmereka jaga dengan melakukan TINDAKAN 
KEKERASAN terhadap semua unsure-unsuryang menentangnya!!!Dan untuk itu mereka 
pakai nama Lenin dan Stalin!! Dansemua itu untuk mencapai TIONGKOK YANG  KUAT,  
seperti dulu SOVIET dibawah Lenin danStalin!!! Ha…ha.. dikiranya semua orang 
BUTA dan tak mampu melihat akal buluskaum remo!!! Sudah tentu mereka tidak akan 
pernah mengakui bahwa apa yangdibangun Lenin dan Stalin dulu SAMA SEKALI TIDAK 
SAMA dengan yang sedangdibangun di Tkk sekarang!! Lenin  danStalin membangun 
SOSIALISME. Lihat sendiri hasil-hasilnya di bawah ini.





 Bandingkandengan hasil yang dicapai 30 tahun kapitalisme Deng xiaping!!!


 

 
Chan: Begitulahpenekanan Deng bagi rakyat Tiongkok harus BELAJAR baik dari 
kesalahanKhruschove tsb! JANGAN sampai Rakyat Tiongkok juga melanjutkan 
KESALAHAN yangsama! Sebagaimana kita ketahui bersama, ketika itu ada arus keras 
hendakmengkritik kesalahan Mao, khususnya masa RBKP yang berlebihan! Ada 
usahameng-HITAM-kan segala jasa Mao, ...! BERUNTUNG, Deng berhasil 
mengarahkanperjuangan dan membawa rakyat Tiongkok terus maju melangkah menuju 
jalanSOSIALISME berciri khas Tiongkok! Dan dalam waktu relatif singkat, 30 
tahunanBERHASIL mencapai kemajuan yang dahsyat dan dengan demikian 
BERKEMAMPUANmenerima TUGAS meneruskan obor Revolusi Oktober yang jatuh diatas 
pundaknya!Bahkan RRT dengan BAIK menerima tugas pusat perjuangan SOSIALISME 
didunia iniyang telah beralih ke Tiongkok! Meneruskan perjuangan Sovyet Uni 
dahulu dalammenghadapi dan melawan IMPERIALISME AS yg hendak menguasai dan 
mengangkangidunia, ...!


 
Tatiana: Ini bener-bener kayadagelan yang nggak lucu! Deng menekankan rakyat 
TKK harus belajar dari  kesalahan Khrustjov!!! Tapi tetap nggakdibilang 
Revisionisme Modern!! Sekarang mau bonceng nama Mao, padahal justruPKT dan Deng 
sendiri yang SANGAT BENCI KEPADA RBKP…Membubarkan KOMUNE RAKYAT,mengganti 
konstitusi Negara ( misalnya, menghapus semua hak-hak demokratis buruhdan 
jaminan social, pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis) dan partai 
(membolehkan kaum kapitalis masuk partai…), perbuatan siapa itu??? Mengatakan 
RBKP salah, padahal justru RBKP adalahtesis Mao melanjutkan revolusi di bawah 
kondisi kediktatoran proletariat!!!Memuakkan sekali apa yang si Chan tulis 
itu….bla-bla-bla berisi kebohongan dan pemutarbalikkan, persis seperti rezim 
Suharto memutar balik fakta sejarah!! Eh, janganlupa ya Chan, Deng yang 
mengusir orang-orang PKI dari Tkk untuk memuluskanpemulihan hubungan diplomatic 
dengan rezim fasis Suharto!! Dan jangan lupa yaChan, pada Kongres PKT yang 
nggak tahu yang keberapa, siapa yang diundang???GOLKAR!!! (INI diceritakan 
almarhum S.Suroso).

Soalmelawan Imperialisme, tolong tanya dan tunjukkin di SEMINAR ITU pernyataan 
atau resolusimendukung perjuangan rakyat sedunia, seperti Venezuela, Korut, 
Rojava….. Ehtahu nggak kepada siapa Tkk berpihak dalam masalah rakyat dan 
refugee Rohingya???Ya sudah tentu memihak kepada Pemerintah… yang sudah 
dinyatakan sebagaipelanggar HAM berat alias melakukan Genosida persis seperti 
rezim  Suharto!!!

 

cHAN: Sedangnenek yang satu ini, masih saja menutup diri dalam tempurung, dan 
tidakberhasil melihat realitias perjuangan dunia NYATA didunia! Tetap saja 
tenggelamdalam subjektivisme dalil-dalil DOGMA klasiknya yg dipegang teguh! 
Masih jugabelum bisa menggunakan ajaran Ketua Mao, khususnya Tentang 
Kontradiksi, untukmenganalisa situasi kongkrit yang dihadapi. Main gempur saja 
semuajenderal-jenderal yang dihadapi. Tentu saja semua jenderal yg berada 
dalamjajaran Pemerintah “TIDAK SESUAI” dengan pendapat dan pendiriannya! 
Bagaimanakita bisa mengharapkan di pemerintah sekarang yang berkuasa itu ada 
jenderalKOMUNIS??? Kalau toch ada, PASTI juga tidak bisa sama sepenuhnya 
dengandirinya! Lalu, dihajar juga dengan alasan MUNAFIK, RENEGAT? Yaa, kalau 
begituberjuang saja sendiri didalam tempurung itu! Hehehee, ...


 
Tatiana:balik sekarang kepada “nenek yang menutup diri dalam tempurung”.  Eh 
Chan kamu tahu, apa yang terjadi diVenezuela, pernah kamu ke Venezuela, pernah 
kamu ke Brazil, pernah kamu keMexico, pernmah kamu ke Argentina, pernah kamu ke 
Tunisia, pernah kamu keSpanyol, pernah kamu ke Yunani,  BUKANuntuk turisme!! 
Tahu kamu perjuangan rakyat-rakyat di negeri itu?? Kenyataanrealitas perjuangan 
mereka? Tolong tunjukkan DALIL-DALIL  DOGMA KLASIK yang menurut kamu , 
masihsaya pegang!! Jangan abstrak DAN ASAL JEPLAK saja!


 
Soaljenderal-jenderal… teori Mao yang mana yang membenarkan kamu untuk 
membedakanAgus Wijoyo dari jenderal-jenderal  anti-komunis yang lain??Siapa 
yangmengharapkan ada jenderal KOMUNIS  dipemerintah?? Tolong buktikan itu!!!  
Yangsaya bilang MUNAFIK DAN RENEGAT adalah KAMU!!! BUKAN ORANG LAIN!!! Baca 
yangbetul!!! Rupanya kamu sudah “jatuh cinta” pada Agus Wijoyo ya, 
sehinggamelupakan kata-kata penilaiannya terhadap penyerangan dan pembatalan 
diskusi diLBH Jakarta??!! Mengapa aku pernah bilang penyataan kamu “tendensius? 
Dan kamutidak mengerti!!!??? Ya, orang yang sudah pindah dan nyeberang barisan 
tidaksadar bahwa posisi ideology kelas reaksioner itu tercermin dalam semua 
tulisananda… Agus Wijoyo  menuduh PKI sebagaipembunuh ayahnya! Agus Wijoyo 
menuduh PKI berontak di Madiun!! Agus Wijoyomenuduh PKI melakukan terror pada 
rakyat dalam Aksi Sepihak.  Dan kamu bilang ini  wajar-wajar saja!!. Ya sudah 
tentu wajar,justru karena dia merupakan bagian dari TENTARA , jadi tidak ada 
lainnya darijenderal lain


 
Darisekian banyak jenderal-jenderal yang harus kita hadapi, bukankah kita 
harusbisa menentukan jenderal mana yg UTAMA digempur dahulu, 
diblejetikereaksioneran dan tangannya berlumuran darah pelanggaran HAM! 
Darimanakekuatan anda untuk sekaligus menyerang dan gempur semua 
jenderal-jenderalitu??? Bahwa Jenderal Agus masih saja menyalahkan dan 
memojokkan PKI itu jugawajar-wajar saja! Tapi, bukankah ditahun yl. saat 
menyelenggarakan SimposiumMembongkar Tragedi 1965, itu bisa juga dikatakan 
merupakan satu usaha jenderalAgus untuk menemkukan atau menjernihkan “SIAPA” 
sesungguhnya yang membunuh ayahnya itu! Sampai-sampai ketika itu dia dituduh 
jenderal-KIRI! Tentu kita jugatetap harus melihat kenyataan, masih sangat 
kuatnya jenderal-kanan yang pemujaSuharto, jadi juga tidak perlu terlalu 
berilusi simposium macam itu bisamembawakan HASIL baik! Dan kenyataan juga 
KANDAS, ...!


 
Tatiana: Ah, siapa sih yangpercaya akan tuduhan bahwa AGus “KIRI” ?? Sama juga 
siapa yang percaya padatuduhan jokowi PKI??  Barangkali hanya kamu yang 
percaya!? Bahkan orang yangmenuduhpun sebetulnya tahu bahwa tuduhan itu  
ngawur!!! Itu hanya maneuver untuk memenangkanpertarungan di kalangan elit demi 
kekuasaan!!! Siapa yang mau  MENGGEMPUR para jenderal??? Kamu ya? Ngapain 
dansiapa yang bicara soal kekuatan untuk menggempur??? Sama sekali bukan 
urusankuuntuk “menggempur” jenderal ini atau jenderal itu!!  Sama sekali tidak 
ada tujuan, baik taktismaupun strategis “menggempur” jenderal-jendral!!! PIcik 
sekali kamu!!! Tidak bisamembedakan hal ihwal dan tidak menempatkan diskusi 
pada proporsinya.

 

    On Sunday, October 8, 2017 5:56 AM, 'Chalik Hamid' via forumdiskusi 
<[email protected]> wrote:
 

  

   ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: Tatiana Lukman 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; Jonathan Goeij <[email protected]>Cc: 
Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD 
<[email protected]>; Daeng <[email protected]>; Gol 
<[email protected]>; Billy Gunadi <[email protected]>; Rachmat 
Hadi-Soetjipto <[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>; 
Oman Romana <[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>; Harry Singgih 
<[email protected]>; Harsono Sutedjo <[email protected]>; Mitri 
<[email protected]>; Lingkar Sitompul <[email protected]>Terkirim: 
Minggu, 8 Oktober 2017 04.51.16 GMT+2Judul: Re: [GELORA45] (Tiada) Proklamasi 
Indonesia Tanpa Wikana
      Patut diperhatikan, dalam rangka “MEMPERINGATI 100Th Kemenangan Revolusi 
Oktober”, Republik Rakyat Tiongkok pada tgl. 26 September yl. menjelang Kongres 
19 PKT, melangsungkan SEMINAR Revolusi Oktober dan Sosialisme Berciri Khas 
Tiongkok, ... Bertekad teguh meneruskan OBOR Revolusi Oktober yang telah padam 
di Sovyet terus menyala lebih membawa dibumi Tiongkok! Kenyataan tidak dapat 
disangkal, setelah Sovyet roboh ditahun 1991, obor Sosialisme telah jatuh 
dipundak Rakyat Tiongkok dan, PKT dalam 30 tahun terakhir ini menunjukkan 
KEMAMPUAN memikul TUGAS MULIA Lenin-Stalin yang telah dicampakkan Gobarchove 
dan mengakibatkan Sovyet roboh dibawah gempuran Budaya dan Finans Kapitalisme! 
Untuk mengenal lebih baik karya Lenin, PKT kembali menerbitkan Karya Lenin 
Lengkap dalam bhs. Tionghoa, agar rakyat Tiongkok harus benar-benar bisa 
memahami Leninisme dari karya langsung Lenin sendiri! Beberapa tulisan, makalah 
dan tanggapan dari Seminar yang berlangsung tgl. 26 Sept. itu, yang menurut 
saya PANTAS diajukan untuk kalian ketahui: adalah, pernyataan keharusan bagi 
setiap komunis yang mengaku materialisme dan realistis, bisa melihat 
keberhasilan Lenin-Stalin dengan Revolusi Oktober meembangun negara sosialis 
pertama didunia ini! Bukan saja berhasil mempertahankan Sovyet menghdapi 
serangan Hitler dimasa PD-II, tapi juga BERHASIL membawa Sovyet tumbuh menjadi 
negara industri yang sanggup bersaing dengan imperialisme AS, tidak hanya 
dibidang ekonomi, pertahanan tapi juga termasuk kemajuan teknologi, peluncuran 
satelit dan astraunot diruang angkasa sampai ke Bulan! Disaat itu sampai 
tahun-tahun 60-an kehidupan rakyat Sovyet juga bisa dikatakan telah mencapai 
kesejahteraan yang lumayan, ... BEBAS dari KEMISKINAN! Ini kenyataan pertama 
yang harus diakui! Kedua, setiap BANGSA yang besar tidak bisa tidak harus 
mempunyai pimpinan, Lenin-Stalin itulah Pemimpin BANGSA Rusia yang tidak boleh 
disangkal! Bangsa Rusia menjadi bangsa yang besar, Sovyet menjadi negara-kuat 
justru karena ada pemimpin macam Lenin-Stalin! Inilah keritik keras PKT, dan 
diingatkan kembali dengan TEGAS oleh Deng, pada tahun 1980 atas kesalahan 
Khruschove yang kebablasan dalam mengkritik kesalahan Stalin yang dikatakan 
otoriter dengan KEKERASAN itu! Bahwa negara-kuat harus mencerminkan adanya 
“KEBEBASAN PRIBADI” juga tidak salah! Tapi yang lebih PENTING dan UTAMA adalah 
adanya PERSATUAN dan KESTABILAN POLITIK untuk bersama-sama melangkah maju 
dengan derap langkah SEREMPAK! ... Disinilah keunggulan Stalin dalam mengangkat 
KESATUAN BANGSA, membuat Bangsa Rusia besar dan membawa rakyat Sovyet maju 
sejahtera, ... KENYATAAN yang tidak boleh disangkal, sekalipun dalam 
mpelaksanaan disana-sini ada kesalahan! Begitulah penekanan Deng bagi rakyat 
Tiongkok harus BELAJAR baik dari kesalahan Khruschove tsb! JANGAN sampai Rakyat 
Tiongkok juga melanjutkan KESALAHAN yang sama! Sebagaimana kita ketahui 
bersama, ketika itu ada arus keras hendak mengkritik kesalahan Mao, khususnya 
masa RBKP yang berlebihan! Ada usaha meng-HITAM-kan segala jasa Mao, ...! 
BERUNTUNG, Deng berhasil mengarahkan perjuangan dan membawa rakyat Tiongkok 
terus maju melangkah menuju jalan SOSIALISME berciri khas Tiongkok! Dan dalam 
waktu relatif singkat, 30 tahunan BERHASIL mencapai kemajuan yang dahsyat dan 
dengan demikian BERKEMAMPUAN menerima TUGAS meneruskan obor Revolusi Oktober 
yang jatuh diatas pundaknya! Bahkan RRT dengan BAIK menerima tugas pusat 
perjuangan SOSIALISME didunia ini yang telah beralih ke Tiongkok! Meneruskan 
perjuangan Sovyet Uni dahulu dalam menghadapi dan melawan IMPERIALISME AS yg 
hendak menguasai dan mengangkangi dunia, ...! Sedang nenek yang satu ini, masih 
saja menutup diri dalam tempurung, dan tidak berhasil melihat realitias 
perjuangan dunia NYATA didunia! Tetap saja tenggelam dalam subjektivisme 
dalil-dalil DOGMA klasiknya yg dipegang teguh! Masih juga belum bisa 
menggunakan ajaran Ketua Mao, khususnya Tentang Kontradiksi, untuk menganalisa 
situasi kongkrit yang dihadapi. Main gempur saja semua jenderal-jenderal yang 
dihadapi. Tentu saja semua jenderal yg berada dalam jajaran Pemerintah “TIDAK 
SESUAI” dengan pendapat dan pendiriannya! Bagaimana kita bisa mengharapkan di 
pemerintah sekarang yang berkuasa itu ada jenderal KOMUNIS??? Kalau toch ada, 
PASTI juga tidak bisa sama sepenuhnya dengan dirinya! Lalu, dihajar juga dengan 
alasan MUNAFIK, RENEGAT? Yaa, kalau begitu berjuang saja sendiri didalam 
tempurung itu! Hehehee, ... Dari sekian banyak jenderal-jenderal yang harus 
kita hadapi, bukankah kita harus bisa menentukan jenderal mana yg UTAMA 
digempur dahulu, diblejeti kereaksioneran dan tangannya berlumuran darah 
pelanggaran HAM! Darimana kekuatan anda untuk sekaligus menyerang dan gempur 
semua jenderal-jenderal itu??? Bahwa Jenderal Agus masih saja menyalahkan dan 
memojokkan PKI itu juga wajar-wajar saja! Tapi, bukankah ditahun yl. saat 
menyelenggarakan Simposium Membongkar Tragedi 1965, itu bisa juga dikatakan 
merupakan satu usaha jenderal Agus untuk menemkukan atau menjernihkan “SIAPA” 
sesungguhnya yang membunuh ayah nya itu! Sampai-sampai ketika itu dia dituduh 
jenderal-KIRI! Tentu kita juga tetap harus melihat kenyataan, masih sangat 
kuatnya jenderal-kanan yang pemuja Suharto, jadi juga tidak perlu terlalu 
berilusi simposium macam itu bisa membawakan HASIL baik! Dan kenyataan juga 
KANDAS, ...! Juga, TIDAK SALAH menyatakan yang membunuh 6 jenderal itu TNI, 
khususnya pasukan Tjakrabirawa, ...! Tapi kan, TETAP harus dibedakan antara 
perajurit pelaksana perintah dengan komandan, jenderal yang turunkan perintah! 
Jangan lalu seluruh pasukan Tjakrabirawa harus dihujat dan di BASMI habis! 
Usutlah siapa sesungguhnya jenderal dibalik G30S itu! Dan inilah tugas pekerja 
sejarah anak bangsa ini untuk menjernihkan masalah, ... jangan tergantung 
Pemerintah yang berkuasa! Dan harus dikerjakan lebih cekatan dan cepat, karena 
makin tertunda lebih lama, akan makin sulit menemukan data-data akurat yang 
selama ini sudah cukup banyak dibawa kubur oleh tokoh-tokoh, pelaku yang banyak 
mengetahui kejadian nyata! Jadi perajurit pelaku kekejaman kemanusiaan yang 
harus tunduk menjalankan PERINTAH, setelah bertobat dan mengakui kesalahannya, 
yaa, biarlah diberi kesempatan untuk BERSAHABAT dengan para korban, termasuk 
segenap keluarganya! Tidak perlu saling bermusuhan, ...! Apalagi bagi anak-anak 
jenderal yg juga KORBAN itu, yang jelas TIDAK terlibat kekejaman kemanusiaan, 
tentu TIDAK MASALAH bersahabat dengan anak-anak KORBAN sisi lain, lha mereka 
kan sama-sama KORBAN kekejaman kemanusiaan! KORBAN-KORBAN konyol yang tidak 
seharusnya terjadi! Sudah cukup BAGUUUS, anak-anak jenderal yg jadi korban itu 
sudah bersediaq bersahabat dengan anak-anak KORBAN yg dituduh membunuh 
ayah-ayah mereka! Tidak meneruskan pertengkaran dan dendam yang tidak ada 
juntrungnya itu, ... tidak perlu melanjutkan pertengkaran, permusuhan orang-tua 
mereka! Biarlah mereka, anak-anak KORBAN itu menjadi sahabat, lha memang 
sama-sama tidak bermasalah, kok! Sekalipun dalam kenyataan melihat masa-lampau 
itu, dalam melihat siapa sesungguhnya Dalang G30S masih berbeda pendapat! 
Bukankah yang lebih PENTING adalah menatap kedepan, kehendak MAJU BERSAMA, 
BEKERJA BERSAMA membangun masyarakat lebih baik dan sejahtera! Jadi, kalau 
orang sudah mengulurkan tangan bersalaman, tidak perlu ditampik, sekalipun kita 
juga boleh saja mencurigai motif nya! Biarlah nanti setelah apa yang kita 
curigai, kemunafikan bersalaman itu muncul, baru dihadapi! Begitulah bersatu 
dan berjuang didalam kesatuan kontradiksi yang terjadi dalam masyarakat! Setiap 
saat tetap harus bersiap-siap menghadapi pertempuran dan penghianatan! Pecahnya 
persatuan dan kerjasama, tanamkan saja kewaspadaan itu, ...! Jangan pula 
meneruskan kesalahan lama, ...keenakan bekerja sama! Hehehee, ... Jadi, 
sebaiknya jangan buru-buru dan gampang2an nuduh PKT REMO, renegad! Ingatlah 
bagaimana PKI dahulu menuduh Tan Ling Djieisme, tapi justru parlementerisme 
itulah yang dijalankan PKI dengan KONSEKWEN! Yang lebih penting perlu 
kejernihan apa dan dimana kesalahan, kesalahan dahulu bukan pada kerjasama 
dengan Pemerintah yang berkuasa, tapi ketidak siapan PKI digebug! Kesalahannya 
bukan menggunakan parlemen, kesempatan legal yang diberikan pemerintah ketika 
itu, tapi keenakan gunakan jalan parlementer dan TIDAK siapkan diri kalau 
digebug! Untuk mengikuti lebih lanjut bagaimana peran Tjakrabirawa bisa klik 
link dibawah ini:  
Pengakuan Mengejutkan eks-Cakrabirawa. 

https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/214575
 
Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!
https://www.youtube.com/watch?v=oi0w3Wq1wqQ  Salam,ChanCT   From: Tatiana 
Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Saturday, October 7, 2017 1:04 
AMTo: [email protected] ; Jonathan Goeij Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM 
HLD ; Daeng ; Gol ; Billy Gunadi ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Ronggo A. ; Oman 
Romana ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Harry Singgih ; Harsono Sutedjo 
; Mitri ; Lingkar Sitompul Subject: Re: [GELORA45] (Tiada) Proklamasi Indonesia 
Tanpa Wikana   Saya kenal banyak orang, terutama generai muda, yang sama sekali 
tidak punya latar belakang keluarga korban 65 dengan jelas dan gamblang 
menyatakan bahwa yang bunuh 6 jenderal dan 1 kapten adalah Cakrabirawa, artinya 
TENTARA. Kalau orang mau mengakui bahwa itulah faktanya, maka  anak-anak para 
jenderal itu, seperti Letjen Agus Wijoyo, kalau mau rekonsiliasi, ya SEHARUSNYA 
dengan anak-anak para PEMBUNUH ayah mereka, yaitu anggota Cakrabirawa yang 
melakukan serangan, penculikan dan pembunuhan itu, bukan? Mengapa mereka 
ber"rekonsiliasi" dengan satu dua anak penggede PKI dan anggota Gerwani atau 
korban pemenjaraan, penyiksaan dan pembuangan rezim Suharto??? Kelihatannya, 
sementara anak penggede PKI dan sementara korban 65 yang tampil untuk jadi 
"contoh" rekonsiliasi dengan sementara anak jenderal-jenderal, tidak sadar 
bahwa mereka digunakan oleh media dan "otak" di belakang etalase rekonsiliasi 
justru untuk terus memfitnah PKI sebagai "pembunuh" 6 jenderal dan kapten 
itu.Dan disini masuk peran si remo dan renegad Chan yang membantu pendukung 
ORBA dengan turut mengorek-ngorek 'kejahatan' PKI untuk "membuktikan" dan 
menuntut PKI untuk bertanggung jawab atas banjir darah 65-66!!!!  Letjen Agus 
Wijoyo walaupun sudah mengakui dan percaya bahwa keenam jenderal dan kapten itu 
tidak disiksa atau disayat-sayat badannya dan kemaluannya, tapi TETAP 
MENGANGGAP PKI MELAKUKAN PEMBUNUHAN DAN MENEROR MASYARAKAT.  Dibawah ini 
kata-katanya:…” PKI harus bertanggung jawab atas kekerasan yang mereka lakukan 
di tahun 1948, pada 1 Oktober 1965 dan sebelumnya. Mereka melakukan pembunuhan 
dan meneror masyarakat. Puncaknya adalah membunuh para jenderal di malam kelam 
tersebut.”.

Pandangan Agus Wijoyo ini PADA HAKEKATNYA senafas dengan pandangannya si Remo 
dan renegad Chan. Kelihatan sekali kebenciannya terhadap PKI. Yah, tidak 
heran!!! Dan juga kelihatan  letjen Agus Wijoyo tidak berbeda dari para 
jenderal yang sampai sekarang terus mempertahankan pandangan bahwa PKI dalang 
G30 S dan memberontak!!!
Saya ingat dulu si Pelana Kuda alias Atjong dikeluarkan oleh Chan dari milis 
Gelora 45, disebabkan oleh sikapnya yang sangat membenci PKI dan bersyukur 
adanya penindasan Suharto yang dianggapnya sebagai penyelamat Indonesia. Saya 
tidak tahu apa anda ingat itu? Eh....tahu-tahunya secara diam-diam diterima 
kembali si Pelana Kuda. Bahkan Chan turut mempropagandakan penjualan CD 
musiknya Pelana Kuda. Saya sama sekali tidak heran melihat tingkah lakunya si 
Chan. Chan dan Pelana Kuda sama!!!!Karena saya belajar dari pengalaman dan 
sejarah, orang remo adalah pembantu kaum imperialis dan sudah tentu juga 
antek-antek lokalnya. Karena remo menghilangkan kontradiksi dan perjuangan 
kelas yang memudahkannya untuk loncat ke seberang barisan di mana dulu dia 
berada.  

On Thursday, October 5, 2017 10:22 PM, "Jonathan Goeij [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:


  Saya rasa Wikana menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang hilang 
tidak ketentuan rimbanya dijemput tentara. Si Agus Wijoyo saya rasa sedang 
berada di-awang2 menikmati sanjungan seakan dirinya orang berjiwa besar yang 
memaafkan.  On Thursday, October 5, 2017, 11:04:27 AM PDT, Tatiana Lukman 
<[email protected]> wrote:   Dan bagaimana nasib Wikana setelah G30S? 
Setelah dijemput tentara, lantas hilang tidak diketahui apa yang terjadi....??? 
Ada yang tahu apa yang terjadi dengan dirinya? KALAU memang benar Wikana 
hilang, tak diketahui apa yang terjadi dengan dirinya, maka ia hanya satu dari 
puluhan ribu atau ratusan ribu yang hilang lenyap seperti ditelan bumi.... 
Bukannya saya tidak merasakan kesedihan dari anak-anak para jenderal yang 
dibunuh tentara juga..... Tapi jutaan harus mati, dipenjara, disiksa dan 
dihilangkan untuk "membalas" kematian 6 jenderal dan seorang kapten!!! Seperti 
banyak terjadi di jaman Nazi, untuk seorang tentara Nazi yang terbunuh, 
penduduk sekampung harus mati....Persahabatan, undangan makan, silaturahmi 
antara anak-anak para jenderal dan keluarga serta korban genosida adalah urusan 
pribadi. Yang menarik perhatian, Agus tidak henti-hentinya menggunakan 
kesempatan silaturahmi dan rekonsiliasi untuk "mengingatkan" akan "kejahatan" 
dan 'hutang darah" PKI baik di aksi sepihak, peristiwa Madiun atau kejadian 
lain.



On Tuesday, October 3, 2017 6:15 PM, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:


  

(Tiada) Proklamasi Indonesia Tanpa Wikana
Wikana [Gambar/Sabit]
 Reporter: Petrik Matanasi10 November, 2016    
   - Wikana jadi juru bicara dan pemimpin kelompok muda 
   - Hatta berkeras tak mau dipaksa untuk segera proklamasi 
   - Tanpa Wikana Proklamasi tak akan berjalan lancar terjadi
 Proklamasi 17 Agustus 1945 tak bisa dilepaskan dari peran Wikana dan 
pemuda-pemuda lain yang bersamanya mendesak golongan tua yang ragu untuk 
menyegerakan pernyataan kemerdekaan.
tirto.id - Golongan tua, yang kemudian dicap kolaborator Jepang, karena 
terpaksa bekerjasama dengan Pemerintah Militer Balatentara Jepang, merasa ngeri 
jika tergesa-gesa untuk proklamasi. Mereka terjepit dalam situasi akhir Perang 
Dunia: Jepang yang sebentar lagi kalah, namun hanya Jepang yang (pernah) 
menjanjikan mendukung kemerdekaan. Masalahnya, jika Jepang tak segera 
memerdekakan, namun pada saat yang sama Sekutu kadung memenangkan Perang Dunia, 
maka janji Jepang niscaya kasip dan Sekutu belum tentu menyetujui kemerdekaan 
Indonesia. Jika segera memerdekakan diri secara sepihak, masalahnya Jepang 
masih eksis sebagai penguasa.  

Golongan muda, kebanyakan mahasiswa dan pemuda yang tinggal di asrama-asrama 
sekitar Menteng, pernyataan kemerdekaan harus sesegera mungkin diumumkan. Tak 
hanya selekas-lekasnya, namun juga mesti dinyatakan tanpa campur tangan Jepang. 
 Jika tidak, kemerdekaan Indonesia hanyalah hadiah dari Jepang. 

Darah muda mereka yang bergejolak itu bahkan tak peduli dengan berbagai risiko, 
katakanlah jika Jepang mengamuk karena proklamasi tersebut. Golongan tua, yang 
punya banyak perhitungan politik, lebih memilih menghindari korban jiwa. Mereka 
menunggu kepastian. Mencoba mengharapkan Jepang bisa secepatnya memerdekakan 
Indonesia, sebagaimana dijanjikan oleh petinggi Jepang sepekan sebelumnya di 
Vietnam kepada Sukarno-Hatta. 

Tapi waktu tak bisa menunggu. Sjahrir memberitahu bahwa Jepang sudah menyerah 
kalah. Sekutu sudah pasti akan datang mempertahankan status quo sebagaimana 
situasi sebelum Jepang masuk. Proklamasi kemerdekaan terancam. 

Di sinilah angkatan muda, dengan Wikana jadi juru bicara dan pemimpinnya, 
memainkan peranan. Mereka mengambil langkah yang sebenarnya berbahaya, yaitu 
membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok. Rencananya: mereka akan memaksa 
Sukarno-Hatta memproklamirkan Indonesia. Tapi siasat itu gagal. Sukarno-Hatta 
tetap tidak mau melakukannya. Mereka masih belum yakin dengan kebenaran kabar 
menyerahnya Jepang.

Pada petang 16 Agustus 1945, Sukarno-Hatta kembali ke Jakarta karena situasi 
sudah kelewat genting. Kabar tentang menyerahnya Jepang sudah nyaris tidak bisa 
lagi dibantah. Malam 16 Agustus itu juga, Sukarno-Hatta meminta keterangan 
kepada pihak Jepang dan barulah mereka tahu bahwa berita menyerahnya Jepang 
memang benar.

Justru karena itulah mereka tak bisa lagi menuntut Jepang memenuhi janjinya. 
Sebab Jepang adalah pihak yang kalah sehingga harus memenuhi permintaan Sekutu 
untuk menjaga status quo. Jepang sendiri mengklaim mereka bersedia 
memfasilitasi kemerdekaan Indonesia jika Sukarno-Hatta ada di Jakarta pada pagi 
sampai sore 16 Agustus 1945 itu. Tapi keduanya masih di Rengasdengklok.

Sukarno, dan terutama Hatta, enggan mengakui peranan angkatan muda. Bagi 
keduanya, jika mereka tak dibawa paksa ke Rengasdengklok, Indonesia bisa 
merdeka pada siang hari 16 Agustus. Peristiwa Rengasdengklok menunda proklamasi 
Indonesia.

Masalahnya: jika Indonesia merdeka pada 16 Agustus, maka Indonesia sulit 
menghindar dari dakwaan bahwa proklamasi adalah pemberian Jepang, 
sekurang-kurangnya berkat perlindungan Jepang. Inisiatif Wikana, dkk., memang 
gagal mendesak Sukarno secepat-cepatnya mengumumkan kemerdekaan sebagaimana 
direncanakan. Namun di luar skema itu, Wikana, dkk., justru berhasil mencegah 
proklamasi kemerdekaan diumumkan dalam kerangka Jepang.

Wikana dalam Proklamasi

Semuanya terjadi karena sebagian pemuda dan Mahasiswa yang berhasil mendapatkan 
berita penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945 di 
kapal perang USS Missouri. Berita itu menyebar di kalangan terbatas. Tak hanya 
menyebar, berita itu juga disikapi para pemuda. Mereka segera berkumpul esok 
harinya, 15 Agustus 1945, di bawah pohon. Masih  di sekitar Cikini. Wikana 
hadir di sana.

Rapat sederhana itu memutuskan mengirim delegasi pemuda untuk berbicara pada 
golongan tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka begitu 
bersemangat. Bahkan ketika itu, Ahmad Aidit, pemuda asal Belitung, mengusulkan 
Sukarno sebagai Presiden setelah Proklamasi. Mengenai siapa yang akan mereka 
kirim, telah dipilih Suroto Kunto, Subadio, Wikana dan Aidit untuk bicara para 
Soekarno yang dianggap wakil angkatan tua.

Malam harinya, keempat pemuda tadi menemui Soekarno di kediamannya, Jalan 
Pegangsaan Timur 56, yang kini menjadi Tugu Proklamasi. Kebetulan, rumah 
Sukarno sedang ramai oleh orang-orang Golongan Tua. Sukarno dan Hatta ketika 
itu baru saja pulang dari Saigon menemui Marsekal Terauchi di sana.  

Seperti rencana rapat di bawah pohon, Wikana mendesak agar kemerdekaan 
diumumkan secepat-cepatnya. Jika perlu pada 16 Agustus 1945. Sukarno yang tak 
suka dipaksa, enggan menuruti mau para pemuda itu. Soekarno tak bisa ambil 
keputusan sendiri. Harus ada pembicaraan dengan golongan tua yang lain dulu 
untuk proklamasi. 

Wikana dan kawan-kawan pemuda yang ikut dengannya mempersilakan para golongan 
tua untuk berunding dan pemuda menunggu di beranda rumah. Mohamad Hatta keluar 
menemui pemuda-pemuda itu. Hatta berkeras mereka tak mau dipaksa untuk segera 
proklamasi karena menanti penyerahan kekuasaan dari Balatentara Jepang. Tak 
lupa Hatta menantang pemuda yang dianggap tak mau mengerti tadi. Yang dimau 
golongan tua berharap golongan muda bersabar.

“Jika saudara-saudara memang sudah siap dan sanggup memproklamasikannya, 
cobalah! Saya pun ingin lihat kesanggupan saudara-saudara.,” kata Hatta pada 
para pemuda itu.

“Jika besok siang belum juga diumumkan, kami, para pemuda akan bertindak dan 
menunjukan kesanggupan yang saudara kehendaki,” balas Wikana. Kepada Sukarno, 
Wikana juga mengancam, “Jika tidak mau memproklamasikan, maka esok akan terjadi 
pembunuhan dan pertumpahan darah.”

Menurut Suhartono Pranoto, dalam Kaigun Angkatan Laut Jepang Penentu Krisis 
Proklamasi (2007), Sukarno tak mempan dengan ancaman tersebut dan balik 
menantang, “Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya...”

Tekanan proklamasi tak hanya dari golongan muda, tapi juga datang dari Sutan 
Sjahrir. Sore sepulang Sukarno-Hatta kembali dari Vietnam, ia mendesak Hatta 
untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia. 

“Sjahrir menjumpai Hatta, menceritakan kepadanya tentang cerita-cerita 
penyerahan itu, dan mendesaknya supaya membuat Proklamasi Kemerdekaan diluar 
kerangka Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dengan alasan bahwa 
sekutu yang menang pasti tidak mau berurusan dengan suatu negara yang 
disponsori Jepang,” tulis Ben Anderson dalam bukunya Revolusi Pemoeda (1988).

Akhirnya, pada 16 Agustus 1945, para pemuda menujukan kesanggupannya. Bukan 
memproklamasikan sendiri. Tapi untuk mendesak lebih jauh. Dengan cara, Sukarno 
dan Hatta mereka culik. Begitu juga istri Soekarno, Fatmawati, dan anak yang 
masih kecil, Guntur, terpaksa jadi satu paket dengan Sukarno. Para pemuda 
menyebut jika PETA dan Heiho akan berontak, jadi Sukarno-Hatta diamankan para 
pemuda. Dengan memakai dua mobil, mereka dibawa ke Rengasdengklok , Karawang. 
Daerah ini dirasa aman, karena komandan PETA di wilayah itu menjamin keamanan 
Bung Karno dan Bung Hatta. 

Pemberontakan itu tak pernah terjadi. 

Ahmad Soebardjo sempat mengira Angkatan Darat Jepang menangkap Sukarno-Hatta.  
Begitu pun Laksamanan Maeda, yang menjadi wakil Angkatan Laut Jepang di 
Jakarta. Nishijima, asisten Laksamana Maeda, lalu menemukan Wikana di Asrama 
Indonesia Merdeka dan memaksa Wikana menunjukan di mana Sukarno-Hatta. 
Perdebatan emosional sempat terjadi. Perdebatan itu berakhir setelah ada 
jaminan bahwa Nishijima dan Maeda akan bekerjasama untuk mengumumkan 
proklamasi. Tanpa menujukkan di mana Sukarno-Hatta, Wikana mengatur kepulangan 
keduanya ke Jakarta. 

Subardjo lalu menjemput ke Rengasdengklok sore harinya. Tiba di sana, hari 
sudah senja. Soebardjo meyakinkan para penjaga bahwa Laksamana Maeda mendukung 
proklamasi tersebut. Pukul delapan malam, mereka semua kembali ke Jakarta. 
Malam itu juga, begitu sudah tiba lagi di Jakarta, Sukarno-Hatta begadang 
bersama yang lain. Di rumah Maeda, naskah Proklamasi pun lahir. Esok paginya, 
17 Agustus 1945, dibacakan di rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56. 

Setelah itu, segalanya telah dicatat oleh sejarah!

 share infografik

Adik Seorang Digulis

Wikana bukan pemuda hasil bentukan Jepang. Wikana bahkan tergolong anti-fasis 
Jepang meski dia bekerja untuk Angkatan Laut Jepang dalam Asrama Indonesia 
Merdeka yang didirikan pada Oktober 1944. Maeda yang mendirikan asrama 
tersebut. Diam-diam Maeda agak berseberangan dengan militer Jepang di 
Indonesia. Soebardjo selaku pimpinan asrama mempekerjakan Wikana karena 
pengaruhnya di Gerindo. Wikana sepintas terlihat bekerja untuk Jepang. Hal ini 
membuat Wikana terlindung dari mata-mata Jepang yang benci dengan komunis 
pengikut Tan Malaka macam dirinya. 

Dalam pergerakan nasional zaman kolonial Hindia Belanda, menurut Ben Anderson, 
Wikana adalah anak didik Sukarno dan pernah menjadi anggota Barisan Pemuda 
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Wikana adalah ketua pertama Gerindo. Wikana 
juga dekat dengan Sekolah Taman Siswa di Jawa Barat. Pada 1940, Wikana 
tertangkap karena menyebarkan buletin komunis ilegal Menara Merah. 

Pergerakan dan Komunisme memang bukan hal aneh bagi Wikana. Winanta, abangnya, 
adalah seorang Digoelis yang telah menulis novel Antara Hidup dan Mati atau 
Buron dari Boven Digul. Winanta dianggap terlibat Pemberontakan PKI 1926. Tidak 
banyak catatan soal abangnya. 

Wikana dan Winanta adalah anak dari Raden Haji Soelaiman, pendatang Jawa asal 
Demak yang tinggal di Sumedang, Jawa Barat. Setelah melewati pendidikan barat 
di ELS dan MULO, Wikana masuk pergerakan nasional sejak 1930an. Wikana yang 
kelahiran Sumedang, pada 16 Oktober 1914 itu, tak berbeda jauh dengan abangnya. 
Keduanya hanya beda zaman dalam bergerak. 

Di zaman Jepang, menurut Harry Poeze dalam Madiun 1948 PKI Bergerak (2011), 
meski tak sebebas di zaman kolonial Hindia Belanda, Wikana masih berpolitik. 
Kali ini dengan resiko besar. Di masa pendudukan Jepang itu, Aidit dan Lukman, 
bakal pimpinan Central Comite (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI), berhasil 
direkrutnya masuk asrama. Mereka mendirikan Gerakan Indonesia Merdeka 
(Gerindom). 

Setelah kemerdekaan Indonesia, ia terlibat dalam peristiwa Madiun 1948 yang 
diinisiasi oleh Front Demokrasi Rakyat FDR. Sebelum Peristiwa Madiun, Wikana 
adalah Gubernur Militer di Solo. Di FDR, Wikana diserahi urusan kepemudaan. 
Setelah peristiwa Madiun 1948, dia menghilang dan baru muncul kembali pada awal 
1950-an. 

Wikana melanjutkan karier politiknya dengan menjadi anggota CC PKI. Meski dulu 
pernah bersama Aidit dan Lukman di zaman pendudukan Jepang, Wikana kemudian 
terbuang dari lingkaran kepemimpinan PKI setelah kedua tokoh itu jadi pemimpin 
besar PKI. Saat meledak peristiwa 1965, Wikana adalah anggota Majelis 
Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). 

Dia pernah tinggal di sekitar Jalan Dempo, Matraman Plantsoen.  Ketika G30S 
berlangsung, Wikana sedang menghadiri hari Nasionalis Tiongkok di Beijing. 
Pulang dari Beijing pada 10 Oktober 1965, Wikana disembut tentara yang kemudian 
menggiringnya ke KODAM Jaya. Setelah menginap di KODAM dia dibebaskan. Setelah 
sekian bulan di rumah, pada Juni 1966, dia dibawa lagi oleh tentara. Dan sejak 
itu ia tak pernah kembali. 

Wikana sendiri punya keinginan tertentu jika ajalnya tiba. “Kalau harus mati, 
saya pilih mati di tanah air,” kata Wikana seperti dikatakan cucu menantunya 
yang dilansir Historia.  Abriyanto, cucu menantunya, sedang menyusun biografi 
Wikana. 

Wikana jelas sosok yang patut dicatat dalam sejarah Indonesia. Dalam skripsinya 
Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan (1969), Soe Hok Gie, mencatat: tanpa 
Wikana Proklamasi Indonesia tak akan berjalan lancar. 

Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN atau tulisan menarik lainnya Petrik 
Matanasi 
(tirto.id - pet/zen)     

    -- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"forumdiskusi" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.


   

Kirim email ke