Chan: Patut diperhatikan,dalam rangka “MEMPERINGATI 100Th Kemenangan Revolusi
Oktober”, Republik RakyatTiongkok pada tgl. 26 September yl. menjelang Kongres
19 PKT, melangsungkanSEMINAR Revolusi Oktober dan Sosialisme Berciri Khas
Tiongkok, ... Bertekadteguh meneruskan OBOR Revolusi Oktober yang telah padam
di Sovyet terus menyalalebih membawa dibumi Tiongkok! Kenyataan tidak dapat
disangkal, setelah Sovyetroboh ditahun 1991, obor Sosialisme telah jatuh
dipundak Rakyat Tiongkok dan,PKT dalam 30 tahun terakhir ini menunjukkan
KEMAMPUAN memikul TUGAS MULIALenin-Stalin yang telah dicampakkan Gobarchove dan
mengakibatkan Sovyet robohdibawah gempuran Budaya dan Finans Kapitalisme! Untuk
mengenal lebih baik karyaLenin, PKT kembali menerbitkan Karya Lenin Lengkap
dalam bhs. Tionghoa, agarrakyat Tiongkok harus benar-benar bisa memahami
Leninisme dari karya langsungLenin sendiri!
Tatiana: Sudah saya singgungSEMINAR yang diorganisasi kaum remo Tiongkok
menjelang Kongres PKT yang remodalam komentar tentang Konferensi di Amsterdam.
Coba kawan-kawan perhatikan kokGorbachov yang disebut sebagai orang yang
mencampakkan Sosialisme. Heran binajaib si Chan tidak menyinggung REVISIONISME
MODERN dengan dedengkotnya KHRUSTJOV sebagai biang kerok dari
pengkhianatanterhadap Sosialisme. Mengatakan “ PKT dalam 30 tahunterakhir ini
menunjukkan KEMAMPUAN memikul TUGAS MULIA Lenin-Stalin….”adalah penipuan
dansekaligus penghinaan terhadap Lenin dan Stalin!! Politikus dan wartawan
Indonesiapunsudah semakin banyak yang tahu dan mengatakan dengan gamblang bahwa
di TKKsekarang yang ada adalah sistim KAPITALIS!!! Bayangkan, selama 30
tahunRESTORASI KAPITALIS DENG XIAOPING diberi nama oleh Chan….kemampuan
memikulTUGAS MULIA LENIN DAN STALIN!!! Jadi Lenin dan Stalin dianggap
seolah-olahmerestui restorasi kapitalis Deng!!!
Chan:Beberapa tulisan, makalah dan tanggapan dari Seminar yang berlangsung tgl.
26Sept. itu, yang menurut saya PANTAS diajukan untuk kalian ketahui:
adalah,pernyataan keharusan bagi setiap komunis yang mengaku materialisme
danrealistis, bisa melihat keberhasilan Lenin-Stalin dengan Revolusi
Oktobermeembangun negara sosialis pertama didunia ini! Bukan saja
berhasilmempertahankan Sovyet menghdapi serangan Hitler dimasa PD-II, tapi
jugaBERHASIL membawa Sovyet tumbuh menjadi negara industri yang sanggup
bersaingdengan imperialisme AS, tidak hanya dibidang ekonomi, pertahanan tapi
jugatermasuk kemajuan teknologi, peluncuran satelit dan astraunot diruang
angkasasampai ke Bulan! Disaat itu sampai tahun-tahun 60-an kehidupan rakyat
Sovyetjuga bisa dikatakan telah mencapai kesejahteraan yang lumayan, ... BEBAS
dariKEMISKINAN! Ini kenyataan pertama yang harus diakui!
Tatiana: Sudah saya bilang bahwa si Chan ini lidah takbertulang, oportunis!!
Sekarang dia puji-puji Lenin dan Stalin. Padahal duludia bilang Lenin salah,
karena membabat kaum kapitalis. Begitu juga Mao yang mengikuti kesalahan Lenin.
Bacasendiri tulisan Chan” Mao akhirnya juga tergesa-gesawujudkan masyarakat
sosialisme, mengikuti kesalahan Lenin, ditahun 56menyerukan tingkat revolusi
sosialis dimulai. Bagaimana seorang pemimpin yang sudahbikin kesalahan begitu
serius secara strategis, sekarang dia puji “…keberhasilanLenin-Stalin dengan
Revolusi Oktober meembangun negara sosialis pertama diduniaini!
Padahaldulu Si Chan juga yang bilang ….SOSIALISME itu belum ada contoh dan ada
Negara yang BERHASIL mewujudkan dalamkenyataan. Inilah kata-katanya dulu:
Iyaa,... masalah pokoknya adalah sudut pandang yang berbeda. Apalagi masalah
jalanSOSIALISME itu belum ada contoh dan ada negara yang BERHASIL mewujudkan
dalamkenyataan. Bahkan Sovyet dan RRT dimasa Mao itu juga belum mencapainegara
sosialisme sesungguhnya, baru langkah pertama dari perjalanan jauhmenuju
sosialisme juga. Sovyet sudah roboh, diikuti negara-negara sosialisEropah
timur,….
Nah,sekarang dia jilat air ludahnya sendiri dan memuji Lenin dan Stalin yang
berhasilmembangun Negara sosialis pertama di dunia ini!!!
Chan: Kedua,setiap BANGSA yang besar tidak bisa tidak harus mempunyai
pimpinan,Lenin-Stalin itulah Pemimpin BANGSA Rusia yang tidak boleh disangkal!
BangsaRusia menjadi bangsa yang besar, Sovyet menjadi negara-kuat justru karena
adapemimpin macam Lenin-Stalin! Inilah keritik keras PKT, dan diingatkan
kembalidengan TEGAS oleh Deng, pada tahun 1980 atas kesalahan Khruschove
yangkebablasan dalam mengkritik kesalahan Stalin yang dikatakan otoriter
denganKEKERASAN itu! Bahwa negara-kuat harus mencerminkan adanya “KEBEBASAN
PRIBADI”juga tidak salah! Tapi yang lebih PENTING dan UTAMA adalah adanya
PERSATUAN danKESTABILAN POLITIK untuk bersama-sama melangkah maju dengan derap
langkahSEREMPAK! ... Disinilah keunggulan Stalin dalam mengangkat KESATUAN
BANGSA,membuat Bangsa Rusia besar dan membawa rakyat Sovyet maju sejahtera,
...KENYATAAN yang tidak boleh disangkal, sekalipun dalam mpelaksanaan
disana-siniada kesalahan!
Tatiana:Masih terus si Chan memuja Lenin dan Stalin!!! “Lenin-Stalin itulah
Pemimpin BANGSA Rusiayang tidak boleh disangkal! Bangsa Rusia menjadi bangsa
yang besar, Sovyetmenjadi negara-kuat justru karena ada pemimpin macam
Lenin-Stalin !” Numpang tanya,sistim apa yang membuat Sovyet menjadi Negara
kuat???? Kapitalisme atauSosialisme atau Tsarisme???
Ooo,sekarang dia sebut nama Khrustjov yang “kebablasan dalam mengkritik
kesalahanStalin yang dikatakan otoriter dengan KEKERASAN itu”…. Jadi
kesalahannyaKhrustjov HANYA KEBABLASAN dalam mengkritik kesalahan Stalin?!!
Terus bagaimanadengan REVISIONISME MODERN yang telah memecah dan akhirnya
membubarkan GerakanKomunis Internasional?? Gimana dengan konsep-konsep remo:
Negara seluruhrakyat, PArtai seluruh rakyat, koeksistensi damai dengan
imperialism, transisidamai ke sosialisme??? Apa sudah lupa semua itu atau
sengaja melupakannya???
Tahunggak kawan-kawan??? Kaum remo TKK sedang menggunakan Lenin dan Stalin
untukkepentingan nasionalnya sendiri yang sedang menghadapi masalah-masalah
seriuspolitik (seperti pembangkangan di HK…) dan maslah ekonomi-sosial. Mereka
pakai nama Stalin untuk membenarkanKEKERASAN yang dilakukan pemerintah Tkk
terhadap berbagai macam pembangkangan, yangdatang dari kanan ( yang dari kanan
menuntut demokrasi liberal) maupun darikiri!!! Mereka bicara tentang KESTABILAN
POLITIK DAN PERSATUAN yang akan terusmereka jaga dengan melakukan TINDAKAN
KEKERASAN terhadap semua unsure-unsuryang menentangnya!!!Dan untuk itu mereka
pakai nama Lenin dan Stalin!! Dansemua itu untuk mencapai TIONGKOK YANG KUAT,
seperti dulu SOVIET dibawah Lenin danStalin!!! Ha…ha.. dikiranya semua orang
BUTA dan tak mampu melihat akal buluskaum remo!!! Sudah tentu mereka tidak akan
pernah mengakui bahwa apa yangdibangun Lenin dan Stalin dulu SAMA SEKALI TIDAK
SAMA dengan yang sedangdibangun di Tkk sekarang!! Lenin danStalin membangun
SOSIALISME. Lihat sendiri hasil-hasilnya di bawah ini.
Bandingkandengan hasil yang dicapai 30 tahun kapitalisme Deng xiaping!!!
Chan: Begitulahpenekanan Deng bagi rakyat Tiongkok harus BELAJAR baik dari
kesalahanKhruschove tsb! JANGAN sampai Rakyat Tiongkok juga melanjutkan
KESALAHAN yangsama! Sebagaimana kita ketahui bersama, ketika itu ada arus keras
hendakmengkritik kesalahan Mao, khususnya masa RBKP yang berlebihan! Ada
usahameng-HITAM-kan segala jasa Mao, ...! BERUNTUNG, Deng berhasil
mengarahkanperjuangan dan membawa rakyat Tiongkok terus maju melangkah menuju
jalanSOSIALISME berciri khas Tiongkok! Dan dalam waktu relatif singkat, 30
tahunanBERHASIL mencapai kemajuan yang dahsyat dan dengan demikian
BERKEMAMPUANmenerima TUGAS meneruskan obor Revolusi Oktober yang jatuh diatas
pundaknya!Bahkan RRT dengan BAIK menerima tugas pusat perjuangan SOSIALISME
didunia iniyang telah beralih ke Tiongkok! Meneruskan perjuangan Sovyet Uni
dahulu dalammenghadapi dan melawan IMPERIALISME AS yg hendak menguasai dan
mengangkangidunia, ...!
Tatiana: Ini bener-bener kayadagelan yang nggak lucu! Deng menekankan rakyat
TKK harus belajar dari kesalahan Khrustjov!!! Tapi tetap nggakdibilang
Revisionisme Modern!! Sekarang mau bonceng nama Mao, padahal justruPKT dan Deng
sendiri yang SANGAT BENCI KEPADA RBKP…Membubarkan KOMUNE RAKYAT,mengganti
konstitusi Negara ( misalnya, menghapus semua hak-hak demokratis buruhdan
jaminan social, pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis) dan partai
(membolehkan kaum kapitalis masuk partai…), perbuatan siapa itu??? Mengatakan
RBKP salah, padahal justru RBKP adalahtesis Mao melanjutkan revolusi di bawah
kondisi kediktatoran proletariat!!!Memuakkan sekali apa yang si Chan tulis
itu….bla-bla-bla berisi kebohongan dan pemutarbalikkan, persis seperti rezim
Suharto memutar balik fakta sejarah!! Eh, janganlupa ya Chan, Deng yang
mengusir orang-orang PKI dari Tkk untuk memuluskanpemulihan hubungan diplomatic
dengan rezim fasis Suharto!! Dan jangan lupa yaChan, pada Kongres PKT yang
nggak tahu yang keberapa, siapa yang diundang???GOLKAR!!! (INI diceritakan
almarhum S.Suroso).
Soalmelawan Imperialisme, tolong tanya dan tunjukkin di SEMINAR ITU pernyataan
atau resolusimendukung perjuangan rakyat sedunia, seperti Venezuela, Korut,
Rojava….. Ehtahu nggak kepada siapa Tkk berpihak dalam masalah rakyat dan
refugee Rohingya???Ya sudah tentu memihak kepada Pemerintah… yang sudah
dinyatakan sebagaipelanggar HAM berat alias melakukan Genosida persis seperti
rezim Suharto!!!
cHAN: Sedangnenek yang satu ini, masih saja menutup diri dalam tempurung, dan
tidakberhasil melihat realitias perjuangan dunia NYATA didunia! Tetap saja
tenggelamdalam subjektivisme dalil-dalil DOGMA klasiknya yg dipegang teguh!
Masih jugabelum bisa menggunakan ajaran Ketua Mao, khususnya Tentang
Kontradiksi, untukmenganalisa situasi kongkrit yang dihadapi. Main gempur saja
semuajenderal-jenderal yang dihadapi. Tentu saja semua jenderal yg berada
dalamjajaran Pemerintah “TIDAK SESUAI” dengan pendapat dan pendiriannya!
Bagaimanakita bisa mengharapkan di pemerintah sekarang yang berkuasa itu ada
jenderalKOMUNIS??? Kalau toch ada, PASTI juga tidak bisa sama sepenuhnya
dengandirinya! Lalu, dihajar juga dengan alasan MUNAFIK, RENEGAT? Yaa, kalau
begituberjuang saja sendiri didalam tempurung itu! Hehehee, ...
Tatiana:balik sekarang kepada “nenek yang menutup diri dalam tempurung”. Eh
Chan kamu tahu, apa yang terjadi diVenezuela, pernah kamu ke Venezuela, pernah
kamu ke Brazil, pernah kamu keMexico, pernmah kamu ke Argentina, pernah kamu ke
Tunisia, pernah kamu keSpanyol, pernah kamu ke Yunani, BUKANuntuk turisme!!
Tahu kamu perjuangan rakyat-rakyat di negeri itu?? Kenyataanrealitas perjuangan
mereka? Tolong tunjukkan DALIL-DALIL DOGMA KLASIK yang menurut kamu ,
masihsaya pegang!! Jangan abstrak DAN ASAL JEPLAK saja!
Soaljenderal-jenderal… teori Mao yang mana yang membenarkan kamu untuk
membedakanAgus Wijoyo dari jenderal-jenderal anti-komunis yang lain??Siapa
yangmengharapkan ada jenderal KOMUNIS dipemerintah?? Tolong buktikan itu!!!
Yangsaya bilang MUNAFIK DAN RENEGAT adalah KAMU!!! BUKAN ORANG LAIN!!! Baca
yangbetul!!! Rupanya kamu sudah “jatuh cinta” pada Agus Wijoyo ya,
sehinggamelupakan kata-kata penilaiannya terhadap penyerangan dan pembatalan
diskusi diLBH Jakarta??!! Mengapa aku pernah bilang penyataan kamu “tendensius?
Dan kamutidak mengerti!!!??? Ya, orang yang sudah pindah dan nyeberang barisan
tidaksadar bahwa posisi ideology kelas reaksioner itu tercermin dalam semua
tulisananda… Agus Wijoyo menuduh PKI sebagaipembunuh ayahnya! Agus Wijoyo
menuduh PKI berontak di Madiun!! Agus Wijoyomenuduh PKI melakukan terror pada
rakyat dalam Aksi Sepihak. Dan kamu bilang ini wajar-wajar saja!!. Ya sudah
tentu wajar,justru karena dia merupakan bagian dari TENTARA , jadi tidak ada
lainnya darijenderal lain
Darisekian banyak jenderal-jenderal yang harus kita hadapi, bukankah kita
harusbisa menentukan jenderal mana yg UTAMA digempur dahulu,
diblejetikereaksioneran dan tangannya berlumuran darah pelanggaran HAM!
Darimanakekuatan anda untuk sekaligus menyerang dan gempur semua
jenderal-jenderalitu??? Bahwa Jenderal Agus masih saja menyalahkan dan
memojokkan PKI itu jugawajar-wajar saja! Tapi, bukankah ditahun yl. saat
menyelenggarakan SimposiumMembongkar Tragedi 1965, itu bisa juga dikatakan
merupakan satu usaha jenderalAgus untuk menemkukan atau menjernihkan “SIAPA”
sesungguhnya yang membunuh ayahnya itu! Sampai-sampai ketika itu dia dituduh
jenderal-KIRI! Tentu kita jugatetap harus melihat kenyataan, masih sangat
kuatnya jenderal-kanan yang pemujaSuharto, jadi juga tidak perlu terlalu
berilusi simposium macam itu bisamembawakan HASIL baik! Dan kenyataan juga
KANDAS, ...!
Tatiana: Ah, siapa sih yangpercaya akan tuduhan bahwa AGus “KIRI” ?? Sama juga
siapa yang percaya padatuduhan jokowi PKI?? Barangkali hanya kamu yang
percaya!? Bahkan orang yangmenuduhpun sebetulnya tahu bahwa tuduhan itu
ngawur!!! Itu hanya maneuver untuk memenangkanpertarungan di kalangan elit demi
kekuasaan!!! Siapa yang mau MENGGEMPUR para jenderal??? Kamu ya? Ngapain
dansiapa yang bicara soal kekuatan untuk menggempur??? Sama sekali bukan
urusankuuntuk “menggempur” jenderal ini atau jenderal itu!! Sama sekali tidak
ada tujuan, baik taktismaupun strategis “menggempur” jenderal-jendral!!! PIcik
sekali kamu!!! Tidak bisamembedakan hal ihwal dan tidak menempatkan diskusi
pada proporsinya.
On Sunday, October 8, 2017 5:56 AM, 'Chalik Hamid' via forumdiskusi
<[email protected]> wrote:
----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: Tatiana Lukman
<[email protected]>; "[email protected]"
<[email protected]>; Jonathan Goeij <[email protected]>Cc:
Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD
<[email protected]>; Daeng <[email protected]>; Gol
<[email protected]>; Billy Gunadi <[email protected]>; Rachmat
Hadi-Soetjipto <[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>;
Oman Romana <[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>;
"[email protected]" <[email protected]>; Harry Singgih
<[email protected]>; Harsono Sutedjo <[email protected]>; Mitri
<[email protected]>; Lingkar Sitompul <[email protected]>Terkirim:
Minggu, 8 Oktober 2017 04.51.16 GMT+2Judul: Re: [GELORA45] (Tiada) Proklamasi
Indonesia Tanpa Wikana
Patut diperhatikan, dalam rangka “MEMPERINGATI 100Th Kemenangan Revolusi
Oktober”, Republik Rakyat Tiongkok pada tgl. 26 September yl. menjelang Kongres
19 PKT, melangsungkan SEMINAR Revolusi Oktober dan Sosialisme Berciri Khas
Tiongkok, ... Bertekad teguh meneruskan OBOR Revolusi Oktober yang telah padam
di Sovyet terus menyala lebih membawa dibumi Tiongkok! Kenyataan tidak dapat
disangkal, setelah Sovyet roboh ditahun 1991, obor Sosialisme telah jatuh
dipundak Rakyat Tiongkok dan, PKT dalam 30 tahun terakhir ini menunjukkan
KEMAMPUAN memikul TUGAS MULIA Lenin-Stalin yang telah dicampakkan Gobarchove
dan mengakibatkan Sovyet roboh dibawah gempuran Budaya dan Finans Kapitalisme!
Untuk mengenal lebih baik karya Lenin, PKT kembali menerbitkan Karya Lenin
Lengkap dalam bhs. Tionghoa, agar rakyat Tiongkok harus benar-benar bisa
memahami Leninisme dari karya langsung Lenin sendiri! Beberapa tulisan, makalah
dan tanggapan dari Seminar yang berlangsung tgl. 26 Sept. itu, yang menurut
saya PANTAS diajukan untuk kalian ketahui: adalah, pernyataan keharusan bagi
setiap komunis yang mengaku materialisme dan realistis, bisa melihat
keberhasilan Lenin-Stalin dengan Revolusi Oktober meembangun negara sosialis
pertama didunia ini! Bukan saja berhasil mempertahankan Sovyet menghdapi
serangan Hitler dimasa PD-II, tapi juga BERHASIL membawa Sovyet tumbuh menjadi
negara industri yang sanggup bersaing dengan imperialisme AS, tidak hanya
dibidang ekonomi, pertahanan tapi juga termasuk kemajuan teknologi, peluncuran
satelit dan astraunot diruang angkasa sampai ke Bulan! Disaat itu sampai
tahun-tahun 60-an kehidupan rakyat Sovyet juga bisa dikatakan telah mencapai
kesejahteraan yang lumayan, ... BEBAS dari KEMISKINAN! Ini kenyataan pertama
yang harus diakui! Kedua, setiap BANGSA yang besar tidak bisa tidak harus
mempunyai pimpinan, Lenin-Stalin itulah Pemimpin BANGSA Rusia yang tidak boleh
disangkal! Bangsa Rusia menjadi bangsa yang besar, Sovyet menjadi negara-kuat
justru karena ada pemimpin macam Lenin-Stalin! Inilah keritik keras PKT, dan
diingatkan kembali dengan TEGAS oleh Deng, pada tahun 1980 atas kesalahan
Khruschove yang kebablasan dalam mengkritik kesalahan Stalin yang dikatakan
otoriter dengan KEKERASAN itu! Bahwa negara-kuat harus mencerminkan adanya
“KEBEBASAN PRIBADI” juga tidak salah! Tapi yang lebih PENTING dan UTAMA adalah
adanya PERSATUAN dan KESTABILAN POLITIK untuk bersama-sama melangkah maju
dengan derap langkah SEREMPAK! ... Disinilah keunggulan Stalin dalam mengangkat
KESATUAN BANGSA, membuat Bangsa Rusia besar dan membawa rakyat Sovyet maju
sejahtera, ... KENYATAAN yang tidak boleh disangkal, sekalipun dalam
mpelaksanaan disana-sini ada kesalahan! Begitulah penekanan Deng bagi rakyat
Tiongkok harus BELAJAR baik dari kesalahan Khruschove tsb! JANGAN sampai Rakyat
Tiongkok juga melanjutkan KESALAHAN yang sama! Sebagaimana kita ketahui
bersama, ketika itu ada arus keras hendak mengkritik kesalahan Mao, khususnya
masa RBKP yang berlebihan! Ada usaha meng-HITAM-kan segala jasa Mao, ...!
BERUNTUNG, Deng berhasil mengarahkan perjuangan dan membawa rakyat Tiongkok
terus maju melangkah menuju jalan SOSIALISME berciri khas Tiongkok! Dan dalam
waktu relatif singkat, 30 tahunan BERHASIL mencapai kemajuan yang dahsyat dan
dengan demikian BERKEMAMPUAN menerima TUGAS meneruskan obor Revolusi Oktober
yang jatuh diatas pundaknya! Bahkan RRT dengan BAIK menerima tugas pusat
perjuangan SOSIALISME didunia ini yang telah beralih ke Tiongkok! Meneruskan
perjuangan Sovyet Uni dahulu dalam menghadapi dan melawan IMPERIALISME AS yg
hendak menguasai dan mengangkangi dunia, ...! Sedang nenek yang satu ini, masih
saja menutup diri dalam tempurung, dan tidak berhasil melihat realitias
perjuangan dunia NYATA didunia! Tetap saja tenggelam dalam subjektivisme
dalil-dalil DOGMA klasiknya yg dipegang teguh! Masih juga belum bisa
menggunakan ajaran Ketua Mao, khususnya Tentang Kontradiksi, untuk menganalisa
situasi kongkrit yang dihadapi. Main gempur saja semua jenderal-jenderal yang
dihadapi. Tentu saja semua jenderal yg berada dalam jajaran Pemerintah “TIDAK
SESUAI” dengan pendapat dan pendiriannya! Bagaimana kita bisa mengharapkan di
pemerintah sekarang yang berkuasa itu ada jenderal KOMUNIS??? Kalau toch ada,
PASTI juga tidak bisa sama sepenuhnya dengan dirinya! Lalu, dihajar juga dengan
alasan MUNAFIK, RENEGAT? Yaa, kalau begitu berjuang saja sendiri didalam
tempurung itu! Hehehee, ... Dari sekian banyak jenderal-jenderal yang harus
kita hadapi, bukankah kita harus bisa menentukan jenderal mana yg UTAMA
digempur dahulu, diblejeti kereaksioneran dan tangannya berlumuran darah
pelanggaran HAM! Darimana kekuatan anda untuk sekaligus menyerang dan gempur
semua jenderal-jenderal itu??? Bahwa Jenderal Agus masih saja menyalahkan dan
memojokkan PKI itu juga wajar-wajar saja! Tapi, bukankah ditahun yl. saat
menyelenggarakan Simposium Membongkar Tragedi 1965, itu bisa juga dikatakan
merupakan satu usaha jenderal Agus untuk menemkukan atau menjernihkan “SIAPA”
sesungguhnya yang membunuh ayah nya itu! Sampai-sampai ketika itu dia dituduh
jenderal-KIRI! Tentu kita juga tetap harus melihat kenyataan, masih sangat
kuatnya jenderal-kanan yang pemuja Suharto, jadi juga tidak perlu terlalu
berilusi simposium macam itu bisa membawakan HASIL baik! Dan kenyataan juga
KANDAS, ...! Juga, TIDAK SALAH menyatakan yang membunuh 6 jenderal itu TNI,
khususnya pasukan Tjakrabirawa, ...! Tapi kan, TETAP harus dibedakan antara
perajurit pelaksana perintah dengan komandan, jenderal yang turunkan perintah!
Jangan lalu seluruh pasukan Tjakrabirawa harus dihujat dan di BASMI habis!
Usutlah siapa sesungguhnya jenderal dibalik G30S itu! Dan inilah tugas pekerja
sejarah anak bangsa ini untuk menjernihkan masalah, ... jangan tergantung
Pemerintah yang berkuasa! Dan harus dikerjakan lebih cekatan dan cepat, karena
makin tertunda lebih lama, akan makin sulit menemukan data-data akurat yang
selama ini sudah cukup banyak dibawa kubur oleh tokoh-tokoh, pelaku yang banyak
mengetahui kejadian nyata! Jadi perajurit pelaku kekejaman kemanusiaan yang
harus tunduk menjalankan PERINTAH, setelah bertobat dan mengakui kesalahannya,
yaa, biarlah diberi kesempatan untuk BERSAHABAT dengan para korban, termasuk
segenap keluarganya! Tidak perlu saling bermusuhan, ...! Apalagi bagi anak-anak
jenderal yg juga KORBAN itu, yang jelas TIDAK terlibat kekejaman kemanusiaan,
tentu TIDAK MASALAH bersahabat dengan anak-anak KORBAN sisi lain, lha mereka
kan sama-sama KORBAN kekejaman kemanusiaan! KORBAN-KORBAN konyol yang tidak
seharusnya terjadi! Sudah cukup BAGUUUS, anak-anak jenderal yg jadi korban itu
sudah bersediaq bersahabat dengan anak-anak KORBAN yg dituduh membunuh
ayah-ayah mereka! Tidak meneruskan pertengkaran dan dendam yang tidak ada
juntrungnya itu, ... tidak perlu melanjutkan pertengkaran, permusuhan orang-tua
mereka! Biarlah mereka, anak-anak KORBAN itu menjadi sahabat, lha memang
sama-sama tidak bermasalah, kok! Sekalipun dalam kenyataan melihat masa-lampau
itu, dalam melihat siapa sesungguhnya Dalang G30S masih berbeda pendapat!
Bukankah yang lebih PENTING adalah menatap kedepan, kehendak MAJU BERSAMA,
BEKERJA BERSAMA membangun masyarakat lebih baik dan sejahtera! Jadi, kalau
orang sudah mengulurkan tangan bersalaman, tidak perlu ditampik, sekalipun kita
juga boleh saja mencurigai motif nya! Biarlah nanti setelah apa yang kita
curigai, kemunafikan bersalaman itu muncul, baru dihadapi! Begitulah bersatu
dan berjuang didalam kesatuan kontradiksi yang terjadi dalam masyarakat! Setiap
saat tetap harus bersiap-siap menghadapi pertempuran dan penghianatan! Pecahnya
persatuan dan kerjasama, tanamkan saja kewaspadaan itu, ...! Jangan pula
meneruskan kesalahan lama, ...keenakan bekerja sama! Hehehee, ... Jadi,
sebaiknya jangan buru-buru dan gampang2an nuduh PKT REMO, renegad! Ingatlah
bagaimana PKI dahulu menuduh Tan Ling Djieisme, tapi justru parlementerisme
itulah yang dijalankan PKI dengan KONSEKWEN! Yang lebih penting perlu
kejernihan apa dan dimana kesalahan, kesalahan dahulu bukan pada kerjasama
dengan Pemerintah yang berkuasa, tapi ketidak siapan PKI digebug! Kesalahannya
bukan menggunakan parlemen, kesempatan legal yang diberikan pemerintah ketika
itu, tapi keenakan gunakan jalan parlementer dan TIDAK siapkan diri kalau
digebug! Untuk mengikuti lebih lanjut bagaimana peran Tjakrabirawa bisa klik
link dibawah ini:
Pengakuan Mengejutkan eks-Cakrabirawa.
https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/214575
Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!
https://www.youtube.com/watch?v=oi0w3Wq1wqQ Salam,ChanCT From: Tatiana
Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Saturday, October 7, 2017 1:04
AMTo: [email protected] ; Jonathan Goeij Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM
HLD ; Daeng ; Gol ; Billy Gunadi ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Ronggo A. ; Oman
Romana ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Harry Singgih ; Harsono Sutedjo
; Mitri ; Lingkar Sitompul Subject: Re: [GELORA45] (Tiada) Proklamasi Indonesia
Tanpa Wikana Saya kenal banyak orang, terutama generai muda, yang sama sekali
tidak punya latar belakang keluarga korban 65 dengan jelas dan gamblang
menyatakan bahwa yang bunuh 6 jenderal dan 1 kapten adalah Cakrabirawa, artinya
TENTARA. Kalau orang mau mengakui bahwa itulah faktanya, maka anak-anak para
jenderal itu, seperti Letjen Agus Wijoyo, kalau mau rekonsiliasi, ya SEHARUSNYA
dengan anak-anak para PEMBUNUH ayah mereka, yaitu anggota Cakrabirawa yang
melakukan serangan, penculikan dan pembunuhan itu, bukan? Mengapa mereka
ber"rekonsiliasi" dengan satu dua anak penggede PKI dan anggota Gerwani atau
korban pemenjaraan, penyiksaan dan pembuangan rezim Suharto??? Kelihatannya,
sementara anak penggede PKI dan sementara korban 65 yang tampil untuk jadi
"contoh" rekonsiliasi dengan sementara anak jenderal-jenderal, tidak sadar
bahwa mereka digunakan oleh media dan "otak" di belakang etalase rekonsiliasi
justru untuk terus memfitnah PKI sebagai "pembunuh" 6 jenderal dan kapten
itu.Dan disini masuk peran si remo dan renegad Chan yang membantu pendukung
ORBA dengan turut mengorek-ngorek 'kejahatan' PKI untuk "membuktikan" dan
menuntut PKI untuk bertanggung jawab atas banjir darah 65-66!!!! Letjen Agus
Wijoyo walaupun sudah mengakui dan percaya bahwa keenam jenderal dan kapten itu
tidak disiksa atau disayat-sayat badannya dan kemaluannya, tapi TETAP
MENGANGGAP PKI MELAKUKAN PEMBUNUHAN DAN MENEROR MASYARAKAT. Dibawah ini
kata-katanya:…” PKI harus bertanggung jawab atas kekerasan yang mereka lakukan
di tahun 1948, pada 1 Oktober 1965 dan sebelumnya. Mereka melakukan pembunuhan
dan meneror masyarakat. Puncaknya adalah membunuh para jenderal di malam kelam
tersebut.”.
Pandangan Agus Wijoyo ini PADA HAKEKATNYA senafas dengan pandangannya si Remo
dan renegad Chan. Kelihatan sekali kebenciannya terhadap PKI. Yah, tidak
heran!!! Dan juga kelihatan letjen Agus Wijoyo tidak berbeda dari para
jenderal yang sampai sekarang terus mempertahankan pandangan bahwa PKI dalang
G30 S dan memberontak!!!
Saya ingat dulu si Pelana Kuda alias Atjong dikeluarkan oleh Chan dari milis
Gelora 45, disebabkan oleh sikapnya yang sangat membenci PKI dan bersyukur
adanya penindasan Suharto yang dianggapnya sebagai penyelamat Indonesia. Saya
tidak tahu apa anda ingat itu? Eh....tahu-tahunya secara diam-diam diterima
kembali si Pelana Kuda. Bahkan Chan turut mempropagandakan penjualan CD
musiknya Pelana Kuda. Saya sama sekali tidak heran melihat tingkah lakunya si
Chan. Chan dan Pelana Kuda sama!!!!Karena saya belajar dari pengalaman dan
sejarah, orang remo adalah pembantu kaum imperialis dan sudah tentu juga
antek-antek lokalnya. Karena remo menghilangkan kontradiksi dan perjuangan
kelas yang memudahkannya untuk loncat ke seberang barisan di mana dulu dia
berada.
On Thursday, October 5, 2017 10:22 PM, "Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Saya rasa Wikana menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang hilang
tidak ketentuan rimbanya dijemput tentara. Si Agus Wijoyo saya rasa sedang
berada di-awang2 menikmati sanjungan seakan dirinya orang berjiwa besar yang
memaafkan. On Thursday, October 5, 2017, 11:04:27 AM PDT, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote: Dan bagaimana nasib Wikana setelah G30S?
Setelah dijemput tentara, lantas hilang tidak diketahui apa yang terjadi....???
Ada yang tahu apa yang terjadi dengan dirinya? KALAU memang benar Wikana
hilang, tak diketahui apa yang terjadi dengan dirinya, maka ia hanya satu dari
puluhan ribu atau ratusan ribu yang hilang lenyap seperti ditelan bumi....
Bukannya saya tidak merasakan kesedihan dari anak-anak para jenderal yang
dibunuh tentara juga..... Tapi jutaan harus mati, dipenjara, disiksa dan
dihilangkan untuk "membalas" kematian 6 jenderal dan seorang kapten!!! Seperti
banyak terjadi di jaman Nazi, untuk seorang tentara Nazi yang terbunuh,
penduduk sekampung harus mati....Persahabatan, undangan makan, silaturahmi
antara anak-anak para jenderal dan keluarga serta korban genosida adalah urusan
pribadi. Yang menarik perhatian, Agus tidak henti-hentinya menggunakan
kesempatan silaturahmi dan rekonsiliasi untuk "mengingatkan" akan "kejahatan"
dan 'hutang darah" PKI baik di aksi sepihak, peristiwa Madiun atau kejadian
lain.
On Tuesday, October 3, 2017 6:15 PM, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
(Tiada) Proklamasi Indonesia Tanpa Wikana
Wikana [Gambar/Sabit]
Reporter: Petrik Matanasi10 November, 2016
- Wikana jadi juru bicara dan pemimpin kelompok muda
- Hatta berkeras tak mau dipaksa untuk segera proklamasi
- Tanpa Wikana Proklamasi tak akan berjalan lancar terjadi
Proklamasi 17 Agustus 1945 tak bisa dilepaskan dari peran Wikana dan
pemuda-pemuda lain yang bersamanya mendesak golongan tua yang ragu untuk
menyegerakan pernyataan kemerdekaan.
tirto.id - Golongan tua, yang kemudian dicap kolaborator Jepang, karena
terpaksa bekerjasama dengan Pemerintah Militer Balatentara Jepang, merasa ngeri
jika tergesa-gesa untuk proklamasi. Mereka terjepit dalam situasi akhir Perang
Dunia: Jepang yang sebentar lagi kalah, namun hanya Jepang yang (pernah)
menjanjikan mendukung kemerdekaan. Masalahnya, jika Jepang tak segera
memerdekakan, namun pada saat yang sama Sekutu kadung memenangkan Perang Dunia,
maka janji Jepang niscaya kasip dan Sekutu belum tentu menyetujui kemerdekaan
Indonesia. Jika segera memerdekakan diri secara sepihak, masalahnya Jepang
masih eksis sebagai penguasa.
Golongan muda, kebanyakan mahasiswa dan pemuda yang tinggal di asrama-asrama
sekitar Menteng, pernyataan kemerdekaan harus sesegera mungkin diumumkan. Tak
hanya selekas-lekasnya, namun juga mesti dinyatakan tanpa campur tangan Jepang.
Jika tidak, kemerdekaan Indonesia hanyalah hadiah dari Jepang.
Darah muda mereka yang bergejolak itu bahkan tak peduli dengan berbagai risiko,
katakanlah jika Jepang mengamuk karena proklamasi tersebut. Golongan tua, yang
punya banyak perhitungan politik, lebih memilih menghindari korban jiwa. Mereka
menunggu kepastian. Mencoba mengharapkan Jepang bisa secepatnya memerdekakan
Indonesia, sebagaimana dijanjikan oleh petinggi Jepang sepekan sebelumnya di
Vietnam kepada Sukarno-Hatta.
Tapi waktu tak bisa menunggu. Sjahrir memberitahu bahwa Jepang sudah menyerah
kalah. Sekutu sudah pasti akan datang mempertahankan status quo sebagaimana
situasi sebelum Jepang masuk. Proklamasi kemerdekaan terancam.
Di sinilah angkatan muda, dengan Wikana jadi juru bicara dan pemimpinnya,
memainkan peranan. Mereka mengambil langkah yang sebenarnya berbahaya, yaitu
membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok. Rencananya: mereka akan memaksa
Sukarno-Hatta memproklamirkan Indonesia. Tapi siasat itu gagal. Sukarno-Hatta
tetap tidak mau melakukannya. Mereka masih belum yakin dengan kebenaran kabar
menyerahnya Jepang.
Pada petang 16 Agustus 1945, Sukarno-Hatta kembali ke Jakarta karena situasi
sudah kelewat genting. Kabar tentang menyerahnya Jepang sudah nyaris tidak bisa
lagi dibantah. Malam 16 Agustus itu juga, Sukarno-Hatta meminta keterangan
kepada pihak Jepang dan barulah mereka tahu bahwa berita menyerahnya Jepang
memang benar.
Justru karena itulah mereka tak bisa lagi menuntut Jepang memenuhi janjinya.
Sebab Jepang adalah pihak yang kalah sehingga harus memenuhi permintaan Sekutu
untuk menjaga status quo. Jepang sendiri mengklaim mereka bersedia
memfasilitasi kemerdekaan Indonesia jika Sukarno-Hatta ada di Jakarta pada pagi
sampai sore 16 Agustus 1945 itu. Tapi keduanya masih di Rengasdengklok.
Sukarno, dan terutama Hatta, enggan mengakui peranan angkatan muda. Bagi
keduanya, jika mereka tak dibawa paksa ke Rengasdengklok, Indonesia bisa
merdeka pada siang hari 16 Agustus. Peristiwa Rengasdengklok menunda proklamasi
Indonesia.
Masalahnya: jika Indonesia merdeka pada 16 Agustus, maka Indonesia sulit
menghindar dari dakwaan bahwa proklamasi adalah pemberian Jepang,
sekurang-kurangnya berkat perlindungan Jepang. Inisiatif Wikana, dkk., memang
gagal mendesak Sukarno secepat-cepatnya mengumumkan kemerdekaan sebagaimana
direncanakan. Namun di luar skema itu, Wikana, dkk., justru berhasil mencegah
proklamasi kemerdekaan diumumkan dalam kerangka Jepang.
Wikana dalam Proklamasi
Semuanya terjadi karena sebagian pemuda dan Mahasiswa yang berhasil mendapatkan
berita penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945 di
kapal perang USS Missouri. Berita itu menyebar di kalangan terbatas. Tak hanya
menyebar, berita itu juga disikapi para pemuda. Mereka segera berkumpul esok
harinya, 15 Agustus 1945, di bawah pohon. Masih di sekitar Cikini. Wikana
hadir di sana.
Rapat sederhana itu memutuskan mengirim delegasi pemuda untuk berbicara pada
golongan tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka begitu
bersemangat. Bahkan ketika itu, Ahmad Aidit, pemuda asal Belitung, mengusulkan
Sukarno sebagai Presiden setelah Proklamasi. Mengenai siapa yang akan mereka
kirim, telah dipilih Suroto Kunto, Subadio, Wikana dan Aidit untuk bicara para
Soekarno yang dianggap wakil angkatan tua.
Malam harinya, keempat pemuda tadi menemui Soekarno di kediamannya, Jalan
Pegangsaan Timur 56, yang kini menjadi Tugu Proklamasi. Kebetulan, rumah
Sukarno sedang ramai oleh orang-orang Golongan Tua. Sukarno dan Hatta ketika
itu baru saja pulang dari Saigon menemui Marsekal Terauchi di sana.
Seperti rencana rapat di bawah pohon, Wikana mendesak agar kemerdekaan
diumumkan secepat-cepatnya. Jika perlu pada 16 Agustus 1945. Sukarno yang tak
suka dipaksa, enggan menuruti mau para pemuda itu. Soekarno tak bisa ambil
keputusan sendiri. Harus ada pembicaraan dengan golongan tua yang lain dulu
untuk proklamasi.
Wikana dan kawan-kawan pemuda yang ikut dengannya mempersilakan para golongan
tua untuk berunding dan pemuda menunggu di beranda rumah. Mohamad Hatta keluar
menemui pemuda-pemuda itu. Hatta berkeras mereka tak mau dipaksa untuk segera
proklamasi karena menanti penyerahan kekuasaan dari Balatentara Jepang. Tak
lupa Hatta menantang pemuda yang dianggap tak mau mengerti tadi. Yang dimau
golongan tua berharap golongan muda bersabar.
“Jika saudara-saudara memang sudah siap dan sanggup memproklamasikannya,
cobalah! Saya pun ingin lihat kesanggupan saudara-saudara.,” kata Hatta pada
para pemuda itu.
“Jika besok siang belum juga diumumkan, kami, para pemuda akan bertindak dan
menunjukan kesanggupan yang saudara kehendaki,” balas Wikana. Kepada Sukarno,
Wikana juga mengancam, “Jika tidak mau memproklamasikan, maka esok akan terjadi
pembunuhan dan pertumpahan darah.”
Menurut Suhartono Pranoto, dalam Kaigun Angkatan Laut Jepang Penentu Krisis
Proklamasi (2007), Sukarno tak mempan dengan ancaman tersebut dan balik
menantang, “Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya...”
Tekanan proklamasi tak hanya dari golongan muda, tapi juga datang dari Sutan
Sjahrir. Sore sepulang Sukarno-Hatta kembali dari Vietnam, ia mendesak Hatta
untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia.
“Sjahrir menjumpai Hatta, menceritakan kepadanya tentang cerita-cerita
penyerahan itu, dan mendesaknya supaya membuat Proklamasi Kemerdekaan diluar
kerangka Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dengan alasan bahwa
sekutu yang menang pasti tidak mau berurusan dengan suatu negara yang
disponsori Jepang,” tulis Ben Anderson dalam bukunya Revolusi Pemoeda (1988).
Akhirnya, pada 16 Agustus 1945, para pemuda menujukan kesanggupannya. Bukan
memproklamasikan sendiri. Tapi untuk mendesak lebih jauh. Dengan cara, Sukarno
dan Hatta mereka culik. Begitu juga istri Soekarno, Fatmawati, dan anak yang
masih kecil, Guntur, terpaksa jadi satu paket dengan Sukarno. Para pemuda
menyebut jika PETA dan Heiho akan berontak, jadi Sukarno-Hatta diamankan para
pemuda. Dengan memakai dua mobil, mereka dibawa ke Rengasdengklok , Karawang.
Daerah ini dirasa aman, karena komandan PETA di wilayah itu menjamin keamanan
Bung Karno dan Bung Hatta.
Pemberontakan itu tak pernah terjadi.
Ahmad Soebardjo sempat mengira Angkatan Darat Jepang menangkap Sukarno-Hatta.
Begitu pun Laksamanan Maeda, yang menjadi wakil Angkatan Laut Jepang di
Jakarta. Nishijima, asisten Laksamana Maeda, lalu menemukan Wikana di Asrama
Indonesia Merdeka dan memaksa Wikana menunjukan di mana Sukarno-Hatta.
Perdebatan emosional sempat terjadi. Perdebatan itu berakhir setelah ada
jaminan bahwa Nishijima dan Maeda akan bekerjasama untuk mengumumkan
proklamasi. Tanpa menujukkan di mana Sukarno-Hatta, Wikana mengatur kepulangan
keduanya ke Jakarta.
Subardjo lalu menjemput ke Rengasdengklok sore harinya. Tiba di sana, hari
sudah senja. Soebardjo meyakinkan para penjaga bahwa Laksamana Maeda mendukung
proklamasi tersebut. Pukul delapan malam, mereka semua kembali ke Jakarta.
Malam itu juga, begitu sudah tiba lagi di Jakarta, Sukarno-Hatta begadang
bersama yang lain. Di rumah Maeda, naskah Proklamasi pun lahir. Esok paginya,
17 Agustus 1945, dibacakan di rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56.
Setelah itu, segalanya telah dicatat oleh sejarah!
share infografik
Adik Seorang Digulis
Wikana bukan pemuda hasil bentukan Jepang. Wikana bahkan tergolong anti-fasis
Jepang meski dia bekerja untuk Angkatan Laut Jepang dalam Asrama Indonesia
Merdeka yang didirikan pada Oktober 1944. Maeda yang mendirikan asrama
tersebut. Diam-diam Maeda agak berseberangan dengan militer Jepang di
Indonesia. Soebardjo selaku pimpinan asrama mempekerjakan Wikana karena
pengaruhnya di Gerindo. Wikana sepintas terlihat bekerja untuk Jepang. Hal ini
membuat Wikana terlindung dari mata-mata Jepang yang benci dengan komunis
pengikut Tan Malaka macam dirinya.
Dalam pergerakan nasional zaman kolonial Hindia Belanda, menurut Ben Anderson,
Wikana adalah anak didik Sukarno dan pernah menjadi anggota Barisan Pemuda
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Wikana adalah ketua pertama Gerindo. Wikana
juga dekat dengan Sekolah Taman Siswa di Jawa Barat. Pada 1940, Wikana
tertangkap karena menyebarkan buletin komunis ilegal Menara Merah.
Pergerakan dan Komunisme memang bukan hal aneh bagi Wikana. Winanta, abangnya,
adalah seorang Digoelis yang telah menulis novel Antara Hidup dan Mati atau
Buron dari Boven Digul. Winanta dianggap terlibat Pemberontakan PKI 1926. Tidak
banyak catatan soal abangnya.
Wikana dan Winanta adalah anak dari Raden Haji Soelaiman, pendatang Jawa asal
Demak yang tinggal di Sumedang, Jawa Barat. Setelah melewati pendidikan barat
di ELS dan MULO, Wikana masuk pergerakan nasional sejak 1930an. Wikana yang
kelahiran Sumedang, pada 16 Oktober 1914 itu, tak berbeda jauh dengan abangnya.
Keduanya hanya beda zaman dalam bergerak.
Di zaman Jepang, menurut Harry Poeze dalam Madiun 1948 PKI Bergerak (2011),
meski tak sebebas di zaman kolonial Hindia Belanda, Wikana masih berpolitik.
Kali ini dengan resiko besar. Di masa pendudukan Jepang itu, Aidit dan Lukman,
bakal pimpinan Central Comite (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI), berhasil
direkrutnya masuk asrama. Mereka mendirikan Gerakan Indonesia Merdeka
(Gerindom).
Setelah kemerdekaan Indonesia, ia terlibat dalam peristiwa Madiun 1948 yang
diinisiasi oleh Front Demokrasi Rakyat FDR. Sebelum Peristiwa Madiun, Wikana
adalah Gubernur Militer di Solo. Di FDR, Wikana diserahi urusan kepemudaan.
Setelah peristiwa Madiun 1948, dia menghilang dan baru muncul kembali pada awal
1950-an.
Wikana melanjutkan karier politiknya dengan menjadi anggota CC PKI. Meski dulu
pernah bersama Aidit dan Lukman di zaman pendudukan Jepang, Wikana kemudian
terbuang dari lingkaran kepemimpinan PKI setelah kedua tokoh itu jadi pemimpin
besar PKI. Saat meledak peristiwa 1965, Wikana adalah anggota Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).
Dia pernah tinggal di sekitar Jalan Dempo, Matraman Plantsoen. Ketika G30S
berlangsung, Wikana sedang menghadiri hari Nasionalis Tiongkok di Beijing.
Pulang dari Beijing pada 10 Oktober 1965, Wikana disembut tentara yang kemudian
menggiringnya ke KODAM Jaya. Setelah menginap di KODAM dia dibebaskan. Setelah
sekian bulan di rumah, pada Juni 1966, dia dibawa lagi oleh tentara. Dan sejak
itu ia tak pernah kembali.
Wikana sendiri punya keinginan tertentu jika ajalnya tiba. “Kalau harus mati,
saya pilih mati di tanah air,” kata Wikana seperti dikatakan cucu menantunya
yang dilansir Historia. Abriyanto, cucu menantunya, sedang menyusun biografi
Wikana.
Wikana jelas sosok yang patut dicatat dalam sejarah Indonesia. Dalam skripsinya
Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan (1969), Soe Hok Gie, mencatat: tanpa
Wikana Proklamasi Indonesia tak akan berjalan lancar.
Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN atau tulisan menarik lainnya Petrik
Matanasi
(tirto.id - pet/zen)
--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups
"forumdiskusi" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.